Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 115 ~ Zat radioaktif


__ADS_3

Ayu dan satpam sampai di pintu masuk, banyak orang dan para reporter yang memenuhi pintu masuk. Semua orang ingin mewawancarai nya sebagai perancang perhiasan dari perusahaan HR Grup. 


"Apa yang menyebabkan anda membuat perhiasan beracun?" ucap salah seorang reporter yang mengarahkan alat perekam suara di hadapan Ayu. 


"Apa bahan-bahan dari perhiasan mengandung racun, dan kenapa anda tidak mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatan para konsumen?" sambung reporter lain. 


"Sekarang saya mengatakan sesungguhnya! Jika saya menggunakan bahan-bahan dari kualitas premium tinggi, dan bukan abal-abal." Jelas Ayu dengan penuh ketegasan, menatap satu persatu reporter yang menyudutkannya. 


"Apa anda bermaksud jika perhiasan yang sampai di tangan konsumen bukanlah yang asli?"


"Tapi bagaimana mungkin?"


"Jika perhiasan itu dari bahan premium tinggi, lalu kenapa bisa perhiasan itu beracun?" 


Ayu menghela nafas dalam, dia tahu bahwa reporter akan menanyakan ini bermaksud menjatuhkannya lewat kata-kata. "Aku kurang mengetahui hal itu, tapi yang pasti, aku menggunakan bahan terbaik dan aman bagi konsumen. Tidak tahu bagaimana seseorang kembali menjebakku." Terang nya. 


"Apa anda yakin jika anda hanya di jebak?" 


"Adakah saksi?" desak salah satu reporter yang menyudutkan Ayu


"Langkah apa yang akan di ambil oleh perusahaan milik tuan Farhan?"


Apakah sudah adakah antisipasi dari perusahaan HR Grup?"


Serentetan  pertanyaan yang terus di tanyakan oleh reporter membuat  Ayu berusaha untuk mendapatkan kepercayaan semua orang. Terdiam sejenak memikirkan apa yang sebenarnya terjadi menggunakan dugaan sementara. "Menjebakku dengan menggunakan perhiasan, mereka cukup cerdik memfitnahku di hadapan semua orang." Batinnya. Dia dengan tenang menegakkan kepala dengan penuh keyakinan, karena dia hanyalah korban dari keirian dengki dari orang lain. "Kalian semua tenanglah, aku akan menyelidiki dalang dari semua ini."


"Apa kau yakin dengan ucapanmu itu? Atau hanya membual saja untuk melindungi diri." Ucap seseorang yang menarik perhatian Ayu. 

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat yakin, karena bahan yang digunakan adalah kualitas premium super. Kenapa aku menggunakan bahan kualitas rendah? Hanya untuk menjatuhkan namaku sendiri?" jelas Ayu yang menatap seorang wanita paruh baya. 


"Bagaimana saya mempunyai bukti, jika perhiasan yang kau jual mengandung racun." Tantang wanita paruh baya. 


Suasana semakin memanas saat seorang wanita paruh baya menghadapi Ayu mengenai perdebatan, terlihat jelas jika wanita itu sangat marah. "Selama aku tidak bersalah, kenapa harus takut?" ucap Ayu dengan tegas, menatap wanita itu tanpa rasa takut. 


"Ini, bacalah! Jika kalung dari perusahaanmu mengandung zat radioaktif yang bisa menyebabkan seseorang keracunan." Wanita paruh baya itu memperlihatkan hasil laporan tes uji pada perhiasan yang dibeli. 


Ayu mengambil hasil laporan, membacanya dengan sangat teliti. Sebuah laporan yang memang mengandung zat radioaktif. "Aku akan menyelidikinya dan akan menyelesaikan segalanya, apakah perhiasan ini tercemar di sini saja atau tidak."


"Apa kau bermaksud untuk melarikan diri?" sindir wanita paruh baya itu sembari melipat kedua tangannya di depan dada. 


"Melarikan diri? Untuk apa aku melarikan diri? Namaku telah di pertaruhkan dan dipertanyakan saat ini," jawab Ayu sarkas. Dia tak mengerti dengan semua permasalahan yang terjadi, keirian dan hati yang dengki membuatnya kembali terjebak. 


