
Beberapa bulan kemudian, Tubuh Ayu begitu gemuk dan membawa bobot tiga calon anak yang masih berada di dalam perutnya. Keluarga saat itu sangat panik dengan keputusannya yang akan lahiran normal, dan bisa beresiko besar. Dia tetap bersikeras walau dibujuk oleh keluarga terutama suaminya.
Farhan telah menyiapkan segalanya keperluan sang istri dan menjadi suami siaga, dia juga memutuskan untuk pindah ke kamar lantai satu. Khawatir dengan kondisi sang istri yang naik dan turun tangga, bahkan menyediakan meja makan khusus.
Ayu tidak bisa mengontrol nafsu makannya, perutnya selalu saja merasa lapar dan menyebab dirinya menjadi gemuk. "Mana makanannya? Aku lapar," pekiknya yang masih merasa lapar sambil mengunyah keripik kentang.
"Sebentar lagi akan selesai, Nona." Sahut salah satu pelayan yang membantu Ayu.
"Hah, aku sangat lapar. Cepatlah sedikit!"
"Siap Nona."
Farhan yang baru bangun tidur, tak sengaja mendengar suara istrinya di meja makan. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan menuju asal suara. Dengan wajah bantalnya, berjalan gontai dengan sesekali menguap. Tak jauh darinya terlihat seorang wanita yang sangat dia cintai sedang melahap cemilan kesukaannya, yaitu keripik kentang. "Astaga Sayang, mengapa kau berteriak di pagi hari?"
Spontan Ayu menoleh dan tersenyum tanpa dosa. "Aku sangat lapar, tapi pelayan belum juga mengantarkan brownies keju untukku." Keluhnya yang sedikit cemberut.
Farhan berjalan ke arah istrinya dan mengecup pucuk kepala sebagai pengganti ciuman selamat pagi, karena Ayu selalu muntah jika dia memaksakan kehendak. "Tidak perlu berteriak, sebentar lagi pelayan akan membawa cemilan mu." Ucapnya yang mencoba untuk menenangkan, mengelus perut buncit sang istri dan mengecupnya sebanyak tiga kali sesuai jumlah janin yang berada di dalam perut.
Tak lama kemudian, dua orang pelayan membawakan brownies dan juga cupcake sesuai permintaan dari Ayu, tentu saja dengan toping yang sangat berbeda. Farhan membulatkan mata saat melihat irisan cabe rawit dan juga mi. "Sayang, apa ini?"
"Bukan aku, tapi anakmu menginginkan itu juga. Kenapa kau belum bersiap-siap, pergilah ke kantor!" ucap Ayu sembari menyuapi mulutnya dengan brownies keju permintaannya dengan lahab.
"Aku tidak akan ke kantor, kau sedang hamil besar dan tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku melihat para wanita yang melahirkan seorang diri tanpa pendamping seperti suami, dan aku tidak ingin itu sampai terjadi padamu. Lagipula akulah bosnya, masih ada asisten Heri dan dia pastinya mengerti." Jelas Farhan yang ingin menemani Ayu di saat mendekati kelahiran, bahkan rentan usia kandungan tujuh bulan sudah melahirkan.
"Hem, terserah kau saja." Ayu hanya tertarik pada suapannya saja dan mengacuhkan Farhan yang setia menemani.
__ADS_1
Kini Ayu beralih pada cupcake dengan toping sesuai keinginannya, baru saja melahap satu suap, dia merasa ada yang aneh terjadi pada dirinya dan segera menghentikan aktivitas. Dia menoleh ke bawah, terlihat rembesan air yang keluar dengan deras dari bagian sensitifnya. "Air apa itu?" gumamnya yang masih belum menyadari.
"Sayang, apa anak kita akan segera lahir?" Farhan melototi kedua matanya saat melihat air ketuban sang istri yang pecah, tiba-tiba dia melupakan pembahasan yang pernah dipelajari mengenai suami siaga.
"Air ketuban," lirih Ayu yang menganggukkan kepala, dia terlihat tenang, berbeda dengan suaminya yang sangat panik. "Ayolah, itu hanya air ketuban saja. Daripada kau seperti itu, lebih baik bawa aku menuju rumah sakit." Pekiknya kesal melihat Farhan yang mondar mandir.
