
Ayu sangat kesal dengan tingkah sang suami, padahal dia ingin berkeliling ke destinasi wisata yang terkenal di negara Swiss. Farhan tidak membiarkan mereka untuk keluar dari bungalow, dan lebih menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam kamar.
"Ayolah Farhan, kita sudah sampai di Swiss. Jika hanya di kamar saya, lalu untuk apa kita jauh ke negara orang?" protes Ayu yang baru saja menyelesaikan ritual mandi dan juga keramas.
"Memangnya kenapa? Bukankah bulan madu yang terbaik di dalam kamar?" sahut Farhan dengan wajah tanpa dosa, membuka selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Aku bosan disini, sebentar lagi akan musim salju. Kita menikmati makan romantis atau apapun itu, jangan menyiksaku di dalam kamar saja." Sarkas Ayu yang mengerucutkan bibirnya.
"Apa kau tahu, apa yang direncanakan oleh kedua kakek kita?" Farhan segera menutupi tubuh polosnya menggunakan handuk kimono berwarna putih, memeluk istrinya dan mencium aroma tubuh yang selalu membuatnya kecanduan.
"Apa?" sekilas Ayu tampak tertarik dengan pembahasan kali ini, dan menoleh.
"Untuk menginginkan cucu kembar," bisik Farhan yang tertawa, segera berlari dan menghindari Ayu yang mengejarnya dengan bantal kecil di sofa.
"Dasar mesum, apa otakmu selalu saja di bawah pusar?" hidung Ayu kembang kempis saat sang suami kembali mesum, dia tahu ujung dari pembahasan yang membuatnya harus tegas.
"Apa aku salah? Mesum dengan istriku sendiri? Sekali saja, dan setelah itu kita akan berkeliling. Jika perlu, kita bisa menyapa tetangga yang menginap di bungalow sebelah. Bagaimana? Bukankah itu tawaran yang menarik?"
"Astaga…apa kau tidak merasa lelah?" Ayu menautkan kedua alisnya, dia penasaran mengapa Farhan selalu saja membahas masalah sensitif baginya.
"Ayolah, sekali saja." Bujuk Farhan yang mendekat, memeluk pinggang ramping sang istri dan ingin menciumnya. Namun, terdengar suara motor yang sengaja mengganggu keharmonisan mereka. "Sial, siapa yang menggangguku." Umpat nya kesal seraya membuka tirai jendela, terlihat seorang pria yang terus saja menghidupkan suara motornya.
Farhan tak tahan, dan segera keluar dari kamarnya, ingin menyusul pria yang membuat kebisingan di pagi hari. Sedangkan Ayu menyusul suaminya, dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Hei, kau! Apa suara motormu bisa dimatikan!" teriak Farhan yang menghampiri pria itu.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu," tutur pria bermata biru yang menggerakkan tangannya.
Farhan memberi bahasa isyarat agar pria itu mematikan mesin motor.
"Apa?"
"Kenapa kau membuat kebisingan, hah?" protes Farhan.
Pria itu celingukan mencari sesuatu yang tidak dipahami oleh Farhan, tak sengaja menatap Ayu dan tersenyum, tak lupa melambaikan tangan membuat seseorang terbakar api cemburu.
"Sepertinya tanganmu itu sedikit bengkok, apa kau butuh jasa meluruskannya?" Kesal Farhan.
"Apa disini ada papan larangan? Sepertinya aku tidak melihat apapun disini, hanya ada wanita cantik dan juga dirimu." Jawab pria berkata biru.
__ADS_1
Farhan begitu khawatir dengan istrinya yang hanya menggunakan handuk, bagaimana tidak? Wanita itu melihat raut wajah merah padam sang suami yang membuatnya lupa.
"Astaga…aku lupa," gumamnya yang berlari masuk ke bungalow keluarga Hendrawan.
"Apa dia istrimu atau kekasihmu?"
"Istriku, berhentilah membuat kebisingan."
"Oh, aku mengerti dengan ini." Ujar pria bermata biru.
"Bagus, jika kau mengerti." Farhan kembali masuk ke dalam kediamannya dan menutup pintu sedikit kasar.
"Dasar pria aneh," gumam pria bermata biru. "Sayang, aku tidak ingin menunggu mu lebih lama lagi. Cepatlah!" pekik Jhon.
