Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 28 Silakan Siapa yang Mau Datang


__ADS_3

Mendengar ucapan Thomas, seketika ruang makan menjadi sepi. Tidak ada yang berani bicara disitu, dan seketika Tuan dan Nyonya Iswara merasa bersalah dengan putri kandungnya. Ternyata mereka tidak bisa semudah itu menyayangi putri kandungnya, dan tetap lebih menyayangi Vaya yang sudah mereka asuh sejak masih bayi.


"Ya sudah, kita tunggu dulu sampai Ivona turun." akhirnya Tuan Iswara mengambil nafas, dan memecah kesunyian dengan perkataannya.


"Iya pa.., " jawab Nyonya Iswara. Tetapi Thomas tetap diam tidak berbicara, karena merasa semakin jijik dengan tingkah dan perilaku Vaya.


Vaya sangat marah dengan perkataan Thomas, dan mengingat dulu meskipun sudah ada Ivona, ketiga kakaknya sangat mengutamakan dan menyayanginya. Tetapi akhir-akhir ini dia merasakan bahwa ketiga kakaknya sudah berubah. Mereka bertiga saat ini lebih memperhatikan Ivona, daripada dirinya. Makanya Vaya bertekad untuk mempertahankan kasih sayang Tuan dan Nyonya Iswara hanya miliknya.


"Bagaimana pekerjaanmu Thomas, apakah kamu sudah merasa yakin akan menggantungkan hidup dengan esports?" Tuan Iswara berganti topik menanyai putra laki-lakinya itu.


"Yakin pa, untuk saat ini, apa sih yang tidak bisa Thomas miliki? Dengan penghasilan Thomas dari esports, bahkan bisa untuk hidup sampai tujuh turunan pa." jawab Thomas yang agak malas menjawab, karena pikirannya dari tadi berkutat pada Ivona.


"Yah..., terserah kamu saja. Tapi jangan lupa, tetap urus perusahaan saat kamu tidak ada kompetisi, seperti kedua saudara laki-lakimu."


"Baik pa."


********************


Tidak lama kemudian, terlihat Ivona sudah mulai turun ke meja makan. Gadis itu sudah mandi, dan wajahnya terlihat sangat bersih dan bening. Thomas tersenyum cerah saat melihat adik kandungnya itu sudah bergabung dengan mereka di meja makan. Dengan cepat Thomas menarik kursi untuk mempersiapkan adiknya duduk di situ. Dengan tatapan iri dan sengit, Vaya melirik tingkah kakaknya. Melihat sikap jealous Vaya, Ivona langsung menduduki kursi yang sudah disiapkan oleh Thomas.


"Ivona... kenapa kamu tadi pulang sendiri sayang? Kenapa tidak pulang bersama dengan Vaya?" Tuan Iswara mengajak putrinya berbicara untuk kembali mencairkan suasana.


"Tidak ingin." dengan cepat Ivona menjawab singkat. Thomas langsung memandang ke wajah adiknya, tetapi dia tidak melihat adanya penyesalan Ivona setelah menjawab dengan perkataan tersebut.

__ADS_1


Sementara itu, harapan Tuan Iswara untuk mencairkan suasana musnah sudah, ruang makan kembali menjadi sunyi dan dingin. Seketika muka Nyonya Iswara menjadi merah karena merasa sangat bersalah pada Ivona, dan dia mencairkan kesunyian dengan mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya.


Dalam hati Ivona tersenyum dan bersorak, saat dia melihat muncul rasa bersalah dari Nyonya Iswara. Matanya muncul kilatan mengejek di tatapannya yang datar.


"Vaya juga bisa diambilkan sekalian ma!" Vaya tetap bersikap manja dengan mamanya. Nyonya Iswara tidak menjawab, tetapi dengan cekatan langsung mengambil nasi dan lauk dan dituangkan ke piring Vaya. Dengan suka cita, Vaya langsung menyendok nasi  dan memasukkan ke mulutnya.


Saat dengan kikuk, Nyonya Iswara akan mengambilkan nasi untuk Ivona, dengan cepat gadis itu menolak.


"Tidak perlu ma, Ivona bisa ambil sendiri." dengan sigap Naura segera mengambil nasi dan menuangkan di piringnya. Meskipun sebenarnya dia merasa malas makan bersama mereka, tetapi dia tetap memaksakan dirinya untuk mengunyah makanan di mulutnya.


