
Farhan sangat marah dan berusaha untuk mengontrolnya, apalagi mendengar nama sang rival yang memanaskan telinganya. Satu nama dengan menyebabkan dirinya tak bisa dikendalikan oleh wanita itu, dia sangat kesal jika ada nama Gabriel dijadikan sebagai alasan dalam ucapan. Melihat raut wajah wanita itu dengan dalam, usaha yang sudah dipersiapkan menjadi berantakan dan membuatnya tak bisa melupakan malam ini.
Ayu ingin pergi dari sana, tapi langkahnya di cegat oleh Farhan dan memojokkannya. Kedua tatapan yang saling berkontak, namun dengan pandangan masing-masing.
Farhan tersenyum tipis saat melihat Ayu yang sudah tidak bisa mundur akibat terhalang tembok, dia segera mengurung wanita malang itu menggunakan kedua tangan, melemparkan tatapan yang sulit diartikan. "Apa kau tahu makna dari nama Gabriel?" ucapnya yang masih menahan emosi hampir meluap.
Ayu menelan saliva dengan susah payah, mengingat jika dirinya berada dalam genggaman predator ganas di hadapannya. Perkataan dari pria itu membuatnya sedikit merinding, tahu jika Farhan tak suka bila dia memanggil nama pria lain. "Posisi ini tidaklah nyaman, bisakah kau mundur sedikit?" pintanya sembari mendorong tubuh Farhan menggunakan jari telunjuk, dan memperlihatkan ekspresi pongah.
Bukannya mundur, Farhan malah semakin dekat, tidak ada jarak diantara mereka, membuatnya semakin bergerilya. Senyuman penuh arti, melihat Ayu yang berusaha untuk keluar darinya. "Kau tidak akan bisa kabur, apa kau punya rencana cadangan?" tantang nya.
Ayu berusaha untuk melepaskan diri, tapi tak bisa karena kekuatan dari pria itu bertambah di saat sedang marah. Hanya pasrah dan mengarahkan pandangan ke arah lain, dia sangat jengkel dengan Farhan yang selalu saja menyalahkan dirinya.
"Tatap aku!" titah Farhan membuat Ayu berdecih kesal, menoleh dengan paksaan. Mendongakkan kepala saat menatap pria yang lebih tinggi darinya, bahkan tubuhnya terlihat mungil jika berhadapan dengan pria itu, hanya sebatas dada saja.
"Apa?" cetus Ayu yang memelas.
"Lihat aku dengan benar!" hardik Farhan dengan tatapan dingin.
"Apa kau ingin aku sakit leher? Tubuhmu itu sangatlah tinggi, dan aku? Hanya sebatas dadamu saja!" protes Ayu dongkol.
"Jangan salahkan aku, kau sendirilah yang pendek."
__ADS_1
"Apa kau bilang? Aku pendek? Maaf Tuan Farhan Hendrawan yang terhormat. Tinggiku normal sama seperti wanita pada umumnya, dan kau?"
Farhan tersenyum melihat Ayu yang kesal, kemarahannya sedikit berkurang. Dengan cepat dia mengangkat tubuh itu hingga wajah mereka sejajar. "Bagaimana? Sekarang kau tidak sakit leher lagi, ayo pandang aku sampai kau puas."
"Jangan tersinggung dengan ucapanku, lepaskan aku!"
Farhan hanya terdiam dengan suasana sunyi dan sepi, memanfaatkan keadaan di saat momen hening berubah dengan kenangan romantis dan juga manis. Memiringkan wajahnya sembari mencium bibir indah yang merah merekah, menikmati setiap permainan lidahnya yang begitu memabukkan lawan.
Awalnya Ayu ingin memberontak, tapi bukan Farhan namanya jika tak tahu cara mengatasi sang wanita pujaan menggunakan permainan yang sudah lihai. Tubuh yang masih diangkat membuatnya tidak kesakitan untuk menunduk dan melum*at bibir indah yang menantang dirinya yang ingin berkelana bebas.
Keduanya hanyut dalam ciuman yang penuh gairah, melepaskan emosi kerinduan satu sama lain di tengah begitu banyaknya konflik. Farhan meluapkan emosi lewat permainan lidah dan bibirnya, semakin memperdalam ciuman membuat Ayu kesulitan untuk bernafas.
