
Dua bulan kemudian, Ayu dan Farhan kembali melakukan rutinitas seperti biasanya. Mereka menjalankan aktivitas sesuai dengan profesi, dan keduanya telah sepakat untuk berada dalam satu ruangan.
Farhan menghampiri sang istri, memeluk dari belakang dengan penuh cinta. "Jangan terlalu banyak bekerja, aku tidak ingin kau lelah."
"Farhan, lepaskan pelukan ini. Bagaimana asisten Heri melihatnya? Dan kita telah sepakat sesuai dengan permintaanmu." Ayu sedikit risih dengan suaminya, dan melepaskan pelukan dari suaminya itu.
"Ada apa denganmu? Aku hanya ingin memeluk, apa itu salah?" Entah mengapa Farhan selalu saja menempel pada istrinya itu, sementara Ayu malah sebaliknya. Sifat keduanya akhir-akhir ini saling bertolak belakang, dan hal itu sangatlah tidak nyaman.
Ayu mendelik kesal saat melihat Farhan yang mulai menangis seperti biasanya, air mata yang mudah keluar membasahi pipi. "Ada apa denganmu? Kenapa kau sangatlah cengeng?"
"Kau tega sekali, aku hanya memelukmu. Kau selalu saja menolakku, itu sangatlah menyakitkan." Farhan mengeluarkan semua uneg-uneg nya, dia sudah tidak tahan tidur di sofa selama beberapa hari belakangan atas permintaan dari istrinya.
Pintu terbuka tanpa menghentikan perdebatan sepasang suami istri, terlihat seorang pria tampan yang berjalan menghampiri mereka. Farhan segera memeluk Leon dengan erat dan menangis di pundak kakak iparnya itu. "Adik mu sangatlah keterlaluan."
"Aku perhatikan akhir-akhir ini kalian sangat aneh, ada apa?" tanya Leon yang juga tak memahami apapun, hanya menggaruk kepala dan juga pasrah. "Sebaiknya kalian ke dokter, aku sangat yakin ada yang tidak beres. Apa jangan-jangan kalian tidak waras?"
"Sial, aku dan istriku masih waras." Umpat Farhan yang kesal, namun tak bisa mengabaikan apa yang terjadi pada mereka. Dengan cepat dia mengeluarkan ponsel dari sakunya, menghubungi dokter.
"Halo, kau dimana?"
"Aku di rumah sakit, ada apa?"
"Aku ingin kau segera datang ke kantorku!"
"Ada apa? Aku sibuk mengurus para pasien."
"Dokter di rumah sakit itu bukan dirimu saja, cepat datang jika tak ingin terkena masalah!"
"Hah, kau selalu saja memerintahku. Baiklah, aku akan kesana."
"Bagus."
Farhan mematikan sambungan telepon, tersenyum puas menatap kakak ipar dan juga istrinya. "Kita akan cek sebentar lagi, kenapa kau datang ke kantorku? Bukankan perusahaan milikmu itu jauh dari sini?"
"Memangnya kenapa? Aku merindukan adikku saja, lagipula aku bosnya." Sahut Leon yang sombong.
__ADS_1
"Siapa yang kau telepon tadi?" tanya Ayu yang penasaran.
"Temanku, dokter Reffan."
Ayu menganggukkan kepala dan ber "oh" ria saja. Sementara Leon memilih untuk duduk di sofa sembari memainkan ponselnya, kini perusahaan HR Grup dan Sky Grup bekerja sama.
"Hampir tiap hari Kakak datang ke sini, ada apa?" Ayu juga memutuskan untuk duduk di sebelah kakaknya, sesekali melirik ponsel Leon yang hanya fokus dengan urusan bisnis. "Kakak selalu saja sibuk bekerja, sama seperti Farhan. Setidaknya menikahlah!"
Leon segera menyimpan ponselnya, karena obrolan dengan sang adik yang paling utama. "Menikah? Aku tidak akan menikah," tolaknya.
"Kenapa?" ayu mengerjapkan kedua mata, begitu penasaran dan berpikir jika Leon juga mempunyai wanita di masa lalu seperti suaminya.
"Karena dia guy," sahut Farhan yang duduk berhadapan dengan istrinya.
"Sial, aku ini pria normal. Tidak menikah, bukan berarti aku guy." Kesal Leon.
