
Tengah malam Ivona terbangun, saat dia membuka matanya dia merasa kebingungan. Beberapa saat gadis itu mengumpulkan potongan-potongan ingatan yang masih tersisa. Setelah terdiam beberapa waktu, Ivona teringat jika tadi baru pergi ke rumah Nyonya Besar Kavindra, dia langsung beranjak duduk.
"Kenapa aku bisa berada di kamar kak Alex..? Bukannya tadi aku meminta kak Alex untuk mengantarkan pulang ke rumah keluarga Iswara." Ivona bertanya pada dirinya sendiri.
Dia kemudian melihat ke atas tembok, dan saat menengok jam yang ada di kamar itu, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Merasa waktu sudah hampir mendekati tengah malam, Ivona mengambil nafas panjang. Dia memutuskan untuk menginap di tempat Alexander kembali. Sebenarnya dia sering tidak bisa tidur jika menginap di rumah keluarga Iswara, tetapi karena rasa sungkan pada Alexander karena kejadian beberapa hari lalu di Jakarta, dia menahan semuanya. Begitu dia berada di dekat laki-laki muda itu, mencium aromanya sudah memabukkan, dan melelapkannya dalam tidur nyenyak.
"Kenapa aku jadi merasa ketergantungan dengan Kak Alex? Padahal aku harus meninggalkan negara ini dengan segera." gumam Ivona sendiri.
"Apakah nanti aku bisa ya, berada jauh dari laki-laki muda itu? Jujur aku tidak mungkin bisa membohongi perasaanku sendiri, pesona Kak Alex memang sudah menghipnotisku menjadi seperti ini. Meskipun saat ini, aku terperangkap dalam tubuh gadis usia belasan tahun, tetapi usiaku sendiri di kehidupan sebelumnya sudah di usia 20 tahun." Ivona masih terperangkap dalam lamunannya.
Tetapi merasa badannya lengket, Ivona segera bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak lama berselang, gadis itu sudah keluar dari kamar mandi dengan muka cerah. Dia teringat jika ada tugas yang diberikan oleh guru kelas. Setelah berganti baju dengan piyama, Ivona mencari tas sekolahnya.
"Dimana tas sekolahku, apakah tertinggal di dalam mobil ya. Jika ya, aku tidak mungkin mengambilnya sendiri, pasti mobil sudah dimasukkan ke dalam garasi dan pintunya sudah dikunci." Ivona mengalami kegalauan melihat tas sekolahnya tidak ada di dalam kamar.
Perlahan Ivona bangun kemudian keluar dari dalam kamar, dan tidak tahu kenapa, gadis itu malah berjalan menuju kamar yang digunakan untuk istirahat Alexander.
"Tok.., tok.., tok..," perlahan Ivona mengetuk pintu kamar Alexander. Tidak menunggu lama, laki-laki muda itu membuka pintu kamarnya. Senyuman langsung mengembang di bibirnya, melihat Ivona sudah cantik dan cerah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Kamu sudah mandi, sejak kapan kamu bangun tidur?" tanyanya lembut sambil menatap Ivona dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Gadis itu mengangguk, kemudian menarik tangan Alexander.
__ADS_1
"Kak Alex.., antarkan Ivona ke mobil!" gadis itu tiba-tiba merengek pada Alexander.
"Sebentar.., sebentar.., jangan bilang kamu minta diantarkan pulang ke rumah keluarga Iswara malam ini. Sekarang sudah tengah malam Nana.." Alexander menerka apa yang diinginkan Ivona.
"Ivona juga tahu jika ini tengah malam. Dan aku masih cukup memiliki kewarasan untuk meminta kak Alex mengantar pulang. Ivona mau mengambil tas sekolah, ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi jam pertama." mendengar gadis itu nyerocos, Alexander tersenyum.
Tangan laki-laki muda itu terulur, dia meletakkan tangannya di bahu Ivona. Kemudian dia mengarahkan Ivona untuk masuk ke dalam kamar.
"Itukah yang kamu cari sayang?" tanya Alexander sambil menunjuk tas sekolah Ivona yang ada di atas sofa, dan beberapa buku dalam keadaan terbuka berada di atas meja.
