Revenge: Terlahir Kembali

Revenge: Terlahir Kembali
Chapter 192 Sesal


__ADS_3

"Plakk..." suara tamparan di pipi Rossie dilayangkan kakak Vaya. Sejak pukul 23.30 wib, kakak Vaya mencari adiknya di area cafe, ruang karaoke, diskotik bahkan di private room tidak bisa menemukannya. Saat dia masih kebingungan bertanya-tanya dimana Vaya, tiba-tiba laki-laki itu melihat Rossie di dance floor. Tidak mau membuang waktu, kakak Vaya langsung menanyakan keberadaan adiknya, dan dijawab Rossie jika Vaya sedang bersenang-senang dengan Nathan.


"Bang**sat kamu Rossie.., berani-beraninya kamu menjual adikku pada laki-laki mata keranjang seperti Nathan." seru kakak Vaya dengan suara tinggi. Tidak berhenti hanya memberinya tamparan, tangan kakak Vaya mencekik leher Rossie, sampai perempuan itu merasa kesakitan.


"Ampun.., ampuni aku John... Aku pikir kamu membebaskanku melakukan apapun pada adikmu. Aku akan mentransfer uang yang dikirim Nathan ke rekeningku." dengan tangisan menyayat, Rossie memohon ampun pada John. Saat John akan kembali melayangkan pukulan ke arah Rossie, tiba-tiba....


"Hey.., jangan buat keributan disini, atau aku akan membawa kalian ke kantor polisi!" dua orang security Majestic Club berlari dan memegangi kakak Vaya dari belakang. John meronta berusaha membebaskan kedua tangannya dari security yang memegangnya dari belakang.


"Duak..., brakk.." tanpa diduga, menggunakan kaki kanannya, John mengirim tendangan dan mengenai pinggang Rossie. Perempuan terjatuh ke belakang menabrak kursi.


"Aduhhh..., ampun John, ampuni aku.." suara tangisan kembali terdengar dari mulut Rossie.


"Sabar John.., apa yang kamu lakukan?? Apakah kamu akan menghancurkan Club ini, sadarlah!" satu dari security membentak John dengan nada kasar. Merasa bersalah, Rossie segera berlari menubruk dan memeluk tubuh John.


"Maafkan aku John.., aku rela menerima hukuman darimu. Aku khilaf.." dengan muka lebam dan mata sembab, Rossie berusaha memeluk John. Perempuan itu mencoba menghilangkan kekesalan laki-laki itu padanya. Seperti yang perempuan itu duga, tidak lama kemudian.. John terlihat mulai tenang. Laki-laki itu kemudian duduk di kursi yang ada di belakangnya. Menggunakan tangannya, Rossie memberi kode pada kedua security untuk meninggalkan mereka dan menutup akses masuk ke dalam.

__ADS_1


Melihat John yang masih duduk terdiam sambil menahan dagu menggunakan satu tangannya, perlahan Rossie melangkah mendekati laki-laki itu. Dengan berani, Rossie menurunkan gaun sisi atasnya, dan terlihat oleh John dua squissy kenyal yang menjulang di atas dadanya, tampak menjumpai dan menggodanya untuk menyentuh. Laki-laki itu masih belum bereaksi, hanya pandangan matanya tampak tidak berkedip melihat pada dua squissy kenyal milik Rossie.


"John.., tataplah mataku. Aku akan memuaskanmu malam ini.., untuk menggantikan kesalahanku pada adikmu." tanpa menunggu jawaban keluar dari mulut John, Rossie bertindak agresif. Perempuan itu menurunkan gaunnya sampai ke bawah, kemudian mendekati laki-laki itu, satu kakinya diangkat, dan dia duduk mengangkang di pangkuan John. Tidak ada reaksi balik dari John, dengan agresif Rossie memegang wajah John, kemudian mengarahkan mulut John ke puncak dari squissy kenyalnya. Satu tangannya, melepas kancing baju atasan John satu persatu.


Tidak dapat menahan godaan yang ditawarkan Rossie, dengan penuh ga**irah John segera menyergap Rossie. Laki-laki itu kemudian mengangkat tubuh Rossie kemudian menjatuhkannya di atas sofa. Kedua orang itu tidak menunggu lama, langsung berpadu dan mengisi kekosongan hati mereka masing-masing. Mereka seperti terlupakan dengan permasalahan yang baru saja mereka ributkan.


