Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 148 ~ Kembali ke kota


__ADS_3

Tirta sangat senang melihat kedekatan cucunya dan juga cucu sahabatnya yang semakin akrab, berharap jika hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan. Tatapan matanya mengarah pada sang cucu dan tersenyum. "Sepertinya Kakek melewatkan sesuatu?" godanya. 


Ayu menoleh ke asal suara, mengerutkan kening karena tidak paham. "Apa maksudnya, Kek?"


"Setelah menghilang dan terdampar di pulau kecil itu, hubungan kalian terlihat romantis."


Ayu melirik Farhan dan tersenyum malu, apa yang dikatakan sang kakek benar adanya. Momen romantis di antara mereka tidak bisa dilupakan, suatu kenangan indah yang harus disimpan dalam ingatan. "Biasa saja, itu hanya perasaan Kakek." Elak nya yang tersipu malu. 


"Benarkah? Tapi kenapa raut wajah sangat berbeda dengan ucapanmu?" Tirta terus saja menggoda sang cucu, sedangkan Farhan tersenyum melihat kedekatan kakek dan cucu. 


"Itu tidak seperti yang Kakek pikirkan."


"Anggap aku percaya." Tirta menoleh pada calon cucu menantunya, menepuk pelan bahu Farhan dan memeluknya. "Terima kasih, kau telah menjaga Ayu dengan baik."


"Sama-sama, Kek." Farhan membalas pelukan itu dan melepaskannya, mereka tertawa bersama untuk menghilangkan rasa canggung. 


"Aku sekarang semakin yakin, jika kau seorang pria yang sangat cocok untuk cucuku. Kapan kalian akan meresmikannya?" desak Tirta yang menatap sepasang manusia di hadapannya, mata berbinar menyimpan  penuh harapan pada Ayu dan Farhan. 


"Secepatnya, Kek." Sahut Farhan dengan cepat, mengedipkan sebelah matanya ke arah Ayu. 


"Wah, itu kabar yang sangat baik." 


Ayu hanya terdiam melihat interaksi kakeknya dengan Farhan yang membahas masalah tabu. "Aku bahkan belum menikah, tapi kakek sudah membahas cucu! Dan apa ini? Farhan sangat bersemangat sekali," batinnya yang tersenyum pongah. 


"Aku berjanji akan menikahi Ayu dan menjadikannya istriku, Kek." Ucap Farhan yang berani berjanji. 


"Ya, aku akan memegang janji itu." Sahut Tirta yang tersenyum senang, karena usahanya selama ini tidak sia-sia. 


Farhan juga ikutan tersenyum, yakin akan komitmen nya menjadikan Ayu sebagai wanita yang berhasil berlabuh di hatinya. Menatap pria tua di hadapan, membuatnya mengingat kakeknya sendiri, Hendrawan. "Pertemanan kakekku juga kakeknya sangatlah mengagumkan!" batinnya. 


"Apa yang kau lamunkan?" celetuk Ayu yang memperhatikan pria di sebelahnya sedari tadi. 


"Bukan apa-apa."


"Hem."


"Syukurlah jika kalian berdua selamat, aku tidak bisa membayangkan hal ini akan terjadi," ucap Tirta menghela nafas lega. 


"Ini semua berkat Farhan yang selalu mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan nyawaku, Kek."


"Jangan memujiku begitu, kau seorang wanita mandiri dan juga telaten, penuh tekad hingga kita selamat." 


"Jangan berdebat, intinya kalian saling melindungi. Betapa bahagianya aku melihat kalian berdua selamat." Sela Tirta yang sangat bersyukur. 

__ADS_1


Ayu mendekatkan wajahnya, mulai tertarik dengan obrolan kali ini. "Apa Kakek menerima sinyal bantuan dariku?" tanyanya menyelidik. 


Tirta mengangguk dan tersenyum. "Aku mendengar kabar, jika pesawat yang kalian tumpangi mengalami kecelakaan, aku menyerahkan tim untuk mencari kalian berdua di lokasi pesawat jatuh. Aku sempat berputus asa, dan melihat sebuah sinyal dari kalung yang pernah aku berikan sebagai kado ulang tahunmu." Jelasnya. 


"Wah, aku tidak menyangka dengan kemampuan dari kalung itu. Jika tidak ada benda itu? Mungkin kami akan selamanya terdampar di pulau." Ayu sangat terharu kepada kakeknya yang memberikan barang berharga seperti kalung, sangat berguna di saat keadaan tak terduga juga terdesak. 


"Bukankah itu bagus? Kita bisa menghabiskan waktu sepanjang hari," celetuk Farhan yang tersenyum mesum. 


Ayu mengerucutkan bibirnya, melihat kondisi otak Farhan yang sangat memprihatinkan. "Dasar mesum! Aku merasa otaknya bermasalah saat bertarung dengan Hiu!" gumamnya di dalam hati yang sedikit geram. 


