Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 27 ~ Mana yang palsu?


__ADS_3

Vanya menatap Ayu dengan tatapan provokasi, mempermalukan di hadapan semua orang. "Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak menyiapkan hadiah untuk kakek?"


"Aku tidak menyiapkan hadiah apapun," jawab Ayu yang terlihat sangat santai. 


Vanya sangat senang mendengar hal itu, dia tahu jika Ayu tidak dapat membelikan hadiah bermerek dan berkelas karena berasal dari kampung. "Heh, aku sudah menduga hal ini. Mana mungkin dia akan memberikan hadiah, jika pun dibawa juga hadiah yang sangat murahan," batin Vanya yang tersenyum miring dengan tatapan sinis. 


"Tapi aku bawakan ini khusus untuk Kakek," celetuk Ayu yang mengeluarkan sebuah lukisan antik dari tas di sebelahnya dan memberikan kepada Hendrawan. 


"Wah, lukisan yang sangat indah. Terima kasih, seharusnya kau tidak perlu membawakan ini, dengan kedatanganmu saja membuat Kakek sangat senang," ucap Hendrawan tersenyum dan mengambil hadiah itu. 


"Tidak apa-apa Kek, maaf hanya ini yang bisa aku berikan dan semoga Kakek menyukainya," tutur Ayu dengan lembut. 


"Aku menyukainya," balas Hendrawan yang tersenyum tulus. "Aku memang tidak salah dalam memilih cucu menantu," batinnya.


Ayu memberikan sebuah lukisan yang sangat unik dan juga langka, harga dari lukisan itu bahkan lebih mahal daripada hadiah yang diberikan Vanya kepada Hendrawan. Sebuah lukisan kuno yang diburu beberapa kolektor mampu dibeli oleh Ayu. Farhan sontak terkejut mengetahui lukisan termahal ada di tangan Ayu. 


"Lukisan itu asli, wanita itu sangat misterius," batin Farhan.


"Bukankah itu lukisan yang termahal, bagaimana dia bisa memilikinya? Itu benar-benar mustahil, tidak mungkin seorang gadis kampung dapat membelinya," batin Vanya yang sangat keheranan, bagaimana Ayu yang hanya seorang gadis kampung dapat memiliki barang yang begitu berharga. 


"Lukisan yang sangat indah, persis seperti aslinya," celetuk Vanya yang melirik lukisan itu serasa melihat sebuah kotoran yang menjijikkan. 


"Apa kau meragukan mata Kakek yang tidak bisa membedakan yang asli dari yang palsu?" Balas Ayu yang menohok. 


"Benarkah? Aku meragukan keasliannya." Vanya terus saja mencari cela agar bisa mempermalukan wanita yang ada di hadapannya, raut wajah yang terlihat angkuh dan juga sombong, serta senyum miring jika berhadapan dengan Ayu. 


"Lukisan itu asli." Celetuk Farhan yang secara tidak sadar mempermalukan Vanya. 

__ADS_1


"Apa kau yakin dengan itu?" 


"Heh, untuk apa aku berbohong. Lukisan itu asli," sahut Farhan. 


Vanya hanya bungkam dan semakin kesal dengan rivalnya itu, apalagi mendengar Farhan yang sepertinya membela Ayu dibandingkan dirinya. 


"Sepertinya pakaian yang kau kenakan itu palsu," sindir Ayu tersenyum tipis sembari menatap gaun yang dikenakan oleh Vanya. 


"Apa kau mencoba untuk membalasku dengan mengatakan hal itu, sayang sekali! pakaian yang kukenakan ini dirancang oleh desainer terkenal dan tidak mungkin palsu," sahut Vanya yang tertawa renyah, dia tidak tahu jika perancang busana yang dia maksud adalah Ayu. 


"Benarkah?" Celetuk Ayu yang pura-pura kaget sambil menutup mulut menggunakan tangan. 


"Tentu saja," ucap Vanya dengan sombong.


Ayu dengan cepat memeriksa bagian lapisan dalam pakaian milik Vanya, dia tersenyum saat menemukan cela untuk membalas wanita itu. 


"Apa kau iri dengan penampilanku dan mengatakan semuanya?" Vanya menatap Ayu dengan sinis.


"Tidak, aku mengatakan sebenarnya. Jika tidak percaya, kau bisa mengeceknya di internet. Semua informasi di sana juga akurat," tutur Ayu yang sangat yakin, bagaimana tidak? Jika yang dia maksud adalah rancangan miliknya sendiri. 


