Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 106 ~ Mengikuti permainan Raina


__ADS_3

Vanya sangat senang mendengar perkataan Farhan yang menyetujui untuk berdansa dengannya, dia tidak bisa menahan kesenangannya sampai menempelkan tubuh seksinya ke rekan dansa. "Aku yakin Farhan mulai menyukaiku, sebaiknya aku menggunakan kesempatan ini dengan sangat baik," batinnya yang tersenyum cerah. 


Farhan melirik Ayu dan tersenyum samar saat membaca ekspresi kesal dari wanita itu. "Kau mengatakan tidak mencintaiku 'bukan? Tapi wajahmu itu telah menunjukkan segalanya, jika kau terlihat cemburu," gumamnya di dalam hati. 


Vanya semakin mendekatkan dirinya, bahkan  dia dengan senang hati mendekatkan dua gundukan kembarnya mengenai tubuh pria itu untuk merangsangnya. "Aku sangat yakin jika Farhan menyukai aksiku, terbukti saat dia hanya diam tanpa menolakku. Hah, itu bagus! Tujuanku tinggal selangkah lagi," bbatinnya seraya menatap Ayu dengan senyuman Licik. 


Sementara, Ayu memperhatikan Farhan dan Vanya yang terlihat sangat dekat. "Tadi dia berkata manis, tapi sekarang dia juga melakukan hal yang sama. Benar-benar memuakkan!" lirihnya pelan, kesal melihat pemandangan itu. 


"Apa kau mengatakan sesuatu? Aku mendengar sayup ucapan yang keluar dari mulutmu." Celetuk Gabriel yang menatapnya penasaran. 


"Aku tidak mengatakan apapun, mungkin kau salah dengar," jawab Ayu yang tak ingin jika pria itu memahami segalanya. 


"Hem, mungkin saja." ucap Gabriel pelan sangat yakin dengan pendengarnya yang tidak salH mendengar. 


Ayu sangat kesal dengan pemandangan itu, segera berdiri dan pergi dari tempat itu. "Kau mau kemana?" tanya Gabriel yang menautkan kedua alisnya. 


"Sebaiknya aku pergi dari sini!" jawab Ayu asal. 


"Baiklah," tukas Gabriel yang juga berdiri dan mengikuti langkah wanita di depannya. Ayu menyadari jika pria itu mengikutinya, dengan cepat dia berbalik dan menoleh, menatap dengan sorot mata yang tajam. 


"Jangan ikuti aku!" tekannya dengan nada perintah. 


"Ayolah, aku hanya ingin mengikutimu saja." Keukeuh Gabriel dengan wajah yang memelas. 


"Jangan ikuti aku!"


"Tapi kenapa?" 


"Aku ingin sendiri," ketus Ayu yang kesal, menolak pria itu karena suasana hatinya yang buruk. 

__ADS_1


"Baiklah, aku tidak akan mengikutimu." Perubahan dari sikap Ayu yang mendadak berubah ketus membuatnya menyadari satu hal, melihat sumber dari rasa badmood dan menyadari jika sang wanita pujaan mulai mencintai Farhan. Dia menatap kepergian Ayu yang pergi secara mendadak, rasa sedih dan kecewa kembali melukainya. "Apakah aku mempunyai kesempatan untuk mendapatkanmu?" gumamnya. 


Situasi itu dimanfaatkan oleh Jenni dan juga Clara, melihat sang idola yang hanya sendiri. "Aku akan mendekatinya," ucap Jenni yang tertantang seraya menatap Gabriel. 


"Ya sudah, untuk kali ini aku mengalah." Sahut Clara yang tersenyum. "Semoga sukses!"


"Tentu saja." Sahutnya yakin. "Serahkan kepadaku!" Jenni berjalan menghampiri Gabriel, memegang bahu pria itu dengan sikap yang terlihat seksi. "Sepertinya kau mempunyai masalah, mau berdansa denganku?" tawarnya dengan menggoda.


Gabriel menatap wanita yang terus menggodanya, mencekal tangan Jenni dengan pandangan tak suka. "Jangan mencoba untuk mendekatiku dengan cara murahan mu itu!" tegasnya seraya menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar. 


Gabriel masih mengingat bagaimana wanita itu dan temannya memotret dirinya secara diam-diam saat di cafe dan menyebarkan berita, menunjuk wajah Jenni mencoba supaya wanita itu tidak melampaui batas. 


