
Ivona tersenyum melihat anak-anak berlari dan bermain bola di halaman rusun. Gadis itu berhenti sebentar, dia mengamati anak-anak itu yang sudah bertambah besar dan tinggi. Ternyata lumayan lama, Ivona tidak melihat perkembangan anak-anak itu. Sebelum dia terlempar ke dunia novel, Ivona terbiasa menemani mereka bermain bola untuk mencegah terjadinya perkelahian antar teman. Meskipun penghuni rusun tempat Ivona tinggal, berasal dari beraneka ragam profesi. Tetapi mereka tidak pernah membuat kekacauan di rusun Cempaka sendiri.
"Kakakkkk... kak Ivona.." tiba-tiba ada anak gadis dengan usia sekitar tujuh tahun berlari dan memeluk Ivona. Gadis itu langsung berjongkok untuk menerima pelukan anak kecil itu.
"Hey.., kamu siapa?? Kakak agak lupa padamu sayang." sambil mengusap punggung gadis kecil itu, Ivona bertanya padanya.
"Kathleen kakak.. Habisnya kakak perginya lama banget, ga ada yang bantuin Kathleen dan teman-teman belajar lagi. Sekarang kami sudah sekolah kak.. di SD Negeri dekat pengkolan depan." sahut gadis kecil bernama Kathleen itu dengan perasaan senang. Di masa lalu, Ivona memang sering mengumpulkan anak-anak yang banyak menghabiskan hidup di pinggir jalan. Mereka diberi les gratis, dan bahkan dibelikan peralatan membaca serta menulis. Vegetatif yang dialami Ivona, dengan terpaksa memisahkan interaksi mereka dengan dewi penolongnya.
"Okay.., rajin-rajin sekolahnya ya. Kakak masih ada urusan, nanti sore kita bisa kumpul-kumpul lagi jika kakak tidak ada acara." Ivona kemudian berdiri, dan pamitan dengan Kathleen. Gadis kecil itu melambaikan tangan mengiringi kepergian Ivona.
"Bye kak Ivona.. take care..!" ucap Kathleen sambil kembali berlari dan bergabung dengan temannya untuk bermain.
Ivona tersenyum, kemudian melangkahkan kakinya menjauh keluar dari komplek rusun. Gadis itu tidak sadar jika ada laki-laki tampan yang mengamati perilakunya tadi. Laki-laki sedang berhenti untuk membeli air mineral di sebuah kios kecil. Saat Ivona berinteraksi dekat dengan Kathleen, seorang gadis kecil dengan pakaian yang di bawah standar, seorang laki-laki dengan penuh tanda tanya sedang melihatinya. Apalagi ketika gadis kecil itu memanggil gadis muda itu dengan panggilan Ivona.., laki-laki itu seperti terketuk hatinya.
__ADS_1
"Aku tidak memiliki uang tunai.., aku harus ke ATM dulu untuk mengambil beberapa uang. Saat ini aku juga membutuhkan ponsel, tadi aku lupa mencari dimana ponsel lamaku. Aku akan membelinya dulu, sembari nanti mencari ponsel lamaku." Ivona berpikir sendiri. Melihat ada anjungan tunai mandiri salah satu bank di pojok jalan, Ivona bergegas menuju kesana.
***************
Di depan ATM, Ivona melihat gerombolan anak-anak jalanan sedang duduk nongkrong. Ada yang membawa kecrek, cello, gitar sedang mengobrol sambil memegang rokok di tangannya. Ivona tersenyum melihat kehidupan lamanya berada di tempat itu.
"Hey mbak Ivona kah...?? Brooo.., ini mbak Ivona bukan?" salah anak muda itu langsung bertanya saat melihat kemunculan Ivona di tempat itu kembali. Sudah sangat lama, mereka tidak menyaksikan senyum dan keceriaan Ivona yang sangat terkenal di komplek itu. Gadis muda yang suka membantu, tetapi berpenampilan barbar.
Lima anak muda itu langsung berjalan menghampiri Ivona. Mereka tidak mengira sedikitpun masih bisa melihat gadis itu berdiri di dekat mereka dalam keadaan sehat.