"Uhh...sayang sekali, dia memamerkan barang palsu. Jelas saja aku tau keaslian dari pakaian yang aku desain sendiri," gumam Ayu di dalam hatinya yang menutupi gelak tawanya. 


Sedangkan Farhan, Hendrawan dan juga Wina hanya melihat pertikaian kedua wanita tanpa ingin melerainya. Vanya segera memeriksa apa yang dikatakan oleh Ayu, mengeluarkan ponsel mahalnya dan mencari di kolom pencarian internet. Hingga muncullah penjelasan mengenai hal itu, dan benar saja jika dia mengenakan pakaian palsu. Membesarkan kedua pupil matanya, berharap jika apa ada di internet itu salah. 


"Astaga…aku sepertinya kehilangan wajahku sendiri," jerit Vanya di dalam hati, meremas ponselnya. Ayu tersenyum saat melihat raut wajah Vanya yang berubah begitu cepat, seakan memiliki begitu banyak wajah seperti bunglon. 


"Bagaimana? Apa kau percaya sekarang? Pakaian yang kau pakai itu bukan asli melainkan KW satu, hampir sama persis seperti aslinya. Tapi perancang asli juga sangat pintar untuk membuat tanda yang tidak mudah di tiru oleh perancang busana yang asli, semacam ciri khas," jelas Ayu. 

__ADS_1


Semua orang memandang Vanya dengan curiga, terutama Wina yang juga meragukan Vanya. "Tak aku sangka jika kau memakai pakaian KW," tukas Wina yang prihatin dengan tingkat kesombongan Vanya. 


Vanya terdiam seribu bahasa, dia sangat malu dengan hal ini. Seharusnya dialah yang mempermalukan wanita kampung itu, tapi yang terjadi malah sebaliknya. 


"Kenapa aku selalu kalah dengan wanita kampung itu? Seakan keadaan selalu berbalik kepadaku," umpatnya di dalam hati. 


"Kemana sombongnya pergi? Aku tidak melihat hal itu sekarang. Ternyata cucu menantuku sangatlah cerdik dan sangat-sangat cocok dengan Farhan, memang aku tidak salah dalam menilainya," batin Hendrawan yang tersenyum saat melihat Vanya yang bungkam. 


Wina menjadi kasihan kepada Vanya dan berusaha untuk mencairkan suasana yang ada. "Sebaiknya obrolan ini ditunda saja, lebih baik kita makan!" selanya. 


"Ayo," sahut Farhan. 


Mereka semua berjalan menuju meja makan, Farhan mendorong kursi roda untuk membantu kakeknya. Mereka mengisi kursi kosong, Ayu dan Farhan duduk di samping kiri dan kanan Hendrawan, sedangkan Vanya di samping kiri Ayu begitupun dengan Wina yang duduk di samping putranya 


Tak sengaja Ayu melihat Hendrawan memegang sebuah foto anjing yang di bingkai dengan sangat rapi di sebelah meja makan, Farhan yang mengerti dengan tatapan Ayu yang sangat penasaran. 


"Foto yang kau lihat itu adalah seekor anjing yang dibesarkan oleh nenek dan sangat menyayanginya, tapi__"


"Tapi apa?" Tanya Ayu yang sangat penasaran. 


"Tapi anjing itu lari setelah kematian nenek dan membuat kakek menyesal karena tidak bisa menjaga anjing kesayangan nenek. " Jelas Farhan dengan serius, sementara Hendrawan menghela nafas dengan berat. 


Seketika rasa penasaran menjadi rasa bersalah yang menyelimuti perasaan Ayu dan menyesal telah bertanya. "Maaf Kek, aku tidak bermaksud menanyakan hal ini untuk menyinggung perasaan." 


"Tidak masalah, anjing itulah yang menjadi kenangan terakhir dari istriku. Tapi dia juga meninggalkan aku," lirih Hendrawan. 


Ayu kembali mengingat anjing yang pernah dia tolong hingga terlambat datang ke kantor. "Memikirkan hal itu membuat aku merindukan Bulbul," batinnya yang memikirkan pertemuan dengan seekor anjing yang hampir ditabrak oleh orang, untung saja dia datang menyelamatkan anjing itu dengan sangat cepat. 

__ADS_1


__ADS_2