
Ayu menundukkan kepala membuat Farhan memeluknya dengan sangat erat, apapun hasilnya. Dia pasrah kepada tuhan sang pencipta alam, tidak ada anak membuatnya tak mempermasalahkan, yang terpenting adalah kebersamaan dengan wanita yang dia cintai. "Aku tidak menuntutmu apapun, jika hasilnya negatif aku tak mempermasalahkannya. Anggap saja kita belum beruntung, dan mencobanya lagi."
Leon menghela nafas berat, dia tahu bagaimana hasilnya dan ikut sedih. "Aku juga tidak akan memaksakan kehendak, jika belum beruntung, mau bagaimana lagi. Aku akan pergi!" ucapnya yang segera berlalu pergi.
Ayu tersenyum tipis saat tahu bagaimana ekspresi dari dua orang pria yang menurutnya sangatlah lucu. "Aku positif hamil," ungkapnya yang menghentikan langkah dari Leon, dan juga detakan jam bagi Farhan.
"Apa? Ha-hamil?" Farhan sangat terkejut dan tidak bisa menyembunyikan perasaannya, menatap sang istri meminta jawaban. Ayu segera menganggukkan kepala dan tertawa bahagia, dapat mengerjai kedua pria suatu hal yang membahagiakan baginya.
"Aku hamil."
Leon segera berbalik dan ingin menghamburkan pelukan, tapi terhalang oleh Farhan yang lebih dulu menghalanginya. "Minggir!"
"Sayang, ayo kita kedokteran." Ajak Farhan tak menggubris perkataan Leon.
Ayu menganggukkan kepala, keduanya pergi menuju mobil yang terparkir. Namun, satu hal yang tidak dipahami adalah sikap sang suami yang begitu over protektif dan tidak membiarkannya hidup damai, seperti menggendongnya di hadapan karyawan dan staf membuatnya begitu jengkel. "Aku tidak lumpuh, mengapa kau begitu berlebihan," bisiknya yang menatap Farhan dengan kesal.
"Aku tak ingin calon anak kita kenapa-kenapa, dan kau juga tidak kelelahan." Tutur Farhan.
"Tapi ini sangatlah berlebihan, para karyawan dan staf mu melihat ini."
"Biarkan saja, jika ada yang membuka suara mengenai hal ini, aku akan memecat mereka." Penuturan dari Farhan membuat Ayu menepuk keningnya, dia tidak tahu apa yang terjadi dan juga tidak bisa melawan kehendak suaminya yang bersikap kekanak-kanakan.
Leon mengikuti sepasang suami istri menggunakan mobilnya dari belakang, dia ingin mendengar bagaimana penjelasan dokter dan berharap jika itu kabar baik. "Farhan sialan, berani sekali dia meninggalkan aku." Umpatnya yang melajukan kecepatan kendaraan.
Farhan dan Ayu tiba di rumah sakit, merek keluar dari rumah sakit dan segera memanggil dokter ataupun suster untuk mengambilkan sebuah kursi roda, dia tak ingin jika terjadi hal yang buruk mengingat begitu banyak kasus yang dilihat lewat sosial media.
Kini keduanya masuk ke dalam ruang USG, diikuti oleh Leon yang juga penasaran mengenai kehamilan adiknya. Ketiganya memperhatikan dokter spesialis yang mengoleskan gel di perut rata, Ayu tersenyum geli saat merasakan sensasi dari gel dan juga alat pendeteksi.
"Kau kenapa?" Farhan bertanya sembari melirik Leon.
__ADS_1
"Karena kalian tidak akan mengerti," jawab Ayu yang terkekeh, sementara sang dokter ikut tersenyum.
"Lihat di layar monitor, apa kalian melihat ada kantong kecil?" tutur dokter Spog.
Ketiganya memperhatikan layar monitor. "Ya, ada dua kantong disana." Jawab Leon yang menyipitkan kedua matanya.
"Bukan dua melainkan tiga kantong, nona Ayu memiliki anak kembar tiga." Tutur sang dokter yang tersenyum.
"Kembar tiga?" lirih Farhan yang meneteskan air matanya, dia sangat bahagia akan menjadi seorang ayah, begituan dengan Ayu.
"Kembar? Wah, akhirnya aku tidak akan berebutan dengan kakek dan juga kakek Hendrawan, itu bagus." Ucap Leon yang tertawa puas.
