
Dokter Zaki menggunakan teknik akupuntur, karena hanya satu-satunya cara yang bisa dia lakukan. Sebuah teknik yang digunakan dalam praktiknya memakai jarum khusus, teknik yang berasal dari China. Perawatan ini relatif bebas dari rasa sakit. Bahkan, salah satu penggunaan akupunktur yang paling populer adalah untuk mengurangi rasa sakit kronis di seluruh tubuh dengan cara alami, tanpa perlu obat yang dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.
Saat ini akupuntur digunakan untuk mengobati kondisi seperti kejang otot dan nyeri, masalah punggung kronis dan nyeri sakit kepala, termasuk mengurangi frekuensi dan intensitas migrain, sakit leher, osteoarthritis, sakit lutut, alergi, masalah pencernaan, suasana hati, depresi.
Setelah melakukan akupuntur, dokter Zaki keluar dari ruangan menemui semua orang yang tampak cemas. Mereka menghampiri pria paruh baya yang mengenakan jas, ingin mengetahui kondisi Handrawan.
"Bagaimana kondisi kakek?" desak Farhan yang sangat menantikan kabar baik.
Dokter Zaki ingin menjawab perkataan dari Farhan, namun langkah kaki seseorang yang mendekat mengalihkan perhatiannya juga semua orang.
"Bagaimana kondisi ayah mertuaku?" tanya Wina dengan nafas tersengal-sengal, menatap pria berjas putih di hadapannya.
"Kenapa Mama masih di sini?" celetuk Farhan yang menatap sang ibu dingin.
"Walau kau mengusirku sekalipun, tapi dia adalah ayah mertuaku. Tidak ada hak mu mengusirku!"
"Tapi__."
"Sudahlah, apa yang dikatakan nyonya Wina benar." Sela asisten Heri.
"Hem, baiklah."
Sementara dokter Zaki menonton interaksi di hadapannya dengan sangat jelas, tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Astaga…aku pikir wanita kampung ini sudah pergi dari sini, tapi dia masih saja membuat mataku sakit." Keluh Wina yang menyindir.
"Aku tidak akan pergi sebelum mendengar kesehatan kakek dan memantau kondisi kakek secara berkala." Tukas Ayu yang tak menghiraukan sindiran untuk mengusirnya dari sana.
"Heh, apa kau tidak berpikir? Karena kaulah yang menyebabkan kondisi ayah mertuaku kritis." Ketus Wina.
"Aku sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik mengenai kesembuhan kakek, dan tidak akan lama lagi kakek akan sembuh. Aku menjaminnya."
Wina masih saja menatap Ayu dengan tak suka dan sinis, dia tidak menyukai identitas yang tidak jelas untuk jodoh dari putranya, Farhan. Sengaja menutup hatinya untuk orang berkelas rendah atau miskin, karena dia hanya memandang orang lewat status yang tinggi sesuai harapannya.
__ADS_1
"Tahu apa kau mengenai kesehatan ayah mertuaku!" sindir Wina yang meremehkan Ayu.
"Jangan remehkan Ayu, bahkan dia juga ahli dalam medis." Bela dokter Zaki yang sangah memahami silsilah keluarga wanita muda yang berdiri tak jauh darinya.
"Berhenti membuat keributan di sini!" tegas Farhan yang menatap sang ibu, berharap tak ada keributan lagi.
"Kenapa dia masih berada disini? Dialah yang menyebabkan kakekmu kritis, Farhan." Jawab Wina yang tak ingin tahu kehebatan dimiliki oleh mantan calon tunangan putranya.
"Tapi, dia juga yang bertaruh nyawa demi menyelamatkan kakek. Biarkan Ayu di sini!"
Wina terdiam, tapi masih menyerap Ayu dengan tetapan sini. Sementara dokter Zaki melihat pertikaian yang ada di hadapannya, menghela nafas panjang karena tak tahan dengan perdebatan itu.
"Bagaimana kondisi ayah mertuaku, Dok?"
"Sekarang pasien dalam kondisi melewati masa kritis, namun masih ada dua perawatan akupuntur lagi dan barulah pasien akan segera bangun."
