
Ayu mencoba bersikap tenang dan tidak ingin mengeluarkan emosinya saat ini, apalagi wanita itu hanya berniat ingin pamer, bahwasanya mereka sudah menjalin hubungan yang lebih intim lagi. Cukup membuatnya tertekan, hanya saja pintar dalam menyembunyikan perasaan. Rasa sakit di hati, tapi mengeluarkan senyuman palsu yang bisa membuat musuh gentar. "Lalu? Apa yang ingin kau katakan, aku tidak mengerti."
"Jangan berpura-pura bodoh dengan menutupi kesedihan dan rasa sakit di hatimu, sungguh wanita yang sangat malang. Farhan tidak mencintaimu, kau pasti paham dengan tanda cinta ini." Jelas Kira seraya menyentuh tanda kebiruan di lehernya. "Hah, dia terlihat dingin tapi sangat liar dan aku tidak bisa mengendalikannya saat itu," gumamnya yang berpura-pura memikirkan apa yang terjadi di antara mereka.
Mendengar hal itu, Ayu seakan berpura-pura tuli dan tidak mendengar apapun. Dia melakukan segala upaya agar tidak berpengaruh, namun Kira tetap saja berusaha untuk memperlihatkan tanda kemesraan dan kedekatan dengan Farhan. "Aku kesini hanya ingin bekerja, tapi kau selalu saja mencari celah. Pergilah dari sini!" usirnya yang sudah muak, pekerjaannya menjadi tertunda akibat gangguan itu.
Kira tersenyum senang, bisa mendapatkan celah yang menguntungkan baginya. "Preman brengsek itu hampir saja melecehkanku, tapi itu sangat menguntungkan bagiku." Gumamnya di dalam hati, kegigihan dalam upayanya membuat sang rival cemburu mengeluarkan hasil memuaskan. "Sayang sekali, aku lupa untuk memvideokannya dan memperlihatkan padamu."
"Aku tidak peduli, pergilah ke kursi kerjamu dan selesaikan pekerjaan. Pekerjaanmu tidak akan selesai, jika kau terus saja kesini."
Kira tertawa dengan sikap Ayu yang mengusirnya, terlihat menggelitik perut. "Kau ini sangat lucu, aku akan mengerjakan pekerjaanku." Lagi dan lagi dia memegang bekas di lehernya, dan mengatakan sebagai tanda cinta juga gairah pada dua orang di mabuk cinta.
Ayu menghela nafas dengan lega saat melihat punggung Kira yang sudah menjauh darinya, geram karena wanita itu selalu memperburuk suasana hatinya. "Menghadapinya harus dengan kesabaran ekstra," gumamnya yang sudah jenuh.
Timbul di hatinya untuk mencari maksud dan kedatangan wanita itu di acara pertunangan mereka, segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi seseorang yang menjadi salah satu orang kepercayaan nya.
"Halo."
"Halo, nona."
"Ck, berhentilah bersikap formal. Dasar konyol!"
"Ya…ya, maafkan aku yang khilaf ini. Hah, kenapa kau menghubungiku. Jangan dijawab, biar aku menebaknya sendiri. Apa kau ingin mengetahui sesuatu dan meminta bantuanku?"
"Kau benar, akhirnya kau memahami maksud dan tujuanku."
"Baiklah, apa yang kau inginkan tuan putri?"
"Mudah saja, seperti biasanya. Aku ingin kau membantuku memeriksa Kira, terutama di saat dia muncul tanggal 18 di bulan lalu di saat acara pertunangan ku."
__ADS_1
"Baiklah, serahkan semuanya padaku."
"Hem, jangan mengecewakanku dan berilah informasi secepatnya. Hanya kau yang bisa menjadi jalanku, lakukan ini dengan baik."
"Baiklah."
Ayu segera menutup telepon seraya menarik nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan, dia menyalin informasi mengenai omset perusahaan yang terjun bebas ke bawah, hal itu sangat menarik untuk dibahas. Setelah selesai, dia segera beranjak dari kursinya dan melangkahkan kaki menuju ruangan Farhan, sang mantan calon tunangannya.
"Sebenarnya aku enggan untuk masuk ke dalam, tapi ini demi profesionalitas saja. Semoga saja dia tidak menyinggung masalah pribadi di kantor," gumamnya yang sudah berada di depan pintu ruangan sang CEO dan mengetuk pintu.
"Masuk!"
