Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 123 ~ Dimana Farhan?


__ADS_3

"Où est l'homme qui a eu l'accident avec moi?(Dimana pria yang mengalami kecelakaan bersamaku?)" tanya Ayu yang terus mendesak perawat itu. 


"Désolé je ne sais pas (Maaf, saya tidak tahu)." Jawab sang perawat yang menggelengkan kepalanya, setelah pemeriksaan selesai dan berlalu pergi meninggalkan tempat itu. 


Ayu menatap punggung wanita itu, kegelisahannya menjadi bertambah saat tidak melihat Farhan di ruangan yang sama. Dia menahan rasa sakit dan ingin beranjak dari atas brankar, baru saja dia hendak turun, tapi seseorang menahan tubuhnya agar tidak bertindak nekat. 


"Apa yang anda lakukan, Nona?" tanya Kenan yang membantu Ayu untuk kembali berbaring. 


"Dimana Farhan, aku tidak melihatnya!" desak Ayu yang buru-buru menanyakannya, menarik kerah leher Kenan dan mengguncang tubuh pria itu. Kenan memalingkan wajah, tak berani menatap mata Ayu. Dia terlihat ragu-ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, hanya terdiam. 


"Kenapa kau diam saja? Dimana Farhan?" tanya Ayu yang menatap pria itu nanar, air mata keluar dari pelupuk mata membasahi kedua pipinya. Beberapa dugaan sementara membuatnya sangat tak tahan dengan situasinya saat ini, tatapan lurus yang terasa kosong. "Dimana Farhan?" teriaknya di hadapan pria tampan itu. 


Kenan hanya terdiam, lidahnya seakan keluh untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi. "Maafkan aku, Nona." Lirihnya pelan seraya memalingkan wajah. 


"Kenapa kau meminta maaf? Dimana Farhan?" pekik Ayu yang membuat Kenan sangat terkejut dengan reaksi dari wanita itu. Perlahan Ayu melepaskan cengkraman di kerah leher pria itu, air mata kembali menetes. Pikirannya yang sangat cemas memikirkan bagaimana kondisi Farhan. 


"Tuan Farhan ada di lantai delapan belas, Nona." Jawab Kenan. 


"Aku berada di lantai berapa?" Ayu mengusap kedua pipinya yang telah basah dengan air mata. 


"Kita ada di lantai lima."


Tanpa menunggu waktu lagi, Ayu berlari dengan tergesa-gesa, menahan rasa sakit demi memastikan keadaan dari pria penyelamatnya. Berjalan tergopoh-gopoh dan masuk ke dalam lift menuju lantai delapan belas. "Semoga keadaannya baik-baik saja," gumamnya yang meremas jari-jarinya, wajah yang sedikit pucat dan rasa sakit tidak dia hiraukan lagi. 


Pintu lift terbuka, Ayu segera beranjak dari tempat itu dan mencari ruangan Farhan di rawat. Di saat ingin membuka salah satu ruangan, tiba-tiba seseorang mencekalnya. "Apa yang anda lakukan? Akan aku antar ke ruang inap," ucap salah satu perawat yang menahan tubuh Ayu, ingin membawanya kembali ke ruangan. 


"Tidak, jangan halangi aku." Ayu memberontak berusaha untuk melepaskan dirinya, namun tenaganya tidak cukup untuk melawan. 

__ADS_1


"Anda masih terlihat sangat pucat, aku akan membantumu."


"Tidak! Jangan paksa aku." Tolak Ayu yang menatap perawat berambut pirang. 


Raymond yang berjalan menuju ruangan itu, tak sengaja melihat Ayu yang memberontak. Kedua tatapan mereka saling bertemu, membuatnya menghampiri wanita itu. "Nona Ayu? Kenapa kau di sini? Kondisimu sangatlah tidak baik, aku akan mengantarmu ke ruang inap." Raymond mengangkat tangannya untuk memberi isyarat pada sang perawat agar pergi dari tempat itu. 


"Di-dimana Farhan? Kau pasti tahu dia dirawat, katakan padaku!" desak Ayu yang menatap pria itu, berharap jika ada yang memberitahukan dimana calon tunangannya berada. 


Raymond memalingkan wajah, dia terdiam seribu bahasa membuat Ayu sangat geram dan memukul dada pria itu. "Kenapa kau diam saja? Dimana Farhan?" teriaknya yang sangat frustasi dengan keberadaan dari pria penyelamatnya. "Aku tanya sekali lagi, dimana Farhan?" tekannya yang sangat marah kepada Kenan dan juga Raymond, seakan ada yang ditutupi. 


