
Thomas bingung, dia tidak menyangka jika saat ini Tommy berubah sikapnya pada Vaya. Dia yang selama ini selalu berusaha untuk menghibur dan menyenangkan gadis itu, kali ini dia tampak bersikap dingin pada Vaya. Melihat Thomas yang masih diam bengong, Tommy meninggalkan Thomas dan Vaya. Dia langsung berjalan lebih masuk ke lingkungan sekolah. Matanya menengok kesana kemari untuk mencari Ivona.
"Kak.., kak Tommy.." Vaya memanggil Tommy yang berjalah menjauh darinya. Gadis itu masih berpikir jika kakaknya itu hanya sedang bercanda dengannya.
"Hmm.." sahut Tommy singkat, tetapi dia mengabaikan panggilan Vaya untuknya. Dia seperti tidak melihat Vaya, dan seperti gadis itu tembus pandang tidak dapat dilihat secara kasat mata.
Melihat hal itu, Thomas hanya menghela nafas. Dia tidak memiliki waktu untuk mengurusi Vaya, dia segera mengikuti langkah Tommy, dan juga meninggalkan Vaya sendirian disitu. Vaya sangat terhenyak dan terkejut dengan perubahan sikap kedua kakaknya. Dia tidak ingin mempercayainya, tetapi semua terjadi di depan matanya. Kedua kakaknya yang selama ini selalu perhatian dan sangat peduli padanya, kali ini memandang dengan sebelah matapun tidak. Tanpa kata, mereka berdua berjalan pergi meninggalkannya sendirian.
"Tunggu Tomm..., jangan tinggalkan aku!" teriak Thomas memanggil saudaranya itu. Dia segera berlari kecil menyusul saudara laki-lakinya yang baru saja datang dari luar negeri. Tetapi Tommy seperti tidak mendengar panggilan dari Thomas, dia terus berjalan tanpa berhenti untuk menunggu Thomas.
**************
Setelah teman-temannya satu persatu meninggalkan kelas, Ivona segera membereskan buku dan memasukkan ke dalam tasnya. Teman-temannya sudah keluar kelas dari tadi, bahkan William sudah tidak menampakkan hidungnya sejak siang. Laki-laki yang duduk di sebelahnya itu, memang tidak pernah fokus dan konsentrasi di dalam kelas. Selalu saja ada alasan untuk meninggalkan pelajaran. Tetapi Ivona berusaha untuk bersikap masa bodoh, dia tidak memiliki niat untuk peduli dengan teman-temannya yang lain. Hanya Beni teman sekelas yang pernah dia tolong, saat ini masih setia menunggu Ivona, dan mengajaknya untuk bersama-sama keluar dari kelas.
"Yuk Ben.., kita segera pulang. Semua perlengkapanku sudah masuk ke dalam tas!" Ivona langsung mengajak Beni untuk segera keluar dari kelas. Laki-laki gemuk itu segera mengangkat pantatnya dari atas kursi, dan langsung berdiri menjejeri langkah Ivona.
"Langsung pulang atau mau mampir dulu Iv...?" tanya Beni sambil menoleh ke arah Ivona.
"Aku merasa lelah Ben, sepertinya langsung pulang deh. Semoga saja kakakku sudah menjemputku di depan gerbang sekolah." ucap Ivona ringan.
"Kakakmu itu yang terakhir kali aku bertemu dengannya itu ya? Tampan sekali dia, tapi hadeh.., tatapannya dingin dan datar, seperti mau membunuh orang." kata Beni yang memuji Alexander, karena dia masih mengira jika Alexander adalah kakaknya Ivona.
__ADS_1
"He..he..he..,"
Ivona tertawa kecil, dia tidak menjawab pertanyaan Beni. Biarlah orang menyimpulkan tentang hubungannya dengan Alexander, yang penting tidak merugikannya. Mereka kemudian berjalan keluar dari kelas secara bersama-sama.
"Tugas yang diberikan guru tadi gimana Iv.., ada kesulitan tidak?" tanya Beni sambil mereka berjalan di koridor sekolah.
"No problem, aku bisa kok. Kamu tidak perlu khawatir tentang aku Ben, meskipun aku terlihat tidak mendengarkan jika guru memberi pelajaran, tapi otakku langsung mencerna jika ada informasi yang baru." sahut Ivona sambil bercanda.