Farhan dan Leon saling berpelukan, lain hal dengan Ayu yang hanya terdiam. "Kau kenapa?"
"Kenapa aku merasa ragu?" Ayu sedikit takut dengan kehamilannya yang akan merubah segalanya, tidak tanggung-tanggung dia akan mendapatkan tiga anak sekaligus. "Astaga…bagaimana nantinya?" gumamnya menelan saliva dengan susah payah.
"Jangan takut, aku ada disampingmu dan kita akan menjalani seperti biasanya, kau dan aku juga anak kita." Farhan mencoba untuk menenangkan istrinya.
"Tentu saja aku takut, aku terpilih menjadi wanita yang perbandingannya sangatlah kecil. Aku tidak bisa membayangkannya," Ayu mengatur nafasnya agar tidak stres dan berpengaruh pada kehamilannya.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, aku akan meresepkan vitamin yang bisa di tebus nantinya."
Farhan dan Leon berebutan untuk membantu Ayu turun dari brankar, mereka menjaga dengan sangat posesif dan tidak membiarkan siapapun mendekat.
Mengenai kehamilan Ayu yang sudah terdengar di telinga Tirta dan juga Hendrawan, mereka begitu bersemangat dan bahkan tak sabar menunggu kehadiran sang cucu. Hal yang membuat mereka bersemangat, namun tak tahu berapa cicit yang akan mereka dapatkan.
"Sepertinya kita akan berebutan cicit," celetuk Hendrawan.
"Sepertinya begitu, Farhan tidak mengungkit masalah jumlah."
__ADS_1
"Tidak masalah, kita akan membagi waktu untuk menggendong calon cicit kita. Bagaimana?" tawar Hendrawan yang membuat kesepakatan dengan sahabatnya, Tirta.
"Setuju, tapi kita tunggu kabar bahagia ini setelah mereka sampai ke sini."
Mereka sudah tak sabar untuk menunggu kedatangan dari cucu-cucu mereka, apapun hasilnya nanti, mereka akan menerima termasuk calon cicit. Tak lama, terlihat tiga orang yang masuk ke dalam dan menghampiri mereka. Hendrawan dan juga Tirta mendekat dengan senyuman khas mereka.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Tirta yang mendesak.
"Ayu dinyatakan hamil, Kek." Jawab Farhan yang tersenyum.
"Selamat, selamat untuk kalian berdua. Aku turut bahagia yang sebentar lagi mempunyai anak, dan kami sudah membagi waktu untuk calon cicit itu," Tirta memeluk Ayu dengan penuh cinta.
"Ada kejutan lain lagi, Kek." Sela Leon.
"Apa?" seketika Tirta melepaskan pelukannya dan menatap Leon dengan sangat penasaran.
"Untuk apa kalian berebut? Ayu akan melahirkan tiga bayi kembar sekaligus," jawab Leon yang tersenyum puas, bahagia melihat ekspresi dari kedua pria tua yang akan bahagia bisa menghabiskan hari-hari tua.
"Apa?" ulang Tirta.
"Ke-kembar tiga?" Hendrawan meneteskan air mata dan segera mengeluarkan tiga ikat uang, kabar bahagia yang akan dirasakan penjuru kota dan negara. "Ambil uang pemberkatan ku ini untukmu," ucapnya yang menyerahkan tiga ikat lembar uang berwarna merah kepada salah satu pelayan yang lewat.
"Terima kasih, Tuan besar."
Hendrawan memeluk Farhan, sementara Tirta memeluk Ayu. Mereka menangis haru, tidak lama lagi akan terdengar tiga tangisan bayi di mansion Hendrawan.
"Kau harus menjaga Ayu di kehamilannya, dan patuhi semua keinginan dan apapun yang dia inginkan! Apa kau mengerti?" ucap Hendrawan yang melepaskan pelukan itu dan bergantian memeluk cucu menantunya.
"Aku pria yang sangat beruntung, sebentar lagi akan dikaruniai tiga anak kembar. Pasti mereka tampan dan juga cantik," Farhan membayangkan menggendong bayi-bayi nya nanti, tapi tak mengetahui bagaimana jadinya jika ketiga calon anaknya itu akan membuat seisi mansion terguncang.
__ADS_1