Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 198 ~ Informasi Kira


__ADS_3

Ayu sangat terkejut mendengar kata Sky Grup, dimana dia mengetahui siapa pemilik dari perusahaan itu yang tak lain adalah seorang gangster. "Apa kalian juga tahu, jika pemilik perusahaan yang disebutkan oleh asisten Heri pemilik dari seorang gangster yang cukup berbahaya."


"Apa kau yakin? Gangster?" uang Farhan yang mengerutkan keningnya.


"Aku tidak terlalu yakin, hanya saja aku pernah mendengar, konon katanya bos perusahaan itu awalnya seorang gangster." Jelas Ayu yang cengengesan, karena dia juga tidak terlalu yakin.


"Sepertinya kita dalam bahaya, apa itu artinya ada kerjasama yang terjadi?" sela asisten Heri yang menatap dua orang di hadapannya secara bergantian.


"Ini sedikit mencurigakan, ada teka-teki di sana yang belum bisa di temukan." Tutur Farhan tampak berpikir mengenai apa yang harus mereka lakukan. "Penanggung jawab lampu juga mengalami insiden di sana setelah berusaha kabur, apa mereka ada sangkut pautnya dengan perusahan itu? Apa kau mempunyai musuh?" dia menatap Ayu seakan mengintimidasi, membuat sang empunya jengah.


Ayu menghela nafas panjang, berusaha agar emosinya stabil menghadapi bos yang kurang pintar menurutnya. "Aku mempunyai musuh saat menjadi calon tunanganmu!" ketusnya yang cemberut.


"Aku tidak melihatnya."


"Bagaimana seorang yang buta bisa melihat? Ya, seperti itulah gambaranmu."


"Ck, kau membuat aku kesal saja." Sahut Farhan jengkel.


"Kau bertanya dan aku menjawab, ini sangat sederhana. Tapi kau, membuatnya menjadi lebih sulit."


Asisten Heri menelan saliva, dia tidak bisa mendengarkan dua orang yang mulai membicarakan hal pribadi. "Maaf Tuan dan Nona, kita sedang membicarakan perusahaan Sky Grup dan juga penanggung jawab lampu." Tukasnya yang ingin memisahkan.


"Baiklah, lanjutkan." Ucap Farhan yang mengalah.


"Tidak ada informasi lagi, Tuan. Aku hanya menemukan itu saja, dan akan mencari lebih banyak sumber berita."


"Hem." Farhan mengeluarkan sebuah berkas di dalam laci meja dan menyerahkannya kepada Ayu. 


"Apa ini?" Ayu menyipitkan kedua matanya menatap pria tampan di sebelahnya, namun tidak membaca berkas.


"Itu adalah proyek baru dan akan menjadi tugasmu berikutnya, jangan kecewakan."


"Proyek mengenai apa?"


"Rencananya aku akan membangun taman bermain di area baru, dan tanah tersebut akan di tender di dua hari kemudian." Jelas Farhan yang bersemangat saat memikirkan hal mengenai pekerjaannya.


"Baiklah, akan aku usahakan dalam pengerjaan berkas ini. Jangan mengkhawatirkan dan meragukan pekerjaanku," sahut Ayu yang tersenyum.

__ADS_1


"Itu bagus, aku mempercayaimu melakukan proyek ini."


Asisten Heri masih terdiam, menatap interaksi dari dua orang yang berbeda jenis kelamin. Dia tersenyum melihat kedekatan atasan dan sekretaris. "Jika mereka akur, aku sangat menyukai mereka. Mengapa harus ada duri di jalan mereka? Sangat mengganggu." Gumamnya di dalam hati sambil merutuki Kira.


Diskusi mereka terganggu saat mendengar suara ketukan pintu, asisten Heri segera melangkahkan kaki dan berinisiatif untuk membukakan pintu sambil tersenyum. Namun senyum itu perlahan memudar, saat melihat seorang wanita yang begitu bersemangat dan tak lupa senyum khasnya. Kira datang membawa secangkir kopi di atas nampan, ingin menemui Farhan dan mendapatkan perhatian darinya.


"Hem, baru saja aku menyumpah serapah tapi orangnya sudah berada disini. Senyumannya sangat aneh, terlihat ada yang direncanakannya." Batin asisten Heri yang menatap wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Apa aku boleh masuk?" celetuk Kira gang bersemangat juga antusias, terus mengembangkan senyum manis agar mendapat dukungan orang lain.


