
Saat semua orang terkejut dengan kedatangan Ivona yang tiba-tiba, anak itu langsung memeluk kakek dan mencium punggung tangannya dengan rasa hormat. Kakek terlihat sangat bahagia melihat kedatangan cucu kandungnya itu, dan dia juga memeluk Ivona dengan erat.
"Kamu darimana Ivona.., kenapa pulang terlambat?? Bahkan kamu melupakan kakek ya, sampai tidak menyambut kepulangan kakek ke rumah kediaman besar ini?" teriak Tuan Iswara dengan nada sedikit tinggi.
Kakek terkejut dengan pertanyaan yang diucapkan putra laki-lakinya pada cucu kesayangannya. Perlahan kakek melepaskan pelukannya pada Ivona, kemudian meminta cucunya itu untuk duduk di sampingnya. Ivona menganggukkan kepala, kemudian duduk di samping kakek.
"Bisakah kamu berbicara dengan lemah lembut pada cucu kesayanganku Iswara?? Apakah selama ini jika aku tidak ada di rumah ini, begini cara kalian memperlakukan Ivona?" kakek tidak suka orang-orang memperlakukan Ivona dengan buruk. Dia membentak putra laki-lakinya secara keras.
"Bukan seperti itu yah. Aku hanya mencoba untuk mendisiplinkan Ivona, bukan hanya sekedar memarahinya." Tuan Iswara mencoba beralasan.
"Maafkan Ivona ya kek..., karena ada urusan penting sampai Ivona datang terlambat untuk pulang ke rumah. Tadi juga ternyata tidak mudah mencari transportasi ke rumah ini, sampai agak lama menunggu bisnya di halte." Ivona sengaja membuat alasan itu, dan dengan nada terdengar sedikit malas.
"Apakah kakek tidak salah dengar?? Kamu pulang ke rumah ini menggunakan alat transportasi umum. Iswara.., apakah begini cara kamu mendidik anak-anakmu?"
"Sudahlah kek.., kakek kan baru datang dari rumah sakit. Tidak baik kakek untuk marah-marah, nanti malah kepala kakek tambah menjadi pusing. Ivona lebih menyukai naik transportasi umum kek, karena bisa bertemu dan lebih mengenal banyak orang. Lagian kan tadi, driver sedang menjemput kakek, kak Thomas juga.." Ivona berusaha menenangkan hati kakeknya.
"Cucuku..., kamu memang sangat mengerti akan kakekmu ini. Maafkan kakek ya Ivona..., kakek sangat menyesal sekali. Saat kamu kembali ke rumah ini, malah kakekmu mendapatkan anugerah sakit. Kakek tidak bisa lagi menjaga Ivona lebih lama. Karena kakek hanya tinggal menunggu waktu." kata kakek terdengar sangat nelangsa.
"Usshhhh..., kakek tidak perlu banyak berpikir. Kakek pasti akan sembuh dan sehat seperti sedia kala. Yakinlah kek.., akan ada obat dan peralatan yang akan menyembuhkan penyakit kakek. Dunia medis sudah sangat berkembang, sebentar lagi Ivona yakin akan muncul alat medis baru yang akan menjadi solusi bagi kesembuhan kakek." ucap Ivona dengan yakin, karena konsep rancangan peralatan yang dia persiapkan untuk pengobatan kakeknya sudah selesai dia kerjakan. Dia hanya menunggu jawaban dari orang yang ada di Institut Kedokteran.
__ADS_1
"Iya kek..., benar sekali apa yang disampaikan oleh Ivona. Kakek harus terus merasa bersemangat, dan rutin menjalani pengobatan yang dianjurkan oleh dokter. Thomas juga yakin, kakek pasti akan sehat kembali." sahut Thomas ikut meyakinkan kakeknya.
"Kalian memang cucu-cucu kakek, yang sangat bisa menyenangkan hati kakek." dengan tersenyum, kakek memuji Ivona dan Thomas di depan keluarganya. Vaya jadi merasa geram dan menundukkan kepalanya, dia merasa jengkel karena dari tadi kedatangannya, tidak sedikitpun dipedulikan oleh kakek.
