
Melihat perubahan sikap guru privatnya, Ivona langsung tanggap darurat. Dia tersenyum sinis, kemudian mengajak beradu argumentasi dengan durunya itu.
"Bu..., coba cek kembali rumus yang tadi dibacakan untukku! Sepertinya itu salah." kata Ivona memulai perdebatan dengan perempuan itu.
"Rumusnya kan sudah jelas Ivona sayang, B plus dan min dengan akarnya." perempuan itu menambahi kata sayang di belakang nama Ivona. Dia sengaja melakukannya untuk menarik perhatian dari Alexander.
Mendengar jawaban perempuan itu, Ivona langsung mengerenyitkan dahinya. Dia tampak muak dengan perubahan sikap yang menjadi lebay oleh perempuan yang duduk di depannya itu.
"Ibu itu sebenarnya hafal tidak sih dengan rumus ABC dan persamaan kuadratnya? Dari buku matematika Kalkulus yang aku pelajari, sebelum B itu ada tanda minusnya. Sedangkan yang diakarkan itu adalah b kuadrat dikalikan dengan 4 AC nya. Bukannya secara keseluruhan.." Ivona memancing perdebatan, karena menemukan kekeliruan dari rumus yang dibacakan oleh perempuan itu.
"Tidak Ivona.., rumus yang saya ajarkan pada kamu itu sudah benar. Kamu hanya perlu untuk memperhatikan, kemudian mengingatnya lagi. Karena meskipun hanya tanda minus dan plus yang terlihat sepele, tetapi dampaknya akan sangat riskan." perempuan itu tetap bertahan dengan pendapatnya.
Alexander yang sudah berdiri di ruang tamu, tampak dengan tatapan marah menghentikan langkahnya. Dia terlihat serius memperhatikan interaksi antara guru privat itu dengan Ivona.
"Kamu itu bisa mata pelajaran Kalkulus tidak??? Apa aku perlu mengajarimu?" tiba-tiba terdengar suara keras Alexander di ruangan itu.
Perempuan itu kaget, dia tidak menyadari ternyata Alexander ikut memperhatikan apa yang dia ajarkan pada Ivona. Seketika dia menjadi gugup, dan dengan perasaan takut dia memberanikan diri menatap laki-laki muda itu. Tetapi melihat kemarahannya, dengan cepat dia menundukkan kepalanya kembali. Di belakangnya, tampak asistennya Rico yang juga berada disitu.
"Waduh..., kenapa hari ini aku bisa bernasib sial?? Ternyata gadis ini sengaja untuk mengujiku, aku yang kurang teliti." perempuan itu membatin, dia sangat menyesali sikapnya barusan.
"Ivona..., kamu sudah capai belum belajarnya?" dengan nada suara lembut, Alexander bertanya pada Ivona.
"Sedikit Kak.., karena Ivona sudah belajar dari tadi pagi. Bosan juga, materi diulang-ulang dari tadi, tetapi keliru." jawab Ivona dengan malas. Dia ingin Alexander segera memecat guru privatnya itu.
Alexander segera duduk di sofa, kemudian mengambil rokoknya. Sebelum dia menyalakan rokoknya, dia melihat pada Ivona.
"Ivona..., kamu naiklah dulu ke atas! Istirahatlah.., kalau kamu sudah merasa capai!" Alexander kembali berbicara dengan Ivona.
__ADS_1
"Okay kak Alex.., terima kasih. Ivona ke atas dulu ya, mau belajar saja di kamar." Ivona segera meninggalkan ruang tamu, dia bergegas menaiki tangga menuju ke kamar atas.
Alexander melihat Ivona, sampai gadis itu tidak tampak oleh pandangan matanya. Setelah itu, dia kemudian menyalakan batang rokok dan memegangnya di tangan. Sepeninggalan Ivona, suasana di ruang tamu menjadi dingin. Alexander menikmati rokoknya, sedangkan guru perempuan dan Rico hanya diam tidak berani menimbulkan suara.
"Kamu tahu letak kesalahanmu ada dimana, bisa-bisanya kamu malah mengadu pada Rico, jika Ivona yang membuat kesalahan." dengan nada datar, dan tidak melihat ke wajah guru privat itu, Alexander berbicara padanya.
