
Hendrawan menginstruksikan pelayan yang tak berada jauh darinya. Hanya dengan gerakan jari membuat pelayan itu mengerti maksud dari tuan besarnya, sang pelayan menyiapkan sumpit untuk Ayu. Dan tak lupa, Hendrawan memberikan isyarat dengan menepuk kursi kosong untuk Ayu duduk di sampingnya. Ayu menarik kursi dan ikut bergabung dengan semua orang.
Hendrawan memeluk anjingnya dan mengusap kepala hewan itu dengan sangat lembut, dia tersenyum menoleh ke arah Ayu. "Sekali lagi Kakek ucapkan terima kasih karena telah menolong hewan peliharaan mendiang nenek," ucapnya dengan tulus.
"Tidak masalah," sahut Ayu yang menyunggingkan senyum di wajahnya.
"Jika kau tidak menemukan anjing ini, kakek khawatir tidak akan melihatnya seumur hidup."
"Jangan terlalu berterima kasih, Kek. Itu suatu kebetulan yang pas dan aku sangat senang menolong Bulbul dan sangat beruntung bertemu dengan nya," jawab Ayu yang menyentuh Bulbul dengan gemas.
Vanya melihat drama yang sedang terjadi di hadapannya, berharap jika Hendrawan juga melakukan hal yang sama kepadanya. "Aku berusaha untuk mendapatkan perhatian dari kakek, tapi apa ini? Bahkan dia tidak pernah mengapresiasikan apa yang aku lakukan. Sangat pilih kasih," batin Vanya yang menggerutu.
"Perbedaan Ayu dengan Vanya bagai bumi dan langit, ada begitu banyak keunggulan di diri Ayu yang tidak bisa di bandingkan dengan wanita itu," gumamnya di dalam hati. Mau bagaimana lagi? Jika pria berambut perak dan berkacamata lebih menyukai Ayu yang tidak bisa dibandingkan dengan Vanya.
"Ayo kita makan," ajak Hendrawan.
"Baiklah, Kek."
Sedangkan Farhan asik dalam mengupas udang dan meletakkannya ke atas piring milik Ayu, dia tersenyum saat bisa melakukan perhatian kecil itu.
"Eh, kenapa udang ini tidak kau makan saja? Bukanlah kau sudah mengupasnya?" Ayu menautkan kedua alisnya menatap pria tampan itu.
"Aku tidak suka makan udang, jadi itu untukmu saja," kilah Farhan yang sedikit berbohong.
__ADS_1
"Benarkah? Sayang sekali, tapi aku sangat menyukainya." Ayu melahap udang yang telah dikupas oleh pria itu dan menikmatinya. Farhan menarik kedua sudut bibirnya dengan samar dan bahkan tak terlihat dari kejauhan.
Mendengar ucapan dari Ayu membuat Farhan mengupas udang dengan sangat tergesa-gesa, Ayu memperhatikan hal yang sangat aneh di depannya. "Kenapa dia begitu tergesa-gesa? Sangat aneh sekali," batinnya.
Farhan dan kakeknya saling menatap mata, apalagi Hendrawan berinisiatif untuk mengupaskan udang untuk Ayu, tatapan sengit seperti sedang mengikuti kontes.
"Hah, kakek ingin bertarung dalam mengupas udang. Tetap saja aku yang menang," batin Farhan yang tersenyum meremehkan.
"Sepertinya dia meremehkan aku?! Akan aku perlihatkan bagaimana pria tua ini mengalahkanmu," batin Hendrawan.
"Ada apa dengan mereka? Apakah mereka sedang mengadakan kontes?" gumam Ayu yang berpikir jika Hendrawan melakukannya untuk berterima kasih kepadanya karena telah menemukan anjing itu.
Kedua pria yang berbeda generasi itu menyerahkan udang yang sudah dikupas untuk Ayu, hingga sang empunya mengerjapkan mata beberapa kali. "Oh ya ampun, ada apa antara kakek dan cucunya itu?" batinnya yang penasaran. "Terima kasih telah mengupaskan nya untukku, dan aku juga berterima kasih kepada Kakek," Tutur Ayu yang menatap kedua pria berbeda generasi secara bergantian.
Perhatian dari kedua pria itu membuat Vanya menahan amarah yang ingin meledak, tatapan tajam yang tertuju kepada Ayu. Dia selama ini telah bekerja keras untuk mendapatkan perhatian dari kakek dan juga Farhan, tapi malah Ayu yang menuai semua itu.
