
Farhan menatap manik mata wanita yang berhadapan sangat dekat dengannya, keduanya terbuai dalam perasaan masing-masing. "Kau sudah menghabiskan malam bersama dengan Vanya, kenapa kau mengikutiku layaknya seorang penguntit?"
Tanpa disangka, Ayu mengeluarkan alasan dia menjauhi pria di depannya. Mengatakan permasalahan yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak, memikirkan Farhan menghabiskan satu malam bersama. Farhan mencerna perkataan Ayu dengan cermat, hingga tersenyum tipis. Dia sangat menyukai raut wajah cemburu yang menghiasi wajah cantik di depannya. "Sepertinya kau cemburu!" goda Farhan.
"Itu hanya perasaanmu saja!" elak Ayu yang membuang wajah.
Farhan memegang dagu wanita di hadapannya, dia tersenyum melihat raut wajah cemburu,mengerti kenapa sikap Ayu yang tidak ingin berada dekat dengannya. Suasana mendukung membuat Farhan langsung mencium bibir Ayu dengan sangat lembut, melepaskan beberapa detik seraya menatap wanita sayu di dekapannya. Kembali mencium Ayu, me*lumatnya dengan lembut. Lidah yang mulai menjelajahi rongga mulut, mengabsen satu persatu deretan gigi yang tersusun rapi. Ayu berusaha untuk memberontak, dengan cekatan Farhan memegang kedua tangannya ke atas. Ciuman yang semakin dalam membuat keduanya terbuai, bahkan Ayu mulai hanyut dalam permainan lidah dari pria tampan itu. Farhan semakin bersemangat, saat wanita di dekapan mulai membalas ciumannya.
Mereka tidak menyadari sudah berapa lama melakukan adegan ciuman yang sangat manis itu, perlahan Ayu melepaskan ciuman itu dan menatap manik mata tajam. "A-aku__" ucap Ayu gugup hingga tak bisa melanjutkan perkataannya, sangat malu dengan apa yang baru saja dia nikmati. Membuang wajahnya ke samping karena tak berani menatap mata elang milik Farhan.
"Kenapa? Apa kau malu?" lirih Farhan kembali memegang dagu Ayu, saling menatap dalam satu sama lain. Farhan tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium bibir manis di depannya, mereka kembali melakukan ciuman hingga merasa puas.
Farhan tersenyum dan mengusap bibir Ayu menggunakan jempol jari kanan, membelai rambut panjang dengan sangat lembut. "Apa yang kau pikirkan itu tidaklah benar." Ucap Farhan yang ingin menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka.
"Vanya sendirilah yang mengatakan itu saat aku menelponmu!" lirih Ayu yang mengingat malam itu.
"Apa kau mempercayai ucapan dari wanita itu?"
"Entahlah, tapi ponselmu ada padanya dan bisa dikatakan sebagai bukti" Ayu menyorot Farhan dengan tajam, membuat pria itu terkekeh.
"Di malam itu aku mabuk, entah darimana dia datang dan membawaku masuk ke dalam mobilnya."
"Lalu? Apa yang terjadi setelah itu?" Desak Ayu karena penasaran.
"Aku tidak mengingatnya!"
"Itu artinya kau menghabiskan malam bersama Vanya," sambung Ayu yang tersenyum getir.
Pletak
Farhan menjitak kepala Ayu membuat sang empunya meringis. "Auh…kenapa kau menjitakku?" protesnya sambil mengusap kepala dengan lembut.
"Karena raut wajahmu yang tiba-tiba murung dan terlihat menggemaskan."
"Hah, lupakan itu. Apa yang terjadi selanjutnya?" desak Ayu sangat antusias dan tidak sabar.
"Vanya membawaku ke kamarnya."
__ADS_1
"APA?" sontak Ayu terbelalak kaget. "Lalu?"
"Dia menggoda ku agar aku terjebak dalam permainannya, memanfaatkan kondisiku yang sedang mabuk berat. Tapi kau tenang saja, aku masih perjaka!" ungkap Farhan.
"Ck, aku serius tapi kau malah bergurau!" kesal Ayu yang mengingat saat dia tak sengaja memegang belalai tanpa gading milik Farhan.
"Apa kau mengerti maksudku?" tutur Farhan memasang raut wajah polosnya.
"Tidak!" elak Ayu yang sangat malu, ingin rasanya dia menceburkan diri kedalam kolam renang.