"Benarkah? Jangan jadi sepertiku dulu, hanya fokus pada pekerjaan saja. Kau akan tahu setelah menemukan pawangnya," tutur Farhan yang tersenyum membayangkan dirinya begitu kaku dan juga arogan, tapi sejak kedatangan Ayu perlahan benteng pertahanannya mencair.
"Sudahlah, jangan nasehati aku mengenai pernikahan. Fokus saja pada diri kalian sendiri yang gangguan kejiwaan," tukas Leon dengan tatapan tajamnya.
Keheningan ketiganya terpecahkan di saat seorang pria berjas putih masuk ke dalam ruangan CEO, membawa tas jinjingan yang berisi obat dan juga alat. Reffan menatap semua orang saat dirinya menjadi pusat perhatian, melirik jam yang melingkar di tangan karena mengejar waktu operasi pasiennya. Dia segera berjalan menghampiri, duduk di sofa tanpa meminta izin terlebih dulu.
"Aku tidak punya banyak waktu, katakan keluhannya!" dokter Reffan kembali melirik jam di tangannya.
"Kau terlihat terburu-buru," ucap Farhan yang memperhatikan temannya itu.
"Sebentar lagi ada jadwal operasi pasien ku, katakan saja keluhanmu!"
"Begini, aku dan Farhan merasa aneh dalam diri kamu selama beberapa hari terakhir, dan bahkan kak Leon juga merasakan hal yang sama." Jelas Ayu.
"Lalu?"
"Aku sangat risih jika Farhan mendekatiku, tapi dia malah sebaliknya."
"Dan selama itu pula juniorku tidak bekerja," keluh Farhan membuat dokter Reffan dan Leon tertawa, mereka tahu bagaimana penderitaan hasrat yang belum tersalurkan.
__ADS_1
"Apa kau merasa mual atau pusing?" dokter menatap wanita cantik di sebelah Leon, mengintrogasi layaknya seorang dokter profesional.
"Aku merasa mual saat mencium bau minyak goreng dan juga cat," sahut Ayu yang mengingat.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" sela Farhan.
"Aku merasa itu tidak perlu, itu masalah sepele saja."
"Apa menstruasi mu lancar?" celetuk dokter Reffan dengan tatapan intimidasi.
Ayu kembali menghitung jadwal haid yang selalu rutin, hingga kedua matanya melotot. "Aku telat," gumamnya terkejut.
"Aku bisa menyimpulkan jika kau sedang hamil, tapi sebelum itu kau periksa dengan tespek atau langsung ke dokter Spog."
Seketika ketiga orang yang mendengar hal itu sangat terkejut dan juga bahagia, Farhan menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang. "Kau hamil, Sayang." Betapa bahagia dirinya yang tidak bisa dijabarkan lagi, bahkan dia meneteskan air mata bahagia.
"Sebentar lagi aku akan jadi paman," lirih Leon yang bahagia, seakan dirinya mendapatkan semangat baru.
"Jangan terlalu berharap, aku akan memeriksanya terlebih dulu." Ayu tak ingin menghancurkan harapan dari suami dan juga kakaknya yang sangat antusias dengan perkataan dokter Reffan.
"Aku sudah menduga hal ini, dan membawakan alat tespek. Kau bisa menggunakannya, aku pergi dulu!" dokter Reffan menyerahkan alat kecil ke tangan Ayu dan bergegas ke rumah sakit.
Ayu gemetaran saat tespek berada di tangannya, dia takut jika hasilnya negatif. Farhan melihat hal itu segera menggenggam tangannya dengan lembut, apapun hasilnya nanti dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. "Jangan khawatir, aku ada disini."
Ayu menganggukkan kepala dan segera melangkah menuju toilet di dalam ruangan, dia berharap semoga hasilnya memuaskan. Sementara Farhan dan Leon mondar-mandir seperti setrikaan, mereka sudah tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.
"Aku sangat berharap jika perkataan Reffan benar, jika dia salah? Maka aku akan menghukumnya," gumam Farhan yang masih terdengar oleh Leon.
"Kau ini, suka sekali mengancam."
"Itu sudah menjadi prinsipku, jangan menggangguku!" ucap Farhan yang ketus.
Tak beberapa lama, Ayu keluar dari toilet dengan raut wajah yang tak bisa di terka oleh Farhan maupun Leon.
"Bagaimana?" desak Farhan dengan tatapan penuh harapan.
__ADS_1