**************


Keesokan Paginya


"Aaaawww..., siapa kamu?? Kenapa kamu tidur di atas ranjangku?" Vaya berteriak saat melihat laki-laki dengan perut buncit sedang menindih tubuhnya. Ketika gadis itu menyadari, jika dia dan laki-laki itu tidak mengenakan baju, secara reflek kakinya menendang Nathan yang masih tidur terlelap.


"Aduh.., kenapa kamu menendangku honey.., tidak bisakah sikapmu seperti tadi malam?" Nathan membuka matanya, dan melakukan protes terhadap sikap Vaya. Gadis itu meringis ketakutan, dia segera bergeser ke sudut king bed dan tangannya menyambar *bed cover yang *dia gunakan untuk membungkus tubuhnya yang tidak tertutup selembar benangpun.


"Apa yang sudah kamu lakukan padaku..?" dengan suara tertahan karena isak tangis, Vaya bertanya pada Nathan. Tubuhnya merasa menggigil tatkala melihat ada bercak darah di atas sprei. Melihat reaksi yang ditunjukkan Vaya, Nathan tersenyum smirk. Laki-laki tanpa mempedulikan tubuhnya yang telanjang segera beranjak, kemudian mengambil ponselnya yang dia taruh diatas nakas.

__ADS_1


Setelah menyalakan ponsel dan terlihat mengutak-utik fitur ponsel, sambil tersenyum Nathan menyerahkan ponselnya pada Vaya. Terlihat laki-laki itu sedang menyalakan video.


"Lihatlah honey.., ini bukti interaksi kita tadi malam. Apakah aku yang memaksamu untuk menyerahkan dirimu padaku..?" dengan suara lirih, Nathan berbisik di telinga Vaya. Gadis itu mengambil ponsel dengan cepat, kemudian memutar video yang ditunjukkan Nathan.


"Bukan.., bukan.. ini bukan aku.." suara rintihan terdengar dari mulut Vaya, matanya terbelalak saat melihat bagaimana tingkahnya dalam merayu John tadi malam. Terlihat jelas di video yang dia putar, bagaimana dia menawarkan bagian-bagian sensitif kewanitaannya pada laki-laki itu. Nathan dengan muka yang sama-sama bergai**rahnya, merespon tingkahnya. Air mata mengalir di pipi Vaya, saat dalam video itu terlihat bagaimana dia dan Nathan sudah melakukan penyatuan bersama.


"Berhentilah menangis honey.. Aku akan bertanggung jawab padamu. Jika kamu mau.., aku akan segera mengatur pernikahan kita secepatnya." Nathan mendekat ke tempat Vaya.., perlahan tangan Nathan meraih tengkuk Vaya kemudian menyandarkan kepala gadis itu di dadanya. Sudah merasa kepalang tanggung, Vaya menangis tersedu-sedu di dada Nathan.


"Kakak..., Rossie .. I hate you..!" gumam Vaya lirih. Dia menjadi bingung dan kalut tentang apa yang akan terjadi lagi padanya di masa depan, apalagi saat ini dia tinggal bersama John. Tangisan Vaya terdengar menjadi lebih keras, dan Nathan yang kaget memegang kepala Vaya dan menengadahkan wajahnya.


"Honey.., what happend..?? Apa yang kamu takutkan, kalau kamu mau menikah, segera akan aku atur pernikahan kita. Kamu tinggal menentukan konsep apa yang akan kamu minta..?" Nathan terus berusaha menghibur Vaya, yang tambah kencang menangisnya. Setelah beberapa saat, gadis itu baru tersadarkan. Dengan cepat, Vaya menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya.


"Aku akan memanfaatkan laki-laki ini. Semua sudah terlanjur, aku tidak akan dapat mengembalikan lagi nasibku seperti yang dulu." Vaya tiba-tiba berpikir sendiri. Gadis itu segera bergeser ke pinggir ranjang, kemudian dia mencoba berdiri. Saat Vaya akan melangkahkan kakinya, gadis itu merasa perih dan sakit di organ kewanitaannya. Dia sampai meringis..


************

__ADS_1


__ADS_2