Sedangkan Tirta malah tertawa keras seraya menepuk pundak Farhan. "Sabarlah…wahai anak muda."


Ayu mendelik dan kembali menarik perhatiannya ke arah sang kakek. "Bagaimana keadaan di luar sana, apalagi mendengar pesawat yang kami tumpangi jatuh?" tanyanya untuk mengganti topik baru. 


"Bersyukur jika kalian ditemukan dengan cepat."


"Apa terjadi masalah?" ucap Farhan serius. 


"Ya, itu benar. Ada masalah besar yang harus kalian hadapi, bahkan aku sudah menghubungi kakekmu, tapi tak bisa terhubung."


"Apa separah itu?" Ayu terlihat cemas mengenai masalah apa yang akan mereka hadapi. 


Tirta kembali mengangguk. "Masalahnya sangat darurat, dan kalianlah yang bisa menangani hal ini."


"Begitulah!"


Farhan dan Ayu saling melirik dan menganggukkan kepala penuh arti, mereka sangat yakin jika dalang dari pesawat jatuh adalah orang yang sama. 


Di perjalanan, Ayu menikmati cuaca yang sangat indah di hamparan lautan. Namun, dia melihat Farhan yang melamun, memikirkan masalah yang terjadi di perusahaannya. Memikul tanggung jawab di pundak, membuat hidupnya terbebani. Berjalan menuju calon tunangannya, berniat menghibur di saat pria itu membutuhkan sandaran. 


"Jangan terlalu dipikirkan, jalani apa yang ada dengan usaha dan kerja keras." Ucap Ayu yang menatap dua mata elang milik Farhan.


"Masalah selalu datang padaku dan menguji kesabaran." Farhan tersenyum simpul, tidak henti-hentinya dunia yang selalu mempermainkannya. 


"Kau tidak sendiri, aku selalu mendukungmu."


"Apa itu artinya kau mendukung hubungan ini di lanjut kan?" 


"Aku tidak mempermasalahkannya," jawab Ayu yang memeluk Farhan dengan erat. 


Tirta tersenyum senang, yakin akan hubungan perjodohan yang berlangsung. "Andai Hendrawan ada di sini, pasti pria tua itu segera menikahkan mereka sekarang juga." Monolognya dari kejauhan, dan berlalu pergi dari tempat itu. 


****

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, keduanya sampai ke kota. Mereka segera turun dan berpelukan kepada Tirta. "Apa Kakek tidak ingin ikut bersama ku?" lirih Ayu dengan tatapan sendu. 


"Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, jaga dirimu baik-baik." Tirta mengelus rambut panjang sang cucu dengan penuh kasih, dan menatap pria yang berdiri di samping Ayu. "Aku mempercayaimu untuk menjaga cucu ku."


"Itu pasti."


Ayu melambaikan tangan yang menatap kepergian sang kakek, dan beranjak pergi meninggalkan tempat itu. 


"Jangan sedih!" Farhan tersenyum tipis, mendekatkan diri agar bisa memeluk tubuh mungil itu. Tapi, calon tunangannya segera menghindar. 


"Mengambil kesempatan dalam kesempitan, itu dilarang!" 


Farhan terkekeh dan merangkul wanita cantik yang sangat menggemaskan. "Baiklah, aku akan mengingat hal itu."


"Itu bagus, apa yang akan kita lakukan?" ucap Ayu. 


"Sebaiknya kita pergi mencari asistenku."


"Kenapa tidak pulang ke Mansion saja?"


"Dasar bodoh! Itu sama saja kita menyerahkan diri pada musuh. Mereka menginginkan kematianku, sebaiknya kita bertemu dengan asisten bodoh itu, hanya dia yang aku percayai saat ini." Farhan menghubungi asisten Heri lewat ponsel yang diberikan oleh kakek Ayu, berharap jika tangan kanan nya segera mengangkat telepon. 


"Halo, kau siapa? Aku sangat sibuk!"


"Kau bahkan belum mendengar suaraku, tapi berani ingin menutup telepon."


"Aku tidak takut padamu."


"Apa kau ingin di pecat!"


"Aku sangat sibuk, telepon aku nanti saja."


"Kau tidak mengenal suara bosmu? Aku, Farhan Hendrawan."


"Tu-tuan, itu kau?"


"Ya, aku tak punya banyak waktu. Jemput aku sekarang juga dan jangan sampai membuat orang lain curiga."


"Baik, tuan. 


"Mansion dan kantor sudah tidak aman, kita bicarakan ini di Villa di pinggiran kota!"


"Laksanakan, tuan. Tolong, maafkan aku mengenai lidahku yang tak sengaja terpeleset."

__ADS_1


"Bicarakan itu setelah kita bertemu." 


__ADS_2