
Farhan sebenarnya enggan mengambil buku itu, hanya saja pikirannya membenarkan apa yang dikatakan oleh sang asisten. Memperhatikan tidak ada orang dan segera masuk ke dalam kamar, tapi dia tidak tahu jika seseorang mengawasinya. "Ck, tadi dia menolaknya dan sekarang malah mengambil buku itu." Gumam asisten Heri yang menggelengkan kepala.
Asisten Heri mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu nomor yang ada di kontaknya.
"Halo."
"Ada apa?"
"Jangan ketus begitu, Tuan. Apa kau sudah membaca buku seribu satu cara meluluhkan hati wanita?"
"Aku sudah membuang bukunya, aku rasa itu tidak di perlukan!"
"Benarkah? Sayang sekali, padahal tips di dalam buku sangatlah manjur."
"Ya, mau bagaimana lagi? Aku tidak tertarik."
Asisten Heri tertawa dan mengirimkan bukti saat Farhan menyelipkan buku itu dan membawanya masuk ke kamar. Jangan tanya bagaimana ekspresi Farhan saat ini, yang jelas dia malu saat melihat fotonya.
"Sial!"
"Apa tuan masih ingin mengelak lagi?"
"Ya…ya, sejak kapan kau menjadi mata-mata?"
"Sejak tuan tidak bisa menaklukkan nona Ayu."
"Sialan kau! apa kau ingin dipecat?"
"Tidak, karena aku butuh uang."
"Ya, baiklah. Hubungi aku jika ada masalah!"
"Siap, Tuan!"
Sambungan telepon terputus, Farhan sangat malu jika asisten bodohnya mengetahui tindakannya saat menyimpan buku itu. Melemparkan ponsel di atas ranjang dan melirik buku tebal membuatnya sangat tertarik untuk membacanya.
Di malam hari, Farhan yang tidak bisa tidur memutuskan untuk menggali ilmu mengenai percintaan di buku itu. Setiap lembar di resapi dan pahami, tidak ada yang dia lewati, menikmati setiap tulisan yang tertera. "Ternyata buku ini tidak buruk, aku akan mencobanya!"
Sedangkan Ayu tidur terlelap, beban yang mengganjal di pikiran akhirnya terselesai dengan baik.
__ADS_1
****
Keesokan harinya, Ayu tengah sibuk berbalas pesan kepada sahabatnya yang bernama Riko. Ternyata pria itu juga ada di Perancis, dia sangat senang dan memutuskan untuk berjalan-jalan.
["Jika kau masih di sini, bagaimana jika kita jalan-jalan?"]
["Baiklah, kirimkan saja lokasinya dan aku akan menemuimu."]
Ayu tersenyum saat membaca pesan dari Riko, dan segera beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi, bersiap-siap dan menghabiskan waktu bersama di Perancis. Tak lupa dengan polesan di wajah, dan sedikit parfum membuatnya penuh percaya diri.
"Ini pasti sangat menyenangkan." Gumamnya yang memikirkan jadwal bersama Riko, sahabatnya. Setelah selesai bersiap-siap, Ayu mengambil tas kecil dan berjalan menuju pintu kamar. Senyum di wajahnya selalu terukir dengan indah, tapi memudar saat melihat Farhan yang berdiri di depan kamar. Pakaian kasual melekat di tubuhnya membuat pria itu terlihat sangat tampan dan berbeda.
"Kau di sini?" Ayu mengerutkan dahinya, melirik penampilan Farhan dari atas hingga bawah.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan, sebelum kita meninggalkan negara ini." Ajak Farhan yang tersenyum.
"Maaf, hari ini aku tidak bisa." Tolak Ayu yang telah membuat janji terlebih dulu dengan Riko.
"Jangan menolakku, ayolah!" ucap Farhan yang pantang menyerah.
"Pasti kau sangat letih, istirahatlah!"
"Ya, baiklah." Dengan terpaksa Ayu menuruti perkataan bosnya, mengingat kata keramat yang selalu diucapkan sebagai ancaman.
Farhan mengembangkan senyuman manis, berhasil membawa wanita itu untuk menghabiskan waktu bersama.
Di dalam mobil, Ayu menatap keluar jendela, menikmati hiruk pikuk jalanan di kota itu. Dengan cepat dia mengeluarkan ponsel yang tersimpan di dalam tas kecilnya. Mengirimkan pesan kepada Riko, jika perjanjiannya batal.
