Sekretaris Vs Mr. Arrogant

Sekretaris Vs Mr. Arrogant
Bab 107 ~ Apa kau terkejut?


__ADS_3

Tiba-tiba gelas yang berada di tangan Ayu terjatuh dan pecah, sontak membuat Raina sangat terkejut. "Ada apa denganmu?" tanyanya yang melihat wanita di sebelahnya begitu kesakitan seraya memegang perut dan juga kepala yang terasa pusing. Dengan cepat Raina meletakkan gelas yang ada di tangannya dan membantu Ayu. 


"Aku sangat pusing dan perutku juga sakit," lirih Ayu yang mencengkram tangan Raina dengan kuat. 


"Apa terasa sangat sakit?" tanya Raina yang ingin memastikan sesuatu, menatap raut wajah Ayu yang menahan rasa sakit. 


Ayu tersenyum samar tanpa di sadari oleh Raina, berakting dengan sangat baik untuk mengecoh musuh. Sedangkan Raina juga tersenyum samar, mengetahui rencananya akan berjalan dengan sangat mudah. "Sepertinya obat yang aku berikan bekerja dengan baik," batinnya. 


"Tolong, bantu aku!" lirih Ayu yang mengipasi lehernya yang terasa panas. 


"Jangan khawatir, aku akan membantumu." Raina berpura-pura simpati dan peduli pada Ayu, membopong tubuh wanita itu menuju ruang istirahat. Ayu terus memainkan perannya, seolah-olah telah meminum obat perangsang yang diberikan oleh mantan kekasih Raymond. 


"Sepertinya kau kelelahan, sebaiknya kau tidur disini saja." Ucap Raina yang membopong tubuh Ayu di atas sofa, ruang istirahat. Dia tersenyum saat melihat obat bereaksi. "Bagus, sepertinya dia mulai terangsang," batinnya puas. Diam-diam dia mengirimkan sebuah pesan singkat pada Vanya, dan mengatakan jika sang target telah masuk perangkap. 


"Wanita yang sangat malang, inilah saatnya aku membalaskan dendam dan namamu akan hancur dengan pengaruh obat itu. Sebaiknya aku pergi dari sini!" gumam Raina di dalam hati. Dia langsung berbalik meninggalkan tempat itu setelah memapah tubuh Ayu untuk duduk di sofa. 


"Aku terkesan dengan rencanamu, luar biasa!" ucap seseorang membuat Raina menghentikan langkah kakinya, menoleh ke belakang dan terlihat Ayu yang berdiri dengan tegap, tersenyum kearahnya. 


"A-apa? Bukankah kau__" ucap Raina yang gugup, tercengang dengan rivalnya masih baik-baik saja. 


"Apa kau terkejut?" seloroh Ayu dengan tersenyum horor, membuat bulu kuduk Raina berdiri. 


"Kenapa kau bisa baik-baik saja, bukankah kau__" tukas Raina yang menunjuk wanita di depannya seraya memundurkan langkah. 


"Apa kau mengira jika aku akan masuk dalam perangkapmu itu? Sangat disayangkan, jika rencanamu gagal." Ungkap Ayu yang tersenyum mengejek. 


"Jadi kau tadi hanya berpura-pura saja?" kesal. Raina yang menatap tajam musuhnya. 


"Tadinya tidak, aku bahkan memberimu kesempatan kedua dan memaafkanmu. Tapi kau malah memberikan minuman beralkohol dengan campuran obat perangsang," jelas Ayu yang merasa tertipu. 

__ADS_1


"Tapi darimana kau tahu jika minuman itu dicampur dengan obat?" seloroh Raina yang sangat penasaran. 


"Kau tidak perlu tahu hal itu," sahut Ayu dengan enteng. 


Raina sangat marah karena rencananya gagal dan tercium oleh wanita yang menjadi target, tapi dia juga merasa ketakutan dengan rencananya di ketahui oleh Ayu. Dia sangat panik, terlihat jelas keringat yang mengucur di pelipisnya. 


"Aku akui kau kau sangat licik, tapi kau tak akan bisa mengalahkanku dengan mudah." Ayu semakin melangkahkan kakinya, mendekati Raina dengan tersenyum smirk. 


"Apa yang ingin kau lakukan? Menjauhlah dariku." Pekik Raina yang sangat ketakutan, tak bisa lari karena Ayu berhasil menghalanginya. 


Ayu tersenyum dan memperlihatkan sebotol kecil di hadapan Raina. "Kau tahu ini apa?" 


