Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 93 ~ Rencana Hendrawan


__ADS_3

Farhan sedikit bingung dengan situasinya saat ini, mencoba mengutak atik laptop di depannya. "Kenapa berita itu tiba-tiba hilang tak berbekas?" gumamnya. Sedangkan asisten Heri hanya berdiam diri melihat tingkah atasannya. "Ingin rasanya aku memotret tuan, terlihat seperti orang sakit jiwa!" batinnya yang menahan tawa. 


"Hai, kau! Jangan berdiri saja disana, cepat selidiki berita itu!" titah Farhan melirik asistenny beberapa detik. 


"Baik, Tuan." Sahut asisten Heri. Dia mengambil alih laptop itu dan mendudukkan diri di kursi berhadapan dengan bosnya, sedangkan Farhan hanya melihat kinerja dari bawahannya. Fokus yang terus tertuju dengan benda pipih, menyelidik kenapa berita gosip itu menghilang tiba-tiba. 


"Sebaiknya aku pergi dulu dan kau lakukan pekerjaanmu di ruangan ini!" titah Farhan yang di anggukkan kepala oleh asistennya. Melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan itu, dan kembali menoleh. "Jangan keluar dari ruangan ini sebelum kau menyelidiki berita gosip yang terhapus itu!" ucapnya dengan tatapan tajam penuh ancaman. Berlalu pergi meninggalkan tempat itu, sedangkan asisten Heri mendongakkan kepala, raut wajahnya berubah tersenyum kecut mengingat perintah atasannya yang sangat gila. 


"Jika saja aku menjadi bosnya, sudah kupastikan wajah datar dan arogannya melepuh. Dasar bos gila!" umpat asisten Heri kesal, namun kembali tersenyum paksa saat menyadari ruangan itu terpantau Cctv. "Sial, aku lupa jika ada Cctv," lirihnya dan kembali menyelesaikan pekerjaan dengan teliti. 


Di sisi lain, Ayu menantikan informasi penting dari sang hacker, tak sabar menunggu laporannya, mengambil ponsel dan segera menghubunginya. 


"Halo."


"Bagaimana hasilnya? Apakah kau sudah melakukan pekerjaanmu dengan baik?" 


"Tentu saja, coba carilah berita itu di internet dan kau pasti tidak akan menemukannya."


"Bagus, kau memang dapat diandalkan."


"Itulah aku."


Ayu memutuskan sambungan telepon, menghela nafas lega. "Dia bekerja sangat baik, dan aku puas dengan kinerjanya," gumamnya. Kembali menarik kursi dan menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda. 


Pekerjaan yang memakan waktu beberapa lama, berkutat di depan layar membuat punggungnya sedikit nyeri. Menghentikan pekerjaan sejenak dan kembali menyelesaikan pekerjaan, tidak ada keluhan yang keluar dari mulut Ayu. 


Setelah menyelesaikan segalanya, Ayu kembali melirik jam di ponselnya, dan tersenyum cerah. "Waktunya untuk pergi ke lokasi syuting iklan dan membuat konferensi pers dengan reporter. Liriknya dan bergegas pergi meninggalkan meja kerja. Langkah kakinya terus melangkah keluar kantor, beberapa karyawan mulai menyapanya kembali setelah mengetahui segalanya. 


"Kau terlihat terburu-buru?" tanya seorang karyawan dengan penasaran. Ayu menghentikan langkah sejenak dan menoleh ke belakang. "Aku harus mengatur waktu untuk pergi lokasi syuting berikutnya, dan membuat konferensi pers dengan reporter."


"Ya sudah, kau hati-hati lah." Pasrah karyawan itu yang sedikit kecewa, mengingat pernah memperlakukan calon istri dari pemilik perusahaan tempatnya bekerja dengan buruk. Namun, seketika dia tersenyum membalas lambaian tangan wanita yang berjalan dengan tergesa-gesa, hingga mulai menjauh. 


