Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 188 ~ Pencarian selesai


__ADS_3

Ayu dan sang manajer menarik perhatian mereka ke asal suara, mereka mengerutkan dahi menatap Gabriel dengan tatapan tak suka.


"Apa maksudmu?" tanya Ayu dengan ketus.


"Aku mengatakan hal yang benar, jika di hati Farhan hanya milik Kira. Bukankah aku sudah memperingatkan kalian sebelumnya, jadi untuk apa menyesalinya sekarang" jawab Gabriel yang memberanikan diri untuk menyampaikan kenyataan dari satu sisi.


Ayu menganggukkan kepala, mengerti kenapa pria itu mengatakan hanya untuk memanasi hatinya. "Bukankah kau sudah berjanji untuk merelakanku bersama dengan Farhan, tapi aku tidak melihat hal itu sekarang!" ucapnya dengan sorot mata yang tajam.


"Aku mengatakan hal ini demi kebaikanmu, jangan mengharapkan kepada pria yang hanya terikat pada masa lalu saja. Aku ada disini, dan menunggumu untuk mencintaiku."


"Sebaiknya kau pergi dari sini!" titah Ayu yang mengusir Gabriel.


"A-Ayu kau?"


"Apa? Kau hanya memperburuk suasana hatiku, lalu untuk apa kau kesini?" 


"Tapi...aku hanya memperingatkanmu saja."


"Sudahlah, hentikan drama ini." 


"Ayu, aku hanya__."


"Pergilah." Ayu segera berlalu pergi dari tempat itu, kesal dengan Gabriel yang merusak suasana hatinya. Sang manager mengikuti atasannya, namun sebelum itu dia memberikan isyarat agar pria itu tidak mengulangi kesalahan yang sama.


Gabriel hanya pasrah menatap kepergian dua wanita yang mulai menjauh. "Apa yang diharapkan olehnya, Farhan hanya mencintai gadis kecil penyelamat nya dulu."


Farhan yang baru saja menyusul, menatap Gabriel dengan tajam dia mengerti jika pria itu berniat tidak baik kepada sekretarisnya. Hanya sekilas, dia menatap tajam sahabat masa kecilnya dan menyusul Ayu. 


"Farhan, kau?" Ayu terkejut melihat keberadaan atasannya yang menghampirinya, dengan cepat dia menoleh ke belakang dan celingukan mencari keberadaan Kira. "Kau sendirian saja? Dimana Kira?" tanyanya yang menyindir pria tampan itu.


"Ck, aku berusaha keras untuk keluar dari cengkraman wanita itu, selalu saja menempel membuatku risih."


"Aku melihatnya sendiri, kau terlihat nyaman berdekatan dengan Kira. Lalu, apa ini?"


"Aku tidak nyaman dengannya, itu sebabnya aku menyusulmu."


Raut wajah yang tadinya kesal berubah saat mendengarkan perkataan Farhan yang sedikit menggelitik, dia tidak menduga jika bosnya tidak nyaman dengan keberadaan Kira yang selalu menempel. "Baiklah, maafkan aku yang salah menduga."

__ADS_1


"Apa itu artinya aku boleh ikut bersama dengan kalian?" pinta Farhan yang terlihat menggemaskan, menatap dua orang wanita secara bergantian.


Ayu mengangguk dengan cepat. "Kau boleh pergi bersama dengan kami."


Farhan tersenyum dan berjalan berdampingan dengan wanita yang dicintainya, menggerakkan empat jarinya secara diam-diam, untuk memberikan bahasa isyarat agar sang manajer menjaga jarak dari mereka.


"Wow, awal yang bagus." Batin sang manajer yang tersenyum puas sembari menatap punggung sepasang kekasih yang terlihat romantis.


Di sepanjang perjalanan, Farhan terus saja mengambil kesempatan untuk dekat dengan Ayu yang berhasil mencuri hatinya. "Aku kau yakin, jika kau baik-baik saja? Bagaimana jika kita beristirahat, kau pasti lelah." Tawarnya.


"Aku tidak ingin membuang waktu, akulah penyebab kakek Hendrawan kritis."


Farhan memegang tangan wanita di sebelahnya, sorot mata yang menyirat kan penyesalan. "Maafkan aku yang berbicara kasar padamu, aku tahu kau pasti sangat patah hati. Tapi saat itu, aku benar-benar kehilangan kendali. Maafkan aku!" 


