
Farhan terus saja menatap Ayu, dan memikirkan ucapan yang masih terngiang di telinganya. Mereka hanya terdiam tanpa ingin membuka suara, apalagi raut wajah Ayu yang sedikit terkejut.
"Ayo pulang," Ucap Farhan dengan nada rendah yang memecahkan keheningan. Ayu berpikir jika Farhan akan meneriaki nya atau pun memarahinya. Jauh di luar dugaan, ternyata ucapan Farhan hanya nada rendah. Tidak ada nada marah ataupun raut wajahnya yang menghitam akibat kekesalan dengan ucapan Ayu.
"Eh, dia tidak marah?" Batin Ayu yang melongo, dengan cepat mengembalikan ekspresi wajahnya semula. "Tidak, sebaiknya kau pulanglah dulu." Ayu menolaknya dengan sopan.
"Pulanglah." Tegas Farhan yang sangat mencemaskan wanita itu, dia khawatir jika Ayu bekerja lembur maka berakibat dengan kesehatan. Apalagi Ayu pernah pingsan akibat gula darah rendah saat lembur bekerja, dan tidak bisa membiarkan hal itu kembali terulang kembali.
"Jangan memaksaku, pergilah! Aku bisa pulang sendiri." Keukeuh Ayu yang tak suka di paksa.
"Aku tidak akan mengulangi kata yang sama, cepat berkemas."
Ayu menghela nafas dengan berat, membereskan semua tumpukan dokumen di atas meja kerja dan mengambil tas kecilnya. Menatap wajah Farhan dengan dongkol, dengan terpaksa dia mengikuti Farhan dan tidak ingin menambah masalah.
Ayu menutup pintu setelah masuk ke dalam mobil, melirik pria tampan di sebelahnya beberapa saat. Tanpa menunggu waktu, Farhan mencondongkan badannya ke depan Ayu, membuat wanita cantik di sampingnya sangat terkejut dengan reaksi Farhan yang mendadak, Ayu memundurkan tubuhnya dan tidak ingin jika aset berharganya tersentuh oleh tangan bosnya, berpikir negatif dan menutupi dada menggunakan kedua tangannya. Ternyata Farhan hanya membantu Ayu memasang seatbelt.
"Ada apa dengannya?" Gumam Ayu di dalam hati seraya melonggarkan tangan yang bertengger di dadanya. Tiba-tiba hujan turun, Ayu menatap ke luar jendela. Merasakan rasa sejuk yang menerpa wajahnya walau tidak bersentuhan langsung dengan rintiknya hari hujan. Dia kembali berpikir tentang sikap Farhan terhadapnya.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan pria ini, seharusnya dia memarahiku atau menghinaku saat dia mengetahui keburukannya yang aku adukan ke kakek. Tapi sikapnya ini membuat aku kembali berpikir, terkadang dia marah tanpa alasan, dan kadang-kadang dia terlihat baik. Aku tidak bisa menduga akan sifatnya, pria seperti apa dia ini!" Batin Ayu yang melamun, pikirannya selalu tertuju kepada Farhan.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, mereka tidak bicara di dalam mobil. Ayu menyandarkan punggungnya, mulai menutup kedua matanya dan beristirahat. Pekerjaan yang melelahkan membuat seluruh tubuhnya seakan remuk, pikirannya butuh istirahat dengan memanfaatkan keadaan yang ada.
"Apa aku sangat buruk?" Ucap Farhan yang sedikit gugup menoleh ke samping, karena keluhan Ayu yang tak sengaja dia dengar selalu membuatnya terus berpikir.
Ayu kembali membuka kedua matanya, dia sangat jengkel dengan suara yang mengganggu ketenangannya, menatap bos sekaligus calon tunangannya dengan malas.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Ujar Ayu.
"Ya, apa aku sangat buruk di matamu, Ayu?" Farhan menatap wanita cantik itu dengan nanar, berharap jika Ayu mengatakan kebenarannya.
"Seperti yang kau dengar, itu adalah kenyataan dan juga kebenarannya." Jawab Ayu yang tidak menjelaskan banyak.
"Aku tahu sekarang, kalau kau ingin berhubungan dengan Gabriel dan mengatakan keluhanmu mengenai aku kepada kakek Tirta." Ucap Farhan dingin.
