Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 190 ~ Memulai pengobatan


__ADS_3

Keringat di dahi menandakan jika Ayu benar-benar ketakutan, nafas yang tersengal-sengal seakan baru saja berlari dengan sangat kencang. Dia sangat takut jika mimpi itu terjadi, hanya bisa menghela nafas dan bersyukur jika itu hanya mimpi saja. "Aku tidak tahu, jika sampai itu terjadi? Hah, ini tidak bisa aku biarkan. Kira tidak akan pernah bisa merebut Farhan dariku, aku akan mempertahankan cintaku." Gumamnya sambil menyeka keringat yang bercucuran di pelipis.


Semua orang sangat terkejut mendengar suara teriakan, dan mengalihkan perhatian ke asal suara. "Ada apa?" tanya Farhan yang menghampiri Ayu, cemas jika wanita itu dalam masalah, menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik.


Ayu memeluk tubuh pria di sebelahnya dan merengkuhnya, seakan takut kehilangan pria yang dicintainya akibat kehadiran wanita dari masa lalu sang pria. Farhan membalas pelukan itu dan memberikan saya kenyaman, dia tak mengerti apa yang dilalui oleh wanita itu. 


"Ada apa? Mengapa kau berteriak?" tanya Farhan.


Ayu menatap mata Farhan, ingin mengatakan kecemasan yang takutnya menjadi bumerang bagi masa mendatang. Tatapan tersirat yang tak mampu dia katakan kepada semua orang, melirik Kira sepersekian detik. "Aku sangat takut!" lirihnya dengan bibir yang bergetar.


"Ck, itu pasti alasannya saja agar berdekatan dengan Farhan. Dasar licik!" gumam Kira yang menatap rivalnya dengan sinis. Dia tak menyukai jika pria yang tadinya ada, sekarang malah memilih wanita lain. 


"Tenanglah, sepertinya kau sedang bermimpi buruk."


"Aku sangat ketakutan jika itu terjadi, dan tidak bisa membayangkannya."


"Kau tidak perlu mencemaskan apapun, mimpi hanya bunga tidur dan tidak akan terjadi." Ucap Farhan sembari meminta pramugari yang tak berada jauh dari mereka untuk menyiapkan  minuman favorit Ayu.


"Satu limun untuknya!"


"Baik, Tuan." 


Tiba-tiba, Kira datang menghampiri dua objek yang membuatnya risih. Karena mempunyai celah membuatnya harus bergabung, karena tak ingin memberikan dua orang itu kesempatan untuk memupuk cinta. "Kenapa satu limun saja," sela nya dengan tatapan manja dan juga genit. Hal itu menarik Farhan, Ayu, dan sang pramugari itu mengalihkan perhatian mereka ke sumber suara. 


"Apa kau yakin? Atau ingin mencoba minuman lainnya?" tawar Farhan yang mengerutkan dahi.


"Apa kau lupa? Aku juga menyukai limun, buatkan aku satu!" jawabnya dan menatap sang pramugari untuk memerintah.


"Baik Nona, akan saya buatkan. Dua limun segera disiapkan."


Farhan hanya mengacuhkan hal itu dan kembali mempedulikan Ayu yang terlihat sangat syok dengan mimpinya, tapi sayangnya hal itu tidak berlangsung lama, saat Kira kembali berdekatan dengannya. 


"Aku sangat takut untuk duduk sendirian di sana, apa aku boleh bergabung?" ucap Kira dengan kedua mata berbinar cerah, mengeluarkan puppy eyes miliknya.

__ADS_1


Ayu mengalihkan perhatiannya ke arah lain, saat Farhan menganggukkan kepalanya. Kira kembali beraksi dengan pesona kecantikan, intrik dan beberapa rencana liciknya untuk membuat targetnya bertekuk lutut, dengan menjadi wanita lemah.


Tak lama, sang pramugari datang dengan membawa dua limun sesuai perintah, memberikan kepada dua orang wanita yang tengah mengapit atasannya. "Wah…ini seperti kisah cinta segitiga, tapi siapa yang akan menjadi cinta sejati tuan Farhan?" gumamnya di dalam hati. "Silahkan di minum!" 


"Terima kasih," Ayu tersenyum dan menyeruputnya, sunggu nikmat terasa di tenggorokannya. Minuman favorit yang ternyata diketahui oleh Farhan, namun dia curiga kepada wanita yang menjadi rivalnya. "Kenapa dia memesan limun? Apa karena aku menyukainya juga atau ini hanya kebetulan saja? Dan dia terlihat bukan seperti gadis baik-baik, dari caranya yang begitu genit kepada Farhan, seakan wanita ini dari rumah bordil atau bar. Ini sangat mencurigakan, aku harus menyelidikinya setelah pulang, dan aku ingin lihat siapa wanita ini sebenarnya." Batin Ayu yang memasang tekad kuat untuk membongkar kedok Kira sesungguhnya. 