Asisten Heri terpaksa tersenyum, karena dia mengetahui satu hal. Jika Kira datang hanya sebagai pengganggu keharmonisan tuannya dan juga sang sekretaris. "Tentu saja, apa yang kau bawa?" tanya dengan penyelidik.


"Secangkir kopi untuk tuan Farhan, biarkan aku masuk?" ucap Kira yang masih saja tersenyum, tapi di hatinya malah berkata lain. "Sial, pria ini selalu saja mengintimidasi ku seperti seorang polisi."


"Jika aku punya kesempatan di kelahiranku sebagai perempuan, aku akan mencari wanita ini dan menghajarnya." Batin asisten Heri, tapi dia malah memperlihatkan wajah tersenyum.


"Apa aku boleh masuk?" 


"Ya, tentu saja. Siapa yang menghalangimu untuk masuk," seru asisten Heri membuka pintu dengan lebar.


"Terima kasih." Kira masuk ke dalam ruangan dan melihat dua orang tengah mendiskusikan pekerjaan. "Sepertinya ini sangat serius, apa aku mengganggu?" ucapnya yang menjadi pusat perhatian.


"Memangnya kenapa? Aku kesini ingin mengantarkan secangkir kopi untuk Farhan."


"Tapi aku tidak meminta kopi," sahut Farhan dengan cepat.


Ayu mengerti maksud wanita itu yang memperhatikan Farhan. "Secangkir saja?" 


"Maaf, aku tidak tahu jika kau dan asisten Heri juga berada disini. Aku hanya membawakannya untuk Farhan saja, tapi lain kali aku akan membuatnya untuk kalian juga." Kira meletakkan kopi di atas meja milik Ceo mereka dan tak lupa senyuman manis yang tak memudar.


"Aku tidak meminta kopi, bawa saja!" ucap Farhan.


"Jangan katakan begitu, kopi ini sangat membantumu yang selalu bekerja lembur. Minum saja, kau akan merasa jauh lebih baik," tutur Kira yang menyirat.


"Hem, baiklah. Terima kasih!" Farhan menyeruput kopi membuat Kira sangat senang. 


Lain halnya dengan Ayu yang tak ingin berlama-lama di sana.

__ADS_1


"Aku akan menyelesaikan pekerjaan ku, aku pergi dulu." Pamitnya yang beranjak dari tempat itu.


"Aku juga harus pergi!" imbuh asisten Heri yang juga meninggalkan ruangan itu, tidak tahan dengan akting yang dimainkan Kira.


Sesampainya di meja kerja miliknya, terdengar suara dering ponsel dan segera mengangkatnya. Kedua mata berbinar saat tahu siapa yang menghubunginya, tak lain sang hacker kepercayaan.


"Halo nona."


"Akhirnya kau meneleponku juga."


"Sedikit sulit mencari informasi Kira, itu sebabnya aku baru menghubungimu."


"Ya, katakan. Aku sudah lama menunggu hal ini."


"Kira pernah di culik di usianya empat tahun dan tinggal di Australia selama lebih sepuluh tahun."


"Di Australia selama sepuluh tahun?"


"Ya, benar. Aku juga mendapatkan informasi, jika Kira setengah tahun yang lalu tiba-tiba mengetahui dan mengenali orang tuanya dan mulai bekerja di Bar."


"Apa itu informasi yang benar?"


"Apa kau sekarang mulai meragukan aku?"


"Tidak, terima kasih telah memberikan aku informasi ini. Lanjutkan penyelidikan mu!"


"Baiklah, jangan lupa transferan nya."


"Pasti, kau tenang saja. Aku ingin kau juga memeriksa situasi Kira di Australia dan perusahaan Sky Grup, karena aku sangat curiga jika mereka saling terikat.


"Baiklah, aku akan bekerja untukmu. Serahkan semuanya padaku."


"Aku tutup teleponnya."


"Hem."


Ayu mematikan sambungan telepon dan tampak berpikir mengenai identitas Kira, dan apakah wanita itu ada kaitannya dengan perusahaan Sky Grup. "Ini sangat mencurigakan, tiba-tiba mengenali orang tuanya di Bar dan dia juga bekerja di sana. Aku harus menyelidiki siapa dia sebenarnya, dan apa tujuannya." Gumamnya yang penuh dengan tekad saat mendapat secercah harapan, dan tersenyum tipis.

__ADS_1


 


__ADS_2