
Wakil direktur kaget mendengar reaksi yang disampaikan Giandra lewat perkataanya. Dia tidak menyangka jika peneliti senior itu juga tertarik dengan Ivona, bahkan ingin merebutnya dari Institut Komputer Internasional. Tetapi sepatah katapun, wakil direktur tidak menyebutkan nama gadis itu pada peneliti senior tersebut.
"Apakah kamu memiliki nomor ponselnya Marcus?" tanya Giandra pada Wakil Direktur.
"Ada Tuan, nanti bisa saya cek di log panggilan masuk. Apakah Tuan ingin saya kirimkan nomor ponsel dari tuan Marcus?" dengan hati-hati khawatir memancing kemarahan Giandra, Wakil Direktur bertanya.
"Seperti itu kenapa pakai bertanya. Segera kirimkan nomor ponsel Marcus, aku akan hubungi sekarang juga anak muda itu. Aku akan bilang padanya, jangan macam-macam padaku. Dia tidak tahu apa, bagaimana posisiku di negara ini. Anak kemarin sore mau bermain-main sama orang yang lebih senior." ucap Giandra sambil menutup teleponnya.
Wakil Direktur hanya bisa menghela nafas, karena dia belum sempat bereaksi, tetapi Giandra sudah mengakhiri panggilan telpon secara sepihak. Segera Wakil Direktur tidak mau menunda permasalahan, dia segera mencari nomor ponsel Marcus, kemudian mengirimkannya pada Giandra via chat di whattsapps.
************
"Hey..., aku keluar dulu ya! Mau ngopi dulu untuk menemani sebatang rokok, pahit mulutku dari tadi." Marcus berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya. Dia berdiri kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
"Yupz.., sebentar lagi aku juga dah kelar. Nanti aku susul kamu, aku juga ingin segera tidur." sahut salah satu rekan kerjanya.
"Yoi.." sahut Marcus tanpa menengok mereka, dia terus berjalan keluar.
Sesampainya di luar, Marcus tersenyum melihat kafe yang ada di depan gedung masih buka. Sambil bersenandung, dia langsung mengarahkan kakinya memasuki kafe tersebut. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dan mendapatkan satu tempat di sudut dengan pandangan keluar jendela.
Marcus segera menuju ke tempat yang sudah dia incar, kemudian tanpa menghiraukan orang-orang yang sudah berada di kafe itu, dia langsung duduk. Tangannya melambai, dan seorang waiters segera menghampirinya sambil membawa buku menu.
"Americano Hot gula aren dipisah 1, sandwich tuna 1." Marcus langsung memesan minuman dan makanan untuk mengganjal perutnya.
"Siap.., silakan ditunggu sebentar!" setelah mencatat pesanan Marcus, waiters seegra berjalan meninggalkan laki-laki muda itu.
__ADS_1
Sambil menunggu, Marcus mengambil ponselnya yang selalu dia pasang Mode Silence jika sedang bekerja.
"Panggilan dari siapa ini? Gila cing..., sampai 30 kali, he..he..he.." Marcus tertawa kecil melihat ada panggilan tidak terjawab sampai sebanyak 30 kali.
"Aku telpon balik tidak ya? Ah siapa dulu yang butuh, jika sampai puluhan kali dia menelponku, berarti dia yang membutuhkan aku. Aku cuekin saja, paling juga bentar lagi dia akan menelponku." Marcus berbicara dengan dirinya sendiri. Dia meletakkan ponselnya di atas meja, dan dia melihat ke sekelilingnya kembali.
Ternyata benar dengan dugaan Marcus, telponnya kembali berdering dengan nomor yang sama sedang melakukan panggilan masuk. Marcus langsung mengangkat ponselnya..
"Ya.., dengan Marcus disini." jawab Marcus.
"Kamu Marcus ya.. Aku Giandra peneliti senior. Ingat siapa dirimu, kamu ini masih peneliti junior, bisa-bisanya mengambil sebuah keputusan tanpa memikirkan terlebih dahulu." mendengar perkataan Marcus, Giandra langsung marah-marah pada Marcus.
"Ehmmm." Marcus memotong perkataan Giandra dengan berdehem.