"Ck, kau berbicara layaknya orang yang paling suci tapi sebenarnya jauh lebih buruk daripada itu!" 


"Itulah yang terjadi saat saya membeli perhiasan yang ternyata mengandung racun." Sela wanita paruh baya lainnya yang juga membawa hasil laporan yang juga mengandung zat radioaktif. 


Ayu menarik perhatian nya ke sumber suara, tatapan mata dari wanita paruh baya itu terpancar kemarahan karena merasa tertipu dengan suatu produk. Bukan hanya satu dua orang saja wanita paru baya, melainkan ada beberapa ibu-ibu yang komplain dengan perhiasan yang mereka beli tidaklah sesuai ekspektasi. 


"Harap tenanglah, aku berjanji akan menyelidiki ini lebi lanjut lagi!" 


"Sudah! Kami tidak percaya kepada perempuan sepertimu, dasar penipu!" pekik salah satu ibu-ibu dengan penuh kemarahan. 


Perkataan dari Ayu tak seorangpun yang mendengarkannya, tidak bisa memuaskan semua pihak yang ada di sana. Para ibu-ibu tak ingin melepaskannya begitu saja, apalagi tidak ada klarifikasi lebih lanjut hanya mengatakan penyelidikan saja. "Anda tidak boleh pergi dari tempat ini, sebelum bertanggung jawab dengan apa yang terjadi saat!" protes salah satu mereka, dan lainnya mengangguk setuju. 


Terdengar suara langkah kaki seseorang, Ayu menoleh dan melihat Farhan berjalan menghampiri bersama dengan asisten Heri. Raut wajah dingin dan tetap tenang, dapat di lihat semua orang. Berdiri di samping sekretarisnya dan meliriknya sejenak. "Sepertinya terjadi kesalahpahaman di sini, aku harap kalian bisa mengerti dengan situasinya saat ini. Kami akan melakukan penyelidikan ini lebih lanjut, aku ingin kalian bersabarlah." Jelas Farhan yang menatap semua orang. 

__ADS_1


Para ibu-ibu terdiam, mendengar perkataan dari Farhan yang mengena daripada perkataan Ayu yang kurang memuaskan. Mereka melirik satu sama lainnya ingin meminta suara, membiarkan Ayu pergi atau tidak. "Baiklah, kami akan melepaskan wanita itu hanya untuk penyelidikan, dan jika itu tidak terjadi? Maka perusahaan ini hanya tinggal nama saja." Ancam salah satu ibu-ibu yang membuka suara, menunjuk Ayu sebagai perancang dari perhiasan itu. 


Tanpa menunggu waktu lagi, Farhan menarik tangan Ayu untuk masuk ke dalam. Tak ingin jika wanita itu terkena amukan dari para ibu-ibu yang komplain. 


"Kau menyeretku dengan sangat erat." Ayu terus mengikuti langkah kaki dari bosnya. 


"Apa kau ingin di amuk oleh mereka?" jawab Farhan yang terus menarik Ayu menuju ruangannya. 


"Bukan begitu, hanya saja aku tak bisa mengikuti langkahmu yang besar itu. Bisakah kau berjalan dengan pelan? Dan tanganku sakit, kau memegangnya dengan erat." Pinta Ayu yang tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya. 


"Kau terlalu banyak meminta, diamlah!"


Tak lama mereka sampai ke ruangan CEO, keduanya duduk untuk membahas masalah ini. "Bagaimana menurutmu?" tanya Farhan yang ingin mendengar pendapat dari sekretarisnya. 


"Aku sangat yakin, jika kita sedang difitnah dan mungkin saja pelakunya dari perusahaan Malhotra." Dugaan Ayu sementara. 


"Hem, cukup logis. Apalagi perancang desainer mereka pernah melakukan plagiat dari karya mu, dan mungkin saja orang lain." Ujar Farhan yang berpendapat. 


"Heri!" panggil Farhan sedikit berteriak.


"Iya, Tuan." Asisten Heri segera masuk ke ruangan saat mendengar namanya di panggil oleh sang atasan.


"Selidiki kasus ini lebih lanjut, aku ingin secepatnya kau mengungkapnya."


"Baik, Tuan. Akan saya lakukan dengan sebaik mungkin."


 

__ADS_1


__ADS_2