"Maafkan saya Tuan Alex..., mungkin karena sudah dari tadi pagi tanpa istirahat. Jadi, konsentrasi saya sudah buyar, sehingga keliru menyampaikan rumus ABC nya." guru privat itu minta maaf pada Alexander.
"Apakah kamu tidak pernah mencari tahu siapa saya, saat kamu memutuskan untuk menerima tawaran yang diberikan oleh Rico?" dengan sinis Alexander bertanya.
"Ampuni saya Tuan Alex.., saya membutuhkan pekerjaan ini!! Tolong jangan hentikan saya, dan saya berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama."
"Berarti kamu belum mengetahui siapa saya, terbukti kamu sudah membuat satu kesalahan fatal, tetapi kamu masih berani meminta kesempatan lagi padaku. Rico.., urusan bayaran perempuan ini, dan bawa dia keluar dari rumahku sekarang juga!" suara tegas Alexander langsung memenuhi ruang tamu.
Rico segera melemparkan amplop warna coklat pada guru privat itu, dengan pandangan kecewa perempuan itu langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
Mendengar kalimat yang diucapkan Alexander, Rico segera mendatangi Alexander. Dia segera duduk tepat di depan laki-laki muda itu.
"Maafkan keteledoran saya Tuan, saya betul-betul tidak bermaksud seperti itu. Karena Tuan memberikan tugas pada saya untuk mencari guru les sangat mendadak, makanya saya langsung meminta perempuan itu untuk menjadi guru privat Non Ivona. Saya berjanji akan mencarinya lagi Tuan, seorang guru privat yang betul-betul memiliki kapabilitas." Rico meminta maaf atas keteledorannya.
Alexander hanya memandang Rico sekilas, dia kemudian mematikan rokoknya dan langsung berdiri. Dia langsung meninggalkan Rico sendiri, dan langsung naik ke lantai atas.
******
Di lantai 2,
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Ivona tidak langsung istirahat. Dia mengambil tas sekolahnya kemudian membuka pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru-gurunya. Setelah menemukannya, dia kemudian membawa ke atas meja kemudian mulai mengerjakannya dengan serius.
Karena tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, diminta untuk membuat karangan bebas, Ivona menahan dagunya sambil memikirkan ide untuk memulai ceritanya.
"Tok.., tok.., tok..," tiba-tiba terdengar ketukan tiga kali di pintu kamar.
"Masuk." jawab Ivona singkat.
Seseorang mendorong pintu dan segera masuk ke dalam. Ivona sedikit shock dengan penampilan Alexander saat ini. Laki-laki muda ini mengenakan pakaian santai dengan celana bermuda, dan mengenakan kaos warna putih di atasnya. Melalui penampilannya saat ini, Alexander jauh terlihat lebih muda seperti anak-anak yang masih usia sekolah. Tergagap Ivona dari lamunan, saat tiba-tiba suara lembut laki-laki muda itu mengajaknya bicara.
"Kamu sedang apa.., tadi katanya sudah bilang kalau capai. Kenapa masih mengerjakan soal-soal latihan?" tanya Alexander.
"Hmm.., banyak tugas kak." jawab Ivona yang tidak lepas pandangannya pada Alexander.
Laki-laki itu kemudian melihat pekerjaan yang baru saja dikerjakan gadis itu. Dia tersenyum membaca karangan yang dibuat oleh Ivona.
"Kenapa tidak dberikan latar belakang karakternya dulu, nanti lebih akan membuat ceritamu ini menjadi lebih hidup. Kemudian juga aktivitas keseharian dari karakter protagonisnya ditambahkan." Alexander memberikan masukan pada karangan yang dibuat Ivona.
"Terima kasih kak Alex." Ivona langsung menambahkan masukan yang disampaikan Alexander. Laki-laki itu kemudian duduk di samping Ivona, dengan teliti dia melakukan koreksi pada pekerjaan yang dikerjakan gadis itu. Jika ada yang kurang, dia langsung meminta Ivona untuk melengkapinya.
"Ivona.., kira-kira tipe dan karakter seperti apa yang kamu sukai untuk menjadi guru privatmu? Kakak akan mencarinya lagi untukmu." Alexander ternyata menanyakan tentang guru privat yang akan dia carikan lagi untuk Ivona.
Tanpa berpikir panjang, sesaat kemudian, Ivona berkata, "Aku suka yang seperti Kak Alex. Tidak mau yang lain."
**********************
__ADS_1