
Mars mulai mengatur siasat untuk membalaskan dendam, dia sangat menyayangkan keputusan Aluna yang dianggap terburu-buru. Jajaran foto yang berukuran tiga kali empat, dimana dia harus menunjukkan daftar musuh untuk dijadikan target pada para aliansi mafia. "Kau menolakku dengan segala bentuk upaya, aku tidak akan mengeluarkanmu dari jajaran para musuh yang harus di basmi." Gumamnya seraya mengelus foto wanita yang di klaim sebagai miliknya.
Senyuman mengerikan tersungging begitu jelas, hingga beberapa orang yang melihatnya bergidik ngeri. Mereka hanya bisa terdiam, menyaksikan pertunjukan Mars yang melukai tangannya sendiri, darah yang mengucur di jadikan sebagai tinta untuk menyilang setiap foto para keluarga Leon dan juga Ruo.
Tawa yang menggelegar memenuhi ruangan, Mars menatap foto Aluna yang tersenyum lalu menciumnya lembut. "Kau hanyalah milikku, jika aku tidak bisa memilikimu, orang lain juga tidak mempunyai kesempatan. Hanya ada dua pilihan untukmu, bersama denganku atau bersama Leon, si pria payah."
Seorang bawahan datang menemui Mars untuk melaporkan sesuatu, ketidaksabaran dari pria yang mengenakan jas hitam hampir saja kehilangan nya. "Kenapa kau tiba-tiba datang dan menganggu kesenangan ku," ancamnya yang berjalan menuju sang bawahan.
Dengan cepat bawahan itu menundukkan sedikit tubuhnya, menyesal jika dia melupakan aturan yang berlaku. "Maaf Tuan, karena apa yang aku sampaikan sangatlah penting dan melupakan segalanya." Jawab pria itu yang sudah siap dihukum.
"Wah, sepertinya kau sangat bersemangat ingin aku hukum ya."
"Karena aku bersalah dan siap menerima konsekuensinya."
Mars tersenyum dengan salah satu bawahan yang rela mati karena suatu kesalahan kecil saja, tapi dia juga tidak bisa kehilangan sosok anak buah yang menjadi grup ini aliansi mafia yang dijalaninya. "Baiklah, untuk sekarang kau aku ampuni. Ada apa? Mengapa kau datang tergesa-gesa dan melupakan adab?"
"Aku mencoba untuk menyelidiki keluarga Hendrawan dan juga Tirta bersatu, di tambah dengan Ruo. Ketiga keluarga besar yang sangat berpengaruh itu memutuskan untuk menentang mafia milik kita, Tuan. Mereka telah menyiapkannya dengan sangat baik!"
Sontak hal itu menyulut emosi Mars dan berusaha untuk tetap tenang. "Kerahkan seluruh kemampuan dan culik Aluna!" titahnya.
"Aku sudah melakukan upaya itu tanpa perintah, tapi pengawal yang di letakkan di setiap sudut menyulitkan segalanya."
Mars memejamkan mata, kini kebenciannya kepada Leon melebar dengan sangat cepat, sudah tidak sabar untuk membunuh pria yang menjadi rintangan besar. "Oho, jadi bertingkah bak pahlawan? Ini baru menarik." Ucapnya pelan dan kembali menatap orang-orang dari grup inti dengan sangat tajam. "Misi kali ini sangatlah besar, aku ingin kalian menculik Aluna dalam keadaan hidup. Masalah keamanan, aku menyerahkan segalanya kepada wakilku." Ucapnya yang mengeraskan suara.
"Baik, King." Sahut mereka dengan kompak.
"Jangan sampai rencana yang baru saja aku buat berantakan, persiapkan senjata dan mulai berperang!"
Terdengar sorakan orang-orang yang kompak menggunakan baju hitam, mereka sangat bersemangat mendengar perintah membunuh keluarga yang mencoba untuk menentang atasan mereka. Mars sangat puas dengan para grup inti yang sangat dia banggakan, segera pergi dari tempat itu menuju ruangan pribadi.
