
Jenni dan Clara yang mengikuti sang idola membuat mereka tercengang, saat melihat Gabriel memegang tangan Ayu dengan sangat romantis. "Astaga…apa kau melihat apa yang aku lihat?" Celetuk Jenni yang sangat antusias.
"Benar, aku melihatnya dengan sangat jelas. Bukankah wanita itu adalah Ayu? Tapi, bagaimana wanita kampung itu bisa bersama idola kita?" Ucap Clara yang sama terkejutnya dengan Jenni. Mereka tak menyangka jika Ayu adalah wanita yang paling beruntung di dunia ini, membuat keduanya sangat iri sekaligus marah yang menjadi satu.
"Wanita itu membuat aku sangat geram," umpat Jenni yang meremas kedua tangannya dengan sempurna. Dia tak menyangka dengan Ayu yang notabene seorang gadis kampung mendapatkan perlakuan khusus dari Gabriel, bisa mendekati Farhan dan juga Gabriel sang idola mereka. Mereka bisa melihat bagaimana tatapan Gabriel yang sangat mencintai Ayu, sebuah tatapan hangat hanya untuk Ayu, hingga timbul sebuah ide di benak Jenni.
"Aku punya ide," Terang Jenni.
"Ide?" Celetuk Clara yang mengerutkan keningnya karena penasaran.
"Aku akan memotret mereka dan mengambil video mereka, lalu mengirimkannya kepada Vanya, dengan begitu Vanya semakin membenci wanita udik itu dan mempersulitnya dengan kekuasaan yang dia miliki." Ungkap Jenni yang tersenyum dengan ide liciknya.
"Wow, ternyata idemu sangatlah bagus. Lakukan sekarang atau kita akan kehilangan momen itu." Desak Clara.
"Akan aku lakukan." Jenni mengeluarkan ponsel dari tas kecil yang selalu dia bawa, tersenyum saat berhasil memotret kejadian yang tak jauh darinya.
"Bagaimana hasilnya?" Desak Clara yang tidak sabar.
"Berhasil, aku akan mengirimkan foto ini kepada Vanya." Jenni tersenyum smirk dan mengirimkan foto Ayu bersama dengan Gabriel.
"Itu bagus, biarkan Vanya yang menghukum wanita kampung itu.
"Hem, tentu saja. Simbiosis mutualisme, saling menguntungkan!" Terang Jenni.
Vanya yang ada di kedai kopi untuk menghilangkan rasa pusing akibat kedua sahabatnya yang membatalkan agenda mereka untuk berbelanja, dia sangat kesal dengan Jenni dan juga Clara. "Mereka benar-benar membuat aku kesal saja, apa bagusnya mengikuti Gabriel sang idola? Sangat memuakkan." Racau Vanya dengan raut wajah yang sangat kesal.
Tak lama, kopi pesanannya datang, baru saja dia menyeruput cangkir yang berisi kopi kesukaannya terhenti akibat ponsel yang ada di atas meja bergetar, dengan cepat Vanya mengambil ponselnya dan mengecek sebuah pesan singkat. Awalnya dia tidak begitu tertarik saat melihat siapa pengirim pesan itu. "Jenni? Foto siapa yang dia kirim?" Celetuknya seraya membuka pesan singkat itu. Seketika dia sangat bersemangat saat melihat foto yang dikirimkan oleh Jenni, sebuah foto Gabriel yang memegang tangan Ayu dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
"Bukankah ini adalah wanita udik dan pria bersamanya adalah Gabriel? Jenni memberiku kabar yang sangat baik, setidaknya mereka sangat berguna. Ini sangat bagus, aku bisa menggunakan foto dan video ini untuk kedepannya. Sebaiknya aku menyusul Jenni dan juga Clara." Vanya bergegas pergi keluar dari kedai kopi dan menuju Cafe.
"Sebaiknya kita masuk ke sana." Ajak Clara yang menatap Jenni.
"Kau benar, ayo!" sahut Jenni yang bersemangat.
Mereka berdua ingin masuk ke ruangan, dimana ada Gabriel dan Ayu yang sedang berduaan. Melangkahkan kaki menuju ruang itu menjadi terhalang saat ada beberapa pelayan mencegatnya.
"Anda tidak bisa masuk ke dalam, Nona!" ucap salah satu pelayan.
