
Farhan tak menyangka mendapat perlakuan itu dari Ayu, dia sangat marah saat gadis itu berani mengusirnya terang-terangan, untuk pertama kalinya ada orang yang berani mengusirnya.
"Sial, berani sekali dia mengusirku. Jangankan untuk mengusirku, bahkan orang lain tak sanggup menatap mataku dalam lima detik," umpat Farhan yang memukul udara. "Aku pikir jika perlakuan peduliku kepadanya dapat memberikan kesempatan untuk mencoba memulai hubungan baru, tapi apa ini? Bahkan dia mengusirku dengan kasar." Farhan pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan jengkel.
Setelah mengusir Farhan, Ayu menyalakan laptopnya. Perhatian terus saja fokus memperhatikan layar pipih dengan jari-jari menekan keyboard dan juga menggerakkan kursor.
"Hah, akhirnya aku kembali rutinitas lamaku," gumam Ayu. Ternyata gadis sederhana itu merupakan seorang perancang busana yang terkenal di seluruh dunia, Ayu memulai pekerjaannya berkutat dengan kertas, pensil, dan juga laptop, tak lupa beberapa cemilan yang menemani waktu sibuknya.
Tidak ada yang tahu mengenai pekerjaan Ayu yang sebenarnya, karena Ayu tidak pernah tampil di televisi maupun di sosial media. Semua pekerjaan dikerjakan oleh beberapa agen yang sangat dia percayai. Identitas nya yang tertutup membuat segelintir orang merendahkannya, apalagi dengan penampilan yang sederhana.
"Tinggal sedikit lagi, pekerjaanku selesai," gumamnya yang terus menggambar beberapa rancangan baru dan mengirimkan kepada agen yang selalu membantu pekerjaannya menjadi lebih mudah.
Ayu beranjak dari duduknya sambil menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang empuk dan mulai memejamkan mata tanpa mengganti pakaian.
****
Hari minggu..
Ayu terbangun dari tidurnya seraya menggeliatkan tubuhnya, tersenyum menyambut pagi cerah dengan suasana yang sangat indah.
"Pagi yang sangat indah," lirihnya dengan suara khas bangun tidur. Ayu memperhatikan sekeliling dan beranjak dari ranjang empuk, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selesai membersihkan tubuhnya, dia keluar dari kamar mandi setelah mengenakan pakaian. Ayu menatap cermin besar yang ada di hadapannya, memulai merias wajah dengan polesan yang tipis agar terlihat natural dan fresh, tak ketinggalan dengan parfum yang selalu dia pakai. Tak lama, terdengar suara ketukan pintu. Ayu yang baru saja selesai berdandan, membukakan pintu, terlihat dengan jelas jika itu adalah Farhan.
"Apa kau sudah bersiap?"
"Hem, sudah. Seperti yang kau lihat," sahut Ayu.
__ADS_1
Mereka berjalan berdampingan menuju mobil yang terparkir di halaman Mansion, masuk ke dalam mobil tanpa adanya obrolan. Ayu membuka jendela mobil dan melihat suasana jalanan yang membuat pikirannya sedikit jernih.
Mobil berhenti di halaman rumah tua, pandangan Ayu tertuju kepada bangunan tua di depannya.
"Jangan diam saja, ayo turun!" ucap Farhan yang keluar dari mobil dan diikuti oleh Ayu.
Dia melihat sekeliling, sebuah bangunan mewah dengan interior klasik kuno dan juga terlihat tua. Tapi masih menjaga keaslian dari tempat itu.
"Silahkan masuk," ucap seorang kepala pelayan yang menundukkan kepala.
"Hem," sahut Farhan dengan singkat. "Apa kau ingin masuk atau berdiri di sana?" Ucap Farhan yang masuk ke dalam rumah tua. Sedangkan Ayu mendelik kesal dan mengikuti pria itu dari belakang.
Mereka berjalan ke ruang tamu, Ayu masih melihat tempat yang sangat unik itu. Hingga pandangan matanya tertuju kepada pria tua dengan rambut perak, dan memakai kacamata. Mereka menghampiri pria tua dan menyapanya dengan sangat sopan.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Kek?" Ucap Farhan yang memeluk kakeknya.
