Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 95 ~ Aku bukan pengganti


__ADS_3

Farhan terdiam beberapa saat dan memalingkan wajahnya ke samping, sementara Ayu memperhatikan pria di dekatnya dengan penuh pertanyaan. Jujur saja, dia sudah merasakan perasaan cinta kepada pria yang berhasil meluluhkan hatinya. Namun, perasaan itu menjadi ragu saat Farhan masih memikirkan gadis kecil bernama Kira. 


"Kenapa dia tidak bisa menjelaskannya? Dia hanya terdiam? Lalu untuk apa perjodohan itu dilanjutkan?" batin Ayu dengan serentetan pertanyaan memenuhi isi otaknya. "Kenapa kau diam?" lirihnya pelan. 


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Farhan membuat Ayu tersenyum simpul. "Kau menginginkan perjodohan ini dilanjutkan, tapi kau sendiri masih terjebak dengan masa lalumu." 


"Karena Kira pernah menyelamatkan hidupku," ucap Farhan yang menatap Ayu. 


"Ya, jika kau mencintainya! Kenapa tidak mempertahankan cintamu, dan memilih perjodohan ini dilanjutkan," tukas Ayu yang merasa tidak puas dengan jawaban dari calon tunangannya. 


Farhan memegang dagu Ayu dan menatap dua manik mata yang kecewa dengan jawabannya, namun apa boleh buat. Di satu sisi masih mencari dewi penolongnya dan di sisi lain ada wanita di hadapannya, kebimbangan melanda hati membuatnya sulit mengambil keputusan. "Apa kau ingin tahu siapa Kira?" 


Ayu sangat penasaran, mengangguk dengan antusias. "Jika kau nyaman menceritakan mengenainya padaku."


"Aku percaya padamu, akan aku ceritakan kenapa aku selalu mencarinya." Farhan menarik nafas dan mengingat saat insiden masa lalu. Karena penasaran membuat Ayu sangat tertarik dengan kisah Kira dan pria di hadapannya. 


"Saat itu aku berusia 13 tahun, diculik dan disekap para penjahat bersenjata. Mereka sangat kejam dan aku tidak bisa melawan mereka. Pertemuanku dengan seorang gadis kecil, yang ku rasa beberapa tahun lebih muda dariku. Bahkan aku sudah pasrah dengan nasib ku ke depan, tapi aku melihat gadis kecil yang dikurung bersamaku tidak menunjukkan ketakutan, selain rasa tenang. Dia memutuskan untuk kabur dan membawaku untuk ikut bersamanya, mengelabui para penjahat dan kami berhasil lolos dari mereka." Ungkap Farhan yang menghela nafas dengan tatapan nanar dan sendu. 


"Apa yang terjadi selanjutnya?" desak Ayu yang sangat antusias. 


"Kami bersembunyi, tak lama para penjahat berhasil melacak lokasi kami. Aku dan Kira memutuskan untuk berlari secepat mungkin, supaya bisa menghindari para penculik itu. Namun__" Farhan tak dapat melanjutkan perkataannya, dia sangat sedih mengingat kejadian 15 tahun lalu. Ayu menjadi peduli, mengusap bahu pria itu dengan sangat lembut, memberikan rasa kenyamanan. 


"Kira jatuh ke dalam jurang saat menyelamatkan aku. Pesannya sebelum itu, memintaku untuk berlari agar tidak tertangkap. Hatiku sangat bimbang, tak tega meninggalkan  dia. Tapi aku tidak punya pilihan lain selain menuruti perkataannya, dan di saat itulah aku berjanji untuk mencarinya." Ungkap Farhan yang mengatakan sebenarnya. 


Ayu sangat bersimpati mengenai ungkapan Farhan. "Sungguh tak di sangka, aku dan dia sama-sama pernah mengalami hal menyedihkan," batinnya seraya menghentikan mengusap bahu pria itu. "Apakah wajahku dan Kira itu sangat mirip?" 


Farhan mengangguk dengan cepat. "Bukan hanya wajahmu saja, tapi sikap dan tingkah laku kalian sama persis," lirih Farhan. 


"Jadi itu sebabnya dia selalu membantu dan juga melindungiku selama ini," batin Ayu seraya menjaga jarak dari pria di sebelahnya. 


"Kenapa kau menjauh?" Farhan mengerutkan kening tak mengerti dengan sikap wanita itu. 


"Sebaiknya kita menjaga jarak seperti orang asing."


"Kau aneh sekali, katakan ada apa?"


"Aku turut bersimpati mengenai kau dan juga Kira, tapi sebaiknya kau cari saja dia dan melupakan untuk melanjutkan perjodohan ini."


"Apa kau mengerti apa yang kau katakan?" ucap Farhan yang mengembalikan ekspresi dinginnya. 