Tolakan yang diterima Jenni membuatnya sat marah, hanya bisa memendam dan terus menerima perkataan buruk dari sang idola. "Ini semua karena wanita kampung itu, pelet apa yang digunakan untuk menjebak sang idolaku dengan begitu mudah?" batinnya seraya meremas gaunnya. 


"Sebaiknya kau pergi dari sini dan jangan menggangguku, enyahlah kau dari pandang ku sekarang juga!" tegas Gabriel yang dengan kasar mengusir penggemarnya, tapi dia tetap tidak peduli mengingat wanita itu pernah memotret secara diam-diam. 


"Tidak." Tolak Gabriel tanpe menatap ke asal suara.


Jenni menundukkan kepala seraya pergi dari sana, membawa rasa kekecewaan dan sedih yang mendalam. Dia bertekad dan berjanji pada dirinya sendiri, jika Ayu akan membayar semua perlakuan Gabriel padanya. 


Clara melihat segala penolakan dari sang idola, mengelus punggung sahabatnya dengan penuh simpati. "Sudahlah, jika dia tak ingin berdansa, maka jangan bersedih." Ucapnya yang menenangkan Jenni. 


"Hem, kau benar." Jenni tersenyum sumringah saat mengetahui akan menjalankan rencana yang disusun oleh Vanya. "Kau tunggulah di sini, aku akan menjalankan rencana."


"Baiklah, lakukan dengan benar."


"Tentu saja."


Jenni pergi mencari keberadaan kekasih Raymond, untuk memerintahkan jika rencana mereka akan dimulai. Dia tersenyum licik saat melihat Raina yang sedang menunggu seseorang untuk menuntun rencana, segera menghampiri wanita itu dan berbisik. "Ayu sudah pergi, dan ada di lantai dua!" lapornya dengan sangat antusias.

__ADS_1


Raina yang tersenyum dengan itu, segera pergi menuju lantai dua di mana dia akan menjalankan rencana, dan membawa dua gelas minuman beralkohol di tangannya.


Ayu menenangkan pikirannya di lantai dua, berjalan ke arah balkon dan melihat suasana yang terlihat jelas dari atas. Namun, suasana itu tak dapat mengobati rasa cemburu di hati, menghela nafas dan mencengkram besi pembatas balkon. "Aku tidak yakin dengannya, apa dia hanya menganggap semuanya mainan? Dia terlihat seperti kuda," umpatnya kesal. 


Memikirkan hubungan Farhan dengan wanita masa lalunya dan juga Vanya, membuat pikirannya seakan ingin meledak. Tapi pikirannya buyar saat seseorang berdehem dan menghampirinya. "Apa aku boleh di sini?" ucap Raina yang tersenyum. 


"Untuk apa kau kesini?" cetus Ayu dengan tatapan jenuh. 


"Aku tahu kau pasti marah dengan perbuatanku, aku sudah berubah dan menyadari semua kesalahanku padamu. Aku minta maaf padamu," ujar Raina yang berpura-pura, berakting dengan sangat baik untuk mengelabui musuh. 


"Aku tidak yakin jika kau berubah dengan cepat," cibir Ayu. 


"Sungguh, aku berniat untuk meminta maaf. Tolong, maafkan aku!" 


"Hem, baiklah. Aku memaafkanmu!" sahut Ayu enteng.


Betapa senangnya Raina saat itu, dua buah gelas yang berisi minuman beralkohol di tangannya, memberikan Ayu salah satunya. "Aku ingin merayakan denganmu, ambillah!" 


"Apa kau menyogokku?" 


"Tidak, jangan salah paham denganku. Karena aku sangat senang, sekarang hatiku menjadi tenang. Kebahagiaan ini tentu saja di rayakan 'bukan?" 


"Hem, baiklah." Ayu menerima gelas yang berisi alkohol dan melihat Raina meminum minumannya. 


Dengan diam-diam Ayu mencium aroma dari minuman yang telah dicampurkan obat. "Wah, ternyata ucapan maafnya hanya omong kosong. Diam-diam malah memberiku minuman dengan campuran obat," batinnya tersenyum samar. Untung saja dia bisa mengenali ada campuran obat di dalam minuman itu, namun berpura-pura meminumnya untuk mengecoh Raina. 


"Aku ingin lihat, rencana apa yang ada di otak licik si rubah betina." vBatin Ayu yang mengikuti rencana Raina, namun dia melangkah dua langkah maju ke depan. 


    

__ADS_1


__ADS_2