"Aku tidak tahu." Jawab Raymond yang tak berani menatap tatapan sedih dari wanita di hadapannya. 


Ayu memundurkan beberapa langkah, menatap Raymond disertai tetesan air mata yang mengalir dengan deras. Dia merasa aneh dengan situasi saat ini, dimana tidak ada yang memberitahu kondisi Farhan. "Dimana Farhan? Kenapa tak seorangpun yang memberikan kabar mengenainya. Oh ya tuhan…tolong selamatkan dia, jangan sampai terjadi apa-apa padanya." Batinnya yang berdoa. 


Tiba-tiba pintu UGD terbuka, dokter mendorong brankar dengan langkah yang tergesa-gesa. Ayu melihat dengan jelas siapa yang berada di atas brankar itu, kedua pupil matanya membesar saat melihat Farhan yang terbaring belum sadarkan diri. Dengan cepat Ayu menghampiri dan mengikuti dengan sedikit berlari, terlihat beberapa luka yang dibalut dengan perban. Kondisi yang sangat parah membuatnya sangat cemas dan khawatir. 


"Tenanglah, Farhan akan baik-baik saja." Sela Raymond berusaha untung menenangkan wanita itu. 


Ayu tak menghiraukan ucapan Raymond dan terus mengoceh membangunkan Farhan yang tidak sadarkan diri. Langkahnya terhenti saat salah satu perawat mencegahnya untuk masuk ke dalam. "Maaf, anda tidak boleh masuk." Pintanya seraya masuk kedalam ruangan dan menutup pintu. 


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka tidak mengijinkan aku masuk?" gumam Ayu yang masih terdengar. 


"Tenanglah, kita serahkan kepada dokter."


Beberapa saat kemudian, dokter keluar dari ruangan itu, Ayu datang menghampiri. "Bagaimana kondisi Farhan?" desaknya, tatapan penuh harapan tak ingin mendengar hal yang buruk. 


"Kondisinya sangat parah, walaupun pasien berhasil diselamatkan, namun keadaannya masih kritis dan kemungkinan bisa lumpuh." Jelas sang dokter. 

__ADS_1


"Apa?" lirih pelan Ayu, memundurkan langkahnya dan tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Untung saja, Raymond dengan sigap membantunya. 


"Saya permisi dulu!" pamit dokter yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu. 


Ayu menangis dalam diam, hatinya merasa sangat sakit mendengar penuturan dokter. "Ini tidak mungkin…tidak mungkin!" lirihnya seraya menggelengkan kepala. 


"Tenanglah, jangan seperti ini. Sebaiknya kau kembali ke ruang inap." Ajak Raymond yang tak tega melihat kondisi lemah dari wanita itu. 


"Aku baik-baik saja, jangan cemaskan aku. Kau boleh pergi!" usir Ayu yang ingin sendiri. 


"Kita percayakan ini kepada tuhan, jangan terlalu memaksakan dirimu, kau masih sangat lemah." 


Ayu berjalan masuk ke dalam ruangan, tak menghiraukan perkataan Raymond karena di pikiran dan hatinya hanya ada Farhan seorang. Menatap pria dengan tubuh pucat itu dan mengusap kedua pipinya yang basah. "Kenapa kau menyelamatkan aku dan Mengorbankan dirimu?" lirihnya seraya memeluk tubuh Farhan dengan hati-hati. Dia tak ingin pergi dan tetap pada keputusannya untuk menjaga Farhan, dan beberapa saat dia tak sengaja tertidur. Raymond melihat pemandangan haru itu hanya menghela nafas dan berlalu pergi.


Tak lama, pintu terbuka membuat Ayu tersentak dan bangun, dan melihat pria tampan yang tak lain adalah Kenan. Dia berjalan menghampiri Ayu dan ingin melaporkan sesuatu. "Bagaimana kondisi tuan Farhan?" tanyanya dengan raut wajah bersimpati. 


"Masih belum sadar, ada apa kau kemari?" 


"Saya ingin mengatakan jika ada dua orang yang meninggal di lokasi itu, dan di duga sebagai pelakunya."


"Hem, kau selidiki lebih lanjut."


"Pasti, Nona. Saya pamit dulu!"


"Hem."


     

__ADS_1


__ADS_2