
Seminggu kemudian..
Farhan melihat Ayu yang bersiap-siap, menenteng tas kecil dan sedikit polesan make up tipis untuk menambah kesan yang lebih segar. "Kau terlihat bersemangat dengan menyambutnya ya," sindir Farhan yang mendecih.
"Ini bentuk dari profesional ku saja, apa kau cemburu?"
"Ck, otakmu selain dangkal ternyata juga sangat bodoh. Aku tidak cemburu!" elak Farhan yang sebenarnya sangat cemburu, apalagi yang akan ditemui oleh Ayu adalah temannya sendiri yang bisa dikatakan pria kaya, tampan, dan juga mapan. Dia juga tidak rela jika Ayu menghabiskan waktunya menunggu Raymond.
"Tidak perlu mengelak lagi, wajah bodohmu memperlihatkan segalanya."
"Bahkan wajah tampanku telah banyak memikat para wanita," sahut Farhan dengan penuh percaya diri sembari membenarkan jasnya.
"Aku tidak menyangka jika tuan Farhan yang terhormat sangat percaya diri atau narsis, sangat menggelikan."
"Itu sangat diperlukan jika bertemu klien penting," ucap Farhan enteng.
"Ck, terserah!" Ayu bergegas meninggalkan ruangan itu, dia tidak ingin memperpanjang masalah dengan bosnya.
"Ayu, tunggu!" Baru saja kakinya melangkah di luar, terdengar suara yang memanggil namanya dan membuat Ayu menoleh sambil memegang pintu.
"Ada apa memanggilku," ketus Ayu dengan jengah.
"Aku akan ikut bersamamu."
Ayu mengerutkan keningnya, kebingungan dengan pendapat bos nya yang berubah-ubah. "Aku sangat yakin jika kepalanya itu sedikit bermasalah," batin Ayu. "Apa kau yakin? Bukankah kay menolak untuk pergi, sekarang apa yang terjadi?" Ledek Ayu yang tersenyum miring.
"Karena Raymond Arnold adalah temanku dan harus pergi sendiri untuk menunjukkan ketulusan," jawab Farhan yang berdiri dari duduknya seraya memegang tangan Ayu menuju keluar dari kantor.
"Hah, terserah padamu saja." Ayu pasrah saat tangan Farhan memegang tangannya dengan sangat lembut menuju mobil.
"Lebih tepatnya aku tak ingin jika Raymond sialan itu mendekatimu, aku tidak akan membiarkannya," batin Farhan yang tersenyum tipis.
__ADS_1
Tidak ada obrolan sepanjang perjalanan, mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Butuh waktu satu jam untuk tiba di bandara, dan itu sepuluh menit sebelum penerbangan Raymond Arnold tiba.
"Aku ingin ke toilet," bisik Ayu yang menahan sesuatu yang sedari tadi dia tahan.
"Ayo, aku akan menemanimu." Jawab Farhan dengan bersemangat juga antusias.
"Lakukan saja jika wajah tampanmu itu tak ingin lebam," cetus Ayu yang kembali kesal.
"Apa maksud mu?" Farhan mengerutkan kening, menoleh ke samping menatap lawan bicaranya.
"Apa bos besar sepertimu beralih profesi sebagai bodyguard, lebih baik kau di sini saja dan menunggu klien penting." Ayu yang sudah tak tahan lagi, segera berlari menuju toilet dan menuntaskan hajatnya. Setelah itu, membersihkan tangan di wastafel dan melihat riasannya di cermin besar yang ada di hadapannya.
"Sebaiknya aku mengirimkan pesan teks," gumam Ayu yang mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil, mengetik beberapa kalimat dan mengirimkannya. Sebuah pesan teks mengenai pertunjukan besar di sore hari, yang akan membuat klien penting menyukai idenya dan menyetujui proyek kerjasama.
"Sebaiknya aku kembali, sebelum pria gila itu nekat menghampiri ku disini," lirihnya pelan dan berjalan menuju lobi.
Netra matanya menangkap sosok bos yang masih berdiri di sana, berjalan menghampiri pria itu dengan menepuk pundaknya. "Maaf, menunggu lama. Apa kau melihat batang hidung tuan Raymond?" Tanya Ayu.
"Hem, baiklah."