Hingga di tengah suasana romantis menjadi terganggu akibat mendengar seseorang berdehem keras, mengalihkan perhatian keduanya. Terlihat seorang wanita dan juga pria yang sangat dikenalnya, siapa lagi jika bukan kakak beradik, Vanya dan Biru.
"Ada apa? Kenapa kalian kesini?" tanya Farhan yang datar juga dingin.
Biru menggaruk pelipisnya, tahu jika mereka datang diwaktu yang salah. Apa lagi adiknya dengan sengaja berdehem keras agar ciuman panas segera terhenti. Mengatur nafas dengan baik, ingin mengungkapkan maksud kedatangan mereka yang menghampiri Farhan.
"Kami datang ingin mendiskusikan bisnis dengan mu, hanya dirimu!" sela Vanya yang menekan dari katanya yang ingin mengusir sang rival.
"Kalian pasti tahu benar, aku tidak suka jika ada orang yang menggangguku!" cetus Farhan yang menatap dua orang yang menjadi ciuman panas terhenti.
__ADS_1
Kedua orang sebagai tersangka terdiam, mereka memahami karakter dari Farhan. Sementara Ayu tersenyum tipis, mengingat Farhan yang begitu mudah tertipu dengan sedikit intrik. "Bukan kau saja yang punya urusan bisnis, tetapi aku juga ingin mengatakan hal yang sama."
"Eh, kau juga? Bukankah kau bilang jika ingin keluar?"
"Itu tidak benar, aku juga punya urusan bisnis dengan mu."
Farhan menyetujui jika dia harus berurusan dengan Ayu, dibandingkan dengan temannya Biru dan juga Vanya. "Bicarakan urusan bisnis besok saja, malam ini aku ingin menyelesaikan urusanku dengannya." Dia sengaja mengusir dua kakak beradik itu, bingung dengan urusan bisnis apa yang dia miliki dengan sang sekretaris.
Vanya dan juga Biru jengkel, jika Farhan mengusir mereka bahkan tak mengajukan urusan bisnis yang akan mereka kembangkan, lebih tertarik kepada urusan bisnis yang diucapkan oleh Ayu. Entah benar atau tidak kebenarannya, tapi ucapan yang tidak bisa dibantah membuat kedua kakak beradik itu memutuskan untuk pergi, mengutuk Ayu sebagai penyebab mereka yang diusir.
Ayu akhirnya bisa tersenyum puas, namun dia lupa jika sepasang mata masih saja menatapnya penasaran. "Memangnya urusan bisnis apa yang ingin kau bahas?"
Ayu cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, rasa penasaran dari Farhan sebentar lagi akan terungkap. Mengingat dirinya hanya melakukan hal itu karena Vanya dan juga Biru, agar tidak mengganggu mereka dengan alasan urusan bisnis. "Maaf, sepertinya aku lupa," jawabnya yang tidak senang dengan keberadaan Vanya sehingga dia sengaja melakukannya. "Sepertinya aku harus pergi!" ucapnya yang segera melenggang, meninggalkan dia tampan itu seorang diri.
Farhan belum mengatakan apapun tetapi Ayu sudah berlari meninggalkannya, ada terselip rasa kesal dan juga marah yang telah mengerjainya.
Gabriel datang untuk menjemput Ayu, menyunggingkan senyuman karena penampilan Ayu yang sangat cantik. Hanya saja bingung dengan bibir bengkak itu dan mengabaikannya saja. "Kau sangat cantik hari ini," pujinya.
"Terima kasih." Balas Ayu yang ingin masuk ke dalam mobil.
Suasana itu dilihat oleh Vanya yang belum beranjak dari sana, kebetulan dia melihat kesempatan dari tingkah Ayu yang hanya mengerjainya untuk mengusirnya. "Dasar wanita licik. Ternyata dia hanya mengerjai ku saja, tidak lama lagi kau akan tamat." Gumamnya di dalam hati, menarik sudut bibir ke atas dengan rencana jahat yang sudah diperhitungkan.
__ADS_1
Vanya segera menelpon sahabatnya Jenni untuk mencarikannya reporter, dan sekaligus meminta sahabatnya untuk memberitahu Yuna mengenai permasalahan ini.