Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 244 ~ Hanya sebuah peran


__ADS_3

Farhan melihat kepergian Ayu yang meninggalkannya seorang diri, berdiri bagai patung di depan pintu dan membuatnya terdiam. Kepergian wanita pujaan hati yang menjauh dan bahkan sudah tak terlihat, kini saatnya dia kembali dengan sedikit gontai, mengingat dirinya yang harus kembali ke pertemuan. 


"Sebaiknya aku pergi saja, dia sudah pergi. Lalu apa gunanya aku disini? Tidak mungkin aku bicara pada pintu dan juga tembok, sangat tidak masuk akal." gumamnya yang segera pergi dari tempat itu, berjalan menyusuri dengan pikiran yang masih mengingat jika Ayu ingin menemui Gabriel. 


Tapi langkahnya dicegat oleh seorang wanita yang berlari menghampiri, terlihat dengan senyuman penuh kemenangan. Terutama saat membawa sebuah telepon genggam yang berada di tangan. Terlihat seorang wanita yang sangat dia kenali, seorang wanita yang menjadi temannya di saat masih kecil dan dia adalah Vanya. 


Vanya berlari menghampiri Farhan, dengan nafas yang terengah-engah, mengingat dirinya cukup bersemangat untuk menemui pujaan hatinya. Senyum di wajahnya tidak pernah pudar, mengingat sebuah bukti yang harus ditunjukkan membuatnya sangat bahagia. 


"Ada yang ingin aku tunjukkan padamu? Sebuah bukti yang akan merubah pendapatmu mengenai dirinya." ucapnya yang begitu bersemangat. 


"Apa?" tanya Farhan yang menaikkan kedua alis matanya ke atas, penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Vanya kepadanya.


"Aku cukup sedih jika ini terjadi kepadamu, kita sudah lama berteman menambahkan menjalin persahabatan di masa kecil. Aku tidak pernah menghianatimu, tetapi yang kau anggap dan selalu kau bela pergi dengan pria lain, dia masuk ke dalam mobil Gabriel. Mereka berdua terlihat sangat cocok bagi pasangan yang sangat serasi, jika ingin melihat kebenarannya maka aku bisa menunjukkan bukti yang ada di teleponku, merekam semua keromantisan mereka." Vanya begitu ambisius jika menjelekkan sang rival di hadapan Farhan, dia tak segan-segan ingin menunjukkan bukti yang terekam di ponselnya. 


Farhan melihat rekaman dan foto yang diambil oleh Vanya, dia hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu, yang terpenting semua yang dia sampaikan dan dinyatakan sudah dilaporkan. "Semoga saja dia sakit hati dan membenci wanita itu, setidaknya aku memiliki kesempatan untuk bersama dengan pria pujaanku," batinnya sembari melirik pria di sebelah dengan penuh cinta. 


Sementara di sisi lain, Ayu mendiskusikan mengenai masalah peran televisi dengan Gabriel. "Aku sudah sampai disini, bisakah kau menjelaskan dengan peranku di televisi?" 


"Bagaimana aku menjelaskannya, di sini tidak ada feel sama sekali, tunggulah hingga kita sampai di Villa ku." 


"Aku sudah bersemangat dan bertanya kepadamu, tapi apa yang kamu lakukan malah menghancurkan nya." Gerutu Ayu jengkel.


"Pilihlah lokasi yang pas, agar feel dan chemistry yang didapatkan itu lebih sempurna." Jelas Gabriel sembari menyetir mobil, berfokus pada jalanan dan sesekali menoleh ke samping.


"Apa tidak ada bocoran untuk saat ini?" Ayu menatap wajah tampan dari sahabat dan juha fokus pada jalanan, dia sedikit penasaran mengenai peran yang akan dijalankan.

__ADS_1


"Ini bukan ujian yang ada bocoran, simpan rasa penasaranmu hingga nanti dan di Villa aku akan mengatakannya."


Ayu menghela nafas menganggukkan kepala, dan mengartikan dirinya jika paham akan maksud dari pria itu. "Baiklah, aku akan diam."


"Good girl," puji Gabriel seraya mengacak-acak rambut Ayu dengan begitu menggemaskan, jika wanita itu adalah permen mungkin dia sudah menghabiskan. 


"Aku sudah menyisir rambutku dan kau malah merusaknya, fokuslah ke jalanan dan jangan hiraukan aku." Putus Ayu sembari menyisir kembali rambut panjangnya.


