
Melihat mata Ivona kembali terpejam, dokter Marcus terlihat panik. Laki-laki itu sudah menunggu lama untuk sadarnya Ivona. Dua asisten dokter yang ikut mendampingi di belakangnya berusaha untuk menenangkan dokter tersebut. Tetapi perlakuan mereka diabaikan oleh dokter itu. Saat melihat peralatan medis yang menunjukkan respon organ dalam Ivona dari pernapasan, jantung dan lainnya yang terpasang di tubuh Ivona melihatkan tanda normal, Marcus akhirnya mengambil nafas lega.
"Tinggalkan aku disini.., sepertinya otak Ivona belum bisa merespon semua yang terjadi di depannya dengan cepat." Marcus meminta dua asisten dokter untuk meninggalkannya sendiri.
Laki-laki itu memegang telapak tangan Ivona, kemudian mencium punggung tangannya. Ester melihat sikap Marcus yang terlihat sangat menyayangi Bossnya, muncul sedikit rasa iri dan cemburu di dalam hatinya. Berbagai upaya sudah dia lakukan untuk mendekati Dokter Marcus, tetapi sedikitpun dokter itu tidak pernah meresponnya. Jika Bossnya Ivona juga membalas perhatian Marcus padanya, Ester akan mundur dengan teratur, tetapi yang dia tahu Ivona selalu bersikap cuek pada laki-laki itu. Saat pada satu kesempatan sebelum Ivona koma, Ester pernah menanyakan bagaimana perasaan Bossnya pada Dokter Marcus, Ivona hanya menganggap laki-laki itu sebagai teman tidak lebih.
"Apa yang bisa Ester bantu Dokter..?" perlahan Ester mendatangi Dokter Marcus, yang malah menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang yang digunakan Ivona tidur.
"Tidak ada Ester.., kamu bisa meninggalkan Nona Ivona bersamaku. Jangan mengkhawatirkannya, selama ada aku disini, tidak akan ada apa-apa yang terjadi dengan Ivona." mendengar bagaimana jawaban Dokter Marcus atas pertanyaannya, Ester terdiam. Perlahan gadis itu berjalan mundur, kemudian duduk di sofa sendiri sambil memandang punggung Dokter itu.
Berjam-jam Dokter Marcus masih bertahan duduk di samping ranjang Ivona. Untungnya dia sudah tidak memiliki jadwal apapun, karena seharusnya laki-laki ini sudah harus kembali pulang ke rumah. Melihat Dokter Marcus tertidur, Ester tidak berani membangunkannya. Perempuan itu mengambil sarung bali yang terlipat di lemari nakas, kemudian berjalan menghampiri Dokter Marcus. Perlahan Ester menyelimuti punggung Dokter Marcus, yang sedikitpun tidak mengetahui apa yang sudah dia lakukan. Setelah melihat punggung dokter yang terlihat sangat letih, Ester kemudian meninggalkannya. Perempuan itu mengikuti Marcus, dia mulai memejamkan matanya sambil berbaring di atas sofa.
************
__ADS_1
Ivona merasa berada di sebuah padang rumput hijau yang sangat luas, dengan dua pohon besar di tengah-tengah padang tersebut. Burung-burung kecil beterbangan dan hinggap di pohon tersebut. Sinar matahari senja tampak terang berwarna jingga menerpa wajahnya, dan Ivona berjalan mendekati pohon tersebut. Gadis itu terdiam sejenak, saat melihat Alexander dengan senyum manis sedang menunggunya di celah antara dua pohon tersebut.
"Kakakkkkk.." Ivona memanggil Alexander dengan suara keras. Laki-laki yang dia panggil merentangkan kedua tangannya untuk menyambutnya dari bawah pohon tersebut. Ivona terus berlari.., tetapi dia merasa jika langkahnya terasa berat. Seperti ada batu besar yang menghalangi langkahnya untuk menghampiri Alexander.
"Kak Alexx..." Ivona berteriak kencang saat tiba-tiba melihat Alexander pergi terbang meninggalkannya.