Ayu sedang mengadakan dengan pertemuan untuk kembali merancang syuting iklan berikutnya, penyampaian yang begitu detail dan lugas membuat semua orang di sana kagum dengan kemampuannya. Teliti dalam bekerja, bahkan tidak ada celah yang terlihat. "Ya tuhan…sebentar lagi pertemuan konferensi pers dengan reporter, semoga saja semua pekerjaan ini selesai." Batinnya yang kembali melirik jam di ponselnya, dan segera mengakhiri pertemuan itu. 


Selesainya pertemuan, Ayu kembali menjumpai para reporter untuk memberikan laporan mengenai tuduhan Maudi yang menjebaknya. Seakan waktu terus mengejarnya tanpa henti, mengerjakan pekerjaan dengan selisih waktu terbatas tak membuatnya mengeluh. Ikhlas dalam menghadapi situasi yang sangat menyibukkannya. 


Farhan terus membuka layar ponselnya, menunggu kedatangan Ayu yang tak kunjung tiba. "Kenapa dia belum meneleponku? Apa dia melupakan jika malam ini akan di adakan penjamuan makan malam di kediaman kakek. Mungkin saja dia lupa," monolognya. Mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja untuk menghubungi wanita itu. 


Suara nada dering ponsel membuat Ayu menghentikan pekerjaannya, melihat si penelpon di layar ponsel miliknya. "Farhan? Kenapa dia menghubungiku?" racaunya sembari mengangkat telepon. 


"Ya, Halo."


"Kau dimana?"


"Tentu saja sedang mengadakan konferensi pers, dan sebentar lagi akan selesai. Kenapa kau menelepon ku?" 

__ADS_1


"Apa kau lupa? Jika hari ini kita di undang ke kediaman kakek untuk makan malam."


"Tentu saja aku mengingatnya."


"Baiklah, jika kau mengingatnya. Segera ke kediaman kakek!"


"Hem."


Setelah panggilan terputus, Ayu kembali melakukan pekerjaan yang sempat tertunda. 


Setelah menyelesaikan segalanya, seperti biasa dia menunggu jemputan dari supir. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya, jendela terbuka membuat Ayu sedikit terkejut melihat pria tampan di dalam mobil. "Kau di sini?" ucapnya dengan ekpresi plongo. 


"Ayo masuklah, kita akan pergi ke kediaman kakek!"


"Iya," balas Ayu singkat dan masuk ke dalam mobil. Duduk di sebelah Farhan yang mulai mengemudikan mobilnya. Di sepanjang perjalanan tidak ada obrolan, suasana hening di antara keduanya. Situasi itu tak berjalan lama, di saat Farhan mengangkat telepon dan mengangkatnya lewat handsfree bluetooth. 


"Halo, tuan."


"Hem, bagaimana?"


"Saya sudah menyelidiki mengenai berita gosip yang tiba-tiba menghilang."


"Katakan!"


"Bawa hacker lah yang menghapusnya."


"Laksanakan, tuan."


Setelah selesai menelepon, Ayu mendengar perkataan Farhan dengan jelas. "Astaga…ternyata dia menyelidiki mengenai berita gosip yang terhapus." Batinnya yang sedikit terkejut, menduga apa yang akan dilakukan oleh pria di sebelahnya. Untung saja, Farhan tidak mengatakan apa-apa. 


Sesampainya di rumah kakek, mereka turun dari mobil. Berjalan masuk ke dalam setelah mendapatkan sambutan dari beberapa pelayan dan juga seorang pria tua berkacamata. 


"Akhirnya kalian sampai juga, kenapa sangat lama sekali?" keluh Hendrawan. 


"Kami bahkan datang di waktu yang pas, berhentilah mengeluh, Kek." Cibir Farhan jengah. 