Ivona langsung melangkahkan kaki, masuk ke kamar laki-laki muda itu tanpa risih. Dia heran melihat buku-bukunya terbuka dan terlihat di depannya tugas yang tadi siang diberikan oleh guru kelas.
"Kakak yang membuka-buka buku Ivona?" tanya Ivona malu, karena dia memang tidak pernah menulis jika guru sedang menjelaskan. Dia hanya akan mencatat jika ada tugas untuk dikerjakan siswa.
"Sudah.., ayo aku bantu mengerjakan tugasnya. Setelah ini, segera berangkat tidur, biar besok tidak kesiangan bangunnya." Alexander langsung ikutan duduk di samping Ivona. Dia segera menunjukkan tugas-tugas sekolah yang harus segera diselesaikan oleh gadis itu.
**************
Di rumah keluarga Iswara
Pagi hari seluruh anggota keluarga kecuali Ivona sedang sarapan pagi di meja makan. Sebenarnya Rio, Tommy dan Thomas malas untuk makan bersama, tetapi untuk menghormati kakek, ketiga putra keluarga Iswara itu akhirnya bersedia.
__ADS_1
"Siang ini mama ya yang datang ke SMA Dharma Nusa, papa ada rapat mendadak di perusahaan!" Tuan Iswara membuka pembicaraan.
"Memang ada undangan pa? Kapan mengantarnya?" tanya Nyonya Iswara heran.
Nyonya Iswara mengkerutkan dahinya, tidak ada kata-kata sebelumnya, saat ini Tuan Iswara memintanya untuk datang ke SMA Dharma Nusa. Perempuan paruh baya itu sudah berpikir, pasti keperluan pelanggaran yang dilakukan oleh putri kandungnya Ivona. Dia yakin jika bukan urusan Vaya, karena putri yang dirawatnya sejak masih bayi itu tidak memberitahukan apapun padanya.
"Bukan undangan tertulis. Tadi malam pak Haryo dan Kepala Sekolah sudah menelponku untuk datang ke sekolah hari ini." jawab Tuan Iswara.
"Apa maksud papa, tidak bisakah papa meluangkan waktu sejenak untuk datang ke sekolah putri kita?" Nyonya Iswara menolak dengan halus. Dia tidak malu dipermalukan di sekolah, seperti saat terakhir dia datang dipanggil pihak sekolah.
"Kan papa sudah bilang, jika papa ada rapat mendadak dengan seluruh Direksi perusahaan. Lagian mama kan juga cuma di rumah saja, atau terkadang hanya kongkow-kongkow dengan kelompok sosialita mama. Luangkan waktu sebentar untuk menghadiri undangan mendadak dari sekolah!" ucap Tuan Iswara dengan nada tinggi.
Melihat keributan di meja makan, kakek dengan muka merah padam menghentikan makannya. Menyadari hal itu, ketiga putra keluarga Iswara saling berpandangan mata.
"Sudahlah ma.., pa.., jika papa dan mama tidak ada waktu untuk mengurusi adik kandung kami bertiga. Biarkan Tommy, Rio dan Thomas yang akan datang ke SMA Dharma Nusa. Siapa tahu ada informasi penting tentang sekolah Ivona." Tommy mewakili kedua saudara laki-lakinya bersuara.
"Kakek akan ikut dengan kalian. Ayo.., segera habiskan makanan kalian! Kakek sudah cukup pegal hanya tidur dan berjalan-jalan di dalam rumah." suara kakek terdengar bergetar.
"Kakek..." seru mereka bertiga.
"Sudah.., ikuti apa kata kakek! Aku sudah selesai makan, antarkan aku ke kamar! Aku harus segera berganti baju dan siap-siap ke sekolah cucu kandungku." kata kakek tegas.
__ADS_1
Tidak mau melihat kakeknya lebih marah lagi, Thomas langsung berdiri dan segera mendorong kursi roda ke kamar kakek. Tommy dan Rio segera bergegas mengikuti Thomas pergi meninggalkan meja makan.
***************