"Jangan melamun, limun itu tidak akan habis dengan sendirinya." Tutur Farhan yang memecahkan lamunan Ayu.


"Iya, akan aku habiskan."


"Hem."


Kira menyadari kalau sedari tadi Ayu melamun dan menatap dirinya, penasaran kenapa wanita itu menatapnya dan mulai berpikir membanggakan dirinya. "Heh, dia tidak akan menang melawanku. Berjuanglah sekuat dan sebisamu, karena Farhan hanya milikku." Batinnya tersenyum miring.


Pesawat mendarat dengan lancar dan mulus, perjalanan yang membuat Ayu hampir pingsan dengan ketinggian, tapi setelah mendarat terasa sangat lega. "Akhirnya sampai juga kesini," gumamnya tersenyum cerah dan tak menghiraukan Kira yang selalu menempel pada Farhan.


Ayu bergerak ke arah dokter Zaki, ingin menyamakan langkah pria paruh baya itu, tak lupa dengan asisten Heri yang mengikuti sang manajer. 


"Kenapa kau mengikutiku? Ikuti saja atasanmu!" ketus Dona.


"Tapi tetap saja, kau harus berada di samping tuan Farhan."


"Kau tidak perlu mengajariku, bilang saja jika kau tidak menyukaiku berada di sampingmu."


"Kau sudah tahu alasannya, lalu untuk apa kau kemari? Pergilah ke samping atasan masing-masing."


"Ck, kau wanita yang sangat kejam."


"Karena kau bukanlah tipeku."


Para rombongan langsung ke rumah sakit tempat kakek Hendrawan di rawat, semua dokter sangat takjub dengan kedatangan dokter Zaki, sang dokter jenius.


Semua orang hadir di rumah sakit terkenal di kota, mereka ke ruangan VVIP yang besar dengan fasilitas mewah, dan Wina juga berada disana untuk memantau perkembangan ayah mertuanya. 

__ADS_1


Dokter Zaki mulai memeriksa keadaan pria paruh baya yang masih kritis, memeriksa setiap nadi dan mulai memahami pengobatan yang akan di mulai. "Aku akan memulai pengobatannya, kalian boleh keluar!" ucapnya menatap semua orang.


"Biarkan aku tetap di sini untuk memantau kesehatan kakek," ujar Farhan.


"Aku harap kau mengerti, percayakan semuanya kepadaku." Tutur dokter Zaki yang melirik Ayu, memberikan bahasa isyarat agar wanita muda itu segera membawa Farhan untuk keluar dari ruangan itu.


Semua orang menunggu di luar ruangan, mencemaskan keadaan Hendrawan dan mendoakan yang terbaik untuk kesehatan pria tua itu dengan segenap hati. Sementara Wina hanya menatap Ayu dengan sinis dan terdapat kebencian di dalamnya. 


"Kenapa kau ada di sini? Pergi!" usir Wina membuat semua orang kaget. "Apa kau ini tuli? Cepat tinggalkan tempat ini, jasamu tidak diperlukan."


"Tapi aku hanya__."


Belum sempat Ayu menyelesaikan perkataannya, Wina lebih dulu menarik tangannya dengan kasar agar menjauh dari semua orang. Farhan melihat hal itu dan mencegah niat sang ibu yang bertindak semena-mena.


"Apa yang Mama lakukan, hah? Ini rumah sakit." 


"Lalu? Mama tidak ingin wanita ini ada di sini, dialah yang menyebabkan kakekmu kritis, ingat itu!" 


"Tolong, jangan membuat keributan disini. Ayu sangat berjasa bagiku, dia mengorbankan nyawanya hanya untuk kesembuhan kakek."


"Wanita itu sangat licik membolak-balikkan keadaan, kau jangan tertipu daya oleh wajahnya yang lugu itu."


"Hentikan ini!" Farhan segera menarik tangan Wina dan mengusirnya agar tidak terjadi keributan.


"Kamu mengusir Mama?"


"Aku tidak ingin Mama membuat keributan disini, seharusnya kita berterima kasih kepada Ayu."


"Tidak akan pernah aku lakukan, dia hanya wanita miskin yang hanya mengincar hartamu saja, dan identitasnya juga tidak jelas."


"Siapapun dia, aku tidak peduli. Bahkan aku juga rela meninggal bersamanya!" tegas Farhan yang berlalu pergi meninggalkan wanita paruh baya itu.


Setelah pemeriksaan, dokter Zaki bersiap untuk memulihkan kakek Hendrawan menggunakan teknik akupuntur.

__ADS_1


  


__ADS_2