Sementara di sisi lain, keluarga Hendrawan dan juga Tirta bersatu. Apalagi setelah mendengar informasi dari seseorang yang dipercaya, sang hacker yang selalu membantu Ayu dalam keadaan sulit mulai bereaksi sesuai perintah.
Ayu ikut serta dalam membela, dia ingin jika kakaknya menikahi Aluna. "Jadi, bagaimana? Apa kau berhasil meretasnya?" desaknya mewakili perasaan yang lainnya.
"Identitas mereka sangatlah rahasia dan cukup sulit untuk melacak lokasi." Ungkap Alvero tanpa menoleh, pandangan ke depan berfokus kepada benda pipi yang berukuran sedang. Jari-jemari yang begitu terampil menekan beberapa tombol yang pastinya untuk menetas sistem keamanan dari mafia yang dipimpin oleh Mars.
Alvero yang terkenal sebagai hacker terhebat juga memerlukan waktu yang cukup lama menemukan dan melacak keberadaan dari Mars dan juga tempat markas yang digunakan oleh mafia, dengan begitu dia mudah untuk meretas CCTV yang ada di sana. Ayu yang begitu sabar tetapi tidak dengan Farhan dan juga Leon yang sudah geram dan tersulut emosi.
"Aku pikir kau bisa bekerja lebih cepat, ternyata sama saja dengan hacker lain." Ungkap Farhan yang tersenyum miring, karena ada dendam pribadi yang masih saja jengkel jika bertemu dengan Alvero.
"Ck, Kau hanya bisa berkomentar saja, aku adalah hacker nomor satu yang tidak ada yang bisa menaklukkan kemampuanku dalam meretas juga membobol situs penting." Sergah Alvero yang membanggakan dirinya.
"Sombong."
__ADS_1
"Tentu saja aku harus sombong, kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang seperti kalian."
Leon yang geram dengan pertikaian kecil segera menjitak kepala adik ipar dan juga Alvero. "Fokuslah dalam bekerja, aku tidak ingin jika Aluna dalam masalah. Aku sangat yakin dengan pria itu, hanya ingin mengacaukan segalanya."
"Hei, mengapa kau menjitak kepalaku?" keluh Farhan yang protes.
Terdengar suara cekikikan dari luar ruangan, dua bocah laki-laki yang sedari tadi mengintip karena tidak mempunyai pekerjaan lain dan tertarik dengan rencana ayah dan juga paman nya yang memutuskan untuk bergabung dalam memberantas para musuh. "Mengapa mereka tidak mengajak kita juga?" bisik Adit.
"Karena kita ini anak kecil yang tidak bisa apapun," sahut Abi dengan santai.
"Eh, mengapa kamu mengatakan hal yang menyakiti hatiku?" Adit memegangi dadanya dan mulai berakting menjadi seorang yang paling sedih di dunia ini.
"Aku mengatakan faktanya saja, bukankah selama ini kita mereka selalu mengatakan itu? Jadi, berhentilah drama dn buat dirimu berguna," ketus Abi yang kembali fokus mengintip.
Kedua bocah yang mengintip dari sebuah pintu akhirnya ketahuan oleh Ayu, wanita cantik yang segera membuka pintu dan bertolak pinggang saat menatap kedua putranya mendengar segala rencana yang akan hadapi. Sia tidak ingin jika keduanya terlibat dalam misi yang berbahaya, melawan mafia yang terkenal akan kekejaman dan juga kebengisannya. "Jadi kalian belum juga tidur dan malah mendengar perkataan dan juga rencana orang dewasa?" dia menatap dengan penuh penyelidikan, terlihat dari dua mata yang terpicing.
"Sepertinya misi itu sangatlah menarik, ajak kami juga, Ma." Rengek Adit yang ingin bergabung.
"Tidak boleh." Sergah Farhan yang berjalan menghampiri mereka.
"Ayolah, Pa."
