
Belum mendengar kabar terbaru tentang keberadaan Ivona, dari pagi Aldo marah-marah. Semua pelayan rumah yang ada di villanya, tidak berani untuk menjawab. Apa yang mereka sajikan, mereka lakukan tidak ada yang dianggap benar oleh majikannya. Ditambah Donny yang seperti sengaja mematikan ponselnya, menambah kemarahan dan kegusaran laki-laki muda itu. Tanpa bicara, Aldo segera masuk ke mobil dan langung menginjak pedal gasnya. Setelah beberapa saat, laki-laki muda itu sudah menghentikan mobilnya di halaman rusun Cempaka.
"Blamm.." tidak sabar menunggu, Aldo keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobilnya dengan suara keras. Laki-laki muda itu tidak menghiraukan tatapan orang-orang yang ingin mengetahui keberadaannya disitu. Dengan segera, Aldo memasuki ruang depan rusun, dan langsung menaiki tangga menuju ke lantai dua.
"Pintu kamar gadis itu terbuka.., semoga saja Ivona sudah ada di dalam." laki-laki muda itu tersenyum melihat pintu ruangan Ivona terbuka. Aldo tidak tahu, jika Bibi Sonya setiap pagi akan bersih-bersih ruangan itu dan memasak untuk Ivona.
"Selamat pagi.." suara tegas Aldo di depan pintu masuk, memanggil penghuninya.
"Pagi.., tunggu sebentar!! Saya akan matikan kran dulu.." tidak berapa lama, seorang perempuan tua bergegas keluar menemui Aldo. Merasa tidak tahu jika ada perempuan tua yang tinggal dengan gadis muda itu, Aldo terdiam. Laki-laki muda itu mengerenyitkan dahinya.
"Tuan mau ketemu dengan siapa??" Bibi Sonya bertanya pada Aldo dengan ramah. Mata tua perempuan itu terlihat kagum dengan wajah tampan yang dimiliki laki-laki muda itu.
"Kamu siapa, kenapa ada di dalam kamar Ivona??" tidak menjawab pertanyaan Bibi Sonya, Aldo malah balik bertanya.
"Saya Bibi Sonya, tetangga Non Ivona. Setiap pagi, saya dipesan oleh mama Non Ivona untuk bantu-bantu membersihkan kamar dan ruangan lainnya, serta memasakkan gadis muda itu. Lha Tuan Muda ini siapa, dan mau mencari siapa?" tanpa takut, Bibi Sonya tersenyum dan menjawab pertanyaan Aldo dengan tenang. Tanpa dipersilakan masuk, Aldo langsung masuk ke dalam ruangan dan duduk di atas sofa. Matanya diedar ke sekeliling, tetapi laki-laki muda itu bahkan tidak dapat mencium keberadaan gadis muda itu. Bibi Sonya terlihat khawatir, dan mengikuti Aldo di belakangnya.
"Tuan Muda..., anda sedang mencari siapa??" Bibi Sonya kembali bertanya pada Aldo.
__ADS_1
"Tidak mungkin kan, jika aku kesini mencari kamu?? Ada dimana Ivona.., apakah gadis itu sudah pulang?" tanpa menjawab pertanyaan perempuan tua itu, Aldo menanyakan keberadaan Ivona. Gadis kecil yang sudah membuatnya semalam tidak dapat tidur.
"Owalah..., ternyata Tuan Muda ini temannya Non Ivona to. Mohon maaf Tuan Muda.., Bibi sudah terbiasa tidak pernah ketemu dengan Non Ivona. Bibi kesini, Nona Ivona sudah tidak ada, siapa tahu ada urusan pagi-pagi sehingga Bibi tidak ketemu dengannya pagi ini." mengetahui jika laki-laki muda itu mencari Ivona.., Bibi Sonya menjawab dengan ramah. Perempuan tua itu, sedikitpun tidak mempedulikan kejudesan yang ditunjukkan oleh laki-laki muda itu.
Merasa tidak mendapatkan kejelasan yang disampaikan perempuan tua itu, Aldo menjadi semakin gusar. Untungnya tiba-tiba ponselnya berdering, dan terlihat Donny sedang memberinya panggilan masuk. Dengan cepat, laki-laki muda itu langsung menekan tombol terima.
