
Kedatangan Ayu sontak membuat semua orang menyorotnya, terkejut dengan keberaniannya yang hadir di sana. Dia tersenyum tipis saat memegang kartu As untuk menyerang balik mantan ketua sekretaris.
Reporter semakin di untungkan dengan kehadiran sang tersangka. Maudi mengerutkan kening kebingungan, dengan cepat memulihkan ekspresi nya. "Akhirnya kau berani menunjukkan wajahmu!" cibir Laras yang menatapnya sinis.
"Dasar wanita pembunuh, kau bukan manusia melainkan iblis berparas lugu. Kenapa kau melakukan hal itu padaku? Apa kesalahanku padamu?" teriak Maudi yang drastis, menunjuk sang tersangka dengan melempar tatapan kesedihannya.
Semua reporter menyorot Ayu sebagai tersangka, mereka merasa jika masalah ini akan semakin menarik. "Apakah benar tuduhan yang dilontarkan oleh Maudi?" tanya salah satu reporter sembari mengarahkan perekam suara, sangat bersemangat dan antusias ingin mendengar ucapan dari narasumber. "Bagaimana tanggapan anda menjadi tersangka?"
"Aku tidak membunuhnya ataupun mencelakainya Maudi dan ibunya, mereka hanya berusaha menjebakku." Jelas Ayu dengan tegas, tidak ada rasa takut di wajahnya.
"Tapi aku menjadi saksinya," sela Laras yang ikut mengeluarkan suara, menghampiri sang tertuduh dengan melipat kedua tangan di depan dadanya, terlihat jelas sifat angkuhnya. Situasi kian memanas, walaupun begitu Ayu tetap tenang dan tidak ikut terbawa emosi. "Satu pertanyaan untukmu, kenapa kau tidak menolong Maudi saat aku menyerangnya?"
Laras memikirkan alasan yang pas untuk mencari jawaban pertanyaan itu, seakan dia terjebak dengan perkataannya. "Saat itu, aku tidak sempat menolong Maudi yang hampir mati tenggelam."
"Bukankah kau melihat segalanya?" Ayu semakin melangkah maju dengan beberapa pertanyaan yang menjebaknya.
Semua reporter menganggukkan kepala, membenarkan perkataan Ayu yang ingin membersihkan namanya. Maudi semakin getir dengan pemikiran cerdas dari musuhnya. "Jangan mencoba mengalihkan pembahasan ini, karena kaulah yang ingin membunuhku. Bahkan di wajahmu tidak menunjukkan kesalahan, sebenarnya kau ini wanita seperti apa?" celetuknya yang ingin membantu Laras yang hampir terjebak.
"Kenapa anda mendorong Maudi? Apa anda membencinya?" tanya salah satu reporter menatap Ayu dengan antusias.
"Apa yang menyebabkan kalian bertengkar?" sambung reporter lainnya.
"Apa motif anda sebenarnya? Apa ini masalah pribadi atau masalah pekerjaan?"
Serentetan pertanyaan terus tertuju kepada Ayu, untung saja dia tidak terpengaruh dengan perkataan semua orang di sana. Melirik Maudi dan Laras secara bergantian, menarik nafas dalam dan kembali fokus dengan kamera dan juga para reporter. "Kalian menuduhku sebagai tersangka dari satu sumber saja, mempercayakan segalanya dengan mudah. Video mengenai ibu dari Maudi itu hanya di rekayasa, aku hanya mendorongnya dengan pelan. Tapi, wanita paruh baya itu memanfaat situasi dengan sangat baik, dan menuduhku. Masalah insiden itu, apakah kalian melihat aku mendorong orang di Danau itu? Apa kalian ada di sana saat kejadian sedang berlangsung?" ucap Ayu membuat semua reporter bungkam.
"Wanita itu tidak akan mengakui kesalahannya, jika dia mengakuinya pasti penjara sudah penuh dengan para napi." Cerocos Maudi yang ingin semua orang berpihak kepadanya.
__ADS_1
"Jangan lupakan aku dan temanku bernama Biru juga ada di sana." Seru Laras.
Ayu menghela nafas dengan jengah, drama yang diperankan Maudi dan Laras tidak akan ada ujungnya jika terus melawan, memutuskan untuk diam sejenak karena tak ingin terbawa amarah dan emosi. "Aku ingin lihat, bagaimana mereka terus memfitnahku. Dua wanita ular yang mencoba untuk menyerang seekor musang," batinnya bagai air tenang yang menyimpan begitu banyak bahaya di sekitarnya.