"Aku tahu jika Farhan menyukai udang itu, tapi kenapa dia mengatakan tidak menyukainya? Dan apa ini? Bahkan dia mengupaskan udang untuk gadis kampung itu. Ketika aku yang mengupaskan udang untuknya, dia terlihat sangat jijik," batin Vanya yang memainkan sumpit di tangan kanan sembari melihat drama yang ada di dekatnya. Dia sangat kesal dan marah saat melihat perlakuan Farhan yang spesial kepada rivalnya, dan bahkan pria itu juga mengupas kan udang hanya untuk seorang gadis kampung seperti Ayu.
Setelah makan selesai, Hendrawan masuk ke kamarnya untuk beristirahat dan tidur. Sedangkan Farhan pergi ke kantor, dan Ayu pergi ke Mall untuk berbelanja setelah mengatakan kepada Farhan untuk tidak pergi ke kantor.
Ayu bergegas pergi karena ada acara dengan Zio, sang aktor terkenal setelah membuat temu janji. Di sepanjang perjalanan, Ayu tampak berpikir mengenai pakaian yang akan digunakan untuk nanti malam di acara pesta Zio Davin.
"Tidak mungkin aku memakai pakaian sederhana ini, aku sangat bingung akan memakai apa nanti malam," gerutunya. Hingga dia tampak berpikir dan seperti mendapatkan sebuah ide yang membantu masalahnya itu. Tiba-tiba Ayu teringat dengan pakaian yang dirancang sendiri dan ingin mencobanya, memerintahkan supir untuk mengantarkannya ke butik.
__ADS_1
Memasuki butik dengan penampilan yang sangat sederhana, membuat beberapa karyawan menatapnya dengan sinis dan berpikir jika Ayu hanya ingin melihat-lihat saja tanpa membeli. Ayu melihat beberapa rancangan nya terpajang dengan begitu indah, dan mencoba salah satu rancangan terbarunya.
Ayu tersenyum saat menemukan pakaian yang dia cari, mengambilnya dan ingin berjalan menuju kamar ganti pakaian. Namun langkahnya terhenti saat penjaga toko mencegat langkahnya. "Maaf Nona, itu rancangan khusus yang baru saja di desain. Jangan mencobanya jika tak sanggup membayar," cetus penjaga toko yang melipat kedua tangan didepan dada sambil melirik Ayu dengan tatapan merendahkan.
"Ck, hanya penjaga toko, tapi gayanya seperti pemilik butik ini," batin Ayu yang menatap penjaga toko dengan tatapan jijik. Jelas tidak berat baginya untuk membeli seluruh isi toko jika dia mau menggunakan uangnya sendiri. "Aku ingin mencobanya, menyingkirlah dari hadapanku," cetus Ayu dengan datar.
"Maaf Nona, aku tidak ingin jika pakaian itu rusak dan anda pasti tidak mampu membayarnya."
"Apa begini sikapmu terhadap pembeli? Dasar tidak sopan, kau bisa saja dipecat. Jangan memandang orang lain dengan tatapan meremehkan, bahkan aku bisa memborong seluruh isi toko ini," ketus Ayu yang sangat kesal, dengan cepat mengeluarkan black card di dalam tas dompetnya.
Sontak karyawan di butik itu membelalakkan matanya saat melihat kartu tanpa limit, dengan cepat dia merubah sikap kasarnya menjadi sangat lembut dan segera melupakan apa yang baru saja terjadi.
"Saya bisa memperlihatkan beberapa rancangan khusus dan sangat mahal kepadamu, Nona. Sangat pas di tubuh yang membuatmu terlihat sangat cantik," ucap karyawan toko itu dengan ramah sembari memperlihatkan beberapa rancangan.
"Tidak perlu, aku hanya ingin yang ini."
Ayu tak menggubris karyawan itu dan melewatinya, berjalan menuju kamar ganti pakaian setelah karyawan itu memberinya jalan. Ayu tersenyum saat mencoba hasil rancangannya sendiri, terlepas dari desain, pengerjaan, dan kainnya. "Hah, ternyata pakaian ini sangat pas di tubuhku." Memutarkan tubuhnya di depan cermin besar.
Ayu keluar menuju ruang ganti dan membiarkan gaun itu melekat di tubuhnya. Tak sengaja, dia berpapasan dengan Vanya dan seorang pria yang menurutnya itu adalah sepasang kekasih.
Dia tak menggubris kedatangan Vanya dan menuju kasir. "Ternyata dia juga di sini," gumamnya.
"Kenapa gadis kampung itu ada di sini?" Vanya menatap Ayu dengan sinis saat dia juga berada di sana, mengalihkan perhatiannya menatap salah satu karyawan butik. "Aku ingin rancangan gaun yang terbaru," ucapnya dengan angkuh.
__ADS_1
"Maaf Nona, gaunnya telah dibeli?!" sahut karyawan itu sembari menunjuk Ayu.