Ayu dan Farhan bisa menghela nafas dengan lega walaupun belum sadar setidaknya sang kakek sudah melewati masa kritis yang begitu sulit. "Lalu, kapan kakek akan sadar?"
"Syukurlah jika kakek telah melewati masa sulitnya," gumam Ayu yang sangat senang.
Dokter Zaki bersiap-siap untuk pulang, mengemasi alat akupuntur tradisional miliknya. Dia tak menyukai berada di keramaian, karena alasan tertentu yang membuatnya enggan hidup di perkotaan. Setelah selesai, dia kembali menghampiri semua orang untuk berpamitan. "Aku tidak bisa berada di sini terlalu lama, karena tak seharusnya aku di sini. Aku akan kembali ke asalku dan tak akan kembali." Ucapnya yang membuat semua orang terkejut.
"Apa? Bukankah penyembuhan kakek belum selesai?" ujar Farhan sangat terkejut dengan pria paruh baya yang sudah mengemasi tasnya.
Dokter Zaki tersenyum dan melirik Ayu sepersekian detik dan mengalihkan perhatiannya kepada Farhan. "Dua kali berikutnya akan aku serahkan kepada gadis itu," jawabnya dengan tenang.
"Kau mempercayai ku untuk melakukan hal ini, Dok?" tanya Ayu yang menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, aku tahu mengenai bakatmu itu dan tidak meragukannya. Aku sudah melakukan sesuai permintaanmu, masa kritis pasien telah lewat. Aku yakin, kau bisa melanjutkan sesi berikutnya."
"Baiklah, Dok. Aku akan berusaha keras agar kau tidak kecewa dengan keyakinanmu padaku. Terima kasih telah membantuku."
"Sama-sama, hanya bujukanmu membuatku membantu, bukan karena orang lain. Aku tidak bisa terlalu lama di sini."
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu kembali ke kabin," tawar Ayu.
"Itu tidak di perlukan, aku bisa pulang sendiri. Lakukan sesuai yang kau pahami, aku mempercayaimu."
"Baik, Dok."
"Aku pamit dulu," dokter Zaki segera berlalu pergi, bahkan kepergiannya membuat semua orang tak menyadari.
"Tunggu! Bagaimana jika wanita ini malah membuat ayah mertuaku menderita?" pekik Wina yang menatap punggung dokter Zaki menjauh. "Hei…apa kau mendengarku?"
Teriakan itu hanya sia-sia saja, karena dokter Zaki tak menoleh dan malah menambah kecepatan langkah kakinya.
"Kau dengar sendiri, aku akan melanjutkan akupuntur untuk dua sesi selanjutnya. Aku pergi dulu!" ucap Ayu sudah muak dengan orang lain yang selalu menuding dan menilainya dengan jelek juga buruk.
"Biarkan aku mengantarmu," bujuk Farhan dengan sangat antusias dan bersemangat.
Ayu menatap semua orang satu persatu dan melihat ekspresi mereka. "Tidak," tolak nya dengan penuh penekanan.
"Apa? Ayolah, aku akan mengantarmu dan anggap sebagai tanda terima kasih dariku."
"Aku permisi dulu," Ayu segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu, langkah selanjutnya melanjutkan akupuntur dan mencari data Kira.
"Aku menawarkannya padamu!" ucap Farhan yang menatap punggung wanita itu.
"Jangan memaksanya, Fahan. Bagaimana jika kau mengantarkan aku pulang!" celetuk Kira yang kembali bertingkah genit bagai seorang wanita penghibur.
Setelah Ayu keluar dari rumah sakit, dia melihat Gabriel yang berdiri di depan pintu mobilnya. "Aku sudah menunggumu, ayo masuk!" tawar pria itu.
Ayu tampak berpikir dan tidak mempunyai pilihan. "Baiklah," sahutnya yang segera masuk ke dalam mobil milik Gabriel. Adegan itu berhasil dilihat oleh Farhan dan juga Kira.
"Apa kau masih ingin mengejarnya? Bahkan sudah ada pria tampan lainnya menunggu di luar rumah sakit, jangan sia-siakan tenagamu untuk itu." Kira mulai memprovokasi Farhan saat mendapatkan kesempatan emas yang sangat menguntungkannya.
__ADS_1