Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 96 ~ Desain plagiat


__ADS_3

Ayu memutuskan sambungan telepon, dia sangat penasaran mengenai identitas Kira. Bahkan dia tidak bisa tidur memikirkannya, mengetahui pekerjaan hacker yang sebelumnya tidak pernah gagal. "Siapa Kira? Kenapa identitasnya tidak bisa diketahui hacker?" gumamnya yang terus mondar-mandir layaknya setrikaan. "Hah, sebaiknya aku melupakan itu dan mulai beristirahat." Gumamnya seraya berbaring di atas ranjang empuk. 


*****


Keesokan harinya, Ayu kembali melakukan rutinitas padat yang melelahkan. Hari ini dia pergi ke studio untuk melihat pemotretan, dan memantaunya. "Apa semuanya sudah siap?" tanyanya kepada salah satu kru. 


"Hanya menunggu perintah saja," sahut salah satu kru. 


"Baiklah, pemotretan bisa kita mulai sekarang!" tegas Ayu yang terlihat profesional, melirik jam yang melingkar di tangannya. "Dua hari lagi ada pertemuan Konferensi Pers, semoga desain perhiasanku segera launching." Gumamnya yang tak sabar menunggu hari itu tiba. 


Setelah menyelesaikan pemotretan yang berjalan dengan sempurna membuat Ayu kehilangan sedikit beban di pundaknya, pekerjaan menjadi sekretaris membuatnya sangat letih. Namun, tidak ada kata keluhan yang keluar di mulutnya, selain menyelesaikan semua yang ada di hadapannya. "Lebih baik aku ke departemen sekretaris," gumam Ayu yang berjalan menuju lokasi. 


Sesampainya di meja kerja, Ayu memulai persiapan untuk presentasi desain perhiasan yang akan diadakan dua hari lagi di perusahaan tempat dia bekerja, setelah menyusun jadwal dengan pihak reporter. "Bagus, semuanya telah selesai dan aku bisa bersantai sejenak," gumamnya yang membuka beberapa situs berita terbaru di laptop. 


Kedua pupil mata Ayu melebar saat melihat berita mengenai perusahaan lain yang mengumumkan desain baru yang sama persis dengan desain perhiasan miliknya. "Itu desainku, kenapa ada di perusahaan lain?" lirihnya sembari menyipitkan kedua mata, kembali memperhatikan perhiasan yang sedang di pegang oleh sekretaris dari perusahaan lain. "Tidak salah lagi, mereka telah mencuri desainku. Bahkan mereka mengakui jika desain itu dari perusahaan mereka, sangat menjijikkan." 


Ayu sangat geram dengan perusahan lain yang mengambil hasil desain miliknya, padahal dia sudah melakukan segala upaya dalam menciptakan sebuah perhiasan yang tak ada duanya. 


"Sepertinya aku harus menghadapi ini, masalah satu hilang dan sekarang malah muncul masalah baru. Pasti aku dituduh sebagai plagiarisme," Ayu mengepal tangannya dengan erat, terus menatap berita di depannya. Dia sangat muak dengan wanita yang mengaku sebagai perancang perhiasan tersebut. 


Terdiam memikirkan cara untuk membalikkan keadaan, lamunannya buyar saat ponsel berdering, mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerja, melihat siapa yang menghubunginya. 


"Halo."


"Apa kau melihat berita hari ini?" 


"Ya, aku sudah melihatnya."


"Datanglah ke ruanganku sekarang juga!"


"Baiklah."


Sambungan telepon terputus, Ayu melangkahkan kakinya menuju ruang CEO sekaligus calon tunangannya. "Aku sangat yakin, Farhan pasti membicarakan mengenai desain perhiasan itu," batinnya. 


Sesampainya di depan pintu ruangan atasannya, Ayu melihat asisten Heri berada di luar ruangan. "Apa aku boleh masuk?" 

__ADS_1


"Tentu saja, tuan sudah menunggu Nona di dalam."


"Hem, baiklah." Ayu masuk ke dalam ruangan, sorot matanya tertuju kepada pria berjas hitam. 


"Duduklah," celetuk Farhan yang mempersilahkan. 


"Terima kasih," sahut Ayu tersenyum dengan sekilas, keduanya tidak membicarakan masalah pribadi dan bersikap profesional saat di kantor. 


"Aku melihat perusahaan lain memperlihatkan hasil desain perhiasan, dan hasil desain itu sangatlah mirip dengan perusahaan kita."


"Itu memang benar, aku baru saja melihat beritanya."


