
Farhan tak menggubris perkataan dari Kira, jangankan mulut, bahkan perutnya pun tak ingin diisi. Tatapan lurus ke depan dengan kesedihan yang tidak dapat diungkapkan, berharap jika Ayu dijauhkan dari segala marabahaya dan kembali dengan selamat tanpa kekurangan. Dia menolak makanan yang disuapi oleh Kira, menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, aku tidak lapar."
"Ayolah Farhan, hanya satu suapan saja." Keukeuh Kira yang kembali berusaha memaksa pria di hadapannya.
"Jangan memaksaku! Bagaimana aku bisa makan sementara Ayu masih tidak bisa ditemukan, aku sangat mencemaskan nya, apakah dia sudah makan atau belum."
"Jangan memaksakan ku!" tegas Farhan yang menatap wanita di hadapannya dengan sorot mata elang miliknya.
"Sedikit saja, buka mulutmu!" titah Kira yang memperagakannya untuk membuka mulutnya dengan lebar.
"Aku tidak ingin makan, kenapa kau memaksaku? Jika lapar, aku bisa makan sendiri dan tidak perlu menyuapiku seperti seorang anak kecil." Bentak Farhan yang membuang sendok di tangan Kira.
Kira sedikit terkejut melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Farhan, tidak ingin membuat pria itu marah dan hanya pasrah dengan keinginan yang tidak terpenuhi. Menundukkan kepala dan mengeluarkan beberapa tetes cairan bening yang menjadi jurus andalannya, dan berpura-pura menjadi wanita yang selalu tertindas. "Maafkan aku yang tidak bermaksud untuk membuatmu marah, sungguh aku sangat mencemaskan Ayu dan juga dirimu. Bagaimana kau akan tetap bertenaga jika perutmu tidak diisi sedari tadi." Berakting dengan sangat baik merupakan suatu keahlian yang dimilikinya, bisa membuat orang lain tertipu dengan wajahnya yang lugu.
Farhan mengusap wajahnya dengan kasar, dia sangat membenci air mata. "Aku tidak bermaksud untuk membentakmu, kau jangan tersinggung. Tapi, aku tidak suka jika ada yang ingin memaksakan kehendaknya kepadaku."
"Maafkan aku yang terlalu mengkhawatirkanmu."
"Hem." Farhan hanya membalasnya dengan berdehem saja, tak ingin jika waktunya terbuang dengan sia-sia. "sebelum aku menemukan Ayu, aku tidak akan menyentuh makanan. Entah bagaimana nasibnya sekarang, semoga saja dia tidak berada ditempat gelap atau phobianya bisa kembali menghantuinya." Gumamnya yang segera beranjak dari tempat itu.
Tenaga yang mulai pulih karena beristirahat sejenak dan kembali melanjutkan pencarian, mendekati para tim dan juga penduduk desa agar mereka segera bertindak dalam menemukan mantan calon tunangannya.
"Farhan, tunggu aku ingin ikut!" pekik Kira bergegas untuk mengikuti dan menyamakan langkah dari pria yang pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Astaga…dia tidak akan membiarkan Farhan hidup dengan tenang, selalu saja menjadi penghalang di antara mereka. Dasar ulat bulu!" gumam sang manager yang sangat geram dengan keberadaan Kira.
Farhan mendelik kesal karena wanita itu masih saja mengikutinya bagaikan permen karet dan sangat mengganggunya, namun dia tidak menghiraukan hal itu, semua pikirannya menuju kepada sang asisten yang belum ditemukan.
"apa kau yakin jika Ayu akan ditemukan? bahkan pencarian ini memakan waktu berjam-jam lamanya tapi tidak ada tanda-tanda dari keberadaan wanita itu."
"Berhentilah bertanya atau kau pergilah dari sini!" keluh Farhan yang sangat terusik.
"Ya, tapi aku hanya berpendapat saja, cobalah berpikiran secara logika."
Farhan tak menggubris perkataan dari wanita di sebelahnya yang selalu menggandeng tangan, bagaikan monyet membuatnya cukup jengah. "Apakah kau terus menggandeng tanganku sepanjang hari?"