"Jangan duduk terlalu lama, itu tidak baik untuk kesehatan Kakek. Sebaiknya Kakek beristirahat di kamar," celetuk Ayu yang mencemaskan pria tua itu.
"Tentu saja aku menyambut kedatangan kalian berdua," sahut Hendrawan.
"Jangan memaksakan diri," ujar Ayu yang sangat mengkhawatirkan kondisi Hendrawan, dengan perlahan dia memeriksa denyut nadi pria tua itu untuk memastikan kesehatan. Ayu bisa mendeteksi penyakit dari menyentuh denyut nadi yang ada di pergelangan tangan Hendrawan, karena dulunya dia sangat lemah dan sering sakit sejak masih kecil.
"Kakek Hendrawan terlihat normal dan sangat sehat, lalu kenapa dia mengatakan sedang sakit? Oho, apa jangan-jangan ini akal-akalan kakek untuk mendekatkan hubungan kami berdua?" Gumam Ayu di dalam hati.
"Ayo, sebaiknya Kakek beristirahat di kamar. Aku akan mendorong kursi roda," ucap Farhan.
"Heh, aku seperti seorang tawanan saja," gerutu Hendrawan yang tak ingin masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Tapi Kek__"
"Biarkan saja kakek menikmati suasana di sini, dia pasti yang sangat bosan di dalam kamar," sela Ayu yang di anggukkan kepala oleh Hendrawan.
"Terserah Kakek saja." Farhan menghela nafas dan mendekati Ayu, lebih tepatnya berpura-pura akrab untuk memperlihatkan hubungannya kepada Hendrawan.
Tak lama, kepala pelayan menghampiri majikannya dan menundukkan kepala. "Maaf Tuan, di depan ada nyonya Wina dan juga nona Vanya."
Ayu dan Farhan yang merawat sang kakek terhenti saat mendengar penuturan dari kepala pelayan. Seketika senyum di wajah Hendrawan memudar saat mengetahui Vanya juga berkunjung, karena dia tau bagaimana cara wanita itu mendekati cucunya. Tapi Hendrawan hanya menyukai Ayu, sifat dan tingkah lakunya sangat cocok dengan Farhan.
"Mereka datang di waktu yang salah," batin Hendrawan yang berdecak kesal. "Ya, suruh mereka masuk," titah Hendrawan yang datar.
Terlihat dua orang wanita yang berjalan ke arah mereka, Vanya datang menghampiri Farhan setelah menyapa Hendrawan.
"Kenapa kau ada disini?" Tanya Farhan yang menoleh.
"Aku ingin mengabarkan kepadamu, jika kakakku akan kembali dan mengajak mu untuk bertemu," ucapnya dengan penuh semangat, menatap pria tampan di dekatnya.
"Maaf, aku tidak bisa. Aku akan mengajak Ayu untuk berbelanja, jadi lain kali saja." Tolak Farhan yang membuat Vanya sangat kesal, mencoba menyembunyikannya dengan tersenyum.
"Hah, ini saatnya pembalasan. Aku akan membuat wanita itu kebakaran jenggot," batin Ayu yang tersenyum smirk. Dia meringkuk ke dalam pelukan Farhan dan tersenyum menatap Vanya, sedangkan Farhan tidak mempermasalahkan hal itu.
"Wah, sepertinya hubungan ini akan berhasil dan aku tidak akan berpura-pura sakit lagi, ini sangat mengganggu ku," gumam Hendrawan di dalam hati sembari tersenyum melihat kedekatan Ayu dengan cucunya.
Melihat hal itu, raut wajah Vanya berubah, Namun dia berpura-pura memamerkan hadiah kepada kakek. "Sial, berani sekali gadis kampung itu memeluk Farhan," batin Vanya yang menahan amarahnya.
"Yasudah, tidak apa-apa. Masih banyak waktu di lain hari," jawab Vanya tanpa melihat kedua orang itu. Kemudian dia membalikkan badan dan menatap Ayu dengan senyum di wajahnya, karena dia mempunyai rencana baru untuk mempermalukan wanita itu.
__ADS_1
"Oh iya, aku berkunjung dengan membawa hadiah untuk kakek, tapi dimana hadiahmu? Aku tidak melihatnya." Vanya celingukan mencari hadiah yang dibawakan oleh rivalnya.