"Kenapa kau diam, apa perkataan kami benar? Kau tidak bisa menyangkalnya." Tukas Laras tersenyum puas.
"Aku diam, bukan berarti salah. Aku cukup muak dengan kalian berdua, selalu menuduh dan menuduh."
"Bagaimana tanggapan anda mengenai insiden malam itu?" tanya reporter.
"Tidak ada untungnya aku membunuh wanita itu, malahan akulah yang menyelamatkannya." Jawab Ayu santai. Semua orang terkejut dengan pernyataan baru itu, bahkan Maudi juga merasakan hal yang sama.
"Itu bohong, karena aku melihatnya sendiri jika wanita itu mendorong Maudi, bukan menyelamatkannya. Dia hanya membual saja!" pekik Laras.
"Kenapa? Terkejut? Itu bagus."
"Tidak, yang sebenarnya terjadi bukan aku yang menyelamatkannya, aku hanya perantara saja." Ucap Gabriel yang menghampiri kerumunan untuk membantu kasus sang pujaan hati.
"Itu tidak mungkin," ujar Maudi.
"Aku mengatakan yang sebenarnya." Ucap Gabriel, berhasil mendapatkan informasi terbaru dari pihak tersangka.
"Mataku tidak mungkin salah!" keukeuh Laras.
"Karena telinga mu tidak mendengar dengan jelas," ejek Gabriel.
"Apakah anda mempunyai sebuah bukti membenarkan perkataan itu?" tanya salah satu reporter dengan situasi yang memanas.
__ADS_1
"Tentu saja." Gabriel mengeluarkan ponselnya, mengeluarkan ponselnya, memutarkan video menunjukkan Ayu membuat CPR.
"Astaga…kenapa pria ini datang hanya untuk mengacaukan rencana," batin Maudi yang tidak menyukai kedatangan sang aktor terkenal untuk membela musuhnya.
Adanya bukti CPR membuat beberapa masyarakat yang menonton acara itu secara langsung memberikan opini mengenai insiden pembunuhan percobaan pembunuhan. Sementara Laras dan Maudi pelongo seakan tak percaya.
"Itu semua bohong, video itu hanya editan." Bantah Laras.
"Aku tidak butuh pendapatmu, masyarakat dan semua orang yang ada di sini bisa membedakannya, jika video ini real dan nyata." Sarkas Gabriel yang menatap Laras dengan tajam.
"Apa yang tidak bisa di zaman ini, teknologi sudah semakin canggih dan semua orang bisa memanfaatkannya dengan mudah." Sela Maudi.
"Hentikan ini!" ucap Ayu dengan lantang, sudah muak dengan ucapan dari dua ular berbisa. "Kalian cukup menguji kesabaranku, sudah cukup membuat opini dengan menodai namaku. Aku punya bukti mengenai insiden itu, akan aku perlihatkan." Dia mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan layar ponsel ke kamera mengenai rekaman Cctv di tempat kejadian. Terlihat jelas siapa yang bersalah dan siapa yang benar.
"I-itu tidak mungkin, bukankah Cctv itu sudah rusak?" batin Maudi yang menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokan.
Semua orang bisa melihat video secara langsung, dimana Maudi lah yang ingin mencelakainya waktu itu, tapi dia malah tertuduh sebagai tersangka yang sebenarnya adalah korban. Semua orang mulai berpikir dengan tindak kejahatan Maudi yang ingin menjebak Ayu dengan menghina penuh caci maki, mengutuk Maudi karena kelicikannya.
"Sungguh, wanita seperti Maudi tidak layak untuk hidup. Memfitnah gadis yang tidak bersalah dengan melimpahkan semua kesalahan kepada orang lain." Pendapat salah satu masyarakat yang memberikan komentar sembari menonton berita terkini di televisi.
"Aku bersyukur, jika gadis seperti Ayu mempunyai otak yang cerdas dalam mempertahankan harga diri serta namanya." Sahut orang di sebelahnya, mereka hanya dalam berita yang menemukan ujungnya.
"Kau benar, aku sangat menyesal menyumpahinya karena termakan perkataan wanita di sebelah Maudi."
"Semoga wanita itu mendapatkan karmanya!"
Semua rencana yang sangat mulus dapat dipatahkan oleh musuh, membuat hati Maudi menyimpan emosi yang sebentar lagi meledak. "Kau telah mempermalukanku, aku akan membalasmu, lihat saja nanti!" batin Maudi melirik Ayu tersenyum smirk.
__ADS_1