Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 178 ~ Kegigihan


__ADS_3

Sang manager tidak setuju dengan keputusan dari majikan, kerena misi kali ini sangatlah berbahaya. Tidak terbayangkan, jika Ayu bergegas pergi dari tempat itu menuju masuk ke dalam hutan, tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi nantinya. "Jangan bertindak gegabah, karena itu sangatlah berbahaya! Kau tidak tahu kesulitan apa yang dialami nantinya, penduduk desa juga sudah melarang mu,  sebaiknya kau turuti perkataan dari mereka!" Tegasnya yang begitu hawa tidak mencemaskan sang atasan.


"Aku tidak peduli, saat ini aku hanya memikirkan kesehatan dari kakek Hendrawan. Jangan mencoba untuk melarang ku!"


"Hah, terserah kau. Jangan mengadu padaku jika terjadi apa-apa kepadamu!" tukas sang manajer yang kesal menghadapi sikap keras kepala dari Ayu.


Ayu tersenyum geli mengetahui jika sang manajer sangat mencemaskan keadaannya, namun niat dan prioritas nya saat ini tidak bisa diganggu gugat karena sudah menjadi keputusan final. "Aku pamit dulu, dan akan segera kembali!"


"Berjanjilah, jika kau akan kembali dalam keadaan selamat. Atau aku akan menyalahkan diriku yang tidak becus menjagamu!"


Ayu tersenyum hangat dia sangat senang dengan rasa khawatir dari sang manajer yang selalu setia menemaninya di setiap suka maupun duka. Hanya menganggukkan kepala tanpa mengatakan satu kata pun, karena dia tidak bisa berjanji mengenai keselamatan nya sendiri.


Sang manajer berpura-pura menerima keputusan yang diambil oleh ayu, jauh di lubuk hatinya yang sangat mencemaskan majikan itu tetapi dia tidak ingin berpikir negatif tetap pada pikiran optimis dan mempercayakan kepada tuhan. Menatap punggung wanita itu yang mulai masuk ke dalam hutan. 


Di sepanjang perjalanan,  Ayu menyusuri pandangannya ke sekeliling yang begitu asri bagai tak tersentuh oleh tangan jahil manusia. "Pantas saja dokter Zaki sangat nyaman dengan suasana di hutan yang masih terjaga sangat baik." Monolognya sembari terus berjalan menuju ke tengah hutan. 


Ayu hampir sampai ke tujuan, namun di tengah jalan tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras mengenai tubuhnya hingga basah kuyup, berusaha untuk melewati jalanan yang sangat licin dan terjal. Hal itu tidak berarti, saat sebelah kakinya terpeleset dan terjatuh, kaki yang dipenuhi lumpur, pantat yang terasa sakit. 

__ADS_1


"Ya ampun…aku harus berteduh dulu, mungkin saja hujan sedikit reda dan aku bisa kembali melanjutkan perjalanan." gumamnya sambil memijat pergelangan kaki yang sedikit bengkak, masih terasa linu jika dibawa berjalan. 


Ayu berteduh di bawah pohon pisang, memeluk tubuhnya sendiri yang mulai kedinginan. baju yang basah serta angin yang sangat kuat membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama, karena cuaca yang sangat buruk


dan memutuskan untuk kembali dari tempat itu. Merasa tidak aman jika berjalan di saat hujan deras. "Ini tidak benar, aku harus segera pergi dari tempat ini! feelingku mengatakan jika akan terjadi sesuatu." gumamnya yang segera meninggalkan tempat itu.


Ayu melewati jalanan yang terjal di atas bukit yang di bawahnya terdapat jurang yang sangat dalam, tidak ada jalan yang lain untuk dilewati. Hujan yang sangat deras, mengikis tanah kuning dan menyebabkan tanah mengalami longsor. 


