
Farhan terdiam, memalingkan wajahnya ke sembarang arah, menghela nafas panjang karena dia tak tahu bagaimana agar wanita itu mengerti. Suasana hening dan canggung, Ayu terus menantikan jawaban yang akan diutarakan oleh Farhan.
"Apa di hatinya masih ada Kira?" batin Ayu tampak kecewa.
Kincir terus berputar, hingga berhenti dan sampai kebawah. Ayu berjalan lebih dulu, wajah yang murung membuatnya tak menggubris saat Farhan memanggil namanya.
"Aku memilihmu, menjalani hidup berdua bersama hingga kita menua!" ucap Farhan yang mampu menghentikan langkah Ayu, berjalan mendekati calon tunangannya. "Aku memilihmu!" bisiknya.
Hembusan nafas beraroma mint dapat dia rasakan, karena jarak diantara mereka sangatlah dekat. Hati berdegup dengan kencang, kekecewaan berubah menjadi rasa bahagia yang teramat dalam. Ayu tak bisa menjabarkan bagaimana perasaannya saat ini, tapi yang pasti sangat menyukai jawaban dari calon tunangannya.
Farhan memegang kedua pundak Ayu, saling berkontak mata hingga beberapa detik. "Aku sudah mengatakan jawabanku, sekarang giliranmu. Apa kau sudah siap memberikan jawabannya?"
"Aku…aku__" Ayu sedikit gugup, karena keganjalan di hati belum sepenuhnya menghilang, takut jika Kira datang dan merebut cintanya. Memalingkan wajah, tak berani menatap manik mata tajam seperti elang.
"A-aku tidak bisa."
"Mau sampai kapan kau membohongi dirimu sendiri? Tapi aku tetap menghargai keputusanmu, mungkin kau belum bisa mempercayaiku juga menerimaku sepenuhnya." Farhan mengerti dengan kegundahan wanita yang ada di hadapannya, menetralisir suasana hatinya. "Sebaiknya kita kembali ke hotel!"
Tidak ada obrolon setelah itu, Keduanya di sibukkan bergulat dengan pikiran masing-masing, berjalan menuju mobil dan masuk ke dalam, menyusuri kota yang sedikit sunyi karena malam semakin larut. Kesedihan Ayu menghilang, namun kegundahan dan dilema masih hinggap di dalam hati juga pikiran.
Sesampainya di hotel, mereka berjalan masuk menuju lantai atas. Namun, dia pasang mata menangkap sosok yang sangat dikenal yang sedang tersenyum cerah. "Hah, akhirnya aku menemukanmu." Ucap Vanya yang berhasil menyusul dua orang tak berada jauh darinya.
__ADS_1
"Kau di sini?" Ayu mengerutkan dahinya, mengetahui Vanya yang menyusul mereka ke Perancis.
"Tentu saja, aku mendengar berita mengenai permasalahan di pabrik dan menyusul Farhan kesini." Jawabnya tak tahu malu, mendapatkan informasi dari beberapa sumber terpecaya. "Bagaimana kabarmu?" serunya yang menatap sahabat kecilnya, tatapan penuh cinta penuh obsesi untuk memiliki.
Farhan sangat kesal dengan kedatangan Vanya, obsesi membuat wanita itu bertindak nekat, mengeraskan rahang dan ingin mengusirnya, tapi Ayu menahan lengannya.
"Alasan yang di buat-buat, kedatangan mu tidak diperlukan." Sindir Ayu dengan tatapan sinis, menarik tangan Farhan untuk masuk ke dalam lift, tak ingin jika permasalahan akan semakin rumit tanpa menemukan titik terang. Vanya menatap rivalnya dengan tajam, berharap jika wanita itu menghilang dari muka bumi.
"Farhan adalah cinta sejatiku, maka aku terus berusaha untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku." Vanya dengan sangat angkuh mengikuti dua orang yang tak berada jauh dari penglihatan, mengikuti hingga ke ke depan pintu. "Hah, aku pikir mereka tidur di kamar yang sama. Ternyata kecemburuanku tidaklah berarti, aku sangat yakin jika Farhan tidak menyukai wanita kampung itu. Ayu yang sangat malang, mengharapkan cinta tak bisa digapai. Sungguh menyedihkan!" monolognya yang menertawakan nasib calon tunangan Farhan.