"Nana.., Nana.. bukalah matamu. Ada aku disini, tenanglah." tiba-tiba suara Marcus terdengar mengajaknya berbicara. Ivona langsung membuka matanya, dan melihat Marcus sedang mengusap keringat di dahinya. Tampak kecemasan yang terlihat di raut wajah Marcus.
"Marcus..., kemana kak Alex..? Kenapa kak Alex pergi meninggalkan aku Marcus.., apakah ada yang kurang dari pelayanan yang aku berikan padanya." dengan dahi berkerenyit, Marcus mendengarkan perkataan Ivona. Setelah melepaskan alat bantu pernapasan di hidung Ivona, Marcus mendekat dan memeluk Ivona yang sedang menangis terisak.
"Alex baru keluar Ivona. Jangan khawatir.., dia tidak akan meninggalkan kamu sendiri. Kamu harus segera memulihkan staminamu." meskipun Marcus tidak mengerti siapa laki-laki yang dipanggil Ivona itu. Tetapi untuk menenangkan Ivona.., laki-laki itu berpura-pura mengetahui tentang Alexander dan mengatakan jika dia baru sedang tidak di tempat.
Ivona tidak percaya, dia memandang ke mata Marcus. Dan laki-laki itu menganggukkan kepala sambil tersenyum, dan akhirnya Ivona berusaha untuk mempercayainya.
__ADS_1
"Aku akan memeriksamu dulu Ivona.., kamu harus banyak makan makanan yang bergizi dan memiliki nutrisi yang tinggi. Kamu harus segera pulih, karena masih banyak tanggung jawab yang harus kamu selesaikan. Okay.." Dokter Marcus tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. Laki-laki itu segera berdiri, kemudian meninggalkan Ivona sendiri.
Ester segera mendekat ke arah Ivona, perempuan muda itu tersenyum bahagia melihat Boss nya sudah tersadar dari vegetatif untuk waktu yang lama di rumah sakit ini. Untungnya Ivona yang selalu berpenampilan easy going dan terkesan barbar ternyata memiliki simpanan trilliunan rupiah, sehingga perawatan nomor satu di rumah sakit termahal di negeri ini tidak menjadi masalah baginya.
"Nona.., apakah Nona Ivona masih ingat pada saya?? Ester iri Nona.., karena Nona langsung mengingat Dokter Marcus.., tapi tidak mengenali Ester." tiba-tiba Ester mengajukan pertanyaan pada Ivona. Gadis yang baru saja sadar dari koma untuk waktu yang lama itu, mencoba mengingat-ingat serpihan memorinya yang banyak terlupakan.
"Gadis ini adalah Ester.., dia sekretarisku pada kehidupanku sebelumnya. Tetapi kenapa Ester ada disini.., dan dimanakah kak Alex, masak kak Alex dengan mudah meninggalkanku sendiri dengan Marcus." berbagai pertanyaan muncul di benak Ivona. Dia berusaha memadukan dua kehidupan yang sudah dia jalani sebelumnya.
Melihat Ivona melamun, kecemasan kembali menghantui Ester. Dia tidak mau lagi ditinggalkan dalam keadaan ketidak pastian untuk waktu lama oleh Ivona.
"Nona.. Non Ivona sadar kan? Jangan tinggalkan Ester lagi Nona.." tiba-tiba air mata Ester membasahi punggung tangan Ivona, dan gadis yang baru sadar dari koma itu tersentak. Dia masih bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Antara kembali pada kehidupan sebelumnya, atau masih berada dalam kehidupan di dalam novel, semua masih menimbulkan tanda tanya pada dirinya.
"Iya Ester.., aku mengingatmu. Tapi jangan paksa aku berpikir Ester.., aku masih bingung dengan apa yang aku alami saat ini." ucap Ivona lirih, sambil menarik tangannya dari wajah Ester. Merasa tidak percaya dengan perkataan Ivona.., Ester memandangi wajah Ivona sambil tersenyum.
__ADS_1
"Minggirlah dulu Ester.., aku akan memeriksa denyut nadi, jantung, dan semua organ Ivona." tiba-tiba kedatangan Dokter Marcus menghentikan interaksi antara mereka berdua. Tanpa membantah, Ester memundurkan tubuhnya dan melihat Dokter Marcus memeriksa Ivona dengan bersandar pada dinding kamar.
**************