"Iyalah.., aku percaya. Kan dirimu juga menjadi duta untuk pelajaran Fisika."
"He.., he.., he.. lupakan saja Ben! Ga penting mah status buatku, status hanya bikin orang besar kepala." ucap Ivona sambil berjalan cepat mendahului Beni.
Tiba-tiba..,
Iv.., lihat disana tuh! Bukannya itu Tommy pengusaha di bidang film dan music. Mau apa dia kemari, apakah menjemput Vaya?" tanya Beni.
"Kamu duluan keluar saja ya Ben, aku masih ada urusan sebentar! Tidak perlu menungguku, karena aku lagi ingin sendiri." kata Ivona meminta Beni untuk meninggalkannya sendiri.
Beni menengok pada Ivona, dan gadis itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Okay.. aku keluar dulu ya. hati-hati, jaga dirimu!" Beni melambaikan tangan pada Ivona, kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendiri.
Ivona membalas lambaian tangan Beni, dia diam terpaku menunggu kedua kakaknya berjalan ke arahnya.
"Ada apa mereka berdua datang kemari? Apakah mau minta padaku, agar aku memaafkan Vaya?" Ivona bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Melihat Ivona berhenti dan berdiri di depannya, Tommy tersenyum dan langsung menghampiri Ivona dengan ekspresi gembira.
"Hallo selamat sore adikku Ivona tersayang. Kakak sangat kangen padamu, ada dua minggu kita tidak pernah bertemu." ucap Toni langsung merentangkan tangannya untuk memeluk Ivona.
Ivona yang masih berhenti di tempatnya, dia diam terpaku mengamati perubahan pada sikap Tommy. Dia sendiri tidak mempercayai apa yang dia lihat di depannya, Tommy yang biasa menghindarinya dan lebih mengutamakan Vaya, saat ini dengan muka cerah langsung menemuinya. Di tangannya penuh dengan bawaan hadiah.
"Nih untukmu.., kakak membelinya langsung di luar negeri. Dari bandara, kakak langsung menjemputmu kesini." Tommy mengulungkan kedua tangannya, menyerahkan hadiah yang ada di tangannya pada Ivona.
"Untuk Ivona.., tidak kelirukah?" tanya Ivona sambil mengerenyitkan dahi.
"Iya sayang..., masak kakak pergi tidak ingat akan adik kandungnya. Ini kakak persiapkan khusus untuk kamu, kakak yang membelinya sendiri di luar negeri." Tommy meyakinkan Ivona.
Ivona menerima hadiah dari Tommy, kemudian dengan penuh tanda tanya dia mengamati pemberian dari kakaknya itu. Sedangkan Tommy senyum-senyum melihat adiknya mau menerima oleh-oleh yang dia berikan padanya.
Di sisi lain, Vaya merasa marah dan semakin benci pada Ivona. Berkali-kali dia mengucek kedua matanya, dia ingin memastikan kenapa kedua kakaknya dan terutama Tommy mencari Ivona di sekolah. Keberadaanya di keluarga Iswaya seperti sudah dilupakan oleh semua orang yang ada di keluarga itu.
Beberapa orang yang melihat kejadian di sore sepulang sekolah itu menjadi terpaku, dan mereka pada bergosip. Mereka penasaran kenapa kedua kakak Vaya malah menghampiri Ivona, dan terkesan mengabaikan Vaya. Padahal mereka tahu, bagaimana kedua kakaknya itu selama ini.
"Lihat tuh.., ternyata Tommy dan Thomas ke sekolah kita bukan untuk mencari Vaya. Ternyata mereka berdua datang untuk menemui Ivona." celetuk salah satu murid yang melihat kejadian itu.
"Iya.., kasihan si Vaya.. Padahal tadi dia sudah sangat gembira melihat kedua kakaknya datang untuk menjemputnya. Tetapi ternyata itu hanya mimpi baginya, lihat kedua kakaknya itu bahkan tidak menghiraukan dirinya!"
Berbagai pembicaraan negatif dengan cepat muncul dan berkembang di sekolah, mereka mengambil kesimpulan berdasarkan pola pikir mereka sendiri-sendiri. Tetapi yang pasti, tatapan iri dan kebencian langsung muncul di mata Vaya.
__ADS_1
************