"Dimana ponselku, dimana ponselku?" Farhan berteriak mencari dimana benda pipih itu berada, pikirannya kosong saat melihat air keruh yang bergelimang di atas lantai.
Ayu menggelengkan kepala sembari menepuk keningnya pelan. "Dasar payah!" kesalnya yang segera mengambil ponsel sang suami tak berada jauh darinya. Segera mencari nomor dokter kandungan yang akan membantu persalinannya.
"Halo."
"Iya, halo."
"Air ketubanku pecah, persiapkan segalanya di rumah sakit dan segera berangkat!"
"Hem."
Ayu segera memutuskan sambungan telepon dan menyerahkan ponsel itu kepada Farhan. "Dasar payah, kau melupakan segalanya."
Farhan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, segera mengambil kursi roda menuju mobil yang sudah disiapkan. Dia sangat panik, dan berusaha untuk berpikir jernih. "Apa kakek tahu hal ini?" tanya Ayu yang sudah masuk ke dalam mobil.
"Belum, mereka masih tidur. Jangan pikirkan mereka, persiapkan saja kelahiranmu. Apa kau tak ingin mengubah keputusan itu?" Farhan segera memasang seal bet untuk Ayu dan juga dirinya.
"Tidak, aku ingin normal."
__ADS_1
"Tapi itu cukup beresiko," Farhan tak bisa melihat istrinya melahirkan secara normal, apalagi tiga anak sekaligus.
"Hentikan, kita sudah membicarakan ini. Please!"
"Hah, baiklah." Farhan hanya bisa menghela nafas berat, dia selalu membujuk tetapi Ayu tetap saja bersikeras.
Tibalah di rumah sakit, Farhan berteriak memanggil seluruh dokter dan juga suster untuk menangani istrinya. Mereka sekarang berada di bangsal yang telah dipesan sebelumnya, keringat dingin di dahi menandakan kecemasan dan juga kepanikan dirinya. "Kenapa kau tidak keluarkan bayinya, Dok?" tanyanya yang menaikkan sebelah alisnya.
"Kami sudah memeriksa, dan masih pembukaan empat. Tunggulah hingga pembukaan sepuluh, barulah bayi bisa dikeluarkan." Jelas dokter.
Ayu mulai merasakan kontraksi yang membuat pinggangnya terasa putus. "Auh," ringisnya yang mengelus bagian pinggangnya.
Farhan dengan cekatan menghampiri istrinya dan mengusap pinggang Ayu dengan lembut, hal itu sedikit mengurangi rasa sakit yang belum teratur. "Apa sudah mendingan?"
"Hem, tanganmu sangat ajaib. Bahkan sakit pinggang menghilang," puji Ayu membuat Farhan tersenyum sekilas, namun hatinya masih saja merasa tak tenang.
Detik berganti menit, menit berganti jam membuat Ayu selalu merasakan mulas yang beraturan. Keringat yang keluar sebesar biji jagung membuatnya tak tahan lagi dengan rasa sakit, nafas mulai terengah-engah dan kesulitan oksigen.
"Sudah saatnya, Dok." Tutur suster yang mengecek jalan lahir, mengingat waktu yang sudah siang.
"Ya, persiapkan segalanya."
"Tenang, aku ada bersamamu. Jangan takut!" Farhan mencoba untuk menenangkan istrinya yang merasa kesakitan, tak sadar jika air mata menetes dengan sendirinya.
Perjuangan Ayu yang begitu dahsyat, perjuangan seorang ibu untuk memberikan kehidupan baru untuk buah hati yang dinanti. "A-aku harus pastikan ketiga bayiku selamat, ini janjiku sebagai seorang ibu. Jika terjadi sesuatu padaku, jangan lupakan anak kita dan juga perjuanganku. Rawat anak kita, jika aku tiada dalam pertarungan ini." Bisiknya di telinga Farhan.
__ADS_1
"Tidak, apa yang kau katakan tidak akan terjadi. Kau wanita yang kuat, demi aku dan juga ketiga bayi kembar kita." Farhan sangat cemas melihat perjuangan Ayu yang begitu berat, seakan dia tak sanggup untuk menyaksikan proses melahirkan. Dia berdoa di dalam hati, agar istri dan juga ketiga calon anaknya selamat.