
Asisten Heri dan Farhan tengah membicarakan hal penting, bahkan tidak ada satu orang pun yang mengetahui rencana mereka untuk menjebak Adi dan menyerahkan semua bukti yang selama ini mereka kumpulkan.
"Apa bukti itu cukup, Tuan?"
"Hem, aku rasa sudah cukup. Kali ini pria paruh baya itu akan tidak akan berkutik lagi, kini saatnya kita menyerang dengan semua bukti ini." Ujar Farhan yang sangat bersemangat, permasalahan yang terjadi karena dirinya selama ini hanya diam.
"Wah, aku tidak menyangka jika Tuan masih saja memikirkan ini. Besok adalah hari penting dan juga bersejarah, setidaknya bersikaplah seperti mempelai pria pada umumnya." Ungkap asisten Heri yang begitu geram dengan sikap atasannya itu, mengingat besok adalah hari penting.
"Mau bagaimana lagi? Aku harus menyelesaikannya sebelum pernikahanku di jalankan besok, dengan begitu hubunganku tidak terganggu."
"Serahkan padaku, Tuan." Sahut asisten Heri yang begitu bersemangat, dia ikut bahagia dengan pernikahan atasannya dengan wanita yang tepat. Setelah pernikahan usai, barulah dia merasa tenang dan juga damai.
"Hem, aku akan menikah besok. Lalu, bagaimana denganmu yang masih sendiri?" sindir Farhan yang tersenyum miring.
"Aku? Pria tampan sepertiku tidak akan sendiri, Tuan. Setelah pernikahan Tuan ditentukan, maka aku akan mengejar cintaku." Asisten Heri menepuk dadanya dengan bangga, menyombongkan dirinya seakan mempunyai kekasih.
Farhan menyerngitkan dahinya, dia tidak percaya jika pria di hadapannya mempunyai calon istri. Karena selama ini pria itu selalu sibuk bekerja, sama seperti dirinya. "Siapa?"
"Heh, tunggu tanggal mainnya. Aku sendiri yang akan membawanya di hadapanmu, Tuan."
"Heh, tapi siapa wanita yang menjadi calon istrimu?" Farhan sangat penasaran, namun di satu sisi juga ikut bahagia dengan pernyataan dari asistennya. Kini mereka akan menata dan memulai hidup dengan memikirkan keluarga kecil yang bahagia.
"Dona, aku akan menjemputmu di Paris." Batin asisten Heri yang memikirkan wanita yang menjadi asisten Ayu, dia begitu tertarik dengan sikap ketus wanita yang membuat dadanya selalu berdebar-debar.
"Apapun itu, bisakah kau pergi dari sini!" cetus Farhan yang menghela nafas berat.
"Apa? Aku kesini atas perintah tuan besar, mana mungkin aku abaikan." Asisten Heri tak memasang wajah bermasalah sedikit pun, dia sangat menyukai tugasnya yang diperintahkan langsung oleh Hendrawan untuk mengawasi Farhan agar tidak bertemu dengan mempelai wanita.
"Hei, jangan lupa! Aku lah yang menggajimu, bukan kakek!" protes Farhan yang sangat merindukan Ayu, ingin sekali dia bertemu dan mencium wanita itu sekali saja. Namun, asisten Heri tak membiarkan pergi kemanapun selain di kamar miliknya.
"Perintah kakek adalah mutlak bagiku."
Farhan sangat kesal, dan selalu melirik pintu untuk kabur dari tawanan sang asisten.
"Itu tidak akan mungkin, jadi lupakan saja!" celetuk asisten Heri yang sangat puas melihat bos nya menderita dalam kerinduan mendalam.
"Apa kau ingin dipecat, hah?" ancam Farhan yang sudah tak tahan dengan rasa rindu yang mendalam, dia bosan melihat wajah tangan kanannya yang berada diruangan itu hampir setengah hari.
__ADS_1
"Pecat saja, aku tidak takut. Tuan besar telah memberikan kompensasi yang cukup besar, bahkan lebih besar penghasilanku selama sebulan penuh."
"Berani sekali kau mengambil uang suap!" sentak Farhan yang sangat kesal, berlari ke arah pintu dan berusaha untuk kabur. Rasa rindu ingin bertemu dengan Ayu membuatnya nekat, tapi hal itu tidak berjalan mulus. Asisten Heri berhasil memegang tubuh atasannya, hingga keduanya bergulat.
