
Selesai makan malam, semua anggota keluarga kembali berkumpul di dalam ruang keluarga. Tommy duduk di samping Alexander yang satu kursi dengan Ivona. Kakek terlihat sangat bahagia, melihat semua anggota keluarganya tampak lengkap.
"Bagaimana keadaanmu cucuku, kakek yakin mesti nak Alex menjagamu dengan sangat baik." kakek menanyakan kabar Ivona, sambil tersenyum.
"Iya kek, Ivona baik dan sehat. Bahkan saat ini Ivona juga memiliki guru privat yang siap mengajari kapanpun Ivona mau belajar." ucap Ivona sambil melirik Alexander.
"Oh iya Kakek.., Ivona harap kakek tidak melupakan esok hari." lanjut Ivona yang mencoba mengingatkan kakeknya.
Semua yang duduk di ruangan itu, saling berpandangan, mereka merasa esok hari bukan hari amniversary siapapun. Tetapi kenapa Ivona meminta kakek tidak melupakan sesuatu.
"Pasti tidak cucuku.., kakek selalu mengingatnya. Jam berapa besok kita akan berangkat ke Jakarta, aku harap kamu ikut mendampingi kakek kesana cucuku?" ternyata kakek ingat tentang jadwal tindakan operasi kanker otak yang dia derita.
"Untuk apa ayah pergi ke Jakarta besok, bukankah ayah baru satu minggu lalu pulang dari rumah sakit. Apakah tidak beresiko jika ayah sudah akan bepergian keluar kota?" Tuan Iswara langsung memotong perkataan mereka.
"Benar apa kata papa. Tidakkah kamu memikirkan kondisi kakekmu Ivona.., bisa-bisanya kamu akan mengajak kakek untuk pergi?" Nyonya Iswara menyambung perkataan Tuan Iswara.
Rio dan Tommy yang tidak ikut pembicaraan minggu yang lalu, mereka terbengong tidak memahami arah pembicaraan. Sedangkan Thomas seperti biasa, akan menunggu waktu untuk bisa menyampaikan pendapatnya. Pengalaman dipukuli Nyonya Iswara saat dia mengusir Vaya atas perintah kakeknya, masih membekas dalam hatinya. Jadi saat ini, dia cenderung untuk menunggu.
"Kalian itu apa yang selalu kalian pikirkan? Jadwal akan dilakukan tindakan operasi atas penyakitku saja kalian semua sudah melupakannya. Untung masih ada cucu kandungku Ivona, yang selalu berpikir untukku. Apakah kalian pikir, ada atau tidak adanya aku sudah tidak memiliki arti untuk kalian?" kakek bersuara dengan nada tinggi.
"Sudah kakek, kendalikan amarah kakek! Malam ini kakek bersiap, istirahat lebih awal. Ivona janji akan ikut mengantarkan kakek ke rumah sakit di Jakarta. Kakek tidak perlu khawatir, hanya kakek yang Ivona miliki saat ini." ucap Ivona mencoba mengendalikan amarah kakeknya.
"Apakah ayah tetap akan ikut dengan keputusan yang diambil oleh Ivona. Bukannya Iswara sudah mengatur janji dengan Dokter Purnomo, dia juga siap untuk melakukan tindakan operasi di kota ini. Apalagi kita memiliki hubungan emosional dengan dokter itu." Tuan Iswara menyampaikan pendapatnya.
"Iya ayah.., karena Vaya, kita bisa memiliki kedekatan dengan Dokter Purnomo." Nyonya Iswara menambahkan.
__ADS_1
"Papa.., mama.., bukannya pembicaraan terakhir minggu lalu, sudah diputuskan jika kakek akan dilakukan tindakan operasi oleh Dokter Tantowi. Dokter itu langsung terbang dari luar negeri, dan ke negara ini hanya untuk operasi kakek. Apakah kita ini bijaksana, jika akan menggantinya dengan Dokter Purnomo?" Thomas sudah tidak dapat menahan diri untuk bicara.
"Sudah mendengar belum kalian apa kata putramu Thomas?" tanya kakek masih dengan nada tinggi. Tuan dan Nyonya Iswara langsung terdiam, mereka tidak berani membantah perkataan orang tuanya.
"Kakek.., agar perjalanan singkat. Untuk perjalanan esok hari, asisten saya sudah menyiapkan jet pribadi. Kemudian dari bandara, kita akan naik pesawat helikopter dan langsung landing di helipad rumah sakit. Kebetulan rumah sakit untuk tindakan operasi kakek, sudah memiliki hanggar di atas gedung." Alexander tiba-tiba turut bicara.
