
Ayu sangat ketakutan dengan pesawat yang semakin tak bisa dikendalikan oleh sang pilot, kepanikan yang dirasakan olehnya membuat otaknya semakin kosong. "Farhan, apa kita akan selamat?" tanya nya sekali lagi untuk meyakinkan diri dan hatinya.
"Tentu saja, kita tidak akan mati semudah itu. Bahkan kita belum menikah dan merasakan malam pertama," sahut Farhan yang berusaha untuk mengurangi ketakutan dari wanita di dekapannya. "Sekarang kau tenanglah, kita semua akan selamat. Kau tunggulah di sini! Aku akan ke ruangan kokpit," Farhan melepaskan pelukannya dengan perlahan, dengan cepat Ayu menggelengkan kepala.
"Tidak, jangan tinggalkan aku sendiri. A-aku sangat ketakutan!"
Raut wajah yang sangat ketakutan terpancar dengan sangat jelas, rasa simpati kembali membuat Farhan memikir ulang. "Aku tidak akan meninggalkanmu, sebaiknya kau ikut denganku."
"Baiklah, itu jauh lebih baik."
Farhan memapah tubuh calon tunangannya yang seakan sangat berat untuk berdiri juga melangkah. Mereka bergegas ke ruang kokpit dan melihat keadaannya. Wajah Ayu semakin pucat, pesawat yang kehilangan kontrol membuat keduanya sering terjatuh. Wajah yang diselimuti oleh rasa ketakutan, dan bibir terlihat bergetar.
"Jangan khawatir, aku di sini dan akan menjagamu dengan sangat baik." Farhan tidak menunjukkan rasa takut yang juga memalut hatinya.
Sesampainya di depan ruang kokpit, Farhan membuka pintu dengan kasar. "Bagaimana?" keningnya berkerut, menatap dua orang yang tengah berusaha untuk mengendalikan pesawat.
"Maaf, Tuan. Saya sudah berusaha sebisanya, tapi pesawat tetap tidak bisa dikendalikan," jawab sang pilot tanpa menoleh, mengendalikan pesawat semampunya.
Farhan dan Ayu sangat terkejut, mereka tak menyangka jika hal ini akan terjadi kepada mereka. Rasa cinta keduanya mulai tubuh, namun keadaan selalu saja memberikan mereka ujian yang sangat sulit. Dia terdiam beberapa saat, menguatkan wanita di sebelahnya yang sangat ketakutan. "Apa tidak ada jalan lagi?"
"Pesawat benar-benar kehilangan kendali, saya tidak bisa mengontrolnya. Ada beberapa kerusakan di bagian penting pesawat, hal itu bisa berakibat pesawat akan jatuh." Jelas sang pilot.
Semua orang sangat panik juga ketakutan, melantunkan doa agar semuanya selamat. Farhan memikirkan keadaan pesawat yang rusak di bagian penting. "Bukankah sebelum berangkat, kalian sudah memeriksanya?"
"Benar, Tuan. Pesawat sudah di cek dengan baik." Sahut Co-pilot.
Ayu tak bisa menahan tangisannya yang pecah, bulir air mata yang menetes di kedua pipinya semakin sembab. "Farhan, a-aku sangat takut." Lirihnya, tubuh yang bergetar hebat dapat dirasakan oleh pria di sebelah yang membekap tubuhnya.
Farhan membelai rambut wanita di sampingnya, memeluk dan mengecup kening dengan sangat lembut. Mencari peluang agar tetap hidup dan mewujudkan perkataannya untuk melindungi sang pujaan hati. "Kita akan terjun payung!"
Sontak Ayu terkejut dan hampir tak percaya, karena dia mempunyai phobia akan ketinggian. Hal itu tidak akan bisa membuat melakukan sesuai usulan dari pria tampan di sebelahnya. "Apa kau ini gila? A-aku tidak bisa melakukannya!" sentaknya yang meninggikan suara, dan mendorong tubuh Farhan sedikit menjauh.
"Kita tak punya pilihan lain, kau harus terjun payung bersama ku!" tegas Farhan yang hanya memikirkan jalan itu.
__ADS_1
"Tidak…tidak, aku tidak ingin melompat dari ketinggian. Tidak akan dan tidak akan pernah aku lakukan!" bentak Ayu menolak keras ide satu-satunya.
"Apa yang di katakan oleh tuan Farhan memang benar, sebentar lagi pesawat akan jatuh. Kalian melompatlah lebih dulu!" sela pilot yang juga tak mempunyai jalan lainnya.
Ayu diam membisu, menatap mata Farhan dengan ketakutan luar biasa. "Pikirkan cara yang lain!" ucapnya disertai tangisan yang mengalir di wajahnya.