"Ya, aku mengerti dan memahami semuanya. Kau mengira jika aku dan dewi penolongmu itu sama, itu sebabnya kau selalu melindungiku selama ini. Apa perkataan ku benar?" ketus Ayu yang mengeluarkan kekesalannya. 

__ADS_1


"Kau jangan salah paham, semua yang aku lakukan karena aku sudah berjanji dalam diriku sendiri."


"Benarkah? Anggap aku mempercayaimu. Jika perjodohan itu dilanjutkan, bagaimana dengan Kira mu itu?" tegas Ayu yang memperingatkan pria itu, dia tak ingin menjadi pengganti siapapun. Farhan kembali terdiam sejenak, terjebak dalam perkataannya. 


"Heh, aku sudah tahu jawabannya. Aku ingatkan kau sekali lagi, bahwa aku tak ingin menjadi pengganti orang lain." Cetus Ayu dengan penuh ketegasan. Memutuskan untuk tidur sambil memunggunginya dan memejamkan kedua matanya. 


Farhan menghela nafas berat, dia mengerti dengan sikap Ayu. Dia juga ikut tertidur dan memejamkan kedua matanya. Mereka saling memunggungi satu sama lain, tidak bisa tidur lelap karena Farhan dan Ayu memikirkan sesuatu yang mengganjal di hati. 


Keesokan harinya..


Seorang pria tua, berambut perak sangat senang, memikirkan kedekatan Farhan dan Ayu yang semakin dekat. "Aku sangat yakin, jika hubungan keduanya sangat dekat. Sebaiknya, aku membukakan pintu." Monolognya Hendrawan. "Bukalah pintu kamar itu sekarang!" titahnya yang menatap sang pelayan. 


"Baik, Tuan besar." Jawab sang pelayan menuju kamar itu. 


Setelah beberapa saat, terlihat dua orang yang di tunggu-tunggu oleh Hendrawan. "Mereka kelihatan sangat lelah? Bukankah itu bagus? Itu artinya mereka bermain semalaman, dasar anak muda." Gumamnya yang tersenyum. 


"Pagi, Kek!" sapa Ayu dan Farhan serempak. 


"Pagi, duduklah bersamaku." Tutur Hendrawan yang menepuk sofa di sampingnya. 


"Baik, Kek."


"Jelaskan apa yang terjadi semalam?" goda Hendrawan tang menatap cucunya. 


"Memangnya kenapa?" sahut Farhan polos. 


"Dasar bodoh, aku menanyakan mengenai cicilan."


"Cicilan?" celetuk Ayu mengerutkan kening. 


"Apa maksud dari perkataan Kakek?" tanya Farhan yang juga bingung.


"Maksudku, cicilan untuk membuat seorang cicit." Jawab Hendrawan yang tersenyum penuh semangat dan antusias, sedangkan Ayu dan Farhan membelalakkan kedua mata mendengar ucapan sang kakek. 


"Hentikan pikiran jelek itu, Kek. Tidak ada terjadi apapun di antara kami!" jelas Farhan. 


"Tapi kenapa kalian terlihat sangat lelah?"


"kurang beristirahat."


"Sebaiknya kami pulang dulu," pamit Ayu dan di angguki Farhan. Mereka tak ingin jika Hendrawan semakin mempertanyakan hal tabu. 

__ADS_1


"Hem, sayang sekali." Hendrawan sangat kecewa dengan rencananya yang gagal. 


****


Setelah pulang dari kediaman sang kakek, Ayu memutuskan untuk pergi ke kantor dan kembali bekerja. Tapi, pikirannya dipenuhi dengan masalah Farhan dan Kira hingga tak menyadari telah sampai di gedung tinggi tempat dia bekerja. 


Saat di meja kerja, Ayu masih saja memikirkan hubungan keduanya. Karena tak ingin berlarut, memutuskan untuk menghubungi seorang hacker. 


"Halo."


"Hem."


"Ada apa? Kenapa suaramu terdengar lesu?"


"Bukan apa-apa, aku butuh bantuanmu!"


"Katakan saja."


"Cari identitas Kira."


"Kira?"


"Hem, gadis kecil penyelamat Farhan 15 tahun lalu."


"Baiklah."


Ayu mematikan sambungan telepon, menghela nafas kasar, tidak bisa bekerja sebelum menemukan identitas Kira. Namun, dia menunggu sang hacker berjam-jam lamanya. 


"Kenapa tidak ada kabar hingga saat ini?" gumamnya jengkel. 


Di malam harinya, ponselnya kembali berdering membuat Ayu sigap mengangkat telepon. 


"Bagaimana?"


"Maaf, aku sudah berusaha dengan baik."


"Tidak biasanya kau gagal."


"Aku tak punya petunjuk apapun."


 

__ADS_1


__ADS_2