"Kok malah pada bengong, masa pertanyaanku tidak dijawab." Ivona berbicara lagi dengan mereka.
"Eh.. eh.., iya mbak Ivona, malah kita jadi malu. Begini mbak, kita kaget saja. Karena tiga bulan yang lalu, terakhir kita menengok mbak Ivona yang masih koma di rumah sakit, kita sempat bertanya pada Dokter dan perawat. Mereka bilang pada kami, kemungkinan mbak Ivona dapat bangun kembali dan sehat hanya satu persen. Jawaban itu membuat orang-orang disini menjadi down mbak, dan kita jadi membenci kenyataan itu, Bahkan sejak itu, tidak ada lagi yang rajin menengok mbak Ivona di rumah sakit." anak muda yang bernama Harun menjelaskan sikap mereka pada Ivona.
__ADS_1
Ivona tersenyum, kemudian menepuk pundak Harun.
"Umur manusia itu rahasia Tuhan. Manusia hanya membuat prediksi, tetapi keputusan akhir ada di tangan Tuhan. Okay ya.., sehat-sehat semuanya. Mbak mau ambil uang dulu.." Ivona langsung berpamitan dan meninggalkan mereka. Kelima anak muda itu melambaikan tangan, dan gadis itu segera masuk ke bilik ATM, karena kebetulan sudah kosong.
Setelah memasukkan ATM dan menekan nominal uang yang akan dia ambil, Ivona menunggu beberapa saat. Lima belas lembar uang pecahan seratus ribu keluar dari mesin, dan Ivona mengulangi pengambilan sebanyak tiga kali. Karena merasa tidak memiliki uang cash, Ivona memang mengambil sedikit banyak untuk keperluan sehari-hari. Tidak mungkin dia hanya akan mengandalkan pemberian dari Dokter Marcus. Uang-uang itu dengan rapi, Ivona simpan di dalam dompet, dan memasukkannya ke tas selempang.
"Aku akan ke Toserba saja.., disana ada merchant yang membuat ponsel. Nanti aku bisa membayarnya dengan menggunakan debit card untuk transaksi." gumam Ivona, kemudian melangkahkan kaki untuk berjalan menuju Toserba.
Baru beberapa langkah Ivona berjalan kaki, instingnya sebagai seorang gadis jalanan sangat peka merasakan sesuatu. Sejak dia keluar dari pagar komplek Rusun, gadis itu merasa ada seseorang yang mengamati perilakunya. Tetapi dia hanya berpikir jika itu merupakan suatu kebetulan. Karena dengan ketenarannya di komplek sebagai Dewi Penolong, bisa mungkin terdapat beberapa orang akan merasa penasaran dengannya.
Dan kali ini dia merasakan jika ada orang yang mengikutinya. Ivona berpikir bagaimana menjebak orang itu. Tiba-tiba gadis itu menjatuhkan ikat rambut yang semula ada di pergelangan tangannya, kemudian dia membungkuk untuk mengambilnya kembali. Dari sela-sela lututnya, Ivona mengarahkan pandangannya untuk mengawasi ke belakang. Gadis itu melihat ada seorang laki-laki tampan berbadan tinggi dan tegap sedang melihatnya dari tempat yang sedikit jauh. Perlahan Ivona kembali berdiri, kemudian membalikkan badannya dan melihat ke arah laki-laki tampan tersebut. Sekejap keempat mata itu bertatapan langsung, tetapi laki-laki tampan tersebut dengan sebatang rokok di mulutnya, langsung membalikkan wajahnya saat tatapan mata mereka bertemu. Kemudian laki-laki itu berjalan berlawanan arah dengan Ivona.
"Siapa laki-laki itu.., berani-beraninya dia mengamatiku di tempat ini. Apakah dia tidak tahu.., di daerah ini dia bisa menjadi sasaran empuk para preman jalanan," gumam Ivona. Melihat cara berjalannya, Ivona mengingatkannya pada seseorang. Gadis itu langsung mengambil nafas dan mengusap pelan dadanya yang berdesir. Dia tidak mau dipusingkan dengan urusan orang lain, Ivona langsung bergegas melanjutkan ke arah tujuannya.
__ADS_1
*************