"Kau terlihat tulus, aku memaafkanmu." 


"Itu bagus. Oh ya, apa kau yakin mengenai keberadaan dokter Zaki?"


"Aku sudah menanyakan dan mendapatkan informasi dengan benar."


"Hem."


"Apa ini tempat tinggal dokter Zaki?" tanya sang manager.


"Menurut informasi, memang di sini lokasinya."


"Tunggu apa lagi? Ayo kita masuk ke dalam," ajak Farhan.


"Kita tidak bisa masuk ke dalam secara bersama, aku yang akan pergi ke sana sendirian." Tegas Ayu.


"Kita tidak tahu, bahaya apa yang mengintai jika memaksakan diri untuk masuk ke dalam," celetuk Farhan.


"Tapi ini penting, Farhan."


"Aku tidak bisa membiarkanmu masuk ke dalam sendirian."


"Kau tidak perlu cemas, aku bisa menjaga diriku. Kalian tunggulah ke sini." Keukeuh Ayu yang pergi meninggalkan Farhan dan sang manajer.

__ADS_1


Ayu memberanikan dirinya masuk ke dalam kabin setelah mendapatkan izin dari sang pemilik, duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang tengah menatapnya serius.


"Apa yang membuatmu kemari?"


"Aku mengetahui keberadaan dokter Zaki dari kakekku, Tirta."


"Jadi kau adalah cucunya?"


"Ya, itu benar. Kau pasti mengenal kakek ku!"


"Siapa yang tidak mengenal keluargamu yang sangat kaya raya itu, dunia bisnis yang kau miliki juga Tirta sangat terkenal hampir seluruh negara." Sahut dokter Zaki yang mengenal identitas dari wanita di hadapannya, hal ini membuatnya teringat masa lalu. 


"Aku ingin meminta bantuanmu, dokter. Tolong sembuhkan kakek Hendrawan, aku mohon. Kaulah satu-satunya harapan ku!" tutur Ayu yang menyatukan kedua tangannya memohon, air matanya mengalir begitu saja saat mengingat kondisi pria tua yang kritis di rumah sakit. 


Dokter Zaki melihat ekspresi Ayu persis seperti   wanita cantik yang juga pernah memohon kepadanya di masa lalu. "Dia mengingatkanku dengan Rika," gumamnya yang keceplosan.


"Kau mengenal ibuku?" Ayu mengerutkan dahi karena rasa penasarannya yang begitu dalam.


"Mungkin kau salah dengar," elak dokter Zaki yang membuat Ayu sedikit kecewa.


Rika merupakan ibu kandung Ayu yang juga pernah memohon demi keselamatan kekasihnya, menemui dokter Zaki untuk meminta bantuan. 


"Aku setuju, dan akan membantumu."


"Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya. Oh ya, sepertinya aku tidak salah dengar mengenai perkataan mu tadi. Apa kau mengenal ibuku?" tanya Ayu karena rasa penasarannya.


"Aku pernah bertemu dengan seorang wanita cantik sepertimu, dia juga memohon seperti apa yang kau lakukan."


"Aku mendengar kau memanggil nama Rika, ibuku pernah kesini?" selidik Ayu yang menyipitkan kedua matanya.


Seketika dokter Zaki gugup, karena akibat kesalahannya sendiri yang tidak menjaga ucapannya. "Tidak, aku tidak mengenal ibumu. Nama Rika bukan hanya satu orang saja, lagi pula aku tidak menyebutkan nama itu, kau terlalu antusias sekali."


Seketika Ayu kecewa karena tak puas dengan jawaban yang di berikan oleh dokter paruh baya itu. "Hem, mungkin aku yang terlalu bersemangat. Maafkan aku yang mengintimidasi mu." Ucapnya yang menundukkan kepala, sedih karena pria itu tidak mengenal ibunya.


"Tidak masalah," sahut dokter Zaki yang bisa bernafas lega, dia tidak ingin wanita muda itu mengetahui fakta yang belum terkuak. "Semoga saja dia percaya dengan kebohonganku," batinnya.


Ayu membawa dokter Zaki untuk mengikutinya, dan tak sengaja dia menatap matanya, terlihat seorang pria tampan yang tengah mencemaskan dirinya.

__ADS_1


 


__ADS_2