"Akhirnya aku tahu kamu masih hidup Donny." terdengar suara arogan Aldo menyapa Donny.
"Maaf Tuan Muda..., ponsel Donny ternyata low bat, dan ada di dalam tas Tuan. Ampuni saya!!" mendengar nada bicara tidak suka dari Aldo, Donny meminta maaf duluan.
"Bagaimana hasil penyelidikanmu?" tidak menanggapi pemrintaan maaf Donny, Aldo langsung mengajukan pertanyaan.
"Aku akan langsung menuju ke perusahaan Richard, segera susul aku kesana! Sekalian bawa beberapa pengawal bersamamu!" sambil berdiri, tanpa pamitan dengan Bibi Sonya, Aldo berjalan meninggalkan ruang tamu di rusun Ivona. Bibi Sonya hanya menggelengkan kepala melihat kearoganan laki-laki muda itu.
**************
Tanpa mendengarkan keberatan yang disampaikan Ivona, Richard langsung mengarahkan mobilnya menuju ke perusahaan. Melihat jalanan yang dilewati tidak sedikitpun mengarah menuju daerah Cempaka, Ivona tidak melakukan apapun. Gadis muda itu hanya memandang ke wajah serius Richard, tetapi sedikitpun laki-laki muda itu tidak melihatnya sama sekali. Tidak berapa lama Richard mengemudi, mobilnya sudah dihentikan di depan lobby sebuah gedung perkantoran. Ivona diam, gadis muda itu terlalu malas untuk ikut keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
"Keluarlah Nana..!" setelah memutari bagian depan mobilnya, Richard membukakan pintu mobil untuk Ivona, dan meminta gadis muda itu untuk segera keluar. Laki-laki muda itu tersenyum dan berdiri di samping mobil tempat Ivona duduk.
"Huh..." malas berdebat, akhirnya Ivona melepas seat belt, kemudian turn dari mobil tanpa menyapa Richard sedikitpun.
"Blam.." dengan segera, Richard menutup pintu mobi, tangannya meraih telapak tangan Ivona kemudian menggandengnya dan membawanya masuk ke dalam perusahaan.
"Selamat pagi Tuan Muda..." security dan petugas lobby memberi salam pada Richard, dan mata mereka menatap Ivona dengan tidak percaya. Mereka tentu saja merasa heran, karena belum pernah sekalipun majikan mereka membawa seorang gadis muda ke perusahaan.
"Pagi.., jika ada yang mau bertemu denganku, langsung bawa mereka ke meeting room!" setelah menjawab sapaan anak buahnya, Richard segera menuju lift khusus Direksi, dan membawa Ivona masuk ke dalamnya. Ivona sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk bicara, dan Richard juga ikut diam tidak mengajaknya bicara.
Setelah sampai di lantai 17, lift berhenti dan pintu segera terbuka. Richard kembali menggandeng tangan Ivona, kemudian membawanya ke ruang kerjanya.
"Tuan Muda.., selamat pagi. Nona.." sekretaris Richard mengucapkan salam pada Richard dan Ivona. Laki-laki muda itu tidak menjawab sapaan sekretarisnya, hanya mengangkat satu tangannya dan langsung masuk ke dalam ruangan.
"Nana..., kamu mau menemaniku dengan duduk di sofa sambil menunggu client ku. Atau kamu menunggu di dalam kamar saja?" Richard bertanya pada Ivona, tetapi gadis itu merasa bingung dengan yang dimaksud dengan kamar oleh laki-laki muda itu.
"Maksud kakak..., apakah kakak mau meninggalkanku di hotel?" daripada salah persepsi, Ivona memberanikan diri bertanya langsung pada Richard. Mendengar pertanyaan Ivona, kembali Richard mengacak-acak rambut di kepala gadis muda itu. Orang yang tidak tahu, mereka akan melihat hubungan mereka seperti kakak dan adik.
__ADS_1
"Kamu terlalu banyak berpikir.., masuklah!" Richard menekan tombol di belakang meja kerjanya, dan tiba-tiba sebuah pintu geser tiba-tiba terbuka.
**************