"Kenapa tidak bisa? Ini tempat umum, siapa saja boleh memasukinya." Protes Clara.
"Memang, hanya saja tempat ini sudah di booking oleh tuan Gabriel."
"Bagaimana ini?" Bisik Clara yang sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Jenni.
"Tetap tidak bisa, sebaiknya kalian pergi dari sini, sebelum di usir." Sahut salah satu pelayan lainnya.
Sementara di tempat lain, Gabriel terus memandangi Ayu dengan tatapan penuh harapan, memegang tangan wanita pujaan tanpa berniat untuk melepaskannya. "Kau tahu sendiri mengenai perasaanku yang sebenarnya, aku sangat mencintaimu, Ayu." Jujur Gabriel.
"Sudah berapa kali aku katakan padamu, jika hubungan ini tidak akan berhasil. Kita tidak cocok!" tolak Ayu yang berusaha untuk melepaskan tangannya yang dipegang oleh pria tampan itu.
"Kita bisa mencobanya!" Lirih Gabriel dengan tatapan nanarnya, dia sangat mencintai Ayu dan akan tetap mencintainya.
"Jangan memaksakan diri, sebaiknya kau kubur perasaan mu itu dan aku tidak ingin kau kecewa nantinya."
"Apa karena kau menyukai Farhan?" Ujar Gabriel. Ayu hanya terdiam dan tidak mengatakan apapun, Gabriel tersenyum sarkas saat tidak menemukan jawabannya.
__ADS_1
"Hubunganmu dengan pria itu tidak akan berhasil dan pernikahanmu akan sia-sia, untuk apa kau mempertahankan Farhan yang hanya mencintai wanita lain?" Tukas Gabriel yang tertawa sinis seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa maksudmu mengatakan hal itu?" Sahut Ayu yang mengerutkan keningnya.
"Aku sangat mengenal Farhan dengan baik, bahwa pria itu hanya mencintai satu orang wanita yang bernama Kira, gadis kecil yang pernah menyelamatkannya dulu." Ungkap Gabriel, berharap jika Ayu melupakan Farhan agar terlepas dari hubungan tanpa cinta.
"Lalu?"
"Hubungan dan pernikahan kalian tidak akan berhasil, aku tak ingin jika pria itu membuatmu hanya menjadi pelampiasan saja. Apa yang kau harapkan darinya? Jelas-jelas aku ada disini dan mencintaimu dengan segenap hati. Sebaiknya kau batalkan saja untuk menikah dengannya, karena dia tidak mencintaimu dan kau tidak akan bahagia." Jelas Gabriel dengan penuh semangat dan antusias.
Ayu terdiam beberapa saat, melihat ketulusan Gabriel dalam mencintainya sangatlah besar, saat ingin menjawab perkataan dari pria tampan itu, terhalang saat mendengar suara keributan dari luar ruangan. Terdengar suara pertengkaran di pintu menarik perhatiannya.
"Apa kau mendengar suara keributan di luar sana?" Tunjuk Ayu ke arah pintu. Dengan cepat Gabriel menganggukkan kepala.
"Aku mendengarnya! Ck, aku akan melihatnya!" Gabriel menyentak kursi dengan kasar, karena sangat kesal dengan suara yang membuatnya terganggu. Berjalan menuju keluar ruangan dan melihat apa yang terjadi, baru saja dia membuka pintu menjadi terkejut saat melihat kedua wanita yang memotretnya dengan beberapa pose yang menurutnya sangat mengganggu.
"Hei, hentikan ini!" Ucap Gabriel yang datar seraya menutupi wajah menggunakan tangannya, penampilannya yang fashionable dan juga wajah yang tampan membuat Clara dan Jenni tak henti-hentinya memotret sang idola.
"Kau sangat tampan sekali," Tutur Clara yang melihat hasil foto yang ada di ponselnya.
"Apa kalian sudah puas memotret ku?" Ujar Gabriel yang sangat marah kepada kedua wanita yang menurutnya sangatlah aneh.
"Sudah," jawab Jenni tak tahu malu.
"Sekarang hapus semua foto yang telah kalian ambil." Titah Gabriel yang tak ingin di bantah.
Clara dan Jenni mendongakkan kepala menatap pria yang menjadi idola, menelan saliva dengan susah payah. "Baiklah!" Sahut mereka dengan kompak, dengan cepat keduanya menghapus foto Gabriel.
__ADS_1