
Penyelidikan oleh tim investigasi telah selesai, monitor itu pun menyiarkan secara langsung.
Walaupun ketua sekretaris merasa bersalah, tapi dia tetap tenang karena tak ada bukti dia melakukannya.
"Percuma saja dia melawanku, tidak ada bukti yang menyudutkan. Aku akan lihat, bagaimana dia akan bermain!" Batin Maudi yang tersenyum tipis.
"Wah, tampaknya kau sangat menyukai ini ya," cibir Ayu yang melihat ekspresi ketua sekretaris.
"Tentu saja," sahut Maudi yang mengangkat kedua bahunya ke atas.
Ayu kembali memperhatikan layar monitor di hadapannya, begitupun dengan Farhan. Mereka melihat gambar desain itu terlihat jelas masih utuh sebelum Ayu memeriksanya, kemudian dia memasukkan dokumen tersebut ke dalam laci dan pergi. "Aku mengingatnya dengan sangat jelas, tapi kenapa desain itu tidak ada saat di pagi hari? Ini sangat mencurigakan," gumam Ayu tampak berpikir mengenai kejadian ini.
Hingga malam hari tak ada yang mendekati kantor dan meja kerja Ayu, mereka masih memantau layar monitor dengan sangat serius tanpa ada yang terlewati. Tapi, mereka menemukan kejanggalan saat ada seorang wanita setengah paruh baya membereskan meja kerja milik Ayu.
"Hentikan rekamannya untuk sementara waktu," ucap Ayu dengan lantang dan juga tegas. Dia berjalan mendekati Maudi dan mencengkram lengan wanita itu dengan sangat kuat.
"Apa-apaan ini, lepaskan aku. Kau menekan lenganku dengan sangat kuat," ketus Maudi yang menatap Ayu dengan tajam.
"Tidak, sebelum kau berkata jujur." Tolak Ayu yang semakin mengeratkan cengkraman nya.
"Dasar wanita gila, aku akan menuntutmu balik?!" Ucap Maudi yang meninggikan suaranya.
"Ck, jangan membuang waktu lagi. Apa kau mengenal wanita paruh baya itu?" Tanya Ayu yang mengintrogasi dan menyelidik.
"Aku tidak mengenalnya!" ujar Maudi dengan lantang.
"Seret wanita paruh baya itu kesini," titah Farhan tanpa bantahan menatap asistennya yang sedari tadi terdiam.
"Baik, Tuan."
Suasana semakin menegang saat Farhan memerintahkan asistennya, dia ingin melihat dengan jelas siapa yang bersalah mengenai kejadian ini. Ayu tersenyum mengejek saat melihat Maudi yang mulai berkeringat dingin, dengan cepat Ayu mengelap keringat itu dengan jarinya.
"Sangat berkeringat, apa kau takut?" Celetuk Ayu.
__ADS_1
"Itu karena tanganku sakit karena ulahmu," elak Maudi.
"Tunggu dan lihat bagaimana permainanku yang membuat permainanmu berakhir."
"Terserah." Maudi memutar kedua bola matanya dengan jengah.
Tak lama asisten Heri datang menemui tuannya, mendekati Farhan dengan sedikit menundukkan kepala. "Maaf, Tuan. Wanita paruh baya itu sudah mengundurkan diri."
"Benarkah?" Ulang Farhan yang menatap asistennya.
"Benar, Tuan."
Maudi yang mendengar hal itu tersenyum bahagia. "Sudah aku bilang, tidak ada bukti." Ucap Maudi yang menatap Ayu.
"Ck, diamlah." Ketus Ayu yang mendelik kesal.
"Bahwa semua ini pasti sudah direncanakan dengan sangat baik, orang itu menyewa orang lain untuk membawa bibi Ningsih hingga tidak ada bukti." Gumam Farhan yang duduk di kursi sambil mengetuk meja dengan jari-jarinya, memikirkan sebuah konspirasi.
"Benarkah? Hentikan saja bualanmu itu dan lepaskan aku. Aku sangat yakin jika kau tidak mempunyai bukti apapun untuk menuduhku," tukas Maudi dengan sinis.
Ayu tidak menghiraukan ucapan dari ketua sekretaris, dengan cepat dia mengambil ponsel dari tas kesil yang selalu dia bawa. Mencari nama kontak di layar ponselnya, menghubungi saksi kunci untuk memberatkan Maudi.
"Halo."
"Masuklah."