Ayu sangat terkejut jika dirinya terjebak dalam longsor, berpikir jika dirinya tidak akan selamat. Tapi nasib baik masih menghampirinya, menggunakan kecerdasan dalam keadaan genting. Dia mengikatkan syal ke dahan pohon yang berada di atas, agar tubuhnya tidak jatuh ke dalam jurang. 


Ayu terus bergelayutan di dahan pohon, namun satu titik terang dan celah menemukan jika ada goa di bawah kakinya, sedikit ayunan tubuh agar tidak terjatuh ke dalam jurang yang sangat gelap. "Sepertinya ada goa di bawah kakiku, hanya sedikit ayunan tubuh dan semoga teori yang aku pakai berhasil dan mendarat ke dalam mulut goa." gumamnya di dalam hati.


Menggunakan segala cara dengan perhitungan yang sangat tempat untuk mendarat ke mulut goa, usaha tidak pernah mengkhianati hasil itulah yang terjadi dan dialami oleh Ayu. Dia berhasil melompat hingga menuju mulut goa!"


Goa yang sangat tampak menyeramkan tapi tidak ada pilihan lain dan bersembunyi di dalam goa, takut jika ada hewan buas yang akan menjadikannya mangsa. Tidak ada orang lain yang bisa menyelamatkannya, hanya mengandalkan kekuatan dan insting kecerdasannya. "Apa apa yang harus aku lakukan saat ini?" monolognya dengan kebingungan.


Pikiran yang sangat panik dan juga gelisah berubah dengan perlahan, saat Ayu mengenang masa kebersamaan dengan Farhan. kenangan yang menjadi temannya, saat ini membuat situasi tak begitu buruk  berharap jika ada yang membantu dan menolongnya dari dalam goa.

__ADS_1


"Begitu banyak kenangan yang diukir oleh Farhan, dan aku tidak bisa mengabaikannya. aku sudah membuat keputusan dan memikirkan segalanya dengan sangat baik. Aku menginginkan pria itu untuk menjadi suamiku dan tidak akan melepaskan hubungan ini." Tekad Ayu yang sangat meyakinkan dalam mempertahankan hubungannya dengan Farhan Hendrawan.


****


Sementara di tempat lain merasa sangat tidak nyaman, pikirannya seakan buyar dan tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaan. Farhan menghentikan pekerjaannya dan mengambil ponsel yang tak berada jauh dari jangkauan melihat berita internet yang menyiarkan mengenai gosip Ayu dengan Gabriel, sahabat kecilnya.


"Bagus, setidaknya asisten bodohku bisa berguna karena gosip yang jauh lebih sedikit." Gumamnya yang begitu bangga seraya tersenyum lirik foto wanita itu.


Dia merasa sangat bersalah karena sudah membentak wanita itu, yang bahkan setelah mendapatkan pintu maaf seakan pintu hatinya tertutup. Sengaja meringankan beban sang pujaan hati dengan gosip miring yang beredar. "Jika saja dia tidak keras kepala dan bisa dikendalikan, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi!" 


Farhan begitu peduli dengan nasib mantan calon tunangannya, karena kesalahpahaman membuat mereka gagal bertunangan. kesedihan dan kekecewaan yang sangat dalam masih membekas di hati, tapi perasaan cinta dari orang lain,  membuatnya nya iri."


Farhan segera tersadar dari lamunannya karena hati yang tak menentu memutuskan untuk mengecek langsung keberadaan Ayu sekaligus sekretarisnya. Dia beranjak dari kursi kebanggaannya, berjalan keluar dari tempat itu menuju departemen sekretaris, namun dia merasa heran saat melihat kejauhan tempat itu.


Di tempat kerja, Farhan melihat ruangan Ayu dengan lampu yang masih menyala, ada keraguan yang menyelimutinya apakah wanita itu masih ada di tempat kerja atau sudah pulang. 


Mencoba untuk tidak memanggil namanya, menahan rasa sesuatu yang cukup sulit dikatakan.

__ADS_1


__ADS_2