Melihat Ivona sudah mulai mengunyah meskipun terlihat tanpa selera, Thomas ikut menuangkan nasi ke piring dan mulai makan nasinya.


"Oh iya, besok Sabtu malam ada acara ulang tahun dari tetua keluarga Chandra." kata Tuan Iswara kembali mengajak keluarganya bicara.


"Pastilah, kita harus berada disana. Ivona..., apakah besok kamu ingin ikut datang di acara ulang tahun keluarga Candra tersebut?


"Tapi pa.., biasanya kan Vaya yang menghadiri acara tersebut. Biar Vaya saja pa, lagian kan belum ada yang mengenal Ivona di acara tersebut?" belum sampai Ivona menjawab pertanyaan dari Tuan Iswara, tetapi Nyonya Iswara sudah memotongnya terlebih dulu.


Nyonya Iswara seperti merasa keberatan jika Ivona yang hadir, dan ingin Vaya yang hadir. Dari perkataannya, terlihat dia lebih mengutamakan Vaya, dan ada kekhawatiran jika Ivona hadir, maka akan merebut sesuatu milik Vaya.


"Tapi ma, menurut Thomas Ivona juga memiliki hak untuk hadir di acara tersebut? Kalau Vaya ikut, ya Ivona harus diajak juga dong." Thomas tiba-tiba bicara membela Ivona.


"Nanti kita pikirkan lagi Thomas, yang pasti Vaya akan hadir dalam acara ulang tahun tersebut." dengan cepat Nyonya Iswara menjawab pertanyaan putranya.

__ADS_1


Thomas merasa jengkel dengan sikap egois mamanya dalam memperlakukan Vaya, Dalam hati, dia ingin memberi tahu pada mamanya jika yang putri kandungnya adalah Ivona, bukan Vaya. Jadi seharusnya perhatian dan kasih sayangnya dialihkan untuk Ivona, bukan untuk Vaya. Sedangkan Vaya terlihat sangat bahagia, karena dia merasa jika mama dan papanya masih sangat menyayangi dia.


Melihat perdebatan itu, tiba-tiba terdengar tawa dingin Ivona ..


"He..he..he.., untuk apa meributkan siapa yang akan datang di acara ulang tahun tetua keluarga Candra. Ivona tidak ingin pergi ke acara itu, silakan siapa yang mau datang kesana." ucap Ivona tanpa beban. Thomas melihat Ivona, tetapi dia sedikitpun melihat ada penyesalan di adik kandungnya setelah mengucapkan kalimat itu.


"Ivona..Ivona..., betapa sabarnya kamu menghadapi mereka di rumah ini. Kalau aku jadi kamu, kenapa tidak kamu racun saja mereka?" Ivona berpikir sendiri dalam hati.


Dengan tanpa memiliki rasa malu, Nyonya Iswara melihat ke arah Ivona sambil tersenyum.


"Nha.. tuh Ivona sendiri yang mau tidak pergi ke acara itu. Kita tidak perlu memaksanya kan pa?" kata Nyonya Iswara sambil tersenyum. Sedangkan Vaya sangat bahagia, karena akhirnya dia yang akan menghadiri acara ulang tahun tersebut.


"Iya juga ma, kamu memang benar. Lagian nanti Roy juga akan hadir, dan meskipun aku sudah pernah mengikat Roy dengan Ivona dalam pertunangan, tetapi anak laki-laki itu ternyata lebih menyukai Vaya." Tuan Iswara tanpa sadar dengan pernyataannya yang terkesan melindungi Vaya.


"Makanya pa, dari awal kan mama sudah bilang, biar Vaya saja yang datang ke acara itu. Biar antara Roy dan Vaya semakin akrab, dan Ivona biar di rumah dulu."


Ivona yang dari awal memang tidak memiliki nafsu makan, sangat muak dengan pembicaraan itu. Dengan prihatin, Thomas mengamati perubahan muka Ivona. Dan di depan matanya, Thomas melihat Ivona langsung berdiri, kemudian..


"Ivona tidak tertarik dengan pembicaraan ini, terserah siapa yang mau datang ke acara ulang tahun. Juga Ivona tidak tertarik cerita tentang Roy." tanpa pamit Ivona melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.


"Ivona.., akan kemana kamu pergi, dan dengan siapa?"


*************************

__ADS_1


__ADS_2