"Tunggu sebentar lagi, Sayang."
"Hah, dasar wanita." Keluh Jhon yang menghela nafas.
"Mengapa kau begitu ceroboh? Keluar menggunakan handuk." Ucap Farhan yang tak rela di lihat pria lain.
"Maaf, aku pikir kau akan membuat masalah."
"Benarkah?" spontan kedua manik mata indah milik Ayu berbinar, tersenyum cerah saat dirinya terbebas dari kurungan.
"Hem, kita akan menghabiskan waktu. Sebagai bayarannya, aku ingin meminta jatah di malam hari."
"Kau licik," kesal Ayu. "Mandilah dan bersihkan tubuhmu itu!"
Farhan menganggukkan kepala dan terkekeh, menyukai raut wajah istrinya yang terlihat sangat mempesona.
****
Mereka pergi mengunjungi tempat romantis yang paling banyak di incar oleh para turis dari mancanegara, memilih liburan sesuai kesepakatan dan permintaan Ayu.
Ayu menikmati kota dengan panorama yang begitu indah dipandang mata, menikmati liburan dengan sangat romantis menghabiskan waktu bersama.
"Wah, ternyata kita bertemu disini."
Suara itu terdengar tidaklah asing di telinga, hingga keduanya segera menoleh dan melihat pria bermata biru yang menjadi tetangganya. Farhan menghela nafas saat Jhon yang datang bersama dengan istrinya menghampiri mereka. "Kau?"
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Ini tempat umum, dan sah-sah saja kami disini."
"Siapa mereka?" ucap wanita yang melirik suaminya.
"Mereka tetangga baru yang menginap di bungalow sebelah kita, Sayang."
"Wow, benarkah? Perkenalkan, namaku Dee." Wanita itu mengulurkan tangannya dengan sangat antusias dan bersemangat.
"Ayu, dan ini suamiku, Farhan." Sambutnya yang menerima uluran tangan.
"Jadi, pria galak ini suamimu?" bisik Jhon yang menahan tawa.
"Iya, begitulah."
"Ini suamiku, Jhon. Sepertinya kalian pasangan pengantin baru, bagaimana jika kita makan malam bersama di rumah kalian?" ucap Dee yang tersenyum.
"Tidak, kami sibuk." Ungkap Farhan yang segera menarik tangan istrinya agar menjauh dari pasangan yang menurutnya sangatlah aneh.
"Sepertinya pria itu tidak menyukai keberadaan kita, Sayang." Ucap Dee yang cemberut.
"Kau tidak cantik jika cemberut, tersenyumlah. Lupakan pria itu, mungkin dia dilahirkan menjadi pria galak. Tapi aku punya firasat mengenai pasangan baru itu." Sahut Jhon yang mencolek dagu istrinya.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah, sepertinya tuhan menakdirkan kita bertemu dengannya. Feelingku tidak pernah salah, suatu hari nanti kita akan terikat dengannya."
"Hah, kau membuatku pusing saja."
Sementara disisi lain, Farhan menghentikan langkah kakinya dengan mendadak, membuat Ayu terbentur di punggungnya.
"Kau ini kenapa?"
"Aku sangat kesal dengan pria itu, sebaiknya kita pindah ke hotel saja dan tidak bertemu lagi dengannya." Tukas Farhan yang jengkel dengan pria bernama Jhon. Terlepas dari gangguan Leon dan asistennya, sekarang malah terjebak dengan sepasang suami istri yang terlihat aneh.
"Kau membuat momen ini kacau, sangat menyebalkan." Ayu segera berlalu pergi meninggalkan suaminya yang sedikit keterlaluan.
Farhan dan Ayu kembali ke bungalow dan memesan tiket hotel berbintang, hingga keduanya berdebat dan berakhir dalam permainan di atas ranjang. Mereka menikmati malam dengan alunan suara yang keluar terdengar begitu merdu, menikmati setiap ritme.
Permainan yang mencapai puncak, keduanya terbaring bersebelahan karena kelelahan. "Aku mencintaimu, Ayu. Kau cinta pertama dan juga terakhirku," ungkap Farhan yang mencium bibir ranum istrinya dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu, Farhan." Mereka tersenyum bahagia dan saling berciuman.