Farhan menatap Ayu dengan sendu, kembali memeluk erat tubuh mungil itu. "Aku tahu kau takut ketinggian, hanya saja kita tak punya pilihan lain lagi. Kita semua harus selamat, aku akan berusaha sekeras dan sebisanya untuk melindungimu. Apa kau mempercayaiku?"
"Tapi, aku sangat takut ketinggian."
"Kita akan melompat bersama, tidak akan aku biarkan kau sendirian." Tutur Farhan lembut, tatapan teduh penuh cinta.
"Apa kita akan selamat?"
"Itu pasti, kita tidak akan mati seperti ini. Jangan bicara tentang kematian lagi, kau percaya padaku 'bukan? Mari kita terjun payung!"
"Baiklah, aku setuju."
"Bagus." Farhan tersenyum dan berhasil membujuk sang calon tunangannya. Menatap dua pramugari yang tak berada jauh dari mereka. "Siapkan dua parasut!" titahnya dengan tegas.
Tak butuh waktu yang lama, mereka telah memakai properti terjun payung dan bersiap untuk melompat. "Kita berada di ketinggian berapa?" tanya Farhan.
"Dua puluh tujuh ribu kaki, Tuan." Sahut Co-pilot yang masih fokus membantu pilot mengendalikan pesawat.
"Apa? Aku tidak yakin dengan ketinggiannya," celetuk Ayu yang menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokan.
"Itu hanya sekitar delapan ribu dua ratus meter saja, kau tidak perlu cemas." Jawab Farhan dengan enteng, dia tidak ingin jika Ayu merubah pikirannya.
"Jika kita melompat, bagaimana dengan mereka?" tunjuk Ayu yang menunjuk para awak kabin yang bekerja di dalam pesawat.
"Kalian duluan saja, kami akan menyusul, Memastikan tuan dan nona lebih dulu."
"Tapi__."
__ADS_1
"Jangan khawatir, mereka akan segera menyusul kita."
"Kami akan segera menyusul tuan dan nona, jadi tidak perlu mencemaskan kami." seloroh sang Pilot.
"Ya, semoga kita semua selamat." Pasrah Ayu yang tidak punya pilihan lain.
"Atur ketinggiannya untuk terjun payung, kami akan segera melompat. Segeralah kalian menyusul kami!"
"Itu pasti, Tuan."
"Hem." Sesuai perkataan Farhan yang ingin melindungi Ayu, dengan tenang dia mengikatkan tali pada dirinya dan juga wanita itu dengan posisi yang saling berhadapan. "Apa kau sudah siap?"
"Aku siap."
"Jangan pikirkan apapun yang bisa membuat kita dalam bahaya, jika kau merasa takut? Kau tinggal memelukku dengan erat."
Ayu sebenarnya tidak terlalu yakin mengenai ucapannya sendiri, namun keteguhan dari pria yang ingin melindunginya kembali menyusun tekad menjadi kuat.
"Tutup saja matamu!" ucap Farhan yang mengecup kening wanita itu.
Dua pramugari membuka pintu pesawat dan memberikan ruang untuk sang atasan melakukan terjun payung, Farhan menarik nafas dalam dan melompat dari pesawat. Ayu mengeratkan pelukan, memejamkan mata karena tak sanggup melihat ke bawah.
Beberapa saat kemudian, Farhan mulai membuka parasut hingga keduanya mendarat dari ketinggian. "Sekarang kau bisa membuka mata," ucapnya yang langsung dilakukan Ayu. Dia membuka mata secara perlahan, dan menatap wajah tampan yang fokus mengendalikan parasut.
"Farhan sangat baik padaku, dia selalu ada di saat aku butuh pertolongan. Apa aku harus menerimanya tanpa berpikir lagi? Perjuangan dan juga bukti yang ada membuatku juga mempercayai dirinya," batin Ayu.
"Apa aku terlihat tampan?" ucap Farhan yang menyadarinya.
"Hem, kau sangat tampan."
Farhan tersenyum dan menatap dua manik mata indah di depannya. "Ayu, jujur saja aku tak menyukai perjodohan yang dilakukan oleh kedua kakek kita. Hanya saja pandanganku berubah padamu, entah mulai kapan aku mencintaimu. Mencintai segalanya yang ada pada dirimu, bukan sebagai pengganti. Aku mencintaimu…sangat mencintaimu! Aku sudah mengungkapkan perasaan ku, bagaimana denganmu? Aku ingin mendengarnya sekarang." Ungkapnya di atas ketinggian.
Ayu tersenyum dan segera memberikan jawabannya, Farhan menunggu jawaban yang keluar dari mulut wanita cantik itu.
__ADS_1