"Tidak sama sekali, berhentilah berpikiran sempit!" Ayu benar-benar bingung dengan sifat Farhan dan berpikir apa kesalahannya kali ini, bahkan dia berusaha untuk jujur.
Dalam kemarahan, Farhan melupakan segalanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya, hanyut dalam pikiran. Mobil yang terus melaju dengan cepat, Farhan yang tidak sadar jika keadaan itu sangatlah membahayakan nyawa mereka. Farhan tidak fokus dalam menyetir membuat mobil tiba-tiba kehilangan kendali.
Ayu sangat terkejut dan dengan cepat menatap lurus ke jalanan. "Aku sangat panik…apa aku akan mati muda? Oh ya tuhan, tolong selamatkan kami!" Ayu terus berdoa dengan mulut yang terus komat kamit dengan kedua mata tertutup. Sementara Farhan, berusaha untuk mengendalikan mobilnya dengan semaksimal mungkin. Dia mengerem mobil dengan cepat, tapi terlambat saat mobil itu menabrak pembatas jalan.
__ADS_1
"Sial!" Umpat Farhan yang memukul stir nya.
Ayu membuka kedua matanya dengan perlahan, melihat keadaan dan juga kondisi secara perlahan. "Hah, syukur. Ternyata aku masih hidup." Ayu memeriksa tubuhnya dan tersenyum lega, tak pernah dibayangkan akan mati konyol bersama pria itu.
"Apa kau tidak bisa menyetir?" Pekik Ayu yang sangat kesal dengan pria itu.
"Apa kau terluka?" Farhan hendak memeriksa Ayu, tapi tangannya langsung ditepis dengan kasar.
"Jangan menyentuhku! Jika ingin menyetir, setidaknya fokuslah ke jalanan."
"Ya, baiklah. Aku akan memeriksa mobilnya dulu," ucap Farhan yang melepas sabuk pengaman dan bergegas keluar tanpa memikirkan tubuhnya yang basah akibat air hujan.
Ayu menatap kepergian Farhan yang menerobos hujan demi memeriksa mobil bagian depan, rasa kesalnya berubah menjadi khawatir saat melihat hujan yang turun terlalu deras. "Hujan begitu deras, bagaimana jika dia sakit?" Gumam Ayu yang bersiap-siap keluar mobil, dengan membawa payung di tangannya.
Farhan terus memeriksa bagian depan mobil tanpa memikirkan kesehatannya, hujan yang sangat deras tak diacuhkan olehnya. Aktivitasnya terhenti saat melihat Ayu yang turun dari mobil dengan memegang payung di tangannya. Ayu bersandar cukup dekat pada Farhan agar keduanya tidak terkena guyuran air hujan.
Farhan terus melihat Ayu, tatapan mereka saling bertemu satu sama lain. Karena hatinya tak bisa dibendung lagi, Farhan memeluk erat Ayu untuk mendekatinya. Sontak, perlakuan Farhan membuat Ayu sangat terkejut Momen yang sangat romantis di antara keduanya, Farhan menikmati setiap detik pelukan itu dan melepaskan payung yang ada di genggaman Ayu. Setiap tetesan air hujan yang membasahi tubuh menjadi saksi bisu kejadian dan momen yang tak terlupakan. Ayu hanya terdiam dan menikmati pelukan dari Farhan yang menghangatkan, dia sangat malu saat Farhan mencium keningnya.
Ayu bergerak melepaskan pelukan yang terjadi beberapa detik dan melarikan diri tanpa menoleh kepada Farhan. Sedangkan Farhan yang melihatnya sangat sedih dengan reaksi Ayu yang melepaskan pelukan hangat itu. Tatapan nanar dan juga sendu tertuju ke arah Ayu yang buru-buru masuk ke dalam mobil, Farhan menatap langit dan membiarkan guyuran air hujan mengenai wajahnya saat merasa kecewa.
__ADS_1
"Apa aku tidak ada tempat di hatimu? Apa kau lebih mencintai Gabriel? Rasanya sangat sakit!" Lirih pelannya seraya melangkahkan kaki masuk ke dalam mobil.