
Marcus hanya bisa memandang punggung Ivona yang dirangkul seorang laki-laki tinggi besar, yang sudah memasuki lapangan pemberangkatan. Berkali-kali laki-laki itu memanggil nama gadis itu, tetapi sebuah head set terpasang di telinga Ivona, sehingga gadis itu tidak bisa mendengarnya. Hanya tatapan dingin dan mendominasi dilayangkan laki-laki yang dengan intim merangkul punggung Ivona, menuju pesawat jet pribadi. Marcus menjatuhkan lutut kakinya ke atas lantai, dan Richard dengan tatapan prihatin menepuk punggung rekannya itu.
"Bangunlah Marcus.., kamu menjadi tontonan banyak orang!" Richard berusaha membangunkan laki-laki itu dengan mengangkat pinggangnya untuk mengajaknya berdiri.
"Aku kalah Richard.." dengan bibir bergetar, Marcus bicara pada Richard, dan laki-laki itu hanya bisa memeluk Marcus dan membawanya pergi dari situ.
"Tidak ada menang atau kalah Marcus.., bangkitlah! Ini bukan peperangan, dan kamu juga belum tahu kan siapa laki-laki yang bersama dengan Ivona. Masih banyak kesempatan di lain waktu, saat ini memang menurutku hal yang tepat jika Ivona kembali ke Indonesia. Gadis itu masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan sekolahnya, tunggulah beberapa saat lagi! Jika Ivona sudah lulus, kita bisa menjadikan sebagai permanent team di unit kita." Richard memberi gambaran pada Marcus.
Marcus memandang Richard, dan laki-laki itu tersenyum. Sebenarnya Richard kasihan pada Marcus, karena laki-laki itu sangat sulit untuk tertarik pada seorang gadis, sehingga di usia 30 tahun dia masih melajang. Dia juga belum pernah mendengar, jika Marcus pernah terlibat hubungan dengan seorang perempuan. Tetapi saat hatinya sudah menetapkan satu pilihan, keterlambatan sikapnya, menjadikan gadis yang dia incar sudah menjadi milik dari laki-laki lain. Melihat kemampuan yang ditimbulkannya, Richard meyakini jika laki-laki itu memiliki identitas yang luar biasa.
"Aku akan berusaha lagi Richard.., toh tadi Ivona hanya kirim pesan padaku jika dia akan kembali pulang ke Indonesia. Masih ada tanggung jawab sekolah yang haruse segera dia bereskan." akhirnya Marcus bisa menerima nasehat Richard. Kedua laki-laki itu kembali berjalan ke parkiran.
***********
Alexander Flash back On
"Drtt.., drtt.., drtt.." ponsel Alexander tiba-tiba bergetar. Laki-laki itu melirik screen, dan melihat pengawalnya yang berada di luar memberinya panggilan.
"Nana.., tunggu sebentar, selesaikan makanmu! Aku akan menerima panggilan telpon terlebih dahulu." Alexander minta ijin pada Ivona, kemudian laki-laki itu melangkah keluar ruangan. Sesampainya diluar private room..,
"Ada apa?" tanya Alexander singkat setelah menekan panggilan diterima.
__ADS_1
"Tuan Muda.., maaf mengganggu. Di luar ada orang dari Institut Komputer International mencari Nona Muda Ivona, saat ini mereka masih di bagian informasi." pengawal tersebut melaporkan apa yang dia lihat di depan.
"Okay.., majukan penerbangan! Aku akan segera membawa Ivona pergi dari private room." ucap Alexander memberikan perintah.
"Siap Tuan Muda." setelah mendapatkan perintah baru, pengawal segera mengakhiri panggilan telpon. Laki-laki itu kemudian mengkoordinasi semua pengawal yang bersiap di semua sudut airport.
Dengan mata menyipit dan senyuman smirk, Alexander segera masuk kembali ke private room. Dia melihat Ivona sudah menyelesaikan makannya, dan sedang mencuci tangan di wastafel.
"Sudah selesai makannya?" tanya Alexander lembut. Dia menghampiri Ivona, kemudian ikut membersihkan tangannya.
Ivona menganggukkan kepala, kemudian kembali duduk di kursi.
