
Donny berbicara dengan Aldo di pinggir kolam renang yang ada di bagian belakang mansion tempat tinggal Aldo. Sesibuk apapun laki-laki itu, Aldo memang selalu menyempatkan diri untuk berolahraga. Gym mini, kolam renang bahkan fasilitas mandi sauna tersedia lengkap di mansion tersebut. Laki-laki muda itu memang tidak menyukai berbagi fasilitas dengan orang-orang yang tidak dikenalnya, sehingga menyediakan semua fasilitas itu di tempat tinggalnya sendiri.
"Bagaimana kondisi kemarin, orang-orang dan barang-barang milik gadis itu bagaimana keadaannya?" Aldo bertanya dengan serius.
"Semua sudah saya lakukan sesuai instruksi yang diberikan oleh Tuan Muda. Orang-orang dari rusun, sudah didampingi oleh psikiater untuk menghilangkan trauma healing. Mereka juga sudah kita informasikan untuk tidak kenai charge selama satu tahun. Seperti harapan Tuan Muda, selama waktu itu cukup untuk menyiapkan kelanjutan masa depan mereka." Donny melaporkan penanganan orang-orang rusun Cempaka. Asisten Aldo itu heran dengan sikap di luar nalar Tuan Mudanya itu, untuk apa Tuan Muda mengambil alih peran pemerintah dengan menyediakan tempat untuk mengevakuasi warga rusun. Bahkan sampai transportasi juga ditanggung oleh perusahaan Aldo.
"Barang-barang gadis muda itu?" sambil menyesap orange juice.., Aldo menanyakan barang-barang Ivona.
"Seperti perintah Tuan Muda, kebetulan sudah beberapa ruangan di villa yang sedang dibangun di atas bukit, sudah melalui tahapan finishing. Barang-barang Nona sudah kami amankan disana." Donny melanjutkan laporannya.
Aldo terdiam, laki-laki itu seperti berpikir tentang sesuatu. Orange juice di gelas yang dia pegang, tanpa sadar sudah habis tak tersisa.
"Untuk selanjutnya, apa lagi yang harus saya lakukan Tuan Muda?" merasa sudah tidak ada lagi urusan, Donny ingin segera pergi dari situ.
"Pergilah..., pastikan villa di atas bukit, dalam akhir bulan ini semuanya sudah jadi dan siap untuk digunakan." ucap Aldo tegas. Donny hanya diam, kemudian...
"Siap Tuan Muda.., saya ijin pergi dulu." Donny langsung pergi meninggalkan Aldo sendiri.
**********
Perlahan Ivona membuka mata, tetapi sejenak kebingungan menerpanya sementara. Matanya melihat ke sekeliling, dia berada di sebuah kamar yang jelas menunjukkan sisi-sisi maskulinitas. Gadis itu mengangkat tubuhnya, dan terkejut saat ada selang infus di tangannya.
"Ada dimana aku sekarang..?" Ivona bertanya pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dari luar, dan terlihat perempuan paruh baya masuk ke dalam kamar. Di tangannya membawa satu gelas berisi teh panas.
"Nona Muda sudah bangun..., syukurlah..," perempuan tua itu segera mendatangi Ivona.
"Saya ada dimana ini Bu..?" Ivona bertanya dengan suara lirih. Matanya memandangi perempuan paruh baya itu.
"Panggil saya dengan panggilan Bibi ya Nona Muda. Nanti Tuan Muda akan marah jika mendengar Nona Muda memanggil saya dengan panggilan itu." ternyata perempuan itu adalah salah satu pelayan di mansion ini. Setelah melihat Ivona menganggukkan kepala, Bibi itu mengulurkan gelas teh panas pada Ivona.
"Minumlah teh panas ini dulu Non.., mumpung masih panas. Biar tubuh Nona Muda terasa segar..." perlahan pelayan itu membantu Ivona dengan memegangi gelasnya, dan tidak butuh waktu lama air teh itu sudah terminum habis.
"Bibi..., saya ingin mandi dulu. Apakah dibolehkan?" Ivona bertanya dengan polosnya.
