
Marcus dipapah Ester memasuki kamarnya, rasa capai dan lelah membuat laki-laki kehilangan sebagian kesadarannya. Bisa memasuki kamar laki-laki itu, membangunkan kesenangan di hati perempuan muda itu. Sudah lama Ester memendam perasaannya, dan ketika dia mengungkapkan pada laki-laki itu, Marcus selalu mengacuhkan dan tidak menanggapinya. Melihatnya tidak berdaya malam ini, muncul pikiran Ester untuk menjerat laki-laki itu. Meskipun setelah kejadian ini, Marcus tidak akan mau melihatnya, sepertinya Ester sudah menyiapkan perasaannya.
"Dokter Marcus..., aku tidak akan menundanya malam ini. Aku akan mengambil keuntungan darimu.., setelah itu aku akan pergi meninggalkanmu untuk selamanya." bisik Ester, gadis itu duduk di kursi melihati Marcus yang tertidur di atas ranjangnya.
Tidak mau membuang-buang waktu percuma.., Ester melucuti sendiri pakaian yang dikenakannya. Tidak lama kemudian, perempuan muda itu sudah berdiri telanjang tidak mengenakan apapun di tubuhnya. Ester melihat tampilan tubuhnya di atas cermin di depan ranjang laki-laki itu, dan dia cukup berpuas diri melihat lekuk tubuhnya yang banyak diinginkan oleh banyak laki-laki. Tetapi gadis itu selalu berpikir dan memiliki sebuah mimpi, jika dia akan memberikan hartanya yang paling berharga hanya untuk Dokter Marcus. Rupanya malam ini, gadis muda ini ingin mewujudkan mimpinya.
Perlahan Ester menaiki ranjang tempat Marcus berbaring\, kemudian gadis itu menurunkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir laki-laki itu. Tanpa diduga\, laki-laki itu menangkap bibir yang menempel lembut di bibirnya itu\, dan langsung memberikan pa**gutan lembut dan dalam. Merasa mendapat sambutan hangat\, Ester membuka sedikit bibirnya\, dan tidak lama kemudian lu*/**matan demi lu**matan terjadi dengan panas di atas ranjang itu. Sambil terus saling berciuman\, tangan Ester melepaskan kancing baju dan resleting celana yang dikenakan Dokter Marcus.
Tangan mungil Ester merasakan roti sobek di perut Dokter Marcus, dan dengan ga**irah yang sudah lama terpendam, gadis itu melepaskan ciuman dari bibir laki-laki itu. Lidah Ester menelusuri belakang telinga laki-laki itu, sambil jari jemarinya perlahan turun merayap di sekujur tubuh laki-laki yang sudah bertelanjang dada itu.
"Mmmmm..., ugh.. teruskan honey..!" tiba-tiba keluar kata-kata me**sum dari bibir Dokter Marcus. Tanpa diduga, tangan kanan Naura segera melepaskan celana panjang laki-laki itu, dan tangannya langsung membelai bagian inti dan mengelus-elusnya ke atas dan ke bawah. Tanpa diduga bagian inti Marcus langsung membengkak, dan bahkan Ester sampai ternganga membuka mulutnya. Tidak mau menunggu lama, Ester langsung menduduki perut Marcus, dan lidahnya menyusuri setiap jengkal kulit Marcus dari leher dan merayap turun ke bawah.
Merasa keenakan dengan perlakuan yang diberikan Ester, mulut Marcus terus mende**sah, dan perlahan matanya terbuka. Tetapi karena desakan keinginan untuk menyalurkan nafsu manusia purba, Marcus seakan terlupakan dengan siapa dia memadu kasih. Dengan cepat, Marcus membalikkan tubuh Ester, dan jadilah posisi Marcus saat ini berada di atas tubuh Ester.
__ADS_1
"Aaakh... uugh... Dok.. ter.." lenguhan demi lenguhan terus terlontar dari mulut Ester, saat bibir Marcus dengan kuasanya menjilati dan menyesap dua niple kecil di dua gundukan kembar di da**danya. Kedua orang itu benar-benar sudah dimabuk asmara, aroma percintaan dengan jelas terasa dan tercium di ranjang itu. Mereka saling menjilat, memagut, dan saling meraba.., hingga akhirnya.., jari-jari Ester memegang bagian inti Marcus dan mengarahkannya masuk ke bagian intinya sendiri. Sekali hentak, Marcus sudah tidak dapat menahan hasrat manusia purbanya.
