
Raina sangat terkejut mendengar keputusan wanita yang ada di hadapannya, bagai momok menakutkan dengan rencananya yang gagal total. Senjata makan tuan, itulah penggambaran yang sangat cocok untuknya. Kedua mata terbelalak, hampir saja terlepas dari tempatnya.
"Kau tidak bisa memutuskan kontrak secara sepihak, dan aku menolak hal itu." Protes Raina yang menolak ucapan Ayu.
"Aku bisa memutuskan kontrak, kenapa tidak?" sahut Ayu dengan santai dan juga enteng, dia tak menghiraukan seorang aktris yang tidak profesional.
"Apa kesalahanku? Kau tetap tidak bisa membatalkan kontrak yang sudah ditandatangani." Ketus Raina yang merasa tidak merasa bersalah.
Semua orang mulai jenuh dengan Raina yang sangat angkuh, tidak mengakui kesalahan dan masih bersikap sombong. Bahkan Raymond sudah muak dengan wanita sebagai kekasih nya. "Wanita yang sangat licik," gumamnya mendelik kesal.
"Honey, kau masih bersamaku 'bukan? Ayo, lawan mereka demi aku!" ujar Raina dengan suara seksinya, berjalan ke arah sang kekasih dan bergelayutan manja.
"Kau wanita yang sangat licik dan aku menyesal berhubungan denganmu!" ucap Raymond sembari menatap kekasihnya dengan tajam.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Raina yang mulai khawatir dengan sikap Raymond yang bisa meninggalkannya kapan saja.
"Hentikan omong kosongmu, aku sangat muak mendengarnya. Renungilah kesalahan yang telah kau perbuat." Raymond menghempaskan tangan kekasihnya dengan kasar, dia sangat kesal melihat Raina yang tidak ingin mengakui kesalahannya sendiri, memutuskan untuk melangkahkan kaki keluar dari studio tanpa menoleh kebelakang.
Raina menatap punggung kekasihnya dengan nanar, berharap jika pria itu menoleh walau sekali saja. Tapi harapannya pupus, saat Raymond sudah menghilang dari balik pintu. Ingin meluruskan permasalahan dengan cara mengejar sang kekasih, tapi langkahnya tercekal akibat tangannya di genggam oleh Ayu. "Lepaskan tanganku!" ketusnya.
"Sebelum kau meminta maaf padaku, aku tidak akan melepaskannya."
"Aku tidak sudi meminta maaf dari wanita rendahan sepertimu." Raina terus memberontak untuk melepaskan cengkraman dari wanita itu.
"Cepat minta maaf padanya," ucap Farhan tajam.
"Minta maaf kepadanya, di sini kaulah yang menuduh Ayu dan juga telah menjebaknya," sambung Gabriel dengan tatapan menusuk.
Raina mendelik kesal dengan kedua pria yang terus memaksanya, dia tidak akan tunduk pada siapapun atau meminta maaf. Menurutnya itu sangat tidak perlu dilakukan, tidak penting, dan hanya membuang banyak waktu. "Aku rasa itu tidak perlu dilakukan, yang hilang hanya kancing berlian. Aku akan menggantinya!" Mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya kepada Ayu. "Lepaskan tanganku!" ketusnya yang berhasil kabur dari Ayu dan langsung mengejar Raymond.
Mereka menatap kepergian Raina yang berlari, terutama Ayu yang tersenyum puas karena orang yang ingin menjebaknya mendapatkan karma. "Semoga saja kau beruntung," gumamnya.
Raina terpaksa melepaskan sepatu hak tingginya saat melihat sang kekasih yang hampir masuk ke dalam mobil. Berteriak memanggil nama Raymond, agar memperlambat langkah pria itu.
__ADS_1
"A-akhirnya, a-aku bisa menemuimu." Ucap Raina yang terbata-bata, mengatur ritme jantungnya yang berdetak sangat kencang akibat berlari, mengontrol perbapasan agar lebih stabil.
"Ada apa? Aku tidak punya banyak waktu." Raymond melirik jam mahal yang melingkar di tangannya seraya menatap sang kekasih.
"Apa kau marah padaku, Honey?" tanya Raina yang membuat raut wajah seimut mungkin untuk meluluhkan sang kekasih
"Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu itu?"
"Memangnya apa yang aku lakukan? Merekalah yang menjebakku."