"Tidak akan aku biarkan Tuan kabur!"
"Kau menindasku, asisten durhaka. Aku akan mengutukmu!"
"Demi kompensasi besar dari tuan besar, aku rela melakukan apapun." Ungkap asisten Heri yang terus menyentak kaki Farhan hingga pria malang itu terjatuh ke atas lantai.
"Sebentar saja, aku ingin menemuinya." Bujuk Farhan yang sedikit kewalahan menghadapi asistennya.
"Tidak, ini demi tabunganku di masa depan. Aku tidak ingin di anggap selingkuhanmu, Tuan. Sebentar lagi aku juga akan menikah, tentu saja kompensasi menjadi modalku menikah." Jelas asisten Heri yang tetap keukeuh.
"Sial, aku akan membalasmu nanti."
"Coba saja!"
Farhan terus berusaha untuk keluar dari kamar itu, kesal dengan asistennya yang mengurungnya hanya demi modal nikah. "Kau sangat keterlaluan, lepaskan aku."
"Tidak akan."
"Aku sudah menguncinya, apa Tuan lupa?"
"Sial."
Asisten Heri tersenyum puas, melihat ekspresi tuannya yang sedikit kalap karena dilarang untuk bertemu dengan mempelai wanita. "Hah, aku anggap ini sebagai siksaan yang selama ini aku terima, dan kini giliran tuan Farhan." Batinnya yang tertawa.
Ayu sedikit cemas dengan pernikahan yang akan terjadi esok hari, bahkan dia tidak bisa tidur. Entar apa yang dipikirkan olehnya, yang jelas perasaannya sekarang campur aduk menjadi satu. "Astaga…aku akan menikah? Kenapa ini malah membuatku gelisah? Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya sembari melihat langit-langit kamar.
Terdengar suara dering ponsel, dan meraihnya dengan cepat, berpikir jika itu adalah calon suaminya. Namun, seketika wajah yang tersenyum itu runtuh seketika, karena yang meneleponnya adalah sang Hacker yang masih berada di Indonesia.
"Halo."
"Kenapa sangat lama untuk mengangkat telepon dariku?"
"Tidak perlu drama, ada apa?"
__ADS_1
"Calon mempelai wanita bersikap jutek dan juga ketus?"
"Hah, ada apa?"
"Aku meneleponmu tentu saja ingin menyampaikan sesuatu yang sangatlah penting dan juga kau pasti akan terkejut."
"Baiklah, katakan ada apa?"
"Cukup sulit bagiku untuk menemukan informasi ini, mengenai Kira asli."
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk melacak keberadaan Kira asli, dugaanku selama ini benar."
"Mengenai apa?"
"Kira bukan orang sembarangan yang mudah dilacak, apalagi jika ada orang berkuasa lainnya yang sengaja menyembunyikan identitasnya."
"Apa maksudmu? Bicara dengan jelas, dan jangan membuatku penasaran."
"Tapi sebelum aku menjawabnya, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Hah, kau membuat kesabaranku habis. Cepat katakan!"
"Apa sebelumnya kau pernah terluka di dahimu? Atau semacam bekas luka di kepala?"
Ayu segera menyentuh kepalanya yang terasa ada bekas luka di sana. "Benar, ada bekas luka di kepalaku."
"Apa kau menyadari bagaimana bekas luka itu berada disana?"
"Hah, entahlah. Aku juga tidak tahu. Jangan berbelit-belit, kau membuatku mati penasaran."
"Aku tidak menyangka hal ini akan terjadi, apalagi kakekmu ikut andil dalam hal besar ini."
"Aku tidak mengerti."
"Kakek Tirta telah menyembunyikan rahasia ini selama bertahun-tahun, dimana bekas luka di kepala mu di sebabkan saat terjatuh di jurang. Kau adalah Kira yang asli, apa kau lupa siapa nama kepanjangan mu, Ayu Kirana."
__ADS_1
Seketika Ayu terhenyak, dunianya terhenti untuk sementara waktu dan mencerna semua perkataan dari Alvero, sahabatnya yang ahli IT.