"Aaaaw...," Ester menggigit bibirnya menahan sakit yang luar biasa. Tetapi ketika dia menyadari, jika hal itulah yang dia inginkan, akhirnya gadis itu menelan rasa sakit itu sendiri. Marcus sepertinya merasakan rasa sakit yang diderita gadis itu, laki-laki itu menghentikan sejenak gerakannya. Setelah beberapa saat dan melihat gadis itu mulai tenang, kembali laki-laki itu menghentak dan menuntaskan hasrat manusia purbanya malam ini.
***********
Tengah malam, Ester terbangun. Gadis itu tersenyum ketika melihat lengan Dokter Marcus melingkari tubuhnya dengan erat. Perlahan Ester menyingkirkan lengan itu ke samping, kemudian gadis itu duduk di pinggir ranjang. Pipinya bersemburat pink, ketika melihat noda darah di atas sprei berwarna putih yang menutup ranjang di kamar Dokter Marcus.
"Aku harus segera meninggalkan Dokter Marcus.., aku tidak mau membuatnya kecewa karena dia telah meniduriku tanpa sadar." ucap lirih Ester. Perlahan gadis muda itu berdiri, dan dia merasakan rasa nyeri yang hebat di selangkangannya, tetapi gadis itu tetap nekad. Segera Ester mengenakan pakaiannya dengan tergesa-gesa.., kemudian setelah selesai, sekali lagi Ester menatap pada Dokter Marcus yang masih tertidur pulas. Pelan-pelan Ester mendatangi kembali laki-laki itu kemudian memberikan kecupan lembut di kening dan bibir laki-laki itu.
Setelah merasa puas memandangi wajah laki-laki itu, dengan cucuran air mata, Ester segera mengambil tas tangannya kemudian keluar dari dalam kamar laki-laki itu. Untungnya tadi dia membawa mobil kesini, kemudian bersama dengan driver menjemput Dokter Marcus di bandara. Setelah mengambil kunci mobilnya, segera gadis itu keluar dari apartemen yang ditempati laki-laki itu sendiri.
************
__ADS_1
Pagi Harinya..
Dokter Marcus terbangun, ketika sinar matahari yang masuk lewat celah gordyn di kamarnya mengenai wajahnya. Matanya langsung menatap jam yang ada di dinding kamarnya, dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Perlahan laki-laki itu bangun, tetapi dahinya langsung berkerenyit saat melihat dirinya tidur tanpa mengenakan baju. Tanpa sadar dia merasakan rasa lengket di area laki-lakinya, dan ketika menengok ke sprei di bawahnya, dia lebih terkejut lagi.
"Noda darah..., my God... berarti apa yang aku lakukan semalam itu bukan mimpi." Marcus merasa terkejut. Laki-laki itu kemudian bangkit dan berdiri, kemudian mengamati sprei yang dia gunakan sebagai alas tidur. Bekas-bekas noda percintaan mereka tadi malam masih terlihat jelas di atas ranjangnya, tetapi laki-laki itu betul-betul merasa kebingungan.
"Siapa yang aku tiduri tadi malam..? Apakah ada perempuan yang masuk ke kamarku..? Tapi melihat noda darah ini, berarti gadis itu masih perawan, dan aku yang sudah menodainya." Marcus memukul-mukul kepalanya, dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba Marcus teringat sesuatu, dia langsung mengambil ponsel yang ada di atas meja. Ponsel itu sudah terkoneksi dengan rekaman CCTV yang ada di kamarnya. Setelah melakukan penyetelan beberapa saat, akhirnya Marcus bisa melihat rekaman perbuatan mesumnya semalam dengan Ester.
"Damn it... kenapa Ester..?" melihat rekaman percintaannya dengan Ester, tiba-tiba intinya kembali berdiri tegak dan sesuatu yang ada di dalamnya ingin dituntaskan. Sambil tersenyum kecut, Marcus melihat ke bagian bawah tubuhnya.
"S**hit..." laki-laki itu mengumpat kemudian segera masuk ke kamar mandi untuk merendam dirinya.
__ADS_1
*************