"Ya Tuhan.. Nona Muda kenapa ijin dengan bibi. Silakan Non.., saya hanya pelayan di rumah ini. Kamar mandinya ada disitu Non.., apakah perlu Bibi siapkan air panasnya dulu?" pelayan itu dengan sopan menjawab pertanyaan Ivona.
**********
Sepeninggalan Donny, Aldo mengakhiri olahraga paginya. Laki-laki itu masuk kembali ke dalam rumah, dan tatapannya melihat Bibi Ijah sedang berjalan keluar dari kamarnya dengan membawa gelas kosong.
"Tuan Muda.., selamat pagi." Bibi Ijah menyapa Aldo dengan sikap hormat.
"Apakah Nona Muda sudah terbangun?" tanya Aldo tanpa menjawab sapaan perempuan tua itu.
"Sudah Tuan Muda.., barusan Nona Muda sudah menghabiskan satu gelas teh panas. Bibi akan menyiapkan sarapan pagi dulu untuk Tuan Muda dan Nona Muda. Bibi yakin Nona Muda.. pasti sangat lapar, karena dari semalam belum makan sedikitpun." Bibi Ijah terburu-buru akan meninggalkan Aldo.
__ADS_1
"Dimana sekarang Nona Muda?" Aldo menahan pelayan itu dan menanyakan dimana Ivona berada.
"Maaf Tuan Muda, Bibi lupa memberi tahu. Nona Muda sedang di kamar mandi, tadi memberi tahu Bibi jika akan mandi pagi." Bibi Ijah memberi tahu dimana saat ini Ivona berada. Aldo tersenyum..,
"Ya sudah.., segera siapkan sarapan pagi di meja makan. Setelah Nona Muda selesai mandi, aku akan mengajaknya untuk sarapan terlebih dahulu." Aldo langsung meninggalkan Bibi Ijah dan masuk ke kamar yang ada di samping kamarnya yang ditempati untuk istirahat Ivona.
********
Di dalam kamar mandi, Ivona merasa takjub dengan apa yang dia lihat di depannya. Kamar mandi ini memiliki ruangan yang sangat luas, bahkan seluas ruangannya yang ada di rusun. Wardrobe berisi koleksi pakaian keluaran desainer ternama berada di depan pintu masuk kamar mandi, dan saat gadis itu masuk di bathroom. Kembali kekaguman melihat deretan parfum dengan merk yang sama, dan berbagai produk perawatan laki-laki terpajang dengan rapi.
Ivona tiba-tiba tersadar jika dia berada di kamar mandi seorang laki-laki. Tidak mau terbius dengan kemewahan yang terlihat di depannya, gadis itu segera masuk ke bath up. Ivona tidak memiliki pilihan lain, karena semua yang terpajang disitu adalah perlengkapan untuk laki-laki, mau tidak mau dia menggunakan itu semua.
"Siapa pemilik kamar semua yang ada disini..?? Aroma ini merupakan kesukaan kak Alex..." Ivona membaui semua aroma bath soap, shampoo yang mengingatkan kenangannya pada Alexander. Sejenak gadis itu terlena, gadis itu memanjakan dirinya dengan busa yang seperti mengobati kekangenannya pada suami di kehidupan terdahulu. Lebih tiga puluh menit, Ivona berendam dengan busa sambil menyandarkan kepalanya.
"Tok.., tok.., tok ." tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar mandi. Ivona tersadar jika dia sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi. Gadis itu segera membilas semua busa di tubuhnya dengan menggunakan shower. Setelah memastikan semua busa hilang, Ivona segera meraih handuk.
"Tok.., tok.., tok.." kembali ketukan terdengar di pintu.
"Sebentar.." akhirnya Ivona menjawab lirih.
Setelah meletakkan handuk, tiba-tiba Ivona ingat jika dia tidak memiliki baju ganti. Seketika Ivona merasa gugup, dan bingung melakukan apa. Sementara bajunya yang tadi dia kenakan, sudah kotor dan bahkan basah terkena cipratan air mandinya. Merasa kehilangan akal, Ivona berbalutkan handuk berjalan ke pintu. Tatapannya melihat deretan pakaian laki-laki, dan seketika muncul ide untuk meminjam salah satu dari pakaian itu.
********
__ADS_1