"Benarkah?" tukas Hendrawan dengan polos, menatap cucunya dan Ayu secara bergantian. "Sebaiknya kita menuju meja makan, aku sangat lapar." Ajak Hendrawan yang berjalan menuju meja makan, diikuti oleh Farhan dan Ayu. Hendrawan mempersilahkan keduanya untuk duduk, menatap keduanya dengan serius. 


"Kenapa Kakek menatap kami begitu?" tanya Farhan mengerutkan kening. 


"Kalian tahu sendiri, bagaimana aku tinggal di kediaman besar ini seorang diri," jelas Hendrawan. 


"Lalu?" sela Farhan. 


"Menginap di sini," pinta pria tua dengan sorot mata berbinar penuh harapan. 

__ADS_1


"Ada begitu banyak pelayan yang berlalu lalang disini."


"Kau tidak mengerti, kabulkanlah permintaan pria tua ini." Seloroh Hendrawan yang sedih. 


"Hem, baiklah. Apa kau setuju?" Farhan menoleh ke sampingnya. 


"Setuju."


Senyum kebahagiaan terpancar di wajah keriput pria tua itu, mengingat rencananya berjalan dengan lancar. Mengingat hubungan keduanya yang sangat berjalan lama layaknya seekor siput. "Rencana pertama, berhasil." Batinnya. 


Ayu berfokus dengan makanan di atas piring Farhan yang hanya berisi makanan bergizi. "Kau sangat lemah, memakan makanan vegetarian. Apa kau ini kerbau?" ejeknya yang tersenyum mencibir. 


"Apa kau tidak pernah memakannya?" 


"Karena aku tidak menyukainya." Jawab Ayu. 


"Kau akan tahu setelah mencobanya," ujar Farhan enteng. 


"Tidak, dan terima kasih." 


Setelah makan malam selesai, saatnya Hendrawan menjalankan rencana kedua. Membawa keduanya untuk melihat-lihat kamar. "Bagaimana dengan dekorasinya, apa kau suka?" tanya Hendrawan menatap Ayu. 


"Sangat indah, kamarnya seperti dekorasi pengantin." Ungkap Ayu yang melihat ruangan itu. 


"Inilah saatnya!" 


"Apa?" jawab Farhan dan Ayu dengan kompak, menoleh ke belakang. Pintu terkunci dari luar membuat pria tua itu terkekeh geli. 


Keduanya terus mengetuk pintu, berharap jika sang kakek membukakan pintu. Namun, usaha itu tidak berhasil membuat Farhan dan Ayu terjebak dalam satu kamar dengan dekorasi romantis. 


"Ck, kakek seperti anak-anak saja!" umpat Farhan, seketika berubah melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas. 


Ayu menoleh dengan kesal. "Kenapa kau diam saja, cepat dobrak pintunya!" 


"Itu sia-sia saja."


Ayu mengikuti Farhan yang duduk di sisi ranjang, merenung untuk memikirkan jalan keluar. "Sepertinya aku harus tidur disini!" gumamnya yang masih terdengar. 


"Kita tidak punya pilihan lain." Farhan mengangkat kedua bahunya dengan enteng, tersenyum melihat raut wajah wanita di sebelahnya. 


Farhan membaringkan tubuhnya di ranjang empuk dengan ukuran hanya untuk dua orang, membuat Ayu sedikit bimbang karena tak ada sofa ataupun karpet. "Hah, dengan terpaksa aku tidur seranjang dengannya." Batin Ayu yang ingin membaringkan tubuhnya. 


"Apa kau ingin menggodaku?" celetuk Farhan. 


"Hanya ini satu-satunya tempat tidur, kakek merancang semuanya dengan sangat sempurna." Ucap Ayu sembari menarik nafas. 

__ADS_1


"Kau benar, kau terlihat sangat cantik hari ini. Kakek bahkan merancang sekua ini hanya untuk kita berdua." Rayu Farhan yang semakin mendekatkan tubuhnya. 


 


__ADS_2