["Maaf, sepertinya kita tidak bisa pergi jalan-jalan."]
[Aku sudah bersiap tapi kau membatalkannya, tidak bisa!"]
"Sebenarnya aku ingin pergi denganmu, hanya saja Farhan juga mengajakku pergi.]
Riko tertawa saat membaca isi pesan melalui ponselnya. ["Jadi kau lebih memilih Farhan di bandingkan aku, sahabatmu?]
["Jangan salah paham, dia memaksaku. Sekali lagi aku minta maaf!"]
["Baiklah, aku mengerti dan hari ini memaafkanmu, tapi tidak di lain waktu.]
__ADS_1
["Tentu!"]
Ayu menghela nafas panjang dan kembali memasukkan ponsel ke dalam tas kecilnya. Kembali menikmati perjalanan, dia membuka jendela mobil dan merasakan angin yang berhembus menerpa wajah. Mobil berhenti tak jauh dari menara Eiffel, tempat para turis datangi.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan-jalan menyusuri tempat destinasi itu, Ayu tersenyum bahagia dan menikmati suasana indah yang ada di hadapannya. Sementara Farhan tersenyum saat melihat Ayu yang tersenyum, seseorang menarik pakaiannya. Dia menoleh ke bawah, dan terlihat seorang gadis kecil berambut pirang menghampirinya dengan membawa beberapa bunga.
"Paman, belilah bunga ku."
"Tidak, terima kasih."
"Apa Paman datang bersama wanita itu?" tunjuk gadis kecil ke arah Ayu, Farhan menganggukkan kepalanya.
"Wanita itu sangat cantik dan Paman terlihat tampan, jika situasi saat ini sebaiknya membeli setangkai bunga mawar. Aku sangat yakin jika kekasih Paman sangat menyukainya. " Bujuk gadis kecil yang menyerahkan setangkai mawar merah.
Farhan sangat gemas dengan gadis kecil itu. "Baiklah, berikan aku setangkai mawar merah."
Gadis kecil itu sangat senang dan memberikan setangkai bunga mawar merah, Farhan membayarnya dan bergegas menghampiri calon tunangannya. "Ini untukmu!" Farhan memberikan Ayu bunga mawar dengan wajah yang tersenyum.
"Maaf, sebenarnya aku tidak menyukai mawar merah." Tolak Ayu yang memelas, membuat Farhan terdiam sejenak.
"Eh, bukankah para wanita menyukai bunga mawar merah?"
"Tidak semua, aku termasuk pengecualian."
Farhan terdiam, karena tips untuk meluluhkan wanita yaitu dengan setangkai bunga mawar. Berpikir jika sekretaris nya itu luluh dengan perhatian kecil diajarkan di dalam buku yang diberikan oleh asisten Heri. Tapi kenyataannya, Ayu tidak menyukai mawar merah.
"Bagaimana jika kita bermain game?" ucap Ayu bersemangat.
"Game?"
"Ya, begini! Kita akan berjalan berlawanan arah, jika kita bertemu di akhir maka akan berjodoh."
"Baiklah, aku setuju." Jawab Farhan, mereka berjalan berlawanan arah sesuai perkataan Ayu.
Ayu terus berjalan menikmati suasana indah di sekelilingnya, tersenyum saat mengingat perhatian dan rasa peduli yang torehkan Farhan kepadanya. "Farhan adalah pria yang sangat baik, dia selalu ada di saat aku membutuhkannya. Apa aku dan dia akan berjodoh? Farhan selalu mengatakan perasaannya kepadaku, tapi bagaimana dengan Kira?" gumamnya di dalam hati, dia mencintai Farhan tapi tak ingin di anggap sebagai seorang pengganti.
Di sore hari, belum ada tanda-tanda jika mereka akan bertemu. Ayu memutuskan duduk di kursi taman dan menikmati suasana indah yang di suguhkan di hadapannya. Tiba-tiba terlintas di ingatann, dan merasa orang tuanya pernah membawanya ke taman itu. Ayu memegang kepalanya yang kembali berdenyut, berusaha keras untuk mengingat memori dan kenangan.
"Taman ini sangat tidak asing, aku merasa ayah dan ibu pernah membawaku kesini. Tapi kenapa aku tidak mengingatnya?" monolog Ayu sedih.
__ADS_1