"Ck, masih tak ingin mengakui kesalahan. Aku sangat menyesal mempunyai kekasih dengan hati kotor seperti mu."
"Kenapa kau berbicara seperti itu?" seloroh Raina dengan nada rendah.
"Kita putus."
Bagai petir di siang bolong, ucapan itu terus terngiang di telinganya, hal yang dia takutkan malah terjadi. Di saat dia ingin membujuk sang kekasih, tapi terlambat karena pria itu telah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkannya sendirian.
"Ini semua karena wanita pembawa sial itu, karena dia membuat hubunganku dengan Raymond hancur. Aku ingin harga yang pas untuk ini, dan Ayu yang akan membayar semuanya." Raina sangat marah, meluapkan seluruh emosinya dengan melemparkan ponsel mahalnya.
"Sebenarnya aku mempunyai brand ambassador wanita pilihanku dari perusahaan tuanmu." Ujar Ayu yang manatap Gabriel sekilas.
"Benarkah? Lalu kenapa kau malah memilih wanita gila itu?" tanya Gabriel yang sangat penasaran.
"Hah, dia datang seperti jailangkung. Menyalonkan diri karena pengaruh kekuasaan dari tuan Raymond." Ayu menghela nafas, dia tidak bisa melakukan apapun saat itu karena situasinya sangatlah berbeda.
"Siapa wanita itu?" tanya Farhan datar.
"Namanya Fina, dia aktris pendatang baru. Sangat cocok jika bersanding dengan Gabriel." Usul Ayu yang sangat yakin.
"Fina?" Sahut Gabriel yang mengenal wanita itu, seorang aktris pendatang baru dari perusahaan miliknya sendiri. Ayu menganggukkan kepala dengan cepat, karena dia mengetahui isi pikiran Gabriel.
"Aku menerima usulmu, cepat hubungi brand ambassador wanita itu." Ucap Farhan yang menatap Ayu.
__ADS_1
"Baiklah, cepat hubungi Fina." Ayu melirik Farhan sekilas dan mengalihkan perhatiannya ke arah Gabriel.
"Hah, baiklah. Aku akan menghubunginya!" jawab Gabriel yang membuat Ayu tersenyum, karena masalahnya terselesaikan.
Beberapa saat kemudian, seorang wanita cantik masuk ke dalam studio dengan wajah yang amat senang dan bersemangat, karena berhasil menjadi brand ambassador perusahaan Farhan, ditambah lagi dia hanyalah seorang pendatang baru.
Senyum manis yang terukir indah di wajahnya tidak pernah luntur, menatap semua orang dan menyapa mereka.
"Bagaimana? Apa kau setuju?" tanya Ayu yang menatap wanita itu serius.
"Aku tidak akan melewati kesempatan ini dan aku setuju." Sahutnya dengan cepat.
"Sekarang kau terikat kontrak dengan perusahaan ku," ucap Farhan dingin.
"Terima kasih, Tuan. Aku tidak akan mengecewakan kalian." Jawab Fina yang menundukkan kepala.
"Aku berharap aktingmu sangat memuaskan, kesempatan yang kau dapatkan ini itu ide dari Ayu." Sela Gabriel datar.
"Aku akan berusaha semampuku, dan terima kasih karena berkatmu membuat aku mengikuti proses syuting ini." Fina tersenyum ke arah Ayu dengan tulus, karena berkat wanita itu membuatnya sangat bahagia.
"Sama-sama," sahut Ayu yang membalas senyuman wanita itu.
"Apakah dia harus memakai pakaian yang dirancang itu?" celetuk Gabriel membuat Ayu tampak berpikir.
"Aku merasa gaun itu lebih cocok kepadanya."
"Tapi gaun itu telah rusak." Ujar Gabriel yang kesal dengan proses syuting yang tertunda akibat kejadian tadi.
"Aku akan menyuruh orang untuk memperbaiki gaun itu," ide Farhan yang ingin memanggil salah satu penata busana. Belum sempat dia melakukan hal itu, Ayu lebih dulu mencegatnya. "Kenapa kau mencegatku?" tanyanya yang mengerutkan kening.
"Tidak perlu memanggil orang lain, aku bisa memperbaiki gaun itu."
"Apa kau yakin?" tanya Farhan untuk meyakinkan wanita itu.
__ADS_1
"Hem, berikan aku lima menit untuk memperbaiki gaun yang rusak itu."