"Benarkah? Kau lah wanita satu-satunya yang menyentuh tongkat sakti mandraguna milikku." Jelas Farhan yang membuat Ayu semakin malu mengingat moment kesialannya.
"Bisakah untuk tidak membahasnya, aku rasa itu tidak diperlukan. Lanjutkan saja pembahasan tadi!" pinta Ayu yang tersenyum kikuk.
"Baiklah, aku tidak ingin melihat wajahmu semakin memerah. Akan aku lanjutkan…aku mendorong Vanya dengan aksinya yang gila. Mencoba untuk memperkosa diriku, kau tau? Di saat itu aku merasa direndahkan, biasanya prialah yang memperkosa wanita."
"Oh ya tuhan…sama seperti Maudi, Vanya juga terobsesi untuk memilikimu."
"Hem, aku rasa begitu. Aku memarahi Vanya juga membentaknya, berusaha menghentikan aksinya yang semakin liar."
"Dia seperti ja*lang saja!" Ayu menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak."
"Itu bagus, aku akan memesan makanan. Perutku sangat lapar!"
"Aku juga belum makan apapun."
Setelah memesan makanan, tak lama beberapa pramusaji mengantarkan beberapa menu yang sangat lezat. Terhidang di atas meja membuat Ayu hampir meneteskan air liurnya. "Kau tidak akan kenyang jika menatapnya saja, makanlah!" ucap Farhan yang mempersilahkan.
Tanpa menunggu lagi, Ayu mengambil beberapa hidangan makanan yang menggugah selera. Keduanya makan dengan tenang, hanya terdengar suara dentingan pisau dan garpu, suasana hangat di Restoran semakin memajukan hubungan keduanya. Setelah selesai makan, Ayu dan Farhan mulai mengobrol mengenai insiden tenggelamnya mantan ketua sekretaris.
"Dari mana mantan ketua sekretaris itu mengetahui jika kau ada di Danau?" ucap Farhan yang memikirkan dalang sebenarnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Untung saja aku menghindar dengan cepat dari wanita gila itu, dia berusaha untuk membunuhku dengan pisau lipat."
"Ini sudah keterlaluan!"
__ADS_1
"Kau benar," sambung Ayu.
Obrolan berhenti saat terdengar suara dering ponsel milik Farhan, melihat siapa yang menelepon tak lain sang asisten bodoh.
"Halo, Tuan."
"Hem."
"Setelah aku menyelidiki insiden ini, ternyata ada seorang saksi yang melihat kejadian itu, terlihat ada beberapa bukti yang ditemukan di tempat kejadian."
"Apa kau mendapatkan saksi itu?"
"Tidak tuan, karena keesokan harinya saksi kunci yang sebagai pekerja pemeliharaan ditemukan meninggal saat kecelakaan mobil."
"Lanjutkan penyelidikan!"
"Baik, tuan."
Farhan memutuskan sambungan telepon, dia sangat kesal mendengar kabar dari asisten Heri. Ayu merasakan cemas saat melihat Farhan,memegang pundaknya membuat pria itu menoleh. "Ada apa?"
"Baru saja asisten bodohku menelepon, memberikan kabar mengenai penyelidikan itu."
"Apa hasilnya?"
"Ada satu orang saksi kunci yang melihat kejadian perkelahian kalian dan satu hari setelah kejadian dia mengalami kecelakaan mobil dan meninggal."
"Oh ya tuhan," ucap Ayu yang menutup mulut menggunakan tangan, mendengar itu membuatnya terkejut.
"Apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" Farhan tampak berpikir, melirik Ayu sepersekian detik.
"Benar aku memikirkannya." Jawab Ayu yang berpikir keras siapa pelakunya. "Siapa dalangnya, dia musuhku atau musuh Farhan? Teka-teki yang harus aku pecahkan!" batinnya.
"Aku merasa dalang di balik semua ini hanya satu orang saja!"
"Aku juga merasakan hal yang sama, menjadikan Maudi sebagai pionnya. Seolah-olah ada dua tangan di belakangnya, mengendalikan semua bidak dengan memberikan sebuah imbalan yang sangat besar."
Ayu dan Farhan terus memikirkan dalang yang meninggalkan bayangan, sebuah bukti untuk memecahkan insiden penuh teka-teki.
__ADS_1