"Nana.., ayo kita harus segera menuju ke tempat keberangkatan. Karena kita menggunakan jet pribadi, kita harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca. Barusan aku mendapatkan telpon, untuk mengantisipasi cuaca, kita harus segera berangkat sekarang." Alexander segera menyampaikan pada Ivona untuk berangkat.
"Dari pada bising mendengar mesin pesawat, pakailah headset ini terlebih dahulu." ucap Alexander, sambil memilihkan musik yang pas dengan style gadis itu.
Kemudian laki-laki muda itu langsung memimpin langkah Ivona, sambil merangkul gadis itu, mereka segera keluar dari private room dan langsung menuju tempat pemberangkatan.
"Ivona.., Ivona.., tunggu aku!" terdengar teriakan suara laki-laki memanggil Ivona. Tetapi karena gadis itu menggunakan headset di telinga dengan suara musik yang termasuk keras, dia tidak mendengar panggilan tersebut.
Alexander menoleh dan melihat ke arah sumber suara. Dari kejauhan Alexander melihat ada laki-laki tampan yang sedang berusaha mengejar mereka. Tiba-tiba muncul rasa geram dalam hatinya melihat laki-laki muda itu.
__ADS_1
"Siapa laki-laki itu, kenapa wajahnya beda dengan laki-laki yang ada di foto yang diberikan Tommy padaku?" Alexander membatin sendiri.
"Tuan.., ijinkan saya menemui Ivona sebentar saja! Ada yang ingin aku sampaikan pada gadis itu." kembali laki-laki yang ternyata Marcus kembali berteriak. Dengan tatapan kekuasaan dan mendominasi, Alexander kembali menoleh dan mengacungkan jari tengahnya pada Marcus. Laki-laki itu mempercepat langkahnya, dan langsung membawa Ivona menaiki pesawat dengan mengangkat tubuh mungil gadis itu.
#Alexander Flash back Off
***********
Tommy geram mendapatkan pemberi tahuan dari Alexander jika dia akan membawa Ivona kembali ke Indonesia pada malam nanti. Dia jengkel karena selalu terlambat satu langkah dengan kenekatan yang dilakukan oleh teman sekaligus mitra bisnisnya itu. Tampak wajah Ivona yang tampak bahagia sedang memainkan air laut di Repulse Bay dikirimkan Alexander untuk memperkuat ucapannya,
"Sangat susah untuk memenangkan hati Ivona saat ini.., tetapi Alexa selalu memiliki kesempatan lebih dulu dariku." gumam Tommy sambil memukulkan kepalan tangannya di atas meja.
Pagi tadi dia membayangkan kembali, bagaimana dia dan Thomas berusaha untuk menjaga status dan reputasi gadis itu, karena sudah lewat satu minggu dari waktu yang dijanjikan untuk kembali menempuh pembelajaran offline. Tetapi ternyata malah Alexander asyik bermain pasir dan air dengan adiknya di pantai.
"Aku akan menjemput Ivona malam ini di airport Halim perdana Kusuma. Aku tidak mau Ivona mencapku sebagai seorang kakak yang tidak memiliki tanggung jawab, meskipun sebenarnya aku juga tidak memiliki hubungan darah dengan gadis itu. Tetapi karena aku menempati tubuh Tommy di masa lalu, yang merupakan kakak dari gadis ini, aku terpaksa harus menyesuaikannya." Tommy bertekat, kemudian laki-laki itu segera berdiri.
Tommy segera keluar dari ruang kerjanya, kemudian mendatangi sekretaris yang sedang menata berkas pekerjaan.
"John.., aku akan pergi sekarang! Tangani jika ada orang yang mencariku." Tommy memberi tahu jika dia akan keluar.
"Baik Tuan.., tapi bagaimana dengan Tuan Jack. Bukankah Tuan sudah mengatur janji jauh-jauh hari untuk berbincang secara formal dengan beliau?" John mengingatkan akan schedull yang sudha diatur untuk Tommy.
__ADS_1
"Kamu saja yang urus.., kali ini aku harus segera pergi." Tommy langsung melangkah keluar meninggalkan ruangan. John hanya mampu menghela nafas, sambil melihat punggung Tuan Mudanya berjalan meninggalkannya.
**************