Sambungan telepon terputus dan selang beberapa lama datanglah seorang wanita paruh baya ke dalam ruangan itu, dia adalah bi Ningsih. Kedatangan yang membuat Farhan berpikir keras, sedangkan Maudi membelalakkan kedua matanya saat melihat bi Ningsih hadir.
"Darimana wanita tua itu datang? Kenapa dia masih ada di sini?" Batin Maudi yang menatap bi Ningsih dengan tajam.
"Bagaimana? Apa kau terkejut?" Ayu tersenyum puas saat melihat ekspresi Maudi yang sedari tadi dia lihat.
"Ti-tidak, untuk apa aku terkejut? Aku tidak merasa bersalah." Sahut Maudi yang tampak tenang, namun sebenarnya dia sangat takut dengan situasinya saat ini. "Sial, kenapa wanita tua ini masih ada di sini?" Batin Maudi yang berpikir keras. Dia sudah menjalankan rencana dengan menghilangkan bukti yang ada, menyuruh bi Ningsih untuk mengundurkan diri dari kantor dan pulang ke desanya.
__ADS_1
"Bi Ningsih, aku ingin meminta kejujuran darimu. Jangan takut mengatakan kebenarannya, karena aku akan melindungimu." Ayu menatap bi Ningsih untuk menenangkan nya.
"Baiklah," sahut bi Ningsih menganggukkan kepala dengan pelan.
"Bisa Bibi jelaskan bagaimana kronologinya?"
"Saat itu aku sedang bekerja membersihkan ruangan setiap pegawai yang ada di sini, tapi seseorang menginstruksikan ku untuk melakukan hal yang tidak terpuji itu. Aku di minta untuk menukar kertas desain yang aku sendiri tidak tahu." Ungkap bi Ningsih tanpa ragu sedikitpun.
"Baiklah, siapa orang yang menginstruksikan Bibi untuk melakukan tindakan kejahatan itu?" Tanya Ayu layaknya seorang polisi.
"Ketua sekretaris lah yang memintaku untuk melakukan ini," jawab bi Ningsih yang sedikit ragu, sedangkan Maudi bergetar hebat saat mendengarkan dari wanita paruh baya itu.
"Dasar pembohong, aku tidak tahu apapun dan kenapa kau malah menyeret namaku." Pekik Maudi yang protes.
"Tikus masuk jebakan, sangat sesuai dengan rencanaku," batin Ayu yang tersenyum puas, dapat meruntuhkan kesombongan dari ketua sekretaris. Sejak awal dia sudah mengetahui perbuatan dari Maudi yang ingin menjebaknya, bahkan dia dengan cerdik membuat bi Ningsih seolah-olah bekerjasama dengan Maudi, namun semua itu hanyalah permainan dari seorang Ayu Kirana.
"Apa motif ketua sekretaris melakukan itu?" Batin Farhan yang berusaha keras memikirkan kejadian itu.
"Bukan aku, tapi bi Ningsih telah di hasut oleh Ayu. Wanita itu ingin menjebakku!" Dengan cepat Maudi menyangkalnya, dia menunjuk Ayu dengan tatapan menusuk.
"Saksi kunci ada di sini, kamu tidak bisa mengelak lagi KETUA SEKRETARIS!" tekan Ayu yang membalas tatapan Maudi dengan tajam.
"Hei, wanita tua. Dibayar berapa kau oleh wanita tak tahu diri itu, hah?" Pekik Maudi melirik bi Ningsih dengan sinis, sedangkan yang di tatap hanya terdiam tanpa mengeluarkan suara. "Tuan, ini tidak bisa dijadikan bukti. Bisa saja wanita tua itu sedang menyabotase semuanya."
"Hem, kasus ini masih butuh penyelidikan lebih lanjut. Ditambah lagi dengan bukti yang belum kuat, apa ada bukti lainnya?" sahut Farhan yang menoleh ke arah Ayu.
"Ada Tuan, saya bahkan memiliki bukti yang memberatkan ketua sekretaris." Ucapan dari bi Ningsih kembali membuat Maudi terkejut, begitupun dengan Farhan dan juga asisten Heri.
"Bukti apa yang dia maksud?" Gumam Maudi yang berpikir keras.
"Keluarkan buktinya," ucap Ayu dengan lantang dan juga tegas.
Saat itu, bi Ningsih mengeluarkan sebuah pena rekaman dari kantong sakunya. Pena yang bekerja untuk merekam pembicaraannya dengan ketua sekretaris.
__ADS_1