Setelah beberapa menit kemudian, mereka melihat klien penting turun dari pesawat. Tatapan Farhan menangkap netra mata milik Raymond Arnold, seorang pria tampan dengan wajah blasteran, dan juga CEO dari perusahaan besar Raha Grup. Raymond tersenyum saat melihat teman sekaligus rekan bisnisnya, berjalan menghampiri mereka dengan senyum yang tak pudar. Dia pun memeluk Farhan dengan hangat, dan kemudian bertemu Ayu.
"Kau tidak berubah sama sekali," celetuk Raymond yang melepaskan pelukannya seraya melirik wanita cantik di sebelah Farhan.
"Tentu saja, bahkan kau masih tetap sama. Hanya saja brewokmu semakin lebat seperti hutan gambut," ucap Farhan yang gerem saat mengetahui tatapan temannya tertuju kepada Ayu.
"Aku tidak tahu jika kau mempunyai selera humor yang baik," sahut Raymond yang tersenyum geli.
"Lupakan itu, bagaimana perjalananmu?" Tanya Farhan basa-basi.
"Sangat baik, apalagi setelah melihat wanita cantik di sebelahmu." Raymond terus menatap Ayu, dan bahkan Ayu juga menatapnya.
__ADS_1
"Sepertinya pria ini bisa berbahasa Prancis," Batin Ayu.
"Sial, sudah aku duga jika ini akan terjadi!" gumam Farhan keluh.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Tanya Raymond yang mendengar samar.
"Tidak, mungkin kamu salah dengar," sahut Farhan dengan enteng.
"présenter, je m'appelle Ayu Kirana. La nouvelle secrétaire de la société HR Group, j'espère que ce projet collaboratif vous plaira à l'avenir. (perkenalkan, nama saya Ayu Kirana. Sekretaris baru di perusahaan HR Grup, semoga anda menyukai proyek kerjasama ini nantinya)." Ucap Ayu yang mengulurkan tangan memperkenalkan diri, dia fasih dalam berbahasa Prancis.
"Je l'espère, je crois vraiment en tes capacités. (Aku harap begitu, aku sangat yakin dengan kemampuanmu)." Jawab Raymond yang juga menjabat tangan Ayu, dia terkesan dengan fasihnya Ayu dalam berbahasa. Dia tersenyum saat melihat wajah Ayu yang sangat cantik khas asia dan membuatnya sedikit tertarik.
Sementara Farhan melongo dengan kemampuan Ayu yang lagi dan lagi membuatnya takjub. "Aku tak menyangka, ternyata dia sangat pintar dan juga fasih dalam mengucapkan bahasa Prancis," batin Farhan yang terkejut lagi dengan Ayu sangatlah hebat.
"Ne te tais pas, viens! (Jangan diam saja, ayo!)" celetuk Farhan yang mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam mobil menuju perusahaannya. Raymond mengangguk pelan dan mengikutinya, ada beberapa orang yang mengikuti Raymond dari belakang.
Di dalam mobil, mereka berbincang mengenai bisnis. Sedangkan Ayu hanya diam saja sambil menikmati perjalanan menuju kantor. Beberapa karyawan menyambut kedatangan mereka yang masuk beriringan, menundukkan kepala dengan hormat kepada tamu dan menyapa bos besar. Ayu, Farhan, Raymond,dan asistennya menuju ruangan dan akan memulai rapat bisnis proyek kerjasama dari kedua perusahaan besar.
Ayu memulai rapat dengan menyiapkan proposal yang sempurna, hasil presentasi yang sangat bagus, mendapat persetujuan dan tepuk tangan meriah dari Raymond yang sangat menyukai kinerja sekretaris itu.
"Sangat bagus, penyampaian mu sangat mudah di pahami dengan kata-kata sederhana, aku menyukai hal itu," ucap Raymond yang tersenyum ke arah Ayu.
"Terima kasih, Tuan."
"Ck, pria itu seakan ingin menarik perhatian Ayu!" Batin Farhan yang terbakar api cemburu, Raymond selalu saja menatap Ayu membuatnya sangat kesal.
"Baiklah, akan saya lanjutkan kembali. Saya akan memperkenalkan desain untuk membuat anda tertarik." Ayu ingin memperlihatkan hasil desain, tapi dia sedikit heran selembar kertas kosong yang ada di berkas di depannya. "Eh, dimana desainnya?" Gumam Ayu di dalam hati.
Tatapan Farhan sangat serius saat melihat kekhawatiran Ayu mengenai desain yang tidak ada, dia tidak senang dengan semua itu. Ditambah lagi Maudi menanyakan hal yang sama.
"Dimana desainnya?" Tutur Maudi.
__ADS_1