"Kakek disini dulu ya! Ivona mau ke kamar untuk mandi dulu, dan menyimpan perlengkapan sekolah. Kan Ivona baru mandi tadi pagi, saat mau berangkat ke sekolah." Ivona minta ijin kakeknya untuk membersihkan diri.
Kakek tersenyum mendengar perkataan Ivona, dia kemudian memegang dan mengusap lembut kepala gadis itu.
"Mandilah dulu cucuku.., tapi jangan lupakan kakek. Segeralah kembali turun kesini, setelah kamu mandi. Kita akan makan bersama." ucap kakek dengan tatapan penuh kasih sayang.
Ivona langsung pergi meninggalkan ruang keluarga, tanpa berpamitan dengan anggota keluarga yang lain. Thomas hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kerasnya hati Ivona saat ini, dan dia merasa adiknya itu sudah memiliki banyak perubahan.
**************
"Aku harus menolong pemilik tubuh ini sebelumnya, aku akan menjadikan dia sebagai ratu di keluarga ini." Ivona menyemangati dirinya sendiri. Dia ingin mengembalikan jasa baik dari pemilik badan ini sebelumnya, dia langsung membuka matanya, kemudian segera menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.
**************
Sepeninggalan Ivona, Nyonya Iswara merasa tidak nyaman kemudian dia mendekati kakek. Dari tadi dia sudah menahan diri untuk ikut berbicara, saat kakek sangat memuji Ivona dan terdengar pilih kasih jika dibandingkan dengan Vaya. Saat ini dia ingin menunjukkan pada kakek, jika Vaya melebihi segalanya dari Ivona.
__ADS_1
"Ivona itu memang memiliki kebiasaan yang sangat buruk. Kalau pulang sekolah selalu terlambat, dan suka berkelahi dengan teman-temannya di sekolah. Belum lagi kemampuan akademiknya sangat payah, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Vaya." Nyonya Iswara mengatakan hal buruk tentang Ivona pada kakek.
Kakek memandang Nyonya Iswara dengan tatapan tidak senang.
"Apa maksudmu?? Wajar saja, kalau Ivona sedikit terlambat kemampuan akademiknya. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana sekolah asal tempat anak itu menempuh ilmu. Sekolahnya itu memiliki grade terburuk di kota ini, harusnya kamu mengupayakan bagaimana agar Ivona dapat mengejar ketertinggalannya. Bisa-bisanya kamu malah memperkeruh keadaan." terdengar suara kakek membela Ivona. Tuan Iswara hanya diam tidak menanggapi, karena dia sudah tahu bagaimana sifat dan karakter dari ayahndanya.
"Iya ma.., kan mama juga tahu sendiri saat datang ke sekolah Ivona. Anak itu berkelahi dengan temannya karena dia membela Beni yang sedang dibully oleh Yoshua. Mama juga melihat kan, saat polisi datang membawa Hendra Jonathan. Dalam kasus itu, Ivona tidak bersalah. Harusnya mama bangga dengan perbuatan Ivona, ternyata dia memiliki hati dan empati yang tinggi." Thomas ikut membela adik perempuannya.
"Apa?? Hendra Jonathan berani membuat masalah dengan keluarga kita, apakah dia melupakan siapa aku. Meskipun aku sedang sakit, suaraku masih akan didengar oleh pemerintah daerah ini." kakek kembali bersuara dengan nada tinggi.
"Tenanglah kek, tetapi semua sudah berakhir dengan baik. Anak yang terlibat perkelahian dengan Ivona, juga sudah mendapatkan karma yang tepat." Thomas menenangkan kakek kembali.
"Syukurlah kalau begitu, kalian semua harus menjaga martabat keluarga ini. Jangan sampai ada orang yang seenaknya merendahkan kita." ucap kakek dengan tegas.
Nyonya Iswara terkejut dengan pembelaan yang dilakukan Thomas terhadap Ivona. Dulu saat Vaya mengadu padanya, dia hanya berpikir jika perlakuan Thomas hanya sesaat. Tetapi sekarang, Nyonya Iswara tahu sendiri, bagaimana dari awal putra laki-lakinya itu sangat menjaga dan melindungi Ivona. Jika itu terjadi dulu, Thomas pasti akan mengutamakan Vaya daripada Ivona.
Sedangkan Vaya dengan muka buruk, berusaha mengendalikan dirinya.
**********
__ADS_1