Terdengar suara pria yang berasal dari dalam ruangan, Ayu menyiapkan hal yang akan menjadi topik mereka. Sedikit ragu, tapi dia berusaha untuk tetap masuk ke dalam dengan langkah penuh hati-hati. Sorot matanya lurus ke depan mempertemukan dengan kedua manik mata elang yang seakan menunggu kedatangannya.
"Maaf, telah mengganggu. Ada yang ingin saya bicarakan mengenai proyek yang sudah berjalan," lapornya dengan gaya bicara yang formal.
"Laporan mengenai omset perusahaan yang menurun akibat perusahaan yang pernah mencoba plagiat, mereka sepertinya menyalin milik perusahaan. Hanya saja, mereka cukup cerdik hingga memanipulasi dan tidak termasuk dalam pelanggaran hak cipta atau plagiat." Jelas Ayu yang melapor.
Farhan menarik tangan sekretarisnya ke dinding dan mulai menyudutkan, kedua pasang mata yang saling berkontak dalam. "Aku tidak ingin membahas hal pekerjaan, tapi hal pribadi!" ucapnya tak ingin di bantah.
Ayu segera menghindari tatapan itu dengan mengalihkan pandangan ke samping, berusaha memberontak agar kedua tangan yang bertengger di bahunya terlepas. "Ini kantor, berusahalah bersikap profesional."
"Ck, lupakan itu. Aku tidak ingin membahasnya, di ruangan ini hanya kau dan aku. Kita akan membicarakan hubungan yang terlihat renggang."
"Bukankah hubungan ini sudah renggang saat kedatangan cinta masa lalumu?"
"Aku mencintaimu."
Ayu segera menutup kedua telinganya, tidak ingin mendengarkan kata cinta yang ujungnya terdapat pisau menggores luka. "Berhentilah mengatakan kalimat yang kau sendiri tidak pahami!" ucapnya meninggikan suara.
__ADS_1
"Aku ingin masalah kita selesai, dan kau tidak salah paham denganku." Ujar Farhan yang mencoba memperbaiki hubungan.
"Kau tidak bisa mengembalikan apapun, Kira telah memberitahuku mengenai kau dan dia."
"Apa maksudmu?" Farhan mengerutkan kening karena tak mengerti.
"Biar aku beritahu padamu, Kira datang ke tempat kerjaku dan selalu saja mencari celah untuk menghinaku. Tapi aku tidak mempermasalahkannya, hanya saja dia memperlihatkan sebuah bekas membiru di sekitar lehernya. Kau pasti tahu dengan arah bicaraku, itu disebabkan olehmu terjadi terakhir malam." Ayu ingin menjelaskan bahwa pembahasannya mengacu kepada Kira dan Farhan yang sudah menghabiskan malam bersama, dan itu membuat dia kecewa.
"Aku? Melakukannya?" Farhan bingung dengan tuduhan yang dikatakan oleh Ayu, bahkan dia tidak melakukan apapun selain keluar dari tempat itu dan mencoba untuk memperingati Kira agar menjauh darinya. Dia hendak bertanya, tapi asisten Heri masuk membuat suasananya terpecah.
"Ck, bisakah kau masuk dengan mengetuk pintu?"
"Maaf, Tuan. Ada hal yang sangat penting, hingga aku lupa untuk mengetuk pintu."
"Hem, baiklah. Katakan ada apa?"
"Ada kejanggalan mengenai perusahaan perhiasan Malhotra Grup, apalagi mengenai kebangkrutan mereka yang sudah di ketahui oleh banyak orang. Hanya saja__."
"Apa?"
"Perusahaan itu berani menyalin hingga omset kita menurun, karena sebuah perusahaan di Australia. Lebih tepatnya perusahaan Sky Grup membelinya," lapor sang asisten dengan raut wajah yang sedikit cemas.
"Apa kau kesini juga mengatakan hal yang sama?" Farhan menoleh kesamping.
"Ya, tapi kau tidak memberiku kesempatan untuk membicarakannya." Cetus Ayu dingin.
Asisten Heri menatap dua orang di depannya secara bergantian. "Apa yang terjadi?" batinnya tampak berpikir.
Ayu ingat bahwa pekerja mengenai lampu itu sebelumnya juga mengalami kecelakaan di Australia. "Bukankah pekerja lampu juga mengalami insiden di sana?" celetuknya membuat Farhan dan Asisten Heri menemukan bukti lain saat insiden Ayu yang hampir terluka.
__ADS_1