"Aku masuk dulu!" ujar Ayu melirik Farhan yang membalasnya dengan anggukan kepala.
Keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing.
Ayu menyusuri kamar, badan yang gerah membuatnya ingin membersihkan diri. Saat di kamar mandi, pikirannya selalu tertuju pada calon tunangannya. Namun bayangan Kira terus saja menghantuinya bagai momok menakutkan.
Setelah selesai membersihkan diri, dan mengenakan pakaian. Dia melihat pakaian Farhan yang dipinjamkan, menyentuhnya dan tersenyum tipis. "Dia pria yang sangat baik, aku terkesan padanya. Lebih baik aku mengembalikan jaketnya."
Ayu melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju kamar di sebelah, saat ingin melangkah, tak sengaja melihat Farhan dan Vanya di luar. Dia melihat dan mendengar percakapan dua orang objek itu di balik sela pintu. "Si ketua ubur-ubur itu selalu saja mencari celah agar dia selalu bersama Farhan." Batinnya sambil memantau, menyipitkan kedua mata penasaran.
Dia hendak mengetuk membuka pintu, namun tak disangka saat perhatiannya melihat Vanya yang menyerahkan sebuah berkas kerjasama kepada Farhan. "Berkas? Vanya bagai hama yang selalu saja menempel." Gumamnya seraya mengumpat.
__ADS_1
Bisa dilihat dengan jelas, bagaimana Vanya yang berdandan untuk menarik perhatian pria idamannya, mendekatkan diri untuk bisa berkontak fisik. Berusaha agar bisa bertemu dengan Farhan, dan beralasan laporan kerjasama.
"Aku ingin menyerahkan laporan kerjasama." Vanya memeluk lengan Farhan, bergelayutan manja untuk mendapatkan perhatian.
Tapi sangat di sayang, Farhan merasa risih saat bersama dengan Vanya, melepaskan diri dari wanita itu dan mendelik kesal. Tak sengaja dia melihat Ayu yang sedang mengintip di cela lh pintu kamarnya, tersenyum cerah membuat wajahnya semakin tampan.
"Wah, seperti Farhan mulai menyukai ku!" batin Vanya yang mendapatkan harapan baru, tapi dia tidak tahu jika senyuman itu hanya untuk Ayu. "Farhan, bagaimana jika kita membicarakan ini di tempat yang hening juga sunyi?" celetuknya, bersemangat saat terlintas ide di pikiran. Dia mencondongkan tubuhnya, ingin bersandar di tubuh pria idaman yang membuatnya tertarik. Tapi, sebelum dia melakukan hal itu, Farhan lebih dulu menghindar hingga dia terjatuh kelantai.
"Farhan, kau sangat menyebalkan!" ucap Vanya yang merengek manja, mengangkat kedua tangan memberikan isyarat agar pria itu membantunya untuk berdiri. Sementara Ayu tak bisa menahan tawanya, dia menertawai nasib Vanya sambil keluar dari persembunyiannya. "Cup…cup…cup, sayang sekali! Aku sarankan untuk kau lebih berhati-hati." Celetuknya.
"Farhan, kenapa kau diam saja? Cepat bantu aku berdiri!" pintanya dengan manja.
Farhan hanya diam, tidak menggubris perkataan Vanya. Raut ekspresi tajam dan dingin tak lepas saat menatap sahabat kecilnya.
"Farhan tidak akan menggubris mu, aku akan membantumu!" tawar Ayu yang mengulurkan tangannya, berniat untuk menolong. Dengan sombongnya Vanya menepis tangan rivalnya dengan kasar, tatapan tajam dan juga sinis dan juga rasa iri kepada Ayu.
"Ck, aku tidak butuh bantuanmu!" tolaknya seraya meninggikan suara, keangkuhan di hati membuatnya merasa bisa melakukan apapun tanpa perlu bantuan orang lain.
"Ya sudah, aku juga tidak memaksamu."
Vanya menatap Farhan dengan nanar, sungguh tak di duga saat pria itu menarik tangan calon tunangannya untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Ayu sangat terkejut dengan aksi Farhan, sementara Vanya meremas kedua tangannya, kesal dan menahan amarah di dalam hati.