"Apa dayaku? Apa kau ingin aku terpeleset dan masuk ke jurang itu?"
"Apa kau iri dengan kedekatan kami?" tuding Kira.
"Pikiran itu tidak pernah hadir."
"Bisakah kalian diam? Ayu belum ditemukan tetapi kalian masih saja berdebat, jika terus seperti ini sebaiknya kalian pergilah ke tenda." Farhan menatap dua wanita yang berada di sampingnya dengan kesal, dan kembali fokus untuk mencari keberadaan dari sekretaris yang hilang. Hal itu berhasil menengahi pertengkaran dua wanita yang sangat memusingkan.
Pencarian yang membutuhkan waktu berjam-jam, bahkan matahari mulai tenggelam, semua tim dan juga penduduk desa hanya pasrah karena tidak bisa menemukan keberadaan Ayu. Salah satu polisi menghampiri Farhan untuk melaporkan mengenai hari ini. "Ini sudah senja, dan kita belum juga menemukan di mana Nona Ayu berada."
"Apa kau selalu melapor dengan laporan yang membuat suasana hatiku buruk, hah? Ini masih senja dan belum malam."
Polisi itu menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan, menghadapi sikap pria tampan dengan setelan jas yang sungguh menguras emosi. "Baiklah, kita akan mencarinya lagi sesuai dengan keinginanmu, Tuan."
__ADS_1
Pikiran kusut, rambut yang acak-acakan, serta pakaian yang sedikit kotor karena tanah, tak membuat Farhan mundur. Dia bahkan juga tidak menghiraukan perutnya yang selalu berbunyi berdemo untuk diisi.
Setelah mencari sepanjang malam, dia tidak dapat menemukan Ayu hingga fajar. Hal itu membuat para tim pencarian dan penyelamatan merasa pencarian selanjutnya tidak akan berhasil, mereka sudah berputus asa, memilih untuk menghentikan pencarian. "Tidak ada tanda-tanda yang kami temukan, dan memutuskan untuk menghentikan pencarian ini. Kemungkinan nona Ayu tidak selamat atau bisa saja tertimbun oleh tanah longsor dan beberapa orang juga mencari ke pelosok hutan. Namun apapun itu semoga Tuhan melindungi dan nasib baik menyertainya."
Farhan mengepal kedua tangannya dengan erat, tak terima semua orang telah berputus asa dalam pencarian. Dia sedikit patah hati, namun dia niat dan tekad nya masih saja membara dan bersikeras untuk mencari hingga bertemu. "Kalian tidak ingin mencarinya itu terserah. Tapi, aku akan mencarinya!"
"Pak, kami menemukan sesuatu di sini." Teriak salah satu anggota polisi yang menemukan sebuah syal yang diikat di pohon. Sontak semua orang mengalihkan perhatian ke asal suara dan bergegas menghampirinya.
"Apa yang kau temukan, katakan padaku!" desak Farhan yang sangat antusias, seakan mendapatkan sebuah harapan untuk menemukan sekretarisnya.
"Kami menemukan syal, apa ini milik nona Ayu?"
"Ya, itu milik Ayu." Jawab sang manajer seraya memeriksa syal itu, dia mengenali syal yang dikenakan oleh atasannya terakhir kali bertemu.
"Apa kau yakin?"
"Aku sangat yakin Tuan, terakhir kali dia mengenakan syal ini." jawab sang manajer dengan kedua mata yang berbinar cerah hampir saja cairan bening itu menetes.
Semua orang tersenyum menemukan sesuatu di saat mereka ingin berputus asa dalam pencarian, masih ada sedikit harapan di hati Farhan dan segera menginstruksi polisi dan tim lainnya untuk melakukan pencarian.
"Bahkan sedari tadi kita mencarinya, hanya ditemukan syal saja. Apa itu bisa dijadikan bukti, tidak ada siapapun di sini." celetuk kira yang membuat semua orang menatapnya.
"Apa kau bisa diam? Jika tidak ingin ikut pencarian, tutup saja mulutmu agar tidak mematahkan semangat orang lain."
__ADS_1