Tak lama mobil berhenti di sebuah Villa milik Gabriel, segera melangkahkan kaki untuk keluar dan masuk ke dalam sesuai dengan aba-aba dari pria itu. Melenggang masuk dan berjalan menuju sofa empuk, menyandarkan punggung yang terasa lelah saat berada di mobil. "Sekarang kamu boleh mengatakannya mengenai peran."


Gabriel segera mengeluarkan sinopsis dan juga naskah dari peran yang akan diajarkan, dia duduk di sebelah Ayu dan mulai menunjukkan mengenai peran yang akan mereka mainkan bersama. "Kau bisa memilih peran salah satunya, tapi aku ingin dan rekomendasikan kau menjadi peran utama wanita bersama denganku."


"Bagaimana aku memilihnya? Kau sendiri sudah menentukannya, lalu untuk apa aku bertanya lagi padamu. Tapi, jelaskan mengenai isi dengan karakter yang akan aku mainkan."


"Aku sangat malas membaca, bisa kau jelaskannya saja?"


"Hah, kau ini. Tapi baiklah, aku akan menjelaskannya sedikit, pahami setelah aku mengatakannya padamu dan tidak akan aku ulang."


Dengan cepat Ayu menganggukkan kepala, menyetujui dari perkataan pria itu karena dirinya sangat malas untuk saat ini membaca naskah.


"Sebenarnya protagonis pria yang akan diperankan olehku memiliki ego yang tinggi. peran ini adalah cinta pertama protagonisnya, tapi sedikit ada masalah. Aku harap kau tidak terlalu mempermasalahkannya."


Ayu segera menoleh. "apa?" tanyanya penasaran.


"Peranmu akan banyak adegan intim dengan ku yang sebagai protagonis pria dan wanita di serial televisi." 

__ADS_1


"Baiklah, aku mengerti," ucap Ayu yang segera menganggukkan kepala. 


Kini saatnya keduanya mendalami peran itu bersikap romantis, membuat Gabriel tersenyum tipis tanpa diketahui oleh Ayu. 


Ayu mulai menjalankan perannya, seolah-olah kedua orang itu tengah berada di depan kamera, dan menjalankan sebuah akting yang nantinya akan dipublish. Keduanya tampak terlihat seperti pasangan kekasih bersikap romantis, juga menikmati peran dan mendalami karakter. 


"Sepertinya kau mengambil kesempatan dalam kebaikanku?" Ayu mengalihkan pandangan menatap pria itu bertolak pinggang, seraya kedua mata yang disipitkan seakan menyelidiki.


"Aku hanya menjalani peran saja, jangan terlalu membawa perasaan." Cicit Gabriel yang berusaha menghindar, sedikit mengambil kesempatan di dalam kesempitan.


"Sudah cukup perannya hari ini, aku sangat lelah dan ingin pulang." 


"Tunggu dulu, aku akan mengantarmu."


Ayu segera melangkahkan kaki keluar dari villa tanpa menghiraukan perkataan dari Gabriel. Namun, tiba-tiba sekelompok reporter muncul dan mulai mengerubungi layaknya semut. silauan lampu membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas, kesal jika orang-orang masih saja penasaran dengan hidupnya. "Astaga, apa lagi ini?" gumamnya yang sangat kesal. 


Dua orang yang dikelilingi oleh reporter dan mulai mengajukan pertanyaan, mengenai hubungan mereka berdua. Spontan Ayu dan Gabriel saling melirik, karena para reporter hanya mencari keuntungan di setiap celah kesalahan. Padahal mereka hanya menjalankan peran di dalam serial televisi, bukan hubungan dalam kehidupan nyata.


"Kalian tampak mesra, apa ada hubungan di antara kalian?" salah satu reporter yang mewakili reporter lainnya, mereka hanya bisa mencari dan mengungkit kesalahan orang lain, untuk mendapatkan keuntungan hal ini sudah dipersiapkan oleh Jenni karena dialah yang mengundang para reporter itu.


"Hubungan kami hanya sebatas persahabatan, dan mengenai keinginan itu hanyalah hubungan kerja dan tidak lebih." Jelas Ayu yang sudah muak dan merasa bosan dengan pertanyaan-pertanyaan para reporter.


Tiba-tiba seorang pria datang dan mengusir seluruh para reporter, dia adalah Farhan dan hendak membawa Ayu pergi ikut bersama dengannya.


  

__ADS_1


__ADS_2