Tommy terkejut, dia sama sekali tidak mengira jika Alexander sudah terlalu jauh masuk dalam urusan keluarganya. Dia memang tidak tahu kejadian saat Ivona ribut dengan keluarga Iswara, ketika kakek baru pulang dari rumah sakit.
"Terima kasih nak Alex.., kamu sudah terlalu banyak berbuat baik untuk keluarga ini." ucap kakek terharu.
"Tidak kakek, kita kan sudah memiliki perjanjian kerjasama. Jadi apa yang saya lakukan, sebagai salah satu fasilitas dari perjanjian tersebut." Alexander menanggapi ucapan kakek Ivona.
*************
"Kak, malam ini Ivona tidur di sini dulu ya. Besok kan kakek harus sudah berangkat ke Jakarta, Ivona akan menemani kakek dulu untuk malam ini." Ivona meminta ijin pada Alexander.
Alexander diam, dia hanya memandang Ivona. Dia merasa agak keberatan, ketika gadis ini yang sudah terbiasa menemani semua aktivitasnya saat di villa, malam ini minta ijin untuk kembali menginap di rumah keluarga Iswara.
"Boleh ya kak?" tanya Ivona penuh harap. Melihat niat gadis ini hanya untuk menemani kakeknya malam ini, Alexander akhirnya menganggukkan kepala.
"Masuklah sekarang, segera istirahat! Besok pagi kamu tidak berangkat ke sekolah kan? Kamu harus istirahat lebih awal," Alexander meminta Ivona untuk segera istirahat.
"Besok pagi aku yang akan memintakan ijin untukmu Iv.., agar gurumu mengijinkan kamu untuk tidak masuk sekolah." tiba-tiba Thomas menyambung kalimat Alexander.
__ADS_1
"Baik.., Ivona istirahat dulu ya kak." Ivona kemudian meninggalkan ketiga kakaknya dan Alexander yang masih berbincang di ruang tamu.
Setelah Ivona tidak terlihat lagi di dalam ruang tamu, Tommy bergeser mendekatkan tempat duduknya pada Alexander. Dia penasaran dengan kedekatan laki-laki itu dengan adik kandungnya. Rio dan Thomas hanya melihatnya dari depan tempat duduknya.
"Lex..., seberapa jauh kedekatanmu dengan adikku? Bagaimana kamu bisa menundukkan Ivona.., sampai anak itu lebih menurut padamu daripada dengan kami kakak-kakaknya?" Tommy menanyakan pada Alexander.
"Ha..., ha.., ha.., Tommy.., Tommy. Aku sudah pernah bicara padamu kan. aku sudah mengenal Ivona jauh sebelum kamu meminta tolong padaku untuk mengawasi dan menjaganya saat kamu pergi ke luar negeri." ucap Alexander sambil tertawa.
"Sebegitu picikkah kamu padaku, apakah begitu mudah aku mau menerima seorang gadis untuk mengajaknya tinggal bersamaku? Padahal aku belum mengetahui bagaimana sifatnya." Alexander menambahkan.
Tommy diam, dia kembali mengingat tentang siapa Alexander. Laki-laki CEO Kavindra Group itu biasanya seperti alergi dengan seorang perempuan manapun, tetapi dengan adiknya Ivona, laki-laki itu langsung menerimanya dan mereka bisa memiliki keakraban satu dengan lainnya. Padahal dengannya juga saudara laki-laki lainnya, Ivona seperti menjaga jarak. Mereka merasa sulit untuk mendekati Ivona.
"Bagaimana kamu bisa mengenal adikku?" tanya Thomas tiba-tiba. Sudah sejak lama, dia ingin menanyakan pertanyaan itu pada Alexander.
"Kalian berdua lupa padaku, huh..?" tanya Alexander tersenyum sinis, dia menatap Thomas dan Rio bergantian.
"Maksudmu?" tanya Rio cepat, dia tidak bisa mengingat siapa laki-laki muda yang duduk di depannya itu.
Alexander tidak menjawab pertanyaan Rio, dia kemudian berdiri. Alexander menepuk pundak Tommy..
"Mau kemana Lex?" tanya Tommy.
"Aku pulang dulu Tomm. Untuk Thomas dan Rio, lupakah kalian dengan kejadian saat hujan gerimis di depan rumah sakit jiwa?" Alexander langsung meninggalkan mereka bertiga.
__ADS_1
********************