"Aku mendapatkan laporan baru saja. Kamu sudah berani membajak orang berbakat dari negaraku. Apakah kamu meremehkan kemampuan negaraku untuk bisa merekrutnya. Tanpa berpikir, kamu langsung merekrut dia untuk menjadi tim di institusimu." mendengar perkataan Giandra, Marcus tetap diam tidak memberikan tanggapan.
Mendengar jika lawan bicaranya tidak bereaksi, Giandra baru tersadar. Dia kemudian mulai tenang.
Mendengar perubahan Giandra, Marcus hanya tersenyum sinis, dia menyeringai dingin. Tanpa memberikan jawaban, dia langsung mematikan panggilan telpon dari Giandra secara sepihak.
"Orang kurang makan garam apa ya? Main telpon, marah-marah,.., eh.. endingnya malah minta bantuan." gumam Marcus sambil menyalakan rokoknya.
******************
Melihat panggilan telponnya dimatikan secara sepihak oleh Marcus, Giandra terpancing kembali kemarahannya.
"Dasar kurang ajar, dihubungi orang tua, malah main matikan telpon tanpa permisi." Giandra kembali marah, sambil memukul meja yang ada di depannya.
Dia kembali menekan nomor Marcus untuk memanggilnya kembali, tetapi ternyata ponsel Marcus sedang tidak aktif. Dalam keadaan emosi, dia tiba-tiba teringat dengan insiden yang menyebabkan dia bisa mendapatkan informasi tentang talent yang dimiliki oleh orang di wilayah negaranya.
__ADS_1
"Kenapa aku tidak ingat tentang berita anak haram keluarga Iswara ya. Jika aku menghubungi keluarga Iswara, aku akan dapat menemukan Ivona. Aku akan menanyai anak itu, siapa tahu dia kenal dengan anak berbakat yang diceritakan wakil direktur tadi." sambil tersenyum karena merasa sudah menemukan jalan, Giandra berbicara dengan dirinya sendiri.
Giandra kemudian mencari anak buahnya, dia meminta untuk segera dicarikan nomor ponsel dari Tuan Iswara.
*******************
Hari Senin, Ivona kembali pada aktivitas rutinnya yaitu berangkat ke sekolah. Setelah melewati libur dua hari, meskipun dia tetap belajar dengan dibantu Alexander, dia merasa lebih segar. dengan ekpresi ceria, dia turun dari mobil di depan pintu gerbang sekolah
"Terima kasih Kak Alex.." Ivona mengucapkan terima kasih pada Alexander yang mengantarkan sampai di sekolah.
"Iya.., belajar yang serius, jangan kebanyakan main!" pesan Alexander sambil melihat Ivona memasuki pintu gerbang.
"Siap." jawab Ivona tanpa menengok ke belakang.
Alexander hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu. Setelah punggung gadis itu sudah tidak tampak, dia kemudian menjalankan mobilnya dan langsung menuju kantor. Dia sendiri sama sekali tidak menyangka, ternyata kehadiran gadis itu di rumahnya menjadikan hidupnya menjadi lebih berwarna.
"Hey..., kamu sudah mendengar berita belum?? Sebenarnya siapa sih Ivona itu, dia sepertinya hanya anak haram dari keluarga Iswara." terdengar di telinga Ivona, ada temannya yang sedang bergunjing tentangnya.
"Iya.., Vaya yang anak kandung dan lahir dari ikatan pernikahan resmi. Kalau Ivona, dia hanya anak dari simpanan Tuan Iswara." lanjut temannya yang lain.
"Berarti gosip yang sempat beredar di media sosial kemarin itu benar ya? Tapi sayang sekarang beritanya sudah tidak ada, katanya langsung menghilang. Bahkan akun pengunggahnya juga ikutan hilang seperti dihapus."
"Benar dong, tapi siapa ya kira-kira yang menghapus postingan itu. Tidak mungkin kan jika itu Ivona sendiri yang menghapusnya." mereka meragukan kepintaran Ivona.
Ivona tersenyum sinis, mendengar teman-teman sekelasnya sedang bergunjing menceritakan berita palsu tentang dirinya. Dia hanya berdiri dengan bersandar pada tembok, sambil mendengarkan hal apa saja yang dipergunjingkan itu.
"Brakk." tiba-tiba Beni menggebrak meja tempat murid-murid itu bergunjing tentang Ivona.
__ADS_1
***********