"Tidak, apa itu?" 


Dengan cepat Ayu mencengkram dagu Raina dan membuka mulut wanita itu dengan paksa, memastikan minuman di dalam botol kecil habis untuk sekali teguk. "Bagus, bagaimana rasanya?" 


"Itu sisa minumanku yang telah kau campur." Jawab Ayu dengan santai membuat Raina terbelalak kaget. 


"Tapi, bagaimana mungkin? Aku melihatmu menjatuhkan gelas itu."


"Karena aku sudah memperkirakan segalanya, itu bukan kajianmu. Jika pun aku menjelaskan, kau tidak akan mengerti." Tutur Ayu tersenyum saat melihat tubuh Raina yang lemas, memapah wanita itu untuk duduk di sofa. 


Raina merasakan seluruh tubuhnya yang panas, reaksi obat dengan dosis yang tinggi. Ayu tersenyum dingin melihat obat itu berbalik menyerang sang pelaku, dan memutuskan untuk meninggalkan ruang istirahat tanpa menghiraukan suara teriakan Raina yang mengumpati dirinya. 


"Hai, kau! Jangan pergi, dasar wanita sialan." teriak Raina yang membuat Ayu tersenyum. 


Di sisi lain, Vanya dan Farhan tengah berdansa. Dia sangat senang karena pria itu menerima tawaran dansa dengannya, jantung yang berdegup kencang dan berharap waktu seakan berhenti. "Akhirnya aku bisa sedekat ini dengan Farhan, suasana romantis dengan alunan musik membuat cintaku semakin dalam padanya." Batin Vanya. 


Farhan celingukan, menyusuri pandangannya di ruangan itu, tapi dia tidak menemukan keberadaan Ayu. "Bukankah tadi dia bersama Gabriel? Tapi aku tidak melihatnya di manapun," batinnya yang sangat cemas. Rasa bahagia dari Vanya menghilang, saat dia memutuskan untuk mengakhiri dansa dan pergi dari tempat itu. 

__ADS_1


"Farhan, tunggu!" ucap Vanya yang sangat kebingungan. 


"Dansanya sudah selesai." Ucap Farhan tanpa menoleh sedikitpun. 


Vanya meremas kedua tangannya, dia sangat marah dan murka dengan sikap Farhan yang tidak peduli dengan dansanya. Tapi kemarahannya menjadi seimbang saat membaca sebuah pesan dari Raina yang mengatakan jika target telah masuk perangkap. "Sebentar lagi, wanita kampung itu akan dipermalukan di hadapan umum, dan aku tidak sabar menunggu waktu yang sebentar lagi akan dimulai." Gumamnya dengan tersenyum devil. 


Farhan mencari keberadaan Ayu, dia sangat cemas dan terus mencari, tapi tak membuahkan hasil. Dia menyesal saat menerima tawaran dansa dari Vanya hanya untuk membuat Ayu cemburu demi membuktikan jika wanita itu menyukainya atau tidak. "Kemana dia? Aku sangat mengkhawatirkannya!" batin Farhan yang terus mencari. 


Setelah beberapa lama mencari, Farhan tetap tidak menemukan dimana keberadaan Ayu. Menarik rambutnya karena merasa gagal, merutuki tingkahnya yang sangat bodoh hanya untuk membuat wanita itu cemburu. 


Vanya berhasil menemukan Farhan yang tengah menyandarkan punggung ke dinding karena tak berhasil menemukan Ayu. Berjalan mendekati sahabat kecilnya, dengan tersenyum licik. "Kali ini aku sangat yakin, jika Farhan akan membenci wanita kampung itu." Gumamnya di dalam hati. 


"Kenapa wajahmu terlihat kusut?" tanya Vanya yang berpura-pura tak mengetahui apapun. 


"Bukan urusanmu!" 


"Kenapa kau selalu bersikap dingin padaku, aku hanya menanyakan keadaanmu saja."


"Hem."


"Apa kau sedang mencari Ayu?" ucap Vanya dengan antusias membuat Farhan tertarik dan menatapnya. 


"Ya."


"Aku melihat Ayu bersama seorang pria lain, aku tidak tahu siapa pria itu, hanya saja mereka terlihat sangat dekat." Ucap Vanya yang terus memanasi hati Farhan. 


Seketika Farhan tersentak kaget mendengar perkataan yang keluar di mulut sahabat kecilnya, raut wajahnya berubah seperti menahan gejolah amarah di dalam benaknya. 


 

__ADS_1


__ADS_2