"Bagaimana tanggapanmu?" tanggap Farhan yang mencoba memahami sisi dari sekretarisnya. 


"Desain perhiasan yang mereka klaim itu sama persis dengan desain milikku." 


"Lalu?"


"Aku sangat yakin jika ada plagiarisme," lanjut Ayu. 


"Aku juga tidak tahu kenapa data kita bocor di perusahaan lain, dan mereka sangat cerdik dengan mengumumkan bahwa desain perhiasan itu milik mereka sebelum kita melakukannya." Jelas Ayu ingin memecahkan teka-teki. 


"Apa kau bekerjasama pada perusahaan lain?" tanya Farhan dengan penuh penyelidik. 


"Untuk apa aku melakukan itu?" cetus Ayu yang mulai kesal. 


"Bisa saja kau ingin meraup keuntungan yang lebih besar," ujar Farhan enteng. 


"Ck, aku tidak pernah berkhianat pada perusahaanmu. Apa sekarang kepercayaan mu mulai goyah?" cibir Ayu. 


"Tentu saja aku percaya, hanya mengetes saja!" 


"Ha…ha aku terkesan dengan lelucon murahan mu itu," jawab Ayu dengan penuh peragaan tangan kesana kemari, seketika berubah cemberut. 


Melihat tingkah wanita di hadapannya membuat Farhan tersenyum geli. "Dia terlihat sangat menggemaskan," gumamnya di dalam hati. "Apa itu termasuk pujian?" ucapnya yang menaikkan sebelah alisnya ke atas, menatap Ayu. 

__ADS_1


"Entahlah, mungkin di pertengahan lebih baik. Hah, kembali fokus pada pembahasan awal!" jengah Ayu. 


"Hem, kau benar."


Mereka kembali membahas desain itu, Ayu memperlihatkan hasil desain saat membuat perhiasan yang akan segera launching dua hari lagi. Farhan memperhatikan setiap desain, hingga jarak di antara mereka sangatlah dekat. 


"Siapa pelaku yang sebenarnya?" celetuk Ayu yang tampak berpikir. 


"Bisa saja ada mata-mata atau penyusup di perusahaan ku," tebak Farhan. 


"Ya, itu bisa saja terjadi. Aku sangat yakin, jika ada yang membocorkan data perusahaan mu."


"Siapapun itu, aku tidak akan mengampuninya." Tekad Farhan yang juga kesal dengan berita yang tersebar. 


"Bagaimana menurutmu? Jika kita mengklaim desain perhiasan itu dua hari lagi, maka akan dicap sebagai plagiat. Tapi kita sudah tahu, jika desain itu aku sendirilah yang merancangnya." Ucap Ayu dengan serius, dia sangat kesal dengan orang yang berani mencuri hasil seni karyanya. 


"Ini masalah yang sangat rumit, sebaiknya kita mengundurkan waktu mengenai pertemuan konferensi pers kali ini, dan selama waktu yang tersisa di manfaatkan untuk mencari kebenaran tentang desain perhiasan milik perusahaan ini," ide Farhan yang sangat antusias. 


"Tidak, itu bukan ide yang sangat tepat. Tetaplah menggunakan jadwal yang ada, aku akan mencari celah mengenai permasalahan ini." Jelas Ayu yang menolak ide Farhan, dia sangat yakin bisa mencari jalan keluar dari permasalahan plagiarisme. 


Melihat tekad dengan penuh percaya diri, semangat dari wanita yang ada di hadapannya membuat Farhan menjadi sangat yakin. Percaya dengan Ayu, dan menyerahkan masalah ini kepadanya. "Baiklah, jika kau sangat yakin? Maka buktikan lah." 


"Baiklah, aku pamit dulu."


"Hem," sahut Farhan singkat, padat, dan jelas. 


Ayu keluar dari ruangan CEO, hendak menuju ke departemen sekretaris. Tapi, langkahnya terhenti saat tiba-tiba seseorang berteriak kepadanya. 


"Dasar wanita plagiat, kau sungguh menjijikan!" teriak Maya selaku perancang desain di perusahaan itu. 


"Aku?" ulang Ayu yang menunjuk dirinya sendiri. 


"Ya, kau mencuri hasil desain dari perusahaan lain dan itu sangat-sangat menjijikkan." Tuduh Maya dengan tatapan sinis. 


"Ternyata kau terlihat sangat bersemangat dalam menuduhku!" balas Ayu dengan raut wajah tenang. 

__ADS_1


__ADS_2