Farhan tampak memikirkan sebuah cara agar kedua putranya tidak terlibat langsung dalam permusuhan dari keluarganya dan juga Mars. hingga satu ide yang timbul di benaknya sangat membantu, kembali menatap dua bocah laki-laki yang penuh harap akhirnya menganggukkan kepala. "Baiklah, Papa akan menyetujui permintaan kalian. Tapi ingat! Kalian tidak boleh terjun langsung, musuh sangatlah berbahaya.
"Paman Alvero akan mengirimkan sesuatu lewat surel kalian, dan disini pelajarilah sesuai apa yang kalian pelajari dari paman hacker."
"Baik, Pa." Sahut Abi dan Adit kompak, mereka sangat antusias juga bersemangat.
****
Hari yang sudah ditentukan, Leon dan Farhan bergerak cepat untuk sampai ke markas mafia yang dikelola oleh Mars. Informasi yang didapatkan dari Alvero sangat membantu mereka untuk menyerang secara diam-diam, beberapa para pengawal dan juga mereka kerahkan dan mengepung setiap sisi bangunan yang terlihat sangat menyeramkan.
Sesuai rencana Farhan dan Leon membagi dua tim yang masing-masing telah diberikan pekerjaan atau permisi sesuai dengan kemampuan. Mereka berjalan mengendap-endap, beberapa orang yang berbaju hitam sedang berjaga di luar.
Farhan dan kelompoknya membersihkan jalan tanpa menimbulkan suara, menyerang menggunakan senjata tajam dan memastikan jika musuh mati. Satu persatu penjaga yang di luar sudah mereka habisi dan menyelinap masuk ke dalam markas untuk mencari keberadaan Mars. Sedangkan Leon bergerak dari arah berlawanan dan masuk melewati atap, mencari ruangan musuh bebuyutannya dengan bantuan dari Alvero.
Keduanya kembali bertemu dan saling melirik satu sama lain, memberi bahasa isyarat untuk menyerang beberapa anggota mafia yang telah menyadari kehadiran mereka yang dicap sebagai musuh. Leon mengeluarkan rantai kecil sebagai pegangan senjata, menyerang beberapa orang dan melingkarkan rantai ke leher target yang langsung meregangkan nyawa.
Semakin banyak anggota mafia yang berdatangan, menyulitkan mereka untuk menyerang. Kobaran api semangat tak membuat mereka redup dan malah sebaliknya.
"Awas di belakangmu!" kata Farhan yang mengingatkan, dengan cepat Leon refleks dan menendang dada salah satu anggota mafia hingga terjerembab di atas lantai.
Serangan demi serangan, Leon dan Farhan sangat terkejut saat melihat orang-orang berbaju hitam malah semakin banyak. "Sial, ternyata dia mengetahuinya." Umpat mereka yang segera menyelesaikan misi, tidak peduli dengan jumlah.
__ADS_1
Satu persatu tumbang di tangan keduanya, hampir saja mereka kewalahan untuk menghadapi anggota mafia, kalah jumlah bisa membuat mereka bisa mati di tempat itu. "Astaga…ini jebakan."
"Kau berkata benar."
Leon dan Farhan sangat terkejut dengan kelicikan Mars, sengaja mundur selangkah untuk meraih dua langkah ke depan..
Seseorang menatap monitor dan tersenyum sembari menghembuskan asap rokok yang mengepul, menyukai kewalahan dari musuhnya. "Tidak akan ada yang bisa mengalahkan aku. Untuk Leon, kau akan mati!" Ucapnya dengan tawa menggelegar sembari meneguk alkohol.
Leon tidak kenal lelah, dia segera menghindari pertarungan itu dn mencari keberadaan Mars sesuai petunjuk Abi dan Adi yang bisa melacak seseorang setelah Alvero mengajari mereka.
"Tidak akan lama lagi, Mars bersiaplah. Aku akan membunuhmu," gumamnya yang melangkah cepat, mengendap-endap untuk tidak di ketahui oleh orang lain. Dengan sengaja dia merusak CCTV setelah tersenyum dan melambai tangan, tahu jika musuh mengintai mereka lewat monitor. "Oke, rencana selanjutnya." Lirihnya yang kembali melanjutkan langkah kaki.
Leon tersenyum saat menemukan ruangan persembunyian musuh, dia mencari keberadaan Mars dalam ruangan itu. Baru beberapa langkah masuk, seseorang menyerangnya. Untung saja dia memiliki refleks yang sangat bagus, jika tidak pedang itu akan melukainya.
"Wah, tidak aku sangka kau banyak berubah."
"Tidak ada urusannya denganmu." Sahut Leon yang menghindar dari ayunan pedang, dia memundurkan langkah dan memanfaatkan keadaan untuk mengambil sesuatu sebagai bentuk perlindungan diri. "Jauhi Aluna, karena dia adalah calon istriku."
"Aku tidak peduli lagi dengan hal itu, Aluna hanya milikku dan tidak ada seorangpun untuk memilikinya. Bagaimana jika kita buat kesepakatan?" Mars melengkungkan kedua sudut bibirnya sambil melayangkan pedang untuk melumpuhkan musuh.
"Kesepakatan?" Leon menyerngitkan dahi dan menghindari pedang untuk menjaga diri agar tidak terkena, dia tahu jika senjata tajam telah diolesi bisa ular yang sangatlah mematikan.
Mars segera melempar pedangnya sembarang arah. "Kita bertarung secara jantan, tentu saja dengan tangan kosong. Hidup atau mati, yang menang akan mendapatkan Aluna. Apa kau setuju?"
"Sepertinya menarik, sudah lama aku tidak menghajar mu dengan tangan kosong." Sahut Leon yang menerima tawaran itu, walau bagaimanapun juga permasalahan ini dipastikan selesai hari ini juga.
Mars berlari dan mendaratkan pukulan tepat mengenai wajah musuh, sedangkan Leon menyeka salah satu sudut bibir yang mengeluarkan darah. "Kau curang, menyerangku tanpa aba-aba terlebih dulu." Ucapnya yang tersenyum mengejek.
"Aku lebih menyukai bertindak daripada banyak bicara, buktikan dirimu. Pertarungan hidup dan mati." Tantang Mars yang sangat bersemangat.
Keduanya saling memukul, serangan demi serangan. Tapi kekuatan keduanya cukup mengimbangi dan membutuhkan waktu untuk melihat hasil siapa pemenang.
Hampir setengah jam mereka mereka bertarung, tanpa menemukan titik terang. Leon tersenyum saat melihat raut wajah Mars yang tampak kelelahan, dia terus menangkis dan sesekali menyerang menggunakan taktik cerdik. "Sekarang giliranku!" ucapnya yang melayangkan pukulan hingga pria itu terjerembab di atas lantai.
Leon mengambil kesempatan, menindih tubuh musuh dan menyerangnya bagian alat vital dan juga daerah sensitif lainnya. Mendengar jeritan dan ringisan dari Mars yang berusaha membalikkan keadaan.
Mars berhasil membalikkan keadaan, wajah dan tubuh yang memar dia balas menjadi dua kali lipat.
Pertarungan dari musuh bebuyutan hanya demi memperebutkan seorang wanita yang sama, tidak lagi peduli akan nyawa. Mereka sama-sama terluka tapi tetap melanjutkan pertarungan.
Detik-detik pertarungan sampai ke final, Mars bergerak cepat dengan menikam Leon menggunakan pisau lipat ke arah perut sang musuh, tersenyum dan kembali menikamnya.
"Kau akan mati di tanganku," bisiknya di telinga musuh.
__ADS_1
"Bukan aku, tapi kau." Leon sangat kesakitan, dan mengambil pistol yang melekat di belakang punggung. Menembak jantung musuh